Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta, siapakah mereka
Mereka ialah ibu-ibu berhati baja, perempuan-perempuan perkasa
Akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota
Mereka cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa
(Hartojo Andangdjaja)
Seorang Ibu menasehati saya yang kurang lebih begini, “Yoga sebagai perempuan kita harus berprestasi dua kali lipat dari pria, atau prestasi kita tak akan dilihat.” Kalimat ini dikatakan oleh serorang perempuan yang telah berpuluh-puluh tahun membuktikan prestasinya di ranah domestik dan publik. Ah Ibu, ini mengingatkan saya, pada kenyataannya kita hidup di negeri maskulin. Bukan hanya di belahan bumi ini namun di luar sana sama. Dari dulu hingga sekarang. Jika perempuan bisa tetap eksis dalam lapangan pekerjaan mestilah ia harus berusaha lebih, lebih baik, lebih kuat, bahkan lebih lama mungkin, hingga mungkin mengorbankan waktu untuk diri sendiri. Saya tak hendak membicarakan tentang kesetaraan pria dan wanita. Latar belakang saya kurang layak dalam memberikan pandangan mengapa banyak yang berjuang membutuhkan kesetaraan pria dan wanita. Sejak kecil dibesarkan oleh orang tua yang sama-sama luar biasa aktif dalam urusan domestik dan publik, pun dalam pergaulan keseharian hingga kinilah yang bertanggungjawab atas cara pandang saya sekarang. Tapi memang benar yang dikatakan oleh beliau. Itu terjadi dalam banyak ranah di negeri maskulin ini.
Apakah ini disebabkan oleh inferiority dari kaum pria sendiri? Pertanyaan lugas ini wacana bagi pria maupun perempuan-perempuan. Adalah dilumrahkan jika pria cenderung memilih partner yang secara normatif “dibawahnya” dan menempatkan perempuan diranah domestik yang paling utama –tidak sedikit teman yang telah berkeluarga yang mengeluh betapa mereka kehilangan me time karena selain berperan disektor publik juga masih terpaksa memegang kontrol utama di sektor domestik karena egoisme suami– sehingga muncul istilah konco wingking (teman dibelakang) dan konsep swarga nunut, neraka katut (ke surga ikut, ke neraka pun turut).
Yang saya lihat, justru kebanyakan perempuan sendiri yang “menurunkan” dirinya, bisakah ini disebut sebagai cara perempuan memaklumi partnernya? Walau waktu akhirnya menjawab dan pada akhirnya kaum pria bergantung secara emosional pada perempuan. Ingat siapakah sebenarnya sang jendral? Suami yang berbintang lima atau istrinya?
Perempuan juga dianggap sebagai pria yang tak lengkap seperti yang dikatakan Aristoteles, sehingga hasil karyanya tak layak dihargai dengan maksimal sebagaimana halnya koleganya yang pria, mindset yang tumbuh ini mengakibatkan seorang perempuan mau tak mau mesti berprestasi dua kali lipat agar mendapat pengakuan.
Terlepas dari itu, lihatlah kekuatan ibu-ibu yang menjadi tulang punggung keluarganya, baik yang white colar ataupun pekerja kasar seperti kita simak dalam puisi di atas. Tidak sedikit mereka menghantarkan anak-anaknya sukses meraih tingkat pendidikan yang tinggi dan sukses dalam kehidupannya. Apa yang diucapkan Kartini dalam salah satu suratnya adalah cerminan sejati kaum perempuan, “Memikirkan kepentingan diri sendiri selalu saya pandang sebagai kejahatan yang paling jahat dan yang sangat jijik.” Kawan, paragraf ini lebih saya tujukan kepada para perempuan yang sering mempertanyakan pada sesamanya dengan kalimat-kalimat semisal: Apa yang kau cari perempuan? Apa yang ingin kau buktikan? Apakah kamu ingin menyalahi kodratmu? Atau pernyataan biar bagaimanapun perempuan harus kembali ke rumah. Kawan, kembalilah ke rumah, tapi bawalah bekalmu. Bekerjalah senantiasa, walau tantangan mengharuskanmu bekerja dua kali lebih keras. Jangan takut.
Iya juga ya, mba…
Tulisan ini bisa jadi menyadarkan keegoisan pria terhadap wanita.
Setuju, itu sebabnya walaupun saya dirumah, saya selalu berusaha memberikan yang terbaik yang saya bisa…
menulis misalnya, wlaupun sekedar menyalurkan hobby, ternyata akhirnya bisa diapresiasi dalam bentuk buku, dan menghasilkan uang, bekal yang cukup jika kelak anak membutuhkan lebih dari yang pasangan kita bisa berikan…
Menjadi perempuan yang tangguh dan mandiri, bukan dosa, dan bukan kejahatan.
Yoga, kalau perempuan hanya berkinerja sama, maka perusahaan akan cenderung memilih laki-laki karena mereka lebih flesibel…dan menurutku hal ini wajar.
Bagi atasan yang memerintahkan anak buah tugas ke luar kota atau keluar negeri, akan berbeda jika yang pergi perempuan muda dan punya anak kecil, dibanding lelaki. Atasan ada perasaan bersalah, dan kawatir jika terjadi apa-apa. Tapi ini juga tergantung perusahaannya, karena kalau dunia perguruan tinggi hal seperti ini tak dipersoalkan.
Bagi perempuan yang ingin berkarir di luar rumah, agar tetap dapat memperhatikan keluarganya, tak perlu menjadi superwoman, tapi buat delegasi wewenang pada anggota keluarga ataupun asisten rumah tangga…sehingga perempuan dapat memprioritaskan apa yang perlu mendapat perhatian langsung dari seorang ibu, seperti perkembangan pendidikan anak-anaknya.
Yang tak kalah penting, pilihlah jodoh yang mau memberi room bagi isterinya, untuk tetap melakukan aktivitas yang disenanginya. Dan saya termasuk orang yang beruntung, karena suami percaya dan mendukung kegiatanku…
Pagi Mbak Yoga,
Over all, saya setuju dengan semua yang dibilang Mbak Yoga. Kita hidup di dunia maskulin dimana kita perlu bekerja ekstra keras untuk membuktikan bahwa kita ini eksis.
Cuman ya, tetap saja, bagaimanapun juga, perempuan sudah terlanjur dianggap sebagai manusia yang lebih lembut dibandingkan laki-laki, sehingga seperti yang dibilang Ibu Enny, ketika menugaskan seorang pegawai perempuan, Atasan cenderung memilih pegawai yang laki-laki saja. Bukan karena meragukan kemampuan, tapi mungkin lebih karena ‘kasihan’ dan sayang sama si perempuan…
Apapun itu, saya selalu percaya bahwa di balik lelaki yang tangguh ada perempuan yang sangat hebat. Seorang Istri yang luar biasa dan seorang Ibu yang begitu berhasil telah membesarkan anak-anaknya.
Satu lagi Mbak…
Kalau perempuan berhasil sukses di bidang kerja maskulin, banyak yang mengatakan, “Wah hebat kamu!” tanpa menggunjingkan soal orientasi seksualnya.
Kalau laki-laki?
Jadi designer kondang…
Jadi tukang masak hebat…
Atau hal-hal yang berhasil dilakukan di bidang kerja yang feminin, banyak orang cenderung meragukan orientasi seksualnya. “Ih, jangan-jangan dia…”
Haha… betapa beruntungnya ya, Mbak, kita-kita ini.. Perempuan-perempuan ini…
“Yang saya lihat, justru kebanyakan perempuan sendiri yang “menurunkan” dirinya,”
Ya. Hingga saat ini aku masih saja lucu kalau ada individu-individu tertentu yang ngotot soal peran dan eksistensi perempuan di ranah publik atas pria.
Dalam konteks yang lebih luas, aku sudah tidak lagi melihat, baik pekerjaan maupun kapasistas, yang tidak bisa tidak dilakukan perempuan. Nyata-nyata segalanya bisa.
Jadi ingat sebuah quote: “Behind a great man, there’s a greater woman…”