Seorang sahabat menjelaskan pada saya, sesungguhnya persoalan-persoalan yang menimpa kehidupan tiap manusia saat ini bukanlah persoalan-persoalan yang baru. Kemudian yang ini kalimat saya yang berusaha menerjemahkan maksud beliau –hanya saja ketika masalah itu menimpa diri kita, seolah-olah itu adalah persoalan baru yang berat dan membuat kita “termehek-mehek”. Setelahnya, syukur-syukur ada perbaikan, kemajuan dalam hidup sehingga ketika menoleh ke belakang kita bisa tersenyum bahkan tertawa, menertawakan “kebodohan”, ketololan, dan kusutnya kehidupan kita saat itu. Tapi, ketika tidak ada sesuatu yang didapat, bisakah kita tertawa? Tersenyum kecut mungkin iya.
Mengapa hari-hari kemarin saya begitu gelisah dan kehilangan sensitivitas, mulai menyalahkan diri sendiri yang terus menerus berada di zona duniawi dan bertanya banyak hal yang jika dipikirkan dengan tenang sebetulnya dunia tidak(belum) runtuh, persoalan-persoalan itu juga persoalan lama, seperti siklus datang dan kembali, dan saya tidak kemana-mana. Ternyata memang saya tidak kemana-mana, tapi saya salah posisi. Berani-beraninya saya menempatkan diri sebagai “pusat rotasi kehidupan manusia”. Seolah semua yang ada di sekitar bergerak, berputar, mengelilingi saya. Oh, ngomong apa sih saya? Inilah yang saya maksud dengan self-center, yang pernah berkali-kali saya tulis di blog yang ini. Hello!
Ketika seorang anak diberitakan terjatuh, apakah dampaknya pada dunia? Apakah akan berhenti ketika pemakamannya usai? Adakah yang membayangkan mungkin salah satu petugas rumah sakit yang menangani terpaksa membatalkan niatnya untuk membawa anaknya sendiri yang sedang demam ke dokter, karena keluarga pasien menolak dilakukan visum, urusan menjadi lebih singkat, ia bisa segera menyelesaikan tugas, ijin pulang cepat dan bergegas ke rumah, tapi apa daya ia terpaksa membawa anaknya ke dokter yang lain karena dokter anak langganannya telah selesai jam prakteknya. Dokter yang bukan dokter langganan ini diagnosa-nya tidak tepat, obat yang dibeli mahal tidak mampu menyembuhkan sang anak, alih-alih sembuh malah komplikasi… dst.. dst…
Belum lagi dampaknya bagi sopir ambulance, coba saya berimajinasi, sebenarnya hari itu ia sedang pusing memikirkan bagaimana caranya ia memperoleh uang untuk membayar kontrakan. Sang induk semang telah meng-ultimatum, tidak ada ampun lagi karena telah tahunan menunggak, bayar atau good bye. Jumlahnya tidak seberapa, hanya uang minum dan kongkow-kongkow sekali jalan bagi kebanyakan orang di ibukota republik ini. Namun, tugas adalah segalanya, ia jalankan panggilan itu walau dikepalanya berkecamuk nilai nominal yang ia butuhkan. Ketika tugasnya usai dipenghujung hari, ia sepenuhnya tersadar dan keesokannya dengan sedih dan lunglai diseretnya barang-barang yang tak seberapa keluar dari kontrakan tanpa tujuan pasti.
Di saat sedang jernih dan bening, yang saya yakini adalah satu kepakan sayap kupu-kupu di belahan dunia ini mungkin akan menyebabkan badai taifun di belahan dunia yang lain, dan dunia berjalan menempatkan diri di titik keseimbangannya sendiri tentunya dengan rahmat-Nya. Apa yang saya perbuat bukan saja untuk keseimbangan diri saya sendiri tapi membawa dampak bagi orang lain. Apa yang diperbuat seseorang sekecil apapun akan membawa dampak bagi orang lain. Pernahkah secara sadar saya teringat akan hal itu? Perbuatan yang baik akan menemukan jodohnya dengan hasil yang baik walaupun mungkin tidak menyenangkan dalam pandangan manusia yang awam. Bukankah itu siklus yang sedang saya jalani? Yang tidak pernah saya merawinya sendiri karena kehidupan dan diri saya bukanlah milik saya sendiri. Itulah yang saya maksud ketika mengatakan tahu apa sih saya bahkan tentang diri saya sendiri?
…yang senantiasa berseru-seru untuk kebajikan dan kebahagiaan orang lain, tetaplah demikian. Selayaknya mercusuar ditepian samudra kehidupan.
Good day for you!
Jakarta, awal puasa 2008.
Gak mudheng …
*mencoba kembali membaca sampe mengerti maksudnya*