“Aku, langit, dan bumi hidup bersama-sama, aku dan segala sesuatu adalah satu.” (Sun Tzu)
Ketika menulis komentar di blog milik Donny Verdian ini, bukannya aku tak menangkap tentang maksud tulisannya hingga aku memilih menulis tentang musik yang kudengarkan dulu. Ah ini pasti karena kepandaian mas DV membangkitkan romantisme pembacanya dengan elegan, sehingga hanya sedikit, termasuk Bu Enny yang tetap fokus pada inti rawian mas DV.
Kitaro, adalah salah satu yang saya sebutkan. Seminggu-dua setelah menulis komentar itu, di salah satu “tempat persinggahan” saya menemukan kaset tua milik saya itu, yang saya ingat itu adalah kaset kedua yang saya beli dari album yang sama, karena seseorang telah meminjam dan lupa mengembalikannya.
Kitaro lebih sering membuat rekaman komposisi musik daripada merekam sebuah lagu utuh dengan liriknya. Di salah satu albumnya, Dream yang dirilis tahun 1992, memuat tiga lagu yang liriknya ditulis oleh orang lain, Lady of Dream, Agreement, dan Island of Life. Dari ketiga lagu itu, yang paling kerap saya dengarkan adalah Lady of Dream, namun kali ini saya lebih tertarik menyerap kalimat-kalimat di Island of Life, salah satu lagu yang berisi pemujaan Kitaro pada wanita. Disana digambarkan, bagaimana dekatnya wanita dan alam (Bumi) sebagai bagian pemujaan (worship) itu sendiri. Coba simak chorus-nya,
Without woman
Earth would fade and die
Without woman
Who am I
Who am I
On the Island of Faith
Who am I
On the Island of Life
You are the Sea
You are the Sky
You are the Ocean
I am the Earth
I am the Island of your Love
Kalimatnya sederhana, cenderung berlebihan rasanya, tapi saya teringat lagu ini justru ketika saya membaca artikel lama di Jurnal Perempuan, di salah satu edisinya yang membahas tentang Perempuan dan Spiritualisme, tepat ketika saya mencoba memahami kalimat ini:
”….Keempat, tingkat new age yang secara paradigmatic, ingin mendefinsikan kembali makna “kesucian” (redefining of the sacred), dan sekaligus mensakralisasikan ulang bumi, manusia, dan kehidupan sehari-hari. Inilah level new age yang menjadi titik awal kebangikitan spiritualitas new age (new age spirituality) dan kesadaran baru (a new conciousness) serta kehidupan sehari-hari. Pada tingkat inilah terdapat konvergensi cultural, spiritual, nilai, dan agenda politik antara pemikiran New Age dan spiritualitas perempuan. Lewat pintu inilah, spiritualitas perempuan masuk ke dalam bagian dari gerakan new age itu sendiri, yang mendefinisikan kembali “kesucian” dan sekaligus mensakralisasi ulang bumi, manusia dan kehidupan sehari-hari.”
Sedikit banyak saya memahami kritik terhadap paradigma sains modern yang secara sistematik telah berjasa buruk dalam men-desakralisasikan bumi, manusia dan kehidupan sehari-hari, dan juga keterlibatannya dalam proses eksploitasi terhadap bumi dan alam.
Disinilah perlunya pengkajian ulang atas pandangan dunia dan ilmu pengetahuan yang mendukung dominasi terhadap perempuan dan alam (atau alam dan perempuan). Apa yang telah dihasilkan oleh Francis Bacon, Rene Descartes, hingga Sir Isaac Newton tak berarti banyak bagi kemaslahatan manusia dan alam bila dalam aplikasinya terdapat kekeliruan pandangan berjamaah, bahkan pada taraf teorinya saja sudah meracuni umat (pandangan Bacon tentang tujuan ilmu yang tak lain dan tak bukan untuk menguasai dan mengendalikan alam, sebagaimana halnya Descartes yang merumuskan alam tidak lebih dari sitem mekanis).
Kiranya kita perlu sama-sama mengingat relasi bumi-perempuan. Hal ini dapat dilacak dari berbagai simbolisasi bumi sebagai ibu dan perempuan. Jallaludin Rumi misalnya dalam Mastnawi, konsep Tao tentang Yin dan Yang dimana Bumi dilukiskan sebagai yin yang perempuan. Dalam tataran ini, eksploitasi terhadap Bumi dan seluruh isinya sama saja dengan mengeksploitasi perempuan (dan manusia itu sendiri). Disinilah saya mendapatkan makna perlunya mensakralisasikan alam kembali. Memformat ulang paradigma manusia tentang alam, merekonstruksi tujuan sains agar ramah lingkungan dan memiliki kesadaran terhadap ekologi dalam hal ini perempuan sebagai pelopor pembelajar adalah ujung tombak yang terbaik (we are all a part of the organic flow of life!
).
##
Tulisan ini dibuat sambil diiringi musik dan lirik Om Purnamada. Namaste’ !
Sebetulnya perempuan dan laki-laki memang partner…ini juga dapat kita lihat sejak zaman Mojopahit, yang saat itu pernah yang menjadi raja adalah perempuan (Tribuana Tunggadewi. Jadi sebetulnya malah aneh, kalau di zaman modern ada gerakan perempuan yang minta disamakan haknya…atau ini karena adanya zaman penjajahan? atau zaman dulu kalau malah lebih ada persamaan hak?
Rata-rata hampir semua musik new age aku suka. Bahkan melebihi pemusik-pemusik favorit lainnya. Karena larasnya dapat membawa serta menghantarkan kita pada tingkat perenungan yang maha tinggi.
Hanya, jujur saja, khusus Kitaro aku masih belum lagi dapat memahaminya. Soul-nya masih belum dapat. Karena barangkali tidak semua tembangnya kukenal.
Maka tulisan ini menjadi sangat menarik karena mencoba menggiring pembaca untuk merenungi pemakaan bumi dan perempuan itu sendiri. Dua hal yang tak pernah bisa dipisahkan. Baru aku tersadar, barangkali itu mengapa kita menggunakan istilah ibu pertiwi, atau nenek moyang. Kenapa bukan bapak pertiwi atau kakek moyang. Karena dari sanalah semua terlahir dan bermula. Dan kepadanya pulalah kita kembali dan berpulang.
Satu usaha yang menarik, Yoga, bahwa manusia tak mungkin ada tanpa melaluinya. Kau pintar membawa pembaca untuk berhenti sejenak. Memikirkan hal-hal esensialitas dalam hidup ini. Aku suka artikel ini.
Yoga:
Tidak masalah apakah kamu bisa memahami musik Kitaro atau tidak, yang terpenting adalah kamu telah mendapatkan esensi dari tulisanku ini, kita perlu berpikir ulang tentang apa yang telah diperbuat manusia terhadap Bumi, apa sih salah satu penyebabnya?
Terima kasih, kamu sudah sudi singgah dan menulis komentar yang serius ini, pujianmu rasanya berlebihan untuk saya yang baru belajar menulis.