Foto Keluarga

Foto Keluarga

Lucu! Itu perasaan saya ketika memandangi foto keluarga yang dibuat tahun 1999. Disitu tampak Bapak dan Ibu duduk berdua, dibelakangnya, dari kiri ke kanan nampak adik, saya dan si bungsu. Apa yang lucu? Lucu melihat sosok saya sendiri di foto tersebut (maaf kawan, saya tidak bisa memperlihatkan foto itu di sini), bersanggul, mengenakan kebaya dari brokat bermotif sulur warna silver muda, sedang tersenyum. Putri Jawa yang ndak Njawani, meski kalau dilihat-lihat penampilan saya itu sangat menyakinkan sebagai gadis Jawa.  

Di Jawa ada istilah “njawani” atau “jawa” (baca jowo) yang berfungsi sebagai kata sifat. Ada beberapa sifat tertentu yang sudah dianggap mencerminkan ciri seorang “Jawa”. Seseorang yang tidak sopan, tidak santun bisa disebut “ndak njawani”, tidak punya ewuh pakewuh bisa menyebabkan orang tersebut dicap “ndak jawa”, selain itu seseorang yang tidak menjalankan budaya, adat istiadat Jawa dengan baik juga disebut “ndak njawani”.

Lantas konteksnya dengan saya apa? Tumbuh ditengah keluarga yang tidak mementingkan seremoni budaya dalam hidup sehari-hari, ditambah lingkungan sekitar dan pergaulan urban membuat saya asing dengan budaya nenek moyang. Benar-benar “ndak njawani”. Kami tidak memiliki ritual khusus dalam kehidupan sehari-hari, lebaran dan acara-acara penting lainnya, satu-satunya pedoman yang dipakai adalah ajaran agama, walau demikian keluarga kami cukup demokratis dan tidak berarti menolak adat istiadat atau budaya jika memang bisa diaplikasikan, hanya saja hal ini bukanlah yang utama. Terkadang ada romantisme yang hilang, walau bisa diatasi dengan menciptakan budaya sendiri meski tidak berbau tradisional yang sakral dan adiluhung karena usia budaya tersebut.

Semisal, jika ada yang bertanya, apakah hidangan khusus saat lebaran? Jawaban kami pasti sama, yaitu apa-apa yang ingin kami makan saat itu, yang tidak merepotkan tentunya. Sehingga, opor, ketupat dan teman-temannya belum tentu muncul setelah sholat Ied, bisa jadi malah baru muncul di hari raya kedua atau ketiga. Lantas apa romantisnya kehidupan keluarga kami? Salah satu romantisme tercipta ketika kami sekeluarga menghabiskan waktu bersama, berkumpul kembali di rumah orang tua. Anak-anak yang merantau datang, berkumpul, rumah kembali hidup. Kursi-kursi berderit, pintu berdebam setiap ada yang membuka dan menutup, suara-suara kami, suara Ibu yang tengah jengkel, senang, atau sedang becanda dengan kami, suara Bapak yang tengah menasehati kami, kipas angin yang terus berputar, bunyi gemerincing lonceng di taman kecil Bapak di samping jemuran di lantai dua, bunyi pompa air yang lebih sibuk dibanding hari-hari biasa, sajadah, dan mukena yang berserak, terlipat seadanya karena ditinggal terburu-buru teronggok di sudut kecil beralas kayu jati yang menjadi tempat sholat Bapak dan Ibu sehari-hari. Itu romantisme kecil keluarga kami, yang terulang minimal setahun sekali di saat sakral nan suci, Idul Fitri. Terus terang terkadang saya merasa biasa karena itu ritual yang nyaris sama tiap tahun, terkadang saya merindukannya.

Mungkin jika tadi sore, ketika terbangun dari tidur siang, di tempat tinggal saya di Jakarta, saya sempat merasa kesepian luar biasa, bisa jadi sekian persen penyebabnya karena beberapa hari terakhir saya terbiasa bersama keluarga di rumah orang tua dengan segala ritual yang saya sebut tadi. Tapi ketika direnungkan dalam-dalam, ternyata bukan itu sebabnya. Toh bertahun-tahun saya biasa sendirian. Toh kemarin itu hanya liburan singkat, berangkat sabtu, pulang minggu pagi (tapi sabtunya tanggal 21 September, minggunya tanggal 5 Oktober ;) ). Toh saya biasa tinggal di tempat yang agak terpencil, di sengaja untuk mendapat hening. Kembali melihat foto diri ditengah keluarga, perlahan saya bertanya, apa sebenarnya yang saya cari? Bukan, bukan itu pertanyaannya. Seharusnya, apa yang saya butuhkan saat ini? Memandang foto itu sekali lagi, saya mendapatkan jawabannya. Kepastian tentang kebutuhan saya saat ini dan di masa mendatang. Ini bukanlah lagi mengenai adat istiadat, budaya, romantisme, dan kelaziman. Tampaknya saya harus bersabar.

 

##

Ada pertanyaan-pertanyaan yang sulit dijawab.

Ada pertanyaan-pertanyaan yang tak perlu dijawab.

Ada pertanyaan-pertanyaan yang tak mesti disampaikan.

Ada pertanyaan-pertanyaan yang cukup masing-masing yang tahu.

(Ketika saatnya tiba, jawabannya yang akan menghampiri kita bukan sebaliknya)

Advertisement

5 Responses »

  1. Aku pribadi malah berusaha agar tak tampak Jawa (kedua orangtuaku sangat Jawa). Tapi, apa boleh buat, budaya Jawa selamanya merasa yang paling luhur, paling beradab, paling santun, paling apik, dan paling-paling lainnya. Sementara dalam berkomunikasi saja (bahasa Jawa) sangat berstrata sosial. Orang menjadi berbeda-beda tingkatannya hanya karena strata sosialnya. Maka yang demikian, perihal yang ‘paling-paling” tadi itu, gugur semua berantakan di lantai. Apa boleh buat.

    Yoga:

    Agar tak tampak Jawa ya Dan? Jawa-mu itu amunisi untuk kehidupanmu saat ini bukan? Sehingga bisa bersikap dan mengambil pendirian seperti sekarang ;)

    Semakin banyak saya mengenal berbagai budaya di Indonesia, semakin saya bersentuhan dengan keunikan, kelebihan, dan keterbatasannya, yang masing-masing bisa membuat saya merutuk, What? Hari gini? Pada akhirnya yang kami aplikasikan saat ini adalah yang paling nyaman bagi kami. Kalau ada yang tanya, “Yoga. kamu dari mana?” Saya cukup menjawab, “Aku dari Indonesia”. :)

  2. Romantisme semacam yang diceritakan di atas akan terus berubah. Tak selamanya sama. Tak selamanya ada. Karena manusia pun terus berkembang.

    Namun apa yang selamanya ada dan abadi di dunia ini? Ya perubahan itu sendiri…

    Kita boleh saja sentimentil. Tapi jangan terlalu lama. Waktu tak mau menunggu. Ia jalan terus. Kita?

    Yoga:

    Kita itu saya (aku) dan kamu ya Dan? ;)

    Esensi postingan di atas justru bukan romantisme yang saya ceritakan Daniel. Malah total kebalikannya dan kuncinya saya analogikan dengan foto keluarga. Karena waktu tak mau menunggu itu lah, mengapa saya gelisah dan mungkin akan terus gelisah hingga kelak kembali “pulang”.

    Indah hari mu Dan.

  3. Rasanya keluargaku mirip dengan keluarga Yoga…coba baca blognya Narpen, yang merasa pendiam karena telah memiliki ibu dan kakak super cerewet. Dan mengaku anak Jakarta, daripada mengaku Jawa, tapi tak “njawani” dan tak bisa berbahasa Jawa. Bahkan setelah kuliah di ITB, dia baru belajar bahasa Jawa dan Sunda, gara-gara diomongi terang-terangan di depan mata, tetap aja tak paham.

    Kalau Lebaran saya tetap buat ketupat dan uborampenya (sekarang bisa pesan lho). Kenapa? Agar satu hari itu, yang penuh tamu (maklum anak tertua, dan ayah ibu telah tiada), tak perlu masak lagi…..tapi besoknya ganti bikin sayur asem atau sayur bening, dan ayam bumbu bali…duhh sedaaap.

    Yoga:
    Yang namanya seorang Ibu tetaplah Ibu bagi setiap orang :)
    Ibu, saya pun merasa jadi “pendiam” dan malas bicara ditengah-tengah dominasi orang-orang tercinta hehehe, lebih baik saya “diam” dari pada suasana makin heboh. Lebaran kemarin, agak terkejut juga, saya menemukan sedang asyik “hunting foto” sementara keluarga sedang asyik mengobrol, “Hei ini lebaran!” seru saya dalam hati, tapi daripada “diam” saja, mending saya melakukan sesuatu kan? ;)

    Saya tulis kata diam dalam tanda petik, karena jika situasi kondusif saya sebenarnya bukan pendiam, dan menikmati obrolan dengan keluarga. :)

    Ayam bumbu Bali? waduh saya jadi pengen….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

Gravatar
WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s