Teh yang Bikin Susah
October 7, 2008
Sudah beberapa malam ini sebelum memulai aktivitas, membaca, chatting, atau apa saja, tak lupa saya siapkan sepoci teh orange pekoe. Ritualnya demikian, saya memastikan poci telah bersih dan tidak terlalu dingin — jika perlu poci dihangatkan dengan membilasnya dengan air hangat, sekejap saja, sembari menyiapkan poci dan mug (saya tidak pakai cangkir karena kurang pas quantity-nya untuk saya ;) ), air dijerang hingga suhunya pas, satu sendok makan teh orange pekoe plus air panas secukupnya didiamkan sekitar 3-5 menit, lantas… duuh segarnya… Pikiran jadi jernih, badan jadi segar, siap beraktivitas kembali.
Apa sih teh orange pekoe itu? Apakah ada rasa jeruknya (orange)? Kenyataannya teh tersebut tidak memiliki rasa ataupun aroma orange atau jeruk. Agar bisa disebut pekoe, teh diambil dari daun teh yang masih muda dan dua daun paling muda lainnya. Diluar itu teh yang dihasilkan diklasifikasikan sebagai sauchong, yang kualitasnya lebih rendah. Orange pekoe termasuk teh hitam. Bagi saya rasanya segar, tidak terlalu asam, dan warnanya menggiurkan (atau menggairahkan?
). Oleh karena saya tergolong tea addict, dalam semalam saya bisa menghabiskan beberapa mug teh, tanpa gula.
Masih penasaran dari mana kata orange bisa muncul? Konon katanya pekoe adalah penyesuaian istilah dari bahasa Tionghoa, Bai-Hao atau Pak-Hao yang berarti pucuk putih. Mungkin karena awalnya dulu teh pekoe ini disajikan untuk keluarga kerajaan (House of Orange) maka muncullah istilah orange pekoe — entah benar entah tidak, yang kelak dimanfaatkan sebagai jaminan kualitas untuk pemasaran teh jenis ini.
Bagaimana mendapatkan teh orange pekoe di Indonesia? Mudah, anda (kamu) tinggal pergi ke swalayan tertentu dan menuju rak makanan import, tinggal memilih merk teh orange pekoe yang diyakini sedap. Rata-rata teh ini didatangkan dari Inggris, negeri yang mempunyai kebudayaan minum teh kelas bangsawan, walaupun bahan dasar teh tersebut semuanya berasal dari Asia, termasuk Indonesia. Jangan dibayangkan kita mudah memperoleh teh orange pekoe ini di Wonosobo, Jawa Tengah–salah satu penghasil teh orange pekoe terbaik di dunia. Di sana anda (kamu) hanya bisa menjumpai teh broken orange pekoe, kualitas afkiran, hasil sortiran yang tidak lolos standar ekspor. Sungguh ironis. Adalah saya yang tidak bisa menahan diri, setelah sekian lama berjanji tak ingin membeli teh kesukaan saya yang mesti didatangkan dari negeri seberang di Eropa, setelah sebelumnya “tua dijalan” –dikirim dari Asia dalam bentuk bulk, demi memberikan sedikit nafas di dunia teh Indonesia — coba bayangkan seadainya semakin banyak penggemar teh yang tahu dan mengerti jenis-jenis teh yang diinginkannya, bukankah ini peluang bagi produsen teh untuk mensuplai teh berkualitas terbaik bagi anak negeri, prinsipnya sederhana, hukum demand dan suply, sehingga teh itu tak perlu diekspor dan kembali lagi ke Indonesia setelah dikemas cantik, dibubuhi merk ternama untuk mendongkrak nilainya (added value). Selain itu jangan lupa, bayangkan jejak karbon yang mengekor secangkir teh yang kita minum dan dampaknya bagi lingkungan global di masa yang akan datang.
Maaf kawan, minum teh saja kok bikin susah hati, kalau tidak ingin susah dan mengalami kontradiksi hebat dibathin seperti saya, saya anjurkan anda (kamu) minum teh lokal, teh Prendjak salah satu contoh teh lokal yang saya gemari selain teh Poci, lebih minim jejak karbonnya. Permisi saya akan minum teh sore saya… teh hijau :)
October 7, 2008 at 10:43 pm
Wahh Yoga nih benar-benar kayak saya, penyuka teh……oleh dokter gigi dianjurkan tiap 3 bulan sekali mesti ke dokter, gara-gara gigi saya mudah berkarang akibat senang minum teh.
Kapan-kapan pengin nyoba ah…minum orange pekoe
October 8, 2008 at 12:20 am
[...] belum mengisap rokok sebatang, ada yang mesti lari pagi, atau mendengarkan berita. Membaca tulisan Yoga di blog nya, membayangkan jangan-jangan karakter Yoga mirip denganku, apalagi kebiasaan Yoga seperti [...]
October 9, 2008 at 5:39 pm
Hmmm….jadi ngelamunin gimana rasanya teh orange pekoe itu. Saya juga suka teh. Tapi dasar pemalas, akhirnya bikin teh celup lagi-teh celup lagi. Gapapa. Yang penting teh…
October 10, 2008 at 9:05 pm
Tak ada hari tanpa teh. Hari tanpa teh, tak sempurna sebagai hari. Hidup teh! (hayah!).
March 3, 2009 at 12:35 am
Indonesia sebenarnya juga memproduksi Orange Pekoe, hanya memang sedikit sekali dan hampir 100% di ekport. Kalau teh Inggris yang di Supermarket kebanyakan sih cuma BOP. Ingin diskusi banya tentang teh, silahkan gabung milist pecinta_teh@yahoogroups.com