Kawan, sudah seminggu lebih saya berada di rumah orang tua, beristirahat sementara dari hiruk pikuk dunia kerja. Liburan ini saya niatkan untuk mengerjakan hal-hal yang saya sukai semisal membaca, menulis, dan melukis. Sayangnya kesukaan saya mengunjungi dunia maya sedikit terhambat. Entah karena provider langganan saya, atau setting lap top yang salah membuat saya tidak bisa browsing secara leluasa di rumah. Walau begitu sekali-sekali saya masih menyempatkan membaca blog-blog yang kerap saya datangi dan meninggalkan komentar bila memungkinkan dengan menggunakan bantuan telepon genggam, atau menggunakan lap top ketika menemukan wifi zone. Read the rest of this entry
Monthly Archives: September 2008
Bumi dan Perempuan
“Aku, langit, dan bumi hidup bersama-sama, aku dan segala sesuatu adalah satu.” (Sun Tzu)
Ketika menulis komentar di blog milik Donny Verdian ini, bukannya aku tak menangkap tentang maksud tulisannya hingga aku memilih menulis tentang musik yang kudengarkan dulu. Ah ini pasti karena kepandaian mas DV membangkitkan romantisme pembacanya dengan elegan, sehingga hanya sedikit, termasuk Bu Enny yang tetap fokus pada inti rawian mas DV.
Kitaro, adalah salah satu yang saya sebutkan. Seminggu-dua setelah menulis komentar itu, di salah satu “tempat persinggahan” saya menemukan kaset tua milik saya itu, yang saya ingat itu adalah kaset kedua yang saya beli dari album yang sama, karena seseorang telah meminjam dan lupa mengembalikannya. Read the rest of this entry
Teman Jiwa
Tanpa memandang virtual atau nyata,
tiap-tiap pertemanan selalu berdampak pada jiwa kita.
Tulisan ini sekadar cara saya untuk mengekspresikan apa yang saya rasakan tapi sulit disampaikan secara lisan pada semua teman-teman yang telah hadir dalam hidup saya. Yang dulu pernah singgah kemudian entah kemana, yang masih senantiasa di sisi saya, maupun yang baru mulai “duduk dan minum” bersama saya.
(Diblog ini penggunaan kata ganti orang pertama diusahakan konsisten menggunakan “saya”, tetapi khusus untuk tulisan ini perkenankan saya menggunakan kata ganti orang pertama “aku” semata-mata untuk mendapatkan gambaran yang lebih akrab) Read the rest of this entry
Sabtu dan Minggu Kemarin
Tidak ada yang lebih baik dari menikmati sabtu dan minggu di rumah, meminimalisir aktivitas dan mendengarkan diri sendiri setelah sekian lama energi ini terpapar “udara luar”.
Sabtu, tidur siang saya terganggu sejenak oleh suara biola tetangga yang tengah berlatih. Saya menikmati suguhan musik klasik ini dan mulai menanti lagu apa yang bakal dibawakan berikutnya. Sementara kesunyian terpecah, burung-burung mulai turut berkicau. Sungguh komposisi yang lucu dan menyenangkan. Keluar dari kamar sebentar, melongok lembah hijau dibawah sana dari jendela pantry membuat saya senang. Cuaca cerah, hijau di mana-mana dan semilir angin bertiup lembut dan gentle. Saya memutuskan kembali berbaring dan bermaksud menikmati konser gratisan. Tapi harmoni tadi rupanya hanya awalan, ternyata ada dua suara biola yang terdengar, yang telah mahir dan yang baru berlatih. Lagi-lagi saya tidak bisa obyektif, suara biola selalu saja membius saya, mungkin efeknya seperti candu. Lama lama, saya putar CD intrumentalia, musik pengiring latihan Yoga–tepat ketika latihan mereka selesai. Lumayan menenangkan kepala dan menentramkan hati. Kembali burung-burung berkicau. Ah ini harmoni dari ekosistem yang cukup baik di sekitar tempat tinggal saya.
Ingatan beralih ke sang Pencipta. Adakah nikmat yang lebih baik untuk saya saat ini? Walau terbersit sedikit kekhawatiran, akankah kelak saya bisa menikmati tinggal di suatu tempat yang udaranya segar, sejuk, tenang, banyak pohon, burung, sesekali berjumpa dengan tupai mungil yang menyeberang dari satu pohon ke pohon yang lain lewat kabel telpon, ada lembah hijau yang cukup luas, sungai kecil dan rumpun bambu serta angin yang menemani saya saat beristirahat?
Pun ketika minggu tiba, tak hendak saya memutuskan keluar rumah sekedar menghabiskan waktu menunggu saat berbuka. Sungguh sayang rasanya. Lamat-lamat terdengar Opick melantunkan “tombo ati”, CD lama yang saya temukan lagi minggu pagi. Entah karena suasana alam di sekitar yang begitu sunyi dan tenang sehingga bathin saya turut hening dan khusyu, lirih terucap menirukan lirik terakhir Opick, mudah-mudahan Gusti Allah yang akan mencukupi.
Jakarta, 7 September 2008 — puasa hari ke-tujuh.
Hidup yang Nyata
Membuka-buka catatan lama di Agoyyoga, mata ini tertumbuk pada selarik puisi milik Rumi — yang dulu saya merasa harus dan ingin mewartakan rangkaian kalimat indah itu pada dunia,
Be empty of worrying.
Think of who created thought!Why do you stay in prison
when the door is so wide open?
Move outside the tangle of fear-thinking.
Live in silence
Iya, Iya…
Ada yang protes postingan saya terlalu serius, bahkan humor yang (terkadang) nyelip bikin mikir dulu baru ketawa (garing?!). Baru terpikir sekarang. Anyway, ini masukan berharga buat seseorang yang sedang berproses, belajar menyampaikan pendapat dan pikiran lewat tulisan–dan terkadang waktu yang seperti terbang membuat orang ini jadi sok serius.
Low blood sugar! Faktanya ketika mengikuti session pelatihan pagi ini. Belum apa-apa sudah mikir dan keder dulu, habis judul presentasi-nya cukup panjang: – Control, Measurements, Quality, and Customer-Supplier Alignments. Rasanya bakalan banyak pula slide yang akan ditayangkan, belum lagi diskusi-diskusi bebas yang bisa lebih dari satu bahasan, pelengkap pelatihan interaktif ini. Sebenarnya apa sih yang dibahas? Ya itu semua yang disebutkan dijudul presentasi, dan hasilnya diputuskan pelatihan berikutnya, yang mestinya diadakan tiap dua minggu-an ini ditunda hingga usai lebaran (asyik!), mengingat menimbang saat puasa ini setiap orang sibuk menguap, jadi super lambat aka telmi, dan gak asyik aja buktinya pas sessi where are you? — disini tiap-tiap peserta diminta menceritakan apa saja yang sedang ada dibenak mereka saat itu, saya cuma bisa bilang (aslinya dalam Bahasa Inggris), “Puasa udah berjalan dua hari, saya ingin lebih menghayati bulan ini, jadi nggak salah kalau tadi pagi sebenarnya saya lupa ada jadwal training ini karena hari ini rencananya akan me-review project budget”. Gak seru kan? Gak asyik kan? Padahal, mestinya puasa jangan dijadikan alasan kontraproduktif. Betul?
Tentang postingan sebelum-sebelum ini yang bikin dahi berkerut dan kepala berpikir keras, sampai ada yang bilang ora mudeng, lupakan saja. Nanti inshaAllah saya tulis sesuatu yang lebih ringan dan mudah dicerna. Mungkin topik seputar cinta lingkungan dan sebagainya akan kembali muncul atau sedikit tentang pengalaman spiritual selama Ramadhan (tapi untuk subyek yang ini susah buat saya kalau nggak serius ngomongnya). Jadi? Let’s see… untuk sekarang, selamat berbuka bagi yang berpuasa dan sudi melangkah kemari.
Itulah Hidup!
Seorang sahabat menjelaskan pada saya, sesungguhnya persoalan-persoalan yang menimpa kehidupan tiap manusia saat ini bukanlah persoalan-persoalan yang baru. Kemudian yang ini kalimat saya yang berusaha menerjemahkan maksud beliau –hanya saja ketika masalah itu menimpa diri kita, seolah-olah itu adalah persoalan baru yang berat dan membuat kita “termehek-mehek”. Setelahnya, syukur-syukur ada perbaikan, kemajuan dalam hidup sehingga ketika menoleh ke belakang kita bisa tersenyum bahkan tertawa, menertawakan “kebodohan”, ketololan, dan kusutnya kehidupan kita saat itu. Tapi, ketika tidak ada sesuatu yang didapat, bisakah kita tertawa? Tersenyum kecut mungkin iya. Read the rest of this entry
