Monthly Archives: March 2008

Ecodesign

Ecodesign

Ecodesign adalah pendekatan desain produk yang mempertimbangkan dampak produk tersebut terhadap lingkungan. Bukan hanya pada saat menciptakan desain terebut tetapi lifecycle secara keseluruhan, mulai dari pengadaan,fabrikasi, penggunaan dan pembuangannya, dengan kata lain ada pertimbangan dan prediksi secara holistik atas pengaruh produk tersebut terhadap lingkungan.

Aspek-aspek lingkungan yang dianalisa adalah;- bahan baku dan sumber daya alam, misalnya energi, air dan tanah, emisi terhadap udara, air, dan tanah yang terkait dengan lingkungan dan kesehatan manusia, misalnya noise, getaran dsb, dan sampah, material yang berbahaya.

Inspiration

Inspiration

Manik Thapar, Noida-New Delhi.
This businessman has developed recycle business from domestic waste and industrial. His company, Eco Wise offers waste transportation services, free waste bin for recycle and education program for the community. Everyday Eco Wise load and recycle 20 tons waste.

More read;

Djamaludin Suryohadikusumo, and Sri Murniati, Jakarta.
Since 2005, ex Indonesian Ministry of Forestry, and his wife open an organic fertilizer class. This class was firstly opened in their residence then it was moved to the unusable land close to the residence. It’s named Kebun Karinda. In two years, 4000 people have attended this two hours class.

More read;

Maqsood Sinha, and Iftekhar Enayatullah, Dhaka.
It was the mount of waste that driven Maqsood and Iftekhar to build Waste Concern, about 12 years ago. The company collected domestic organic waste and processed it becomes organic fertilizer, and sold it. Nowadays they have 47 similar sub businesses in Bangladesh. Since 2001, these units have processed 125,000 tons organic waste. They are developing organic fertilizer plant near Dhaka. It will have 700 tons capacity per day. They also have another project, i.e.;- to process gasses ex waste into usable energy for the community.

Ribut-ribut lagi…

Ribut-ribut lagi…

Teman, minggu-minggu ini kita cermati di berbagai media massa ada “ribut-ribut” lagi seputar lingkungan hidup tentunya. Kali ini tentang sewa menyewa hutan rimba. Mulai dari birokrat, artis sampai rakyat jelata seperti saya mau gak mau jadi berpikir setelah membaca hal ini. Walhi merespon hal ini dengan menghimbau kepada masyarakat umum untuk ikut ber-donasi demi menyelamatkan 11,4 juta hektar hutan Indonesia. Ada yang berminat? Hanya 300 ribu rupiah/m2/ tahun disarankan cukup menyewa sampai pemilihan presiden yang akan datang karena presiden yang baru akan mencabut peraturan ini.

Btw, ada apa sebenarnya? tidak lain dan tidak bukan karena adanya peraturan pemerintah no 2 tahun 2008 yang dikeluarkan Pemerintah Indonesia pada 4 February 2008, tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berasal dari Penggunaan Kawasan Hutan untuk kepentingan Pembangunan di luar Kegiatan Kehutanan. Secara ringkas PP itu mengizinkan pembukaan hutan lindung dan hutan produksi untuk kegiatan tambang, dan infrastruktur telekomunikasi dan jalan tol dengan tarif sewa seharga Rp 120 untuk hutan produksi dan Rp 300 per meter persegi per tahun. Dimana PP ini memuluskan pemusnahan 900 ribu hektar hutan yang saat ini telah dikuasai oleh 13 perusahaan pertambangan dan potensi kerusakan atas 11,4 juta hektar lainnya. (Selengkapnya baca di;- http://www.walhi.or.id/kampanye/hutan/konversi/080228_ppdua_duaribulapan_li/ )

PP ini menunjukkan inkonsistensi komitmen Pemerintah Indonesia terhadap UNFCC di Bali tahun lalu, dimana saat itu Indonesia berkeinginan menjadi pioneer dalam penurunan emisi global dengan melakukan gerakan penyelamatan hutan. Sungguh ironis sekali bukan? Mungkin kalau kita bertanya pada Pemerintah mengapa bisa begini? Mungkin sekali mereka akan menjawab, namanya juga manusia biasa, dalam pemerintahan kan cuma sekumpulan manusia biasa yang tidak sempurna dan bisa saja bertindak tidak konsisten. Gubrak! :) saya semaput dengan sukses.

Akhir kata, jika berminat “mengontrak” sepetak hutan demi masa depan kita-kita juga, silahkan berhubungan langsung dengan teman-teman di Walhi, di site yang sudah saya sebutkan di atas. Kapan lagi bisa punya kavling di rimba raya yak biar pun cuma ngontrak?