Apa sih yang menyebabkan saya menulis, senantiasa berusaha meng-ekspresikan diri, senantiasa berusaha mencari penyaluran pikiran agar mental tetap sehat? Akar utamanya adalah keinginan. Iya keinginan, nafsu atau apa pun namanya senantiasa menghantui. Inilah sejatinya pangkal persoalan setiap manusia. Apakah ini adalah sebuah persoalan hidup? Memiliki mimpi, memiliki cita-cita, berusaha mewujudkan cita-cita berusaha mewujudkan mimpi adalah kalimat-kalimat dengan kata kerja yang pangkalnya adalah pengejawantahan keinginan manusia. Dan bukan lagi namanya manusia jika tak memiliki keinginan. Keinginan akan jadi persoalan jika kita tidak tahu bagaimana mengaturnya, menguasainya, bahkan secara arogan orang mengatakan master your wish!
Persoalannya adalah bagaimana kita menjadi obyektif dalam mengendalikan keinginan tersebut? Bagaimana kita bisa memandang setiap keinginan segamblang penglihatan kita ketika melihat sebuah landscape dari atas sebuah helicopter atau yang disebut helicopter view.
Ada yang menyiasatinya dengan lebih berhati-hati, ada yang mendekatkan diri pada yang Rahiim, ada yang memperlambat langkahnya, ada yang malah ngebut, ada yang menyusun keinginannya dalam wish list yang telah dipertimbangkan kekuatan, kelemahan, tantangan dan kesempatan yang bakal terjadi. Itu semua adalah upaya membuat strategi.
Begitu juga dengan pertemanan. Adakalanya perlu duduk sejenak di atas puncak gunung yang tinggi, agar jelas kita memetakan desa dan kota yang berserak dikakinya. Agar lebih obyektif, agar silahturahmi makin terjaga dan terasah.
Begitu juga dengan target-target kerja. Adakalanya perlu waktu sejenak untuk kembali mendefinisikan tujuan-tujuan dan kualitas yang dicapai dengan berhenti sejenak, dan me-review ulang segala yang telah dilakukan.
Begitu juga dengan daftar cita-cita dan impian. Adakalanya perlu diam sejenak, me-review daftarnya dan meneliti kemampuan pribadi, tidak ada salahnya mengurangi atau menambah daftar mimpi asalkan mimpi-mimpi itu nanti tidak hanya jadi mimpi-mimpi kosong yang tidak nyata dan hanya memenuhi memori kepala. Untuk itu tetap diperlukan target dan batas waktu pencapaian, sama halnya dalam merencanakan sebuah proyek. Dimana dalam sebuah proyek saya mesti menyiapkan Business Plan yang komprehensif termasukdidalamnya memuat perkiraan biaya, time schedule, scope of work dan sebagainya, maka sebuah mimpi pun bisa berarti sebuah proyek bagi saya.
Jadi jelas keinginan yang muncul belum tentu berpotensi menjadi masalah selama bisa dikendalikan, jangan sampai berlama-lama terhanyut dan menyalahkan keinginan sebagai penyebab semua persoalan hidup sehingga hanya terpaku pada masa lalu dan masa kini. Hei hidup ini untuk masa depan sejatinya!

Mmmm… setelah baca artikelnya, saya tertegun mengamati gambaranya.
Apa ya maksudnya?
Mba, apa mba maksudnya?
Terkadang:
keinginan adalah sumber penderitaan, karena
tempatnya di dalam pikiran.
Ha!
Saya dulu suka bermimpi. tapi tak diterjemahkan dalam kehidupan nyata. Lama-lama belajar untuk berani mencoba….karena tanpa mencoba kita tak pernah tahu apa keinginan kita memang layak dilaksanakan.
Sulitnya kadang kita sendiri tak tahu mana dari keinginan tadi yang prioritas, dan jika bingung memilih, kepada siapa kita akan datang?
Saya dulu suka bermimpi. tapi tak diterjemahkan dalam kehidupan nyata. Lama-lama belajar untuk berani mencoba….karena tanpa mencoba kita tak pernah tahu apa keinginan kita memang layak dilaksanakan.
Sulitnya kadang kita sendiri tak tahu mana dari keinginan tadi yang prioritas, dan jika bingung memilih, kepada siapa kita akan datang?
Apakah matahari menyimbolkan keinginan? Dan dua batang bambu sebagai penghalang? Itukah maksudnya?
hmmmm aku sendiri pernah berpendapat tan, harapan itu adalah bahaya…
tapi ga mungkin hidup tanpa harapan!
benar tuh… review… jangan ada yang ketinggian… jangan sampai kerendahan….
karena manusia tidak akan pernah tau dari mana jalan rejekinya…
selamat beraktivitas, yoga.
Tentang keinginan, saya paling suka quote dari Aulia Muhammad. “Begitu juga mimpi, adalah Temali yang menjaraki antara harapan dan kenyataan juga masa silam.”
saat di sekolah tadi siang, saya minta anak-anak untuk merenung, memikirkan impian mereka. bagi yg belum punya impian, saya suruh bermimpi. mimpi yg harus disesuaikan situasi dan kondisi diri dan keluarga masing-masing
Yoga…
maksudnya jangan menyalahkan keinginan kan?
saya rasa keinginan mutlak diperlukan karena tanpa keinginan ya itu manusia ibarat sudah mati.
Saya sedih waktu seorang nenek di sini bilang pada saya, “Saya sudah tidak ada keinginan apa-apa”. Lalu saya bilang, “Nek, nenek ingin makan apa? ingin dengar musik apa? ingin bicara sama siapa? ingin pergi ke mana?” Kalau semua jawabannya tidak ada, yah ibaratnya tinggal menunggu panggilan. Untung sekali waktu itu dia bilang, saya ingin mendengar musiknya Sugawara Youichi… Langsung saya cari dan belikan kasetnya…dan dia bisa ceria untuk beberapa hari.
Keinginan tidak harus besar yang berupa cita-cita kan? Yang sederhana pun itu tetap namanya keinginan, dan kita seharusnya mendengarkan bisikan hati kita sendiri.
Dalam yoga…. thanks for sharing.
Mimpi cuman sekedar mimpi kalau tidak ada langkah-langkah konkrit untuk mewujudkannya, Mbak Yoga. Benar sekali, perwujudan mimpi bisa juga disebut sebagai sebuah project… dan beruntunglah orang-orang yang bisa menganggap bahwa mimpi mereka adalah sebuah project, yang tahu bahwa mereka akan memerlukan ini dan itu untuk keperluan project mereka, dan segala little details yang akan mendukung kesuksesan project…
Luar biasa, Mbak..
Thanks for this post.
It makes me wanna do more!