Tiap kali bepergian saya berusaha menyempatkan diri mengambil foto langit. Saya menyukai langit biru yang dihiasi awan putih. Meski telah sering tetap saja saya selalu terkagum-kagum dengan pemandangan seperti ini. Dari jendela pesawat saya sering meyaksikan kebesaran Tuhan, lukisan hidup pemandangan awan di langit yang maha luas, seolah-olah ini diciptakan khusus untuk menghibur kami yang tengah melintas saat itu. Beberapa kali saya mengambil foto awan dari jendela pesawat yang buram, terutama ketika pesawat baru terbang dan ketika akan mendarat. Satu dua orang berkomentar seolah-olah apa yang saya lakukan aneh seperti “baru terbang pertama kali”, tapi biar saja. Itu tidak penting dibandingkan dengan apa yang menjadi “concern” saya tentang kondisi langit di Jakarta dan kota-kota industri lain seperti Surabaya, Gresik, Tangerang, dan sebagainya.
Pada siang hari ketika akan mendarat di Jakarta, dengan jelas saya menyaksikan kubah raksasa kelabu menutup langit Jakarta hingga ketinggian tertentu. Asap tebal tampak di mana-mana diberbagai kawasan. Mulai dari asap putih, kelabu, hingga hitam. Sungguh menyedihkan. Hal yang berbeda di langit beberapa daerah di Indonesia, semisal Balikpapan, Batu Hijau, Timika, Makasar, Mataram, dan sebagainya. Udara terasa sangat segar, langit jauh lebih biru, ketika malam dengan mudah saya bisa melihat bintang gemintang di langit. Suatu kemewahan yang tidak dapat ditemui di Jakarta akhir-akhir ini.
Terkadang, ketika hujan lebat turun agak lama, barulah langit lebih bersih, udara lebih segar, suhu lebih adem. Terkadang jika beruntung bulan dan bintang akan terlihat, sungguh cantik sekali.
Hal inilah yang menyebabkan kegelisahan saya. Terinspirasi untuk melakukan tindakan kecil untuk lingkungan dan alam sekitar demi langit biru dan kelangsungan lingkungan yang lebih baik untuk kehidupan kita dan generasi yang akan datang, mendorong saya untuk menulis hal-hal kecil dan sederhana dengan harapan dapat menggerakkan kesadaran kita untuk saling menjaga anugrah ini.
Tulisan ini digerakkan oleh kecintaan saya terhadap alam, kewajiban untuk menjaga amanah. Kesederhanaan pemikiran dan perkataan semata-mata karena kedangkalan pengetahuan. Walaupun begitu kekurangan ini tidak akan menghambat saya untuk tetap menulis, mengapa? karena ini cara sederhana yang saya tahu, dan paling mungkin saya lakukan saat ini.
Mulailah dari sekarang…dari hal kecil.. dari diri anda…
Jakarta 17 Nopember 2007. 00.51.