Monthly Archives: October 2008

Mi Manchi…

Mi Manchi…

Tigreeeee… Mi Manchi! Itu status message seorang teman di YM. Aih, rupanya ia sedang rindu dengan “macannya” (berdoa, moga-moga ia tak mampir baca tulisan ini dan mengutuk saya jadi batu hihihi). Terus terang saya jadi manchi, rindu juga. Kalau ia rindu pada kekasihnya yang asal negeri spagetthi, sedangkan saya rindu pada teman-teman saat kuliah dulu. Duuh pada kemana ya mereka? Minggu lalu saya hadir di acara halal bihalal alumni se Jakarta. Hanya tak satu pun teman se-angkatan terlihat, adanya bapak-bapak, tante-tante, oom-oom, dan oma opa ;) terlalu jauh gap angkatan mereka dengan saya. Kalau ingat kejahilan mereka, saya bisa senyum-senyum sendiri.

Coba bayangkan, saat itu saya sedang bertugas jadi MC sebuah seminar serius disebuah hotel bintang lima(tolong jangan dibayangkan suara dan penampilan saya seperti MC-MC profesional, wong ini acaranya seminar konstruksi, jadi nggak butuh MC yang heboh-heboh amat), pas rehat makan siang yang cuma sejam, teman se-gank (lima pria, satu perempuan) plus satu sahabat perempuan saya yang mirip obelix mengajak menghangatkan badan di kolam renang yang terletak di lantai lima. Asli, saya lupa, hari itu hari lahir saya. Kalau ingat sebal sekali. Tiba-tiba saja mereka menggotong saya dan ouch!… ceburr!!! Waks! Read the rest of this entry

Cuma Ada Saya, Pagi dan Tuhan

Cuma Ada Saya, Pagi dan Tuhan

“You’re a morning person, Yoga.” Kata salah satu kolega saya, ketika mendapati saya sudah duduk di meja pantry long house yang kami tempati. Saya sedang mengetik dan sambil menyeruput susu ketika ia baru keluar dari kamarnya. Waktu itu sudah pukul delapan pagi waktu sana dan sehari sebelumnya kami baru menempuh tujuh-delapan jam perjalanan dengan pesawat udara, menembus dimensi waktu yang berbeda dari keseharian kami dan malamnya kami masuk kamar masing-masing sekitar tengah malam waktu setempat. Well, sir anda betul waktu itu tapi jujur sebenarnya saya nggak yakin saya benar-benar morning person.

Celakanya atau untungnya saya mudah beradaptasi dengan zona waktu, jadi jam biologis saya otomatis menyesuaikan meski kadang badan agak protes, tapi bukan masalah besar, dengan sedikit tekanan pekerjaan saya bisa melupakan itu semua. Nanti jika ada waktu luang, saya bisa balas dendam. Nggak tahu apakah ini kebiasaan buruk atau tidak, yang jelas saya nyaman-nyaman saja, nah ini yang membuat saya dapat julukan itu dari beliau.

Tunggu, tunggu sebelum menceracau kemana-mana, sebetulnya saya ingin bicara tentang pagi hari, bukan tentang jam biologis saya. Pagi itu salah satu waktu favorit saya.

“Kalau siang?” Read the rest of this entry

Ketika Energi Tak Bermuara

Ketika Energi Tak Bermuara

Kesadaran ini dimulai suatu pagi buta, pemandangan di luar jendela pesawat yang ditumpanginya memperlihatkan semburat emas, sementara dibelakangnya gulita. Ia bergerak menjauhi barat, semalaman mengapung menuju bagian paling timur negeri ini. Semalaman ia terpuruk, sekarang masih, sulit baginya bergerak, dua deret kursi di sebelah kanannya diduduki dua pria berbadan besar, sudah pasti kaki-kaki mereka memenuhi lorong sempit antara kursi mereka dan kursi didepannya. Jangan harap memperoleh lorong yang lapang kecuali di deret pintu darurat. Tak enak rasanya terpojok seperti ini, bagaimana lagi? Sedikit melangut. Ia menyentuh kaca jendela, mencoba melukis wajah yang masih tinggal dihatinya yang akan ia tinggalkan selamanya. Read the rest of this entry

Pelukan

Pelukan

Pagi ini dingin dan berkabut, saya mulai menapaki jalan yang agak mendaki, hendak ke kantor. Masih sepi, terlalu pagi, bahkan koran pagi belumlah tiba. Semalam mungkin hujan, tanah kosong diseberang tampak basah, pohon-pohon tampak sangat lembab, pun daun-daun tak cuma basah karena embun. Tupai yang biasa tampak berlari melintas kabel telpon juga belum nampak. Burung-burung yang biasanya sudah sibuk berkicau belum lagi terdengar, mengherankan, kabut dan matahari yang malu-malu bisa mempengaruhi rutinitas mereka. Dingin. Hati saya, entah dingin entah tidak, rasanya sangat datar. Tak ada euforia, tak ada perayaan karena memang tak ada yang sedang dirayakan. Tak ada kesedihan tak ada kesepian, karena saya berkawan dengan alam yang tengah dilintas. Datar begitu saja.

Diujung jalan menurun, ritual pagi menyapa pak Hansip dimulai. Senyum hangat dan tulus selalu terpancar darinya, tak pernah banyak kata-kata, “Berangkat?” Itu yang selalu dikatakannya tiap pagi. Mungkin ia agak heran karena hari ini saya pergi lebih pagi. Sebuah mikrolet biru bermuatan sarat berhenti. Sosok ibu penjual sayur yang biasa mangkal didepan jalan turun, menggendong keranjang yang lebih besar dari tubuhnya . Pak Sopir buru-buru keluar, meninggalkan penumpang lain yang kudu bersabar, ia segera menurunkan satu karung besar berisi sayuran dari atap mikrolet. Ibu penjual terpekik kecil begitu gembira. Bibirnya yang berulas gincu merah menyala menunjukkan lengkung huruf U sempurna memperlihatkan gigi-gigi putih, menyembulkan seuntai kata terima kasih yang tulus. Pagi yang sempurna, saya tersenyum tipis padanya sambil berharap nanti jam sepuluh saat ia pulang karungnya bisa dilipat.

Saya bergegas menyeberang jalan yang jarang longgar, entah mengapa motor dan mobil berlomba-lomba, tergesa-gesa seolah hendak mengungsi, mencari selamat masing-masing. Tak ada ruang untuk pejalan kaki. Paling tidak saya butuh lima sepuluh menit untuk memastikan aman. Jalan itu tak seberapa lebar, seukuran jalan didalam komplek perumahan saya, muat untuk dua mobil. Sayangnya motor-motor tak pernah mau mengalah, hingga selarik yang jadi bagian pejalan kaki pun direnggutnya. Orang-orang seperti saya yang ada di tepian terpaksa makin menyingkir, mencari aman, mencari selamat. Sudah bebal, hati tak lagi meradang, mulut enggan berkicau, capek. Read the rest of this entry

Menjadi Anak-Anak Kembali

Menjadi Anak-Anak Kembali

Nah foto di atas itu oleh-oleh seorang teman yang “terpaksa” bertugas ke Manokwari, Irian Jaya, sesaat menjelang lebaran yang lalu, Boss…Boss… fotonya saya publikasikan ya! (with credit tittle, of course–kata beliau) thanks, cuma pesan anda untuk mencantumkan nama, tittle, nomor HP, foto diri dan manhour rate  (mentang-mentang konsultan hehehehe) terpaksa tak saya penuhi, pertama terlalu narsisis, kedua kasihan manager anda nanti.. kalau sampai ada yang pindah kerja hehehe.

Nah, lihatlah wajah anak-anak itu. Polos, tentram dan menyenangkan. Tak terlihat beban kehidupan diwajahnya, rasanya pas betul dengan suasana pantai Manokwari. Seperti memiliki hidup yang sempurna. Waduh mengapa pula saya katakan seperti memiliki hidup yang sempurna, padahal sebenarnya tiap manusia memang terlahir sempurna dan diciptakan sebagai makhluk paling sempurna. Ya… karena kenyataannya dalam hidup ini manusia selalu merasa tak sempurna, sehingga pandangan ini mempengaruhi kepala saya, maka otomatis yang keluar adalah kalimat,”Seperti memiliki hidup yang sempurna.” Read the rest of this entry

Pikiran dan Perasaan Juga Seperti Matahari

Pikiran dan Perasaan Juga Seperti Matahari

Salah satu sahabat (ini bukan yang pertama kali) mengatakan bahwa saya terlalu banyak berpikir dan menghabiskan waktu ditataran konsep bahkan untuk hal-hal yang sepele dan remeh temeh. Dengan berseloroh ia menyebutkan ketika saya hendak tidur saya berpikir tentang tidur itu sendiri, apa maknanya, apa tujuannya, bagaimana tidur itu, bahkan ketika saya tertidur saya masih saja berpikir, pun ketika melakukan aktivitas sehari-hari lainnya seperti mandi, ia mengatakan saya pasti memikirkan apa itu mandi, apa esensi mandi dan mengapa saya mandi. Saya tak bisa marah atau merajuk, walau yang dikatakannya tak sepenuhnya benar. Lucu juga kalau dipikir-pikir seperti ia tahu saja saya sedang berpikir apa, seperti ia bisa membaca pikiran saya. Sejatinya sih ia setengah benar saya senang membiarkan kepala saya berpikir dan terkadang membiarkannya kritis (sesekali kadang salah tempat hehehe), membiarkannya berekspresi dengan melontarkan banyak pertanyaan baik yang terucap atau yang tak terucap. Setengahnya lagi ia salah, saya belum pernah berpikir tentang esensi mandi dengan detail hehehe… ini malah mungkin jadi ide buat kepala saya, satu hal yang pernah saya pikirkan tentang mandi adalah mandi itu terapi terbaik ketika lelah, tapi juga bisa berakibat buruk dan fatal dikondisi tertentu. Apa itu? Ah nggak penting, lupakan saja. Read the rest of this entry

Mengenal Michelangelo Sekilas

Mengenal Michelangelo Sekilas

Saat mencoba memahami kehidupan seorang maestro seperti Michelangelo (The Divine Michelangelo) yang lahir pada 6 Maret 1475 di Tuscany, saya menemukan beberapa kata kunci, pertama adalah kehendak, totalitas atau melebur (immerse), persaingan, pengusaha, insinyur, humor, kesetiaan, kesempurnaan, originalitas, arogan, dan cinta. Penafsirannya lebih mudah jika anda sempat menyimak bagaimana kehidupan Michelangelo sebenarnya (Wikipedia merupakan sumber yang baik, tapi cobalah mencari alternatif pustaka yang lain jika berminat semisal film dokumenter yang dibuat oleh BBC). Read the rest of this entry

Aku, Si Kutu Buku

Aku, Si Kutu Buku

When I close a book I open life.
I hear faltering cries among harbours.
Copper ingots slide down sand-pits to Tocopilla.
Night time. Among the islands our ocean throbs with fish, touches the feet, the thighs, the chalk ribs of my country.
The whole of night clings to its shores, by dawn it wakes up singing as if it had excited a guitar….*

Mari berbincang tentang buku. Saya si kutu buku yang tidak bisa tidak keluar rumah tanpa menenteng (seperti sepatu saja), setidaknya satu buku. Tanpa buku rasanya seperti berjalan tanpa baju, seperti si buta tanpa tongkat. Berlebih-lebihan? Nyatanya itu yang saya rasakan, bagaimana denganmu?

Beberapa bulan belakangan, saya telah membaca beberapa buku. Tidak ada keharusan untuk benar-benar menyelesaikan satu buku dari awal hingga akhir. Kadang saya cuma membaca bab yang saya butuhkan, lantas dikembalikan lagi ke rak, kelak jika butuh referensi buku itu akan saya baca lagi. Otomatis sebenarnya saya sekarang tidak pernah kehabisan bahan bacaan, tidak seperti jaman SD dulu. Ketika semua bacaan habis disikat, saya cari buku telpon, saya baca halaman perhalaman mulai depan hingga akhir termasuk covernya, freak! hehehe apalagi tahu sendiri Buku Telpon di tempat asal saya bisa dibilang bukan cuma tebal tapi tuebal! Nanti ketika bacaan sudah habis lagi, saya baca lagi. Aneh kan?  Eh kapan ya terakhir saya baca buku telpon?  Read the rest of this entry

00.00-06.00

00.00-06.00

Sedang apa?

Memungut kata-kata yang berserak.

Menganyamnya menjadi hidup dengan tiupan ruh dan sentuhan hati.

Sedang apa? 

Mengumpulkan hati yang gundah.

Membebaskan kepala, memberi sekedar ruang jiwa yang penat.

Sedang apa? 

Mengejawantahkan mimpi.

Menjauhkan perut dari peraduan untuk hidup kelak.

Sedang apa? 

Menyiapkan epitaph.

 

Terilhami dari puisi Joko Pinurbo, Sedang Apa (2006). Dipersembahkan untuk kawan-kawan yang malam dan siangnya tak berjarak. Kamu Daniel salah satunya. :)

Sisipan

Sisipan

Apakah hubungan antara kepala dan perut?

Hingga semalaman harus mendamaikan keduanya.

Sempat terlelap satu dua jam saja, sebelum terjaga hingga matahari menyengat.

Mengapa pula mereka bertikai, padahal yang diprotes jiwa.

Pada puncaknya, tanpa sinyal air mata mengalir hanya karena setetes air panas menyentuh kulit, sontak gelas digeletakkan asal, kaki tanpa dikomando menghambur menggapai peraduan.

Rupanya ini katalisator reaksi kimia dihati.

Ah aku sudah cukup repot mendamaikan kepala dan perutku, mengapa pula kau turut rewel, hatiku.

Mengapa kau sampaikan lagi padaku mengenai kebahagiaan yang tak bisa tidak membutuhkan pengorbanan dari yang lain.

Ssshhh sudahlah, sudahlah, sebentar lagi subuh, mari kita berdamai semuanya.

Esok kita ramu resep lain, kebahagiaan tak boleh berhenti diciptakan.

Kali ini kita cari resep yang tak perlu meminta pengorbanan yang lain (meski itu mungkin nihil).