Belajar Tentang Mindset
August 29, 2008
Selain saya flu, beberapa hari ini komputer saya bermasalah, kinerjanya amburadul, entah apa sebab jadi lambat dan kacau. Walaupun agak mengharukan–ini komputer kok ikut-ikut majikan sakit (halah), tak urung kejadian ini makin bikin saya eneg dan sumpek jelas ini turunan fungsi hati yang rusuah (apaan sih).
Jika beruntung (baca komputer tidak hang atau lambat) saya bisa melihat-lihat blog tetangga dan membaca-baca komentar di Agoyyoga, beruntung lagi kalau bisa membalas tanggapan di situ atau meninggalkan sedikit jejak di artikel yang menarik. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah kehadiran owner Erander di Agoyyoga. Rasa-rasanya sejak mula berinteraksi di dunia virtual, Bang Eby ini baru beberapa kali singgah dan meninggalkan komentar di Agoyyoga. Entah karena Bang Eby tidak suka baca tulisan saya, atau karena tidak pe-de berbahasa Inggris (padahal English-nya saya yakin jauh lebih baik dari yang menulis), atau karena tulisan saya tidak sesuai dengan minat beliau.
Tetaplah, bagi saya kehadiran setiap tamu yang singgah atau bahkan menyempatkan duduk (meminjam istilah Daniel Mahendra) di Agoyyoga adalah istimewa dan menyenangkan saya, begitu pula dengan kehadiran Bang Eby. Bagaimana tidak istimewa dan menyenangkan, jika tiba-tiba pintu rumah diketuk seseorang yang baru pertama kali itu singgah dan memberitahu bahwasanya saya mendapat hadiah sebuah buku.
Maafkan saya Bang, janji menulis tentang isi buku itu tertunda-tunda. Bahkan permintaan Abang untuk menuliskannya dalam bahasa Inggris belum saya penuhi karena hari ini saya tak tahan untuk tidak menulis dalam bahasa Indonesia tercinta. Janji adalah hutang yang harus ditunaikan sesegera mungkin, tak mungkin sanggup saya menanggung jika kelak liang kubur diketuk sesama ahli kubur yang menanyakan tulisan tentang hadiah itu yang belum terposting, sebab pertama saya tak tahu adakah wordpress disana, kalau misalnya ada pastinya saya tidak bawa laptop, nah jadi nglantur kan.
Adalah buku berjudul The Secret of Mindset yang ditulis oleh Adi W. Gunawan yang mengklaim dirinya sebagai The Re-Educator dan Mind Navigator (mohon jangan tanyakan apa maksudnya terus terang saya juga tidak paham). Yang dihadiahkan Bang Eby pada saya. Ini bermula dari komentar saya di Erander.
Psikologi jelas-jelas bukan ilmu yang saya pelajari secara formal, belakangan teritori ini tersentuh tanpa sengaja karena ada kebutuhan kecil yang memaksa saya. Jadi tidak mungkin saya berani membuat ulasan dan komentar tentang kandungan buku tersebut tanpa landasan ilmu yang bisa dipertanggunjawabkan. Satu-satunya yang bisa saya tulis adalah sepintas mengenai isi buku tersebut dan sedikit pendapat saya setelah membacanya.
Secara garis besar buku ini dibagi menjadi dua bagian utama yaitu memetakan dan memahami belief dan dekonstruksi dan restrukturisasi belief. Belief sendiri didefinisikan oleh Adi W. Gunawan sama dengan mindset. Ia menekankan pentingnya belief sebagai master key dalam melakukan perubahan hidup dan diyakininya belief menentukan cara berpikir, berkomunikasi dan bertindak seseorang.
Pada bagian pertama, Adi memberikan beberapa contoh bagaimana seseorang terpenjara dalam penjara mental, tak kurang contoh dari dirinya sendiri dan beberapa kliennya. Contoh tersebut dimaksudkan Adi untuk memberikan pemahaman betapa kepribadian dalam contoh-contoh tersebut memiliki persamaan, yaitu konsistensi dalam menyabotase diri sendiri. Ini adalah mindset dan tidak mudah merubahnya tapi tidak mustahil merubahnya. Untuk itu Adi mengajak memahami pengertian mindset terlebih dahulu. Menurutnya mindset adalah belief atau sekumpulan dari kepercayaan (belief) atau cara berpikir yang mempengaruhi perilaku dan sikap seseorang yang akhirnya akan menentukan level keberhasilan hidupnya (baca: nasib). Dengan demikian jika ingin mengubah mindset, yang harus diubah adalah belief atau kumpulan belief.
Menyikapi pertanyaan mengapa manusia sulit sekali berubah, Adi mencoba menerangkannya dengan menggunakan Triune Human System (Manusia terdiri dari tiga sistem: perilaku, berpikir, dan kepercayaan atau behavior, thinking, dan belief) yang dipelajarinya dari DR. Bill Gould seorang pakar transformational thinking. Kesimpulan akhirnya tidak jauh dari yang pernah saya baca dari buku-buku tentang perubahan, yaitu semisal karena merasa tidak punya masalah, mau berubah tapi tidak tahu caranya, tidak mau berubah walau tahu caranya, takut perubahan akan berdampak negatif, dan sebagainya. Bisa dimaklumi karena toh ini bukan ilmu yang sophisticated bukan rocket science.
Dibagian pertama terdapat pula questioner (belief inventory) untuk membantu pembaca agar lebih sadar mengenai belief dan untuk memberitahukan posisi pengisi (pembaca) serta pemahaman tentang belief dan law of attraction.
Bagaimana dengan bagian kedua? Adi lebih menekankan tentang bagaimana cara mengubah belief, lebih teknikal. Semisal dengan mengubah belief dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan kritis pada diri sendiri, dengan afirmasi dan visualisasi, dengan menggunakan EFT (Emotional Freedom Technique), Hipnoterapi dan NLP. Pada bagian akhir Adi mengutip ucapan Eleanor Roselvet – the future belongs to those who believe in the beauty of their dreams, untuk menyakinkan pembaca bahwa dengan keberhasilan seseorang memahami belief setelah membaca buku ini, ia yakin seseorang akan sukses dalam hidupnya dalam segala bidang.
Saat itu saya memang mencari pengertian tentang mindset. Sebagai orang yang senantiasa ingin hidup lebih baik, saya membuka diri terhadap perubahan dan berusaha memahami mindset-mindset pribadi yang kira-kira bisa menghambat kemajuan saya. Walaupun cara pembahasan dibuku ini kurang menarik menurut saya, tapi tidak sedikit ganjaran atas ketekunan membaca yang saya peroleh. Cukuplah untuk dipraktekkan sendiri, walau begitu, ini saya kutipkan tantangan sederhana untuk yang tertarik mengetahui mindset masing-masing tentang beberapa hal yang sifatnya pribadi (oh anda tak perlu menuliskan jawabannya di sini).
Cobalah mengisi titik-titik ini dengan jawaban yang pertama terlintas dibenak anda tanpa menganalisanya. Pastikan kondisi anda cukup santai dan tenang ketika menuliskan jawabannya. Mulai,
Hidup adalah………..
Uang adalah…………
Cinta adalah………..
Sukses adalah……….
Suami/Istri adalah……
Anak adalah…….
Sudah selesai kan?
Ngomong-ngomong, Bang Eby, apakah sudah membaca buku ini? Saya yakin belum kan? Begini Bang, apakah dengan menuliskannya ini telah memenuhi pesan, tulisan tangan yang tertoreh dihalaman pertama: …untuk melewati hari-hari dengan penuh arti dan membawa kebaikan untuk orang-orang disekitar saya?
note: -
-Foto sampul buku menyusul-
Terima kasih. :)
August 30, 2008 at 10:03 am
Yeee…… mangkannya jangan cepat janji2…. huehehehe….. tapi kalau belum ada keluar kata janji berarti ya belum janji dong…..
Kok enak banget, mas Eby nyuruh nulis pakai bahasa Inggris….. huehehehe……
Ya oke deh selamat menterjemahkan aja ya…….. bilang dong sama mas Eby kalau mau nulis buku kirimannya pakai bahasa Inggris, ya ngasih bukunya yang bahasa Inggris juga dong, gitu!
Btw…. blog alternatifku dinonaktifkan dulu…. abis lagi nggak punya banyak waktu nih!
September 1, 2008 at 2:33 am
Terima kasih .. sudah mau ngebahas isi buku tersebut disini
Itulah mengapa abang tidak tuntas membacanya
.. disamping itu, terlalu banyak istilah² yang abang ga ngerti .. makanya Allah itu Maha Adil .. diciptakan-Nya mahluk yang pintar berbahasa Inggris, yang baik hati untuk memberikan buku
dan yang pinter komentar .. sehingga terciptalah interaksi antar umat manusia.
Jadi .. sebenarnya, semua kehidupan memang kembali pada belief tersebut.
Kemaren, saat abang pulang ke Balikpapan .. sepanjang perjalanan pulang dari hotel ke bandara trus di pesawat hingga sampai dirumah, abang berjumpa dengan banyak orang yang melakukan aktivitas yang sama.
Semua orang² tersebut sama seperti abang .. ada kepala, anggota tubuh dan hidup. Hilir mudik di jalan, di bandara dan di pesawat. Saat itu abang berpikir .. apa yang membedakan abang dengan orang² tersebut.
Semua mahluk dibuat dari ‘bahan baku’ yang sama — yaitu sperma dan ovum — tapi sekarang yang abang lihat adalah orang² dengan cara pakaian yang berbeda, cara jalan yang berbeda dan sebagainya? .. mengapa kita tidak sama satu sama lain?
Disitulah abang menyadari .. bahwa hal itu memang disengaja oleh Allah agar kita saling berinteraksi, saling tolong, saling berbagi, saling mempehatikan dan saling belajar .. apapun tentang mindset .. itu adalah rahmat Nya dan atas segala ijin-Nya.
September 2, 2008 at 12:42 am
Good ..
Selanjutnya tentu harus ditanyakan pula .. mengapa kode genetik yang mempengaruhi belief seseorang. Pasti ada maksud Allah mengapa manusia itu terdiri dari banyak gen?
So .. tentulah ada maksud-Nya. Agar manusia itu saling tolong menolong dan saling membutuhkan bukan?
Manusia yang fisiknya sempurna menolong yang tidak sempurna. Manusia yang pintar mengajarkan pada manusia yang bodoh. Manusia yang kaya menolong manusia yang miskin.
Bukan malah manusia mengeksploitasi manusia yang lainnya. Yang kaya menindas yang miskin. Yang pintar mengakali yang bodoh dan sebagainya. Ok .. selamat menjalankan ibadah puasa
October 27, 2008 at 5:25 am
dear mbak amalia
dalam wikipedia, religion termasuk bagian dari belief system. Saya sendiri sebelum membaca buku ini 1 thn sebelumnya telah dikenalkan metode dekontruksi mindset oleh Vincent Liong seorang anak indigo yang pernah muncul di kick andy dan juga leonardus rimba pendiri milis spiritual-indonesia di yahoogroups. Ternyata relogion yang saya anut banyak berpengaruh menghambat kesuksesan, diantaranya menganggap takdir adalah berasal dari Yang Kuasa, padahal takdir itu ada dan tergantung oleh mindset kita sendiri.
salam sukses
December 5, 2008 at 2:21 am
Kadang untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik, kita perlu memahami mindset kita…..dalam kehidupan sehari-hari, banyak pelatihan tentang ini. Penilaian atas ini juga diperlukan untuk mengerti anak buah kita dan mendorongnya ke arah yang lebih baik.
(Saya belum baca bukunya Yoga…cuma memang saat ini, ilmu psikologi mau tak mau menyatu dengan kehidupan sehari-hari…)
Benar Bu, dalam me-manage sub ordinate, ternyata kita mesti mengenali behavior dan mind set yang harus dikontrol agar sesuai dengan tujuan perusahaan. Seninya di sini dan ternyata bukan urusan mudah.