Kawan, sudah seminggu lebih saya berada di rumah orang tua, beristirahat sementara dari hiruk pikuk dunia kerja. Liburan ini saya niatkan untuk mengerjakan hal-hal yang saya sukai semisal membaca, menulis, dan melukis. Sayangnya kesukaan saya mengunjungi dunia maya sedikit terhambat. Entah karena provider langganan saya, atau setting lap top yang salah membuat saya tidak bisa browsing secara leluasa di rumah. Walau begitu sekali-sekali saya masih menyempatkan membaca blog-blog yang kerap saya datangi dan meninggalkan komentar bila memungkinkan dengan menggunakan bantuan telepon genggam, atau menggunakan lap top ketika menemukan wifi zone.
Saya pernah menulis di Agoyyoga, tentang bagaimana saya berusaha mendefinisikan pemahaman “pulang” dan “rindu rumah”. Berada di rumah orang tua, tidak serta merta membangkitkan perasaan pulang. Setelah sering bepergian dan tinggal bertahun-tahun sendiri di kota yang berbeda, definisi pulang menjadi tidak penting lagi bagi saya. Yang terpenting adalah posisi, kedudukan saya saat ini dimana, dengan siapa saya berinteraksi di ranah tersebut, maka disitulah saya akan berusaha membuat laku sebaik mungkin dan menjadikan pertemuan dan keberadaan menjadi lebih bermakna bagi semuanya. Begitu juga saat ini, ketika saya merasakan keberadaan di sini seperti sedang singgah, sama halnya jika saya kembali ke Jakarta kelak, saya mungkin akan merasakan bahwasanya saya sedang akan singgah di Jakarta, tiada beda dengan persinggahan-persinggahan yang lainnya walaupun disanalah saya lebih banyak menghabiskan waktu Hakekat saya sebagai musafir di atas bumi ini pada akhirnya memberikan saya satu pemahaman pasti mengenai pulang, yaitu ketika ruh meninggalkan badan dan jasad dipeluk Bumi.
Kembali berada di rumah orang tua, saya menemukan bukan hanya perasaan tentang singgah yang melanda, kembali saya mendapatkan diri saya tetaplah gadis kecil bagi beliau berdua, kembali menenggang peraturan rumah termasuk belajar memahami anjuran dan nasehat beliau-beliau dengan obyektif (sesuatu yang mungkin sulit saya mengerti belasan tahun yang lalu). Sempat terperangah ketika Ayah saya mengatakan tak pantas seorang gadis berada di luar rumah diatas jam dua belas malam. Saya terkejut, bukan karena jam dua belas malam-nya, melainkan lebih kepada perpindahan saya dari zona bebas ke zona yang banyak batasannya selama liburan ini, perpindahaan dari kemandirian dan kebebasan penuh ke area yang penuh dengan tepa selira. Alhamdulillah, sejauh ini saya sangat mengerti dan bisa beradaptasi dengan situasi ini, walaupun terkadang memaksa saya senyum sendiri.
Beberapa hari lagi saya akan kembali ke Jakarta, begitu pula dengan salah satu adik. Dengan demikian kembali rumah orang tua menjadi sunyi. Kamar-kamar kosong, televisi yang jarang dinyalakan, rak buku yang bisu, kursi goyang yang jarang diduduki, seolah jadi pelengkap kesunyian. Secara terpisah Ayah dan Ibu menyampaikan betapa waktu cepar berlalu dan sebentar lagi beliau berdua kembali dalam sunyi. Ah terenyuh hati saya, walaupun mimik saya tanpa ekspresi, tapi lewat sorot mata saya, saya tahu orang tua saya bisa merasakannya.
Kawan, malam ini takbir mulai bergema, saya tidak ingin berpanjang lebar. Bolehlah orang mengatakan saya sedang pulang, walaupun saya memaknainya dengan singgah atau pergi ke rumah orang tua, yang terpenting saat ini adalah niat saya untuk lebih dekat dengan beliau berdua, memenuhi harapan, menjaga silahturahmi dan memperbaiki kualitas pertemuan kami. Entah kelak apakah saya memiliki kesempatan yang lebih baik atau kebalikannya, setidaknya saat ini saya ingin berusaha berbuat yang terbaik demi beliau berdua.
Sekedar diskusi, bagaimana engkau memaknai “pulang” kawan? Apakah kembali ke asal adalah pengertian yang kau pegang? Apakah kau memiliki tempat untuk pulang? Apapun, silahkan diungkapkan selama masih nyaman.
Dan akhirnya, perkenankan saya mengucapkan permohonan maaf lahir dan bathin atas segala kekhilafan. Kalimat-kalimat yang menyakiti tanpa sengaja, lisan yang terkadang terlepas dari kendalinya. Kedua tangan ditangkup di depan dada, dengan kepala menunduk dan hati penuh harap semoga engkau/anda sekalian dapat menerima permohonan maaf ini. Selamat Merayakan Idul Fitri 1429 H. Semoga segala amal ibadah kita diterima dan Ramadhan yang telah lalu ini sarana metaformosis keimanan kita menjadi lebih jelita laiknya kupu-kupu dan spiritnya terus menyertai hingga insha Allah bertemu dengan Ramadhan berikutnya.

psst… Yang dilukisan itu definetly bukan saya
Kau tampak dewasa sekali di tulisan ini. Dalam, dan tak kurang: membumi!
Pulang? Aku bisa mendefinisikannya. Tapi soal di mana, aku belum lagi tahu. Aku tidak dalam rangka sedang mencarinya. Masa pencarian itu sudah lewat. Kini bukan lagi mencari, tapi menciptakan. Menciptakan pengertian kata pulang itu sendiri.
Terkadang aku merasa pulang ketika aku sendirian. Memiliki kontrol penuh terhadap diri sendiri. Tidak tergantung pada siapa pun. Di sanalah aku merasa sedang pulang. Tapi pengertian pulang yang kumaksud masih pada “rumah-rumah tanpa alamat surat”.
Bukankah pada dasarnya: bukan di mana, tapi bagaimana, eh?
(aku selalu suka pada penggambaran: bukan di mana ladangnya, tapi siapa petaninya!)
Pulang atau singgah, perasaan orangtua atau diri sendiri, hanyalah romantisme. Betapa pun kita mesti punya perhatian juga pada hal-hal seperti itu. Tapi hidup tetap terus berjalan. Tinggal bagaimana kita mengisinya. Bukankah pada dasarnya kehidupan itu sederhana saja. Manusialah yang membuatnya menjadi bermakna.
Jadi pulang atau singgah, kembali kepada kita, indvidu yang menjalaninya. Bukankah begitu, Yoga?
Nah, selamat berlebaran untukmu.
saya sering sekali berpikir seperti itu
saya pulang ke jakarta tempat orang tua
tapi saya pulang ke tokyo, tempat tinggal saya sekarang.
Benar kata DM pulang bukanlah tempat, tapi lebih ke esensi hati nya
bahkan aku menganggap dunia virtual ini adalah rumahku yang ternyaman
di mana aku bisa menuliskan, mengungkapkan apa saja.
rumah virtual tepat sekali bagi orang yang sensitiv Yoga… don’t you think so?
Pulang? Ternyata definisi saya pulang sederhana saja, kembali ke rumah tempat tinggal ku, dimana saya dapat memeluk guling sambil membaca novel dan mendengarkan radio….
Bahkan di Bandung, yang sebetulnya rumahku juga, namun hanya kesana saat liburan….tak terasa kalau pulang, namun lagi berlibur….hehehe…padahal dirumah Bandung inilah suami dan si bungsu sekarang lebih banyak meluangkan waktu.
OOoo… ini rupanya makna pulang yang mba maksudkan…
Ah telat saya membacanya.