Apakah hubungan antara kepala dan perut?
Hingga semalaman harus mendamaikan keduanya.
Sempat terlelap satu dua jam saja, sebelum terjaga hingga matahari menyengat.
Mengapa pula mereka bertikai, padahal yang diprotes jiwa.
Pada puncaknya, tanpa sinyal air mata mengalir hanya karena setetes air panas menyentuh kulit, sontak gelas digeletakkan asal, kaki tanpa dikomando menghambur menggapai peraduan.
Rupanya ini katalisator reaksi kimia dihati.
Ah aku sudah cukup repot mendamaikan kepala dan perutku, mengapa pula kau turut rewel, hatiku.
Mengapa kau sampaikan lagi padaku mengenai kebahagiaan yang tak bisa tidak membutuhkan pengorbanan dari yang lain.
Ssshhh sudahlah, sudahlah, sebentar lagi subuh, mari kita berdamai semuanya.
Esok kita ramu resep lain, kebahagiaan tak boleh berhenti diciptakan.
Kali ini kita cari resep yang tak perlu meminta pengorbanan yang lain (meski itu mungkin nihil).
Mbak Yoga,
Kebahagiaan tanpa membutuhkan pengorbanan?
Hmm…
Pernah kepikir nggak, kalau kebahagiaan yang kita rasakan ternyata mengorbankan hati orang lain, mencabik hati orang lain?
Oh ya,
kalau sudah ketemu resep menciptakan kebahagiaan tanpa perlu resep ribet, bagi di blog yaa…
(eh, tapi, tapi… kok saya sekarang sudah cukup bahagia dengan duduk di depan laptop, blogwalking, dan ditemani dengan kopi susu yang panas ya? ah, ternyata kebahagiaan itu sederhana Mbak! Memangnya Mbak mau menciptakan kebahagiaan yang seperti apa, sih? Boleh tau?)
“Ah aku sudah cukup repot mendamaikan kepala dan perutku, mengapa pula kau turut rewel, hatiku.”
Mengapa mesti dijadikan suatu kerepotan…
Itulah indahnya jadi manusia. Apa ada makhluk Tuhan yang bisa merasakan hal-hal seperti itu?
Bersyukurlah, Yoga, bersyukurlah akan hal itu.
Kebahagiaan harus dibuat Yoga…wahh ..wahh..sejak kita diskusi, tulisan Yoga mengalir deras. Bagus Yoga…hehehe…saya baru tahu, ternyata menulis juga bisa jadi obat stres selain mencabuti rumput (OOT nih)
Itu baru kepala dan perut…bagaimana dengan hati? Ini menurut saya organ tubuh yang rewelnya bukan main. Hati kadang tak bisa dibuat mikir, padahal kepala udah mengatakan tidak. Dan saat kepala mengatakan tidak…perut masih ingin….lha lapar….
Wah… terkadang banyak juga tuh justru mulai ‘berantem’ pada saat subuh. Biasanya kepala tuh yang stres berat memikirkan bagaimana makan hari ini… atau bagi kebanyakan… stres memikirkan apakah target hari ini tercapai….
Yah… begitulah ada yang damai di siang hari ada yang damai di malam hari….
Kepala dan perut belum benar-benar damai tuh, kalau hati masih protes…
Kebahagiaan tanpa pengorbanan? Hmm…sepertinya harus selalu deh… Yang penting, pengorbanan itu wajib disertai keikhlasan. Dan satu lagi, yang saya tahu, kebahagiaan itu berbeda dengan kesenangan.
Nice posting, Sist!