Home > Makna > Gelembung-Gelembung Hati

Gelembung-Gelembung Hati

Terkadang saya sering membayangkan, hadirnya teman dalam kehidupan sama artinya dengan menciptakan gelembung (ruangan) di dalam hati. Yang bisa membesar dan mengecil, mengikuti dinamika pertemanan itu. Seorang teman lama mengatakan, ruangan itu (dia mengibaratkan ruangan itu sama dengan sebuah kamar persegi), tidak akan lenyap, sama seperti bayangan saya, ia mengatakan ruangan itu hanyalah akan membesar dan mengecil. Nyatanya demikian, bertahun-tahun kami tidak pernah berkomunikasi lagi, kami kehilangan kontak karena kesibukan masing-masing dan tidak pernah up-date agar komunikasi itu bisa terus berjalan, ternyata saya masih bisa menemukan ruangan untuknya masih ada di hati saya, walau sangat kecil tapi ia ada di sana. Ruangan inilah yang kemudian membangun rindu dan menyimpan kenangan terhadapnya.Gelembung-gelembung itu terkadang bersinggungan satu sama lain, jika dibayangkan sebagai sebuah bidang datar, akan tampak seperti diagram Venn, irisan antara satu lingkaran dan lingkaran yang lain, bahkan lingkaran itu terkadang masuk utuh di dalam lingkaran yang lain. Semakin dekat dengan pusat hati saya, semakin sesak gelembung itu. Sekali lagi jika dipandang sebagai suatu bidang datar, lingkaran yang paling dekat dengan hati saya itulah mereka masuk dalam “lingkaran dalam” pertemanan, persahabatan, dan kasih sayang, semakin jauh lingkaran itu  dari pusat hati, ia tergolong “lingkaran luar”, yaitu teman-teman yang ada namun kami tidak terbilang dekat.

Apakah mereka yang sengaja menjauh akan keluar dari “lingkaran dalam” saya? Tidak otomatis, bahkan kerap ia tetap mengendap di inti hati walaupun tanpa “say hello” dan berkurangnya pasokan benih kasih sayang. Apa yang membuat saya masih meletakkannya di situ? Kebanyakan, bukan saya yang menentukan posisi masing-masing gelembung. Adalah setiap teman yang mencari lokasi itu sendiri tanpa mereka sadari. Seperti yang diucapkan Gibran, “He is your field which you sow with love and reap thanksgiving.” Teman, baik laki-laki maupun perempuan adalah ladang yang kita tanami dengan cinta dan kasih sayang, yang kelak kita akan memanen rasa syukur karenanya. Semakin rajin mereka memupuk benih persahabatan, semakin subur ia tumbuh di hati saya, suburnya ini bisa dianalogikan dengan gelembung yang makin besar dan bergerak mendekati pusat hati. Jikalau mereka sengaja menjauh, pada momen seperti ini saya justru bisa memandang mereka dengan lebih jernih. Sebagaimana, pendaki gunung melihat gunung lebih nyata dari tempat datar. Jika mereka terus menjauh, waktulah yang akan mencarikan posisi mereka di hati saya, toh saya tak bisa memaksa dan meminta agar mereka mendekat lagi.

Bagaimana dengan teman-teman yang mengecewakan hati? Pada awalnya rasa kecewa, apa pun penyebabnya akan menumpuk, sejalan dengan waktu perasaan itu akan lenyap total, atau mungkin menyisakan residu sebagai pengingat agar tak memupuk harapan yang sama agar tak menuai kecewa kelak. Baik teman yang tergolong dekat maupun teman yang biasa-biasa saja, saya dan mereka, masing-masing memiliki peluang untuk mengecewakan hati satu sama lain. Semakin menyayangi mereka, semakin besar usaha saya untuk mengerti sejatinya bagaimana teman tersebut, dengan tujuan meminimalisir kekecewaan mereka dalam perjalanan kedepan. Seringkali pula, kekecewaan terbesar ternyata lebih mudah berasal dari teman jiwa yang paling dekat, dari seseorang yang gelembung ruangannya lebih besar dari yang lain. Apalagi biasanya kita telah meletakkan kepercayaan yang besar terhadap mereka.

Sebagai seorang teman, saya juga pernah mengecewakan, menyakiti, dan mencoba meletuskan gelembung ruangan itu agar hilang dan tak tinggal di hati, tapi gelembung ruang itu begitu elastis. Ia hanya mengecil, sekecil-kecilnya tapi tak beranjak. Pernah juga beberapa gelembung mengerucut menyerupai duri dan menusuki inti hati, sakit dan luka sudah pasti, tapi tetap mereka masih ada di situ sampai kini dan pelan-pelan bertransformasi menyerupai gelembung yang sebenarnya adalah bulat.

If he must know the ebb of your tide, let him know its flood also, jika ia tahu musim surutmu, biarlah ia tahu pula musim pasangmu. Meski sebenarnya, saya hanya ingin teman-teman saya tahu masa pasang saya dan begitu mengalami surut saya akan diam, atau menghilang dari mereka, ternyata tidak semudah itu. Pernah sekali saya harus di rawat di rumah sakit, hanya rekan satu tim dan HR staff yang tahu, selain itu saya adalah pendatang di Jakarta, saya tenang. Tapi rupanya cuma sebentar, setelahnya teman-teman berdatangan, mulai dari teman divisi lain, sahabat dari kota asal yang kebetulan bertandang ke Jakarta, seorang sahabat yang mesti menempuh perjalanan panjang menyeberangi laut dan terbang sebelum bisa menjenguk saya,  hingga teman SD, teman semasa mahasiswa dulu yang disaat sehat tidak terpikir akan bertemu mereka. Kalau sudah begini, keterlaluan juga kalau saya menyembunyikan masa pasang saya kelak dari mereka. :)

Bagaimana denganmu kawan, apakah gelembung hatimu bisa pupus atau bahkan meletus?

 

##

 

And you said “Speak to us of friendship.”

Your friend is your needs answered.

He is your field which you sow with love and reap thanksgiving.

And he is your board and your fireside.

For you come to him with your hunger, and you seek him for peace

When your friend speaks his mind you fear not the “nay” in your own mind, nor do you withhold the “ay”.

And when he is silent your hearth ceases not to listen to his heart;

For without words, in friendship, all thoughts, all desires, all expectations are born and shared, with joy that is un-acclaimed.

When you part from your friend, you grieve not;

For that which you love most in him may be clearer in his absence, as the mountain to the climber is clearer from the plain.

And let there be no purpose in friendship save the deepening of the spirit.

For love that seeks aught but the disclosure of its own mystery is not love but a net cast forth: and only the unprofitable is caught.

And let your best be for your friend.

If he must know the ebb of your tide, let him know its flood also.

For what is your friend that you should seek him with hours to kill?

Seek him always with hours to live.

For it is his to fill your need, but not your emptiness.

And in the sweetness of friendship let there be laughter, and sharing of pleasures.

For in the dew of little things the heart finds its morning and is refreshed.

 

The Prophet – Khalil Gibran

Categories: Makna
  1. October 4, 2008 at 9:40 am | #1

    hmmm dalam sekali mbak….
    tapi mungkin pemikiran mbak yang mirip saya yang membuat saya senang membaca tulisan mbak…
    analogi gelembungnya juga bagus mbak…cuman kok saya merasa gelembung itu rapuh dan mudah pecah. Dan sesaat saya malah terpikir seperti kanker, yang menyebar cepat, bertumpuk, kronis, dan kalau dibuang, iya kalau bisa bersih…malah ada sisanya dan berkembang lagi.. terbawa terus sampai mati. Agak aneh dan memuakkan mungkin tapi ngga tau juga kenapa kok saya terlintas terpikir seperti itu.
    hehehe

    EM

    Yoga:
    Mbak Imel silahkan panggil saya Yoga saja. Rasanya lebih nyaman :)
    Awalnya saya kesulitan mencari analogi yang tepat. Sehingga agak memaksa pembaca untuk membayangkan gelembung yang lebih liat, memang sempat terpikir seperti mbak. Tapi itulah pertemanan. :)

  2. October 4, 2008 at 8:15 pm | #2

    iya bener kok Yoga, saya setuju banget dengan gelembung, karena akan lebih indah dan mudah digambarkan. hehehe

    Yoga:
    Mbak, saya baru ketempat mbak dan membaca artikel tentang ikan fugu… malah jadi membayangkan, kalau pas sakit hati, gelembung itu berbentuk seperti ikan buntal berduri, aduh bisa celaka… ;)

  3. October 6, 2008 at 6:31 pm | #3

    Aku baru saja mengalami suatu kejadian kemarin-kemarin ini. Orang dari masa lalu datang kembali di masa ini. Ternyata perasaanku sama. Tak bergeser sedikit pun terhadapnya. Segala kejengkelan serta sumpah serapah sepertinya hanyut dilibas waktu.

    Rupanya di situ aku baru tersadar: kita tidak bisa mengubah masa lalu. Karena ia telah terjadi. Bahwa kenyataan berkata lain, itu adalah hari ini. Yang kita bisa rencanakan adalah masa yang di depan.

    Maka datang dan pergi adalah hal yang lumrah dan biasa. Sehingga yang terpenting adalah, bukan apa yang terjadi di masa lalu, melainkan bagaimana hari ini dan nanti.

    Yoga:
    Persis Dan, namun bagi saya ada beberapa teman yang bentuk perasaan saya berubah, walaupun kemarahan, kekecewaan, dan kekesalan telah hilang, format gelembungnya di hati saya akan berubah. Bisa jadi formatnya yang lama telah digantikan oleh teman-teman jiwa yang lain.

    Untuk dua paragraf terakhir saya cuma bisa mengatakan, sangat sepakat denganmu!

    Tapi… Hei… mana yang lebih tepat?
    – “Bagaimana hari ini?” atau “Hari ini bagaimana?”
    – “Bagaimana nanti?” atau “Nanti bagaimana?”

    ;)

  4. Yaumil
    December 13, 2009 at 3:01 pm | #4

    Saya sangat menyukai gelembung.
    Apalagi klo gelembung itu memaknai kehidupan kita.
    Thnx, atas tulisan anda saya dapat menemukan bnyk inspirasi.. :)

  1. No trackbacks yet.