Veni Vidi Vici
Rendra, ketika mengunjungi restaurant Indonesia di Prancis milik Umar Said, Sobron Aidit dan kawan-kawan, menulis pesan di buku tamu ( yang diberi nama pengelolanya : Livre d’or): “Aku datang, aku makan, dan aku senang” plesetan dari veni vidi vici. Semalam entah terkena sirep setan apa, setelah menelpon seorang teman sekitar jam delapan malam saya langsung pulas lelap baru bangun keesokan harinya ketika matahari sudah nampak. Padahal, saya baru saja pulang dari kantor, baru saja duduk, baru saja hendak memulai aktivitas malam (membaca, bebenah sedikit, dsb). Pagi-pagi ketika bangun, langsung berucap dalam hati, “Aku datang, aku capek, dan aku tidur.” Hayah… enaknya, pengen nambah tapi apa daya, harus segera beranjak, sudah jam tujuh kantor dan seisinya sudah menunggu. Jam delapan kurang sepuluh menit, saya mendapati diri hendak menyalakan komputer kantor.
Apa yang sebetulnya ingin saya tulis? Kali ini tidak ada subyek yang khusus. Hanya ingin menulis, mencoba membebaskan isi hati dan kepala sedikit yang sepertinya belum ”terkumpul” untuk memulai tugas-tugas kantor (ingat Yoga, waktu terus terbang dan berlalu, nanti ada yang gigit jari).
Hari pertama, senin kemarin dulu, sepagian kami halal bihalal, tertawa-tawa dan bersalaman dengan rekan hampir se-grup. Ribuan orang tumplek blek. Membayangkan founder grup kami menyalami sekian banyak orang, membuat saya menoleh ke tangan saya sendiri aih… pasti lumayan pegal dan bikin kering gigi karena harus terus mengumbar senyum. Tapi apalah arti semua kelelahan itu jika dibandingkan kebahagiaan ribuan orang ditengah suasana halal bihalal tersebut. Apalah artinya kebahagiaan orang-orang yang jarang bertemu dan berkesempatan menatap langsung founder perusahaan-perusahaan yang tergabung di grup ini. Mengingat beliau membuat saya teringat segala kerja keras dan visinya yang bagaikan mimpi yang jadi nyata. Memahami mimpi-mimpinya membuat saya yakin, mimpi bisa digenggam asalkan punya tekad kuat dan kemauan untuk menggenggamnya.
Dengan mimpinya beliau bisa membuka lahan kerja bagi ratusan ribu karyawan yang tersebar di seluruh pelosok tanah air. Dengan kemampuan visionernya beliau mampu dan telah terbukti sehingga banyak pula karyawan yang loyal pada perusahaan, meski beliau memiliki pandangan yang berbeda dari kebanyakan orang. Bagi beliau loyal seharusnya ditujukan kepada prinsip pribadi yang murni dari seseorang, profesi yang dimiliki yang senantiasa harus disempurnakan, dan keinginan yang kuat untuk mencapai hasil yang terbaik. Begitu kuatnya prinsip beliau sehingga beliau mengajarkan pada karyawannya agar tidak pernah berkompromi dalam perbuatan-perbuatan yang berakibat menyudutkan diri sendiri sehingga tidak dapat bertindak tegas dan benar pada saat tindakan ini dibutuhkan. Misalnya dengan terbiasa datang terlambat meski hanya beberapa menit sebetulnya ini termasuk tindakan mengkompromikan diri. Bayangkan jika bawahan melakukan hal yang sama, apa yang dapat dilakukan oleh atasan tersebut?
Kembali ke laptop ke mimpi, impian. Saya teringat pada mimpi-mimpi saya, yang pernah saya ceritakan (selalu insha Allah mimpi-mimpi yang indah), dan impian-impian hidup yang saya ceritakan satu dua kali pada orang-orang tertentu. Saya bertekad untuk menggenggamnya dan mewujudkan dengan cara terbaik yang saya bisa.
Ada satu cerita tentang seorang anak berusia sepuluh tahun yang mendambakan mobil mainan semi remote control buatan Jerman yang dilihatnya dimainkan oleh anak-anak Belanda pada saat jaman pra kemerdekaan dahulu, sudah pasti terbilang sangat sangatlah mahal dan orang tuanya tak mampu membelikan mainan tersebut sebagai hadiah ulang tahun. Memilikinya menjadi obsesi bocah tersebut dan cita-citanya tak pernah padam. Anda tahu, akhirnya bocah tersebut memiliki sebuah mobil-mobilan yang bisa dikendalikan dari jarak jauh, lebih canggih dan modern dari mimpinya dahulu walau butuh waktu setengah abad untuk mewujudkannya, walau ia telah mendapatkan berjuta-juta hal yang tak bisa didapatkan oleh orang kebanyakan sebelumnya. Dikatakan kebanggaan, kepuasan, dan keharuannya sukar dilukiskan dengan kata-kata. Seharian dimainkannya mobil-mobilan itu, setelah puas diberikannya pada salah seorang anaknya. Ia telah berhasil, meski membutuhkan waktu lama.
Pelajarannya kawan, tak perlu merasa usia adalah hambatan untuk memiliki cita-cita, yang terpenting adalah bawalah semua anggota badanmu, akalmu, bawah sadarmu, dan segala yang melekat didirimu untuk mewujudkannya. Perkara kapan bukanlah soal selama tetap loyal pada cita-citamu.
Ah jadi teringat seseorang yang bisa dengan seenaknya “meneriaki” saya, “Pesimis!” tiap kali ia tahu saya pesimis, kasar ya? Bagi saya tidak, justru ia teman terbaik yang care dan saya berharap sampai kapanpun ia tetap bisa seenaknya meneriaki saya begitu.
Hayah.. sudah jalan kemana-mana rupanya tulisan saya kali ini, mesti dihentikan sebelum meracau hingga ke Timbuktu. Tidak terlalu fokus. Silahkan dipetik manfaatnya sendiri. Setelah ini saya akan menikmati teh hangat lagi-lagi tanpa gula dan kali ini jenis earl grey. Ada yang mau?
catatan:
Veni Vidi Vici… I came, I saw, I conquered, terjemahan yang umum: aku datang, aku lihat dan aku menang!
Yoga, salam kenal yha..! Harapan, tanpa itu mungkin hidup manusia tiada berarti lagi..
Earl grey Tea…duh jadi ingin cerita temen yang lagi nyari kenalan di daratan Eropa nih.
Semua mimpi dan kesuksesan diawali dengan satu langkah kecil. Selama langkah tetap di pastikan dalam koridornya. Otomatis impian apapun akan terwujud. Believe it Or Not?
Sya sendiri percaya dan kini berusaha mewujudkan semua hal posistif menjadi realita yang dibangun dengan usaha dan keinginan saya sendiri.
Kita harus punya mimpi agar mempunyai tujuan hidup…capailah mimpimu setinggi langit, pesan ibu pada putrinya. Dengan mimpi, kita bisa mengalahkan rasa capek, jenuh di saat cobaan dan kendala menghadang kita. Tanpa mimpi kita tak menjadi apa-apa, atau bukan siapa-siapa.
Yoga,
Saya kirim email..pls check
Saya teriaki juga ah…
Mba Yogaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa… lagi ngapaiiiiiiiiiiiiiin? Hue he he he…
Bukankah tujuan itu bukan yang utama. Karena yang utama adalah justru prosesnya. Aku lebih memilih itu.
Mimpi ya…
aku sudah lama tidak berani bermimpi…bahkan sejak kecil. Aku merasa aku tidak punya mimpi seperti kebanyakan orang. Bersikap realistis saja pada apa yang datang dan mengusahakannya sungguh-sungguh. Tapi benarkan saya tidak ada impian? Saya bahkan tidak pernah bermimpi untuk bisa menjawab adakah dan apa sebenarnya impian saya itu ….(bingung.com)
EM