Mi Manchi…
Tigreeeee… Mi Manchi! Itu status message seorang teman di YM. Aih, rupanya ia sedang rindu dengan “macannya” (berdoa, moga-moga ia tak mampir baca tulisan ini dan mengutuk saya jadi batu hihihi). Terus terang saya jadi manchi, rindu juga. Kalau ia rindu pada kekasihnya yang asal negeri spagetthi, sedangkan saya rindu pada teman-teman saat kuliah dulu. Duuh pada kemana ya mereka? Minggu lalu saya hadir di acara halal bihalal alumni se Jakarta. Hanya tak satu pun teman se-angkatan terlihat, adanya bapak-bapak, tante-tante, oom-oom, dan oma opa
terlalu jauh gap angkatan mereka dengan saya. Kalau ingat kejahilan mereka, saya bisa senyum-senyum sendiri.
Coba bayangkan, saat itu saya sedang bertugas jadi MC sebuah seminar serius disebuah hotel bintang lima(tolong jangan dibayangkan suara dan penampilan saya seperti MC-MC profesional, wong ini acaranya seminar konstruksi, jadi nggak butuh MC yang heboh-heboh amat), pas rehat makan siang yang cuma sejam, teman se-gank (lima pria, satu perempuan) plus satu sahabat perempuan saya yang mirip obelix mengajak menghangatkan badan di kolam renang yang terletak di lantai lima. Asli, saya lupa, hari itu hari lahir saya. Kalau ingat sebal sekali. Tiba-tiba saja mereka menggotong saya dan ouch!… ceburr!!! Waks!
Mereka melempar saya ke kolam renang dengan sukses tanpa banyak perlawanan (gimana bisa melawan para jagoan?)… setelah ketawa-ketawa, baru kami ber-delapan kebingungan, gimana nanti pas balik ke seminar? Saya kan harus jadi MC lagi . Walhasil, dua orang diantara mereka tergopoh-gopoh ke department store yang paling dekat untuk membelikan saya baju (which is I really remember that… kami itu kan mahasiswa, tanggal segitu biasanya pada cekak semua, ha! ). Sementara itu saya ditemani sahabat saya si Obelix, berdiam di kamar ganti, sambil berusaha mengeringkan baju dan rambut. Untung gak seberapa lama, mereka datang, tapi, tapi, saya nggak mungkin pakai baju yang mereka belikan. Ampun! Para lelaki mestinya belajar kombinasi warna yang serasi dan buka-buka majalah mode terbaru, biar bisa membahagiakan pasangannya atau setidaknya temannya yang akan tampil di muka umum, seperti saya waktu itu. Akhirnya, dengan muka menahan malu, saya menyelesaikan tugas hari itu dengan baju agak kering, dan rambut gak jelas. Hihihi mati gaya deh.
Saya juga rindu pada rombongan sirkus. Teman-teman satu department saat dulu kepala sukunya si Babe. Yang namanya berteman selalu ada suka dukanya, kadang kami bertengkar, berbaikan, bermesraan, ya seperti itulah. Dinamika persahabatan ini yang bikin kangen. Kami hampir sepantaran, suasana kerja jadi enak dan nyaman. Sering kali kami membuat acara bareng-bareng, tentu saja tanpa si Babe –yang kalau joget seperti teletubbies. Kalau ada yang agak-agak nyleneh, kami nggak segan bikin “onar”. Misalnya, pernah si Babe, menyewa konsultan ekspat yang belagunya minta ampun. Sok bossy melebihi si Babe terhadap kami. Jika Babe bepergian, ia menyediakan diri jadi mata-mata Babe, begitu Babe balik, ia–dengan catatannya, melaporkan semua kenakalan kami. Pokoknya menyebalkan. Sudah begitu, ternyata background keahliannya sebetulnya nggak sesuai dengan pekerjaannya, jadi malah jadi beban kerja kami.
Dan ia juga tak “bersih-bersih” amat. Suatu kali, ketika Babe keluar kota, kami ingin menyelinap sebentar ke sebuah hypermart didekat kantor untuk membeli hadiah. Diutus tiga orang anggota rombongan sirkus yang agak longgar job-nya. Nah, acara ini diperkirakan bakal lancar, karena si Beruang Madu (julukan sang ekspat) pagi-pagi sms sekretaris Babe, hendak ke workshop vendor di Tangerang, langsung tanpa mampir kantor, woiii bakal lama nih, pikir kami, paling tidak ia baru sampai kantor setelah jam makan siang. Pergilah tiga utusan kami dengan tenang. Balik-balik mereka ngakak-ngakak dan nggak jadi beli barang. Ternyata mereka nyaris papasan dengan Beruang Madu. Si Beruang Madu ternyata nggak pernah ke Tangerang hari itu, ia nongkrong di kedai Donat. Betul, belum jam makan siang dia tiba di kantor, sambil mengguman dalam bahasa Inggris… Tangerang macet! Panas! Ahahahaha…. coba waktu itu dipotret!
Pada akhirnya, kami makin kesal dengan ulahnya. Kalau sudah begitu, kami sibuk menyusun rencana untuk melenyapkan dia, paling nggak dengan cara membuatnya tak nyaman dulu. Misalnya, dengan rajin memasukkan obat pencahar ke minumannya.. hehehehe… Bukan, bukan saya yang melakukan. Saya hanya merestui heheheh…
Namun, ketika persahabatan sedang hangat-hangatnya, kami dipisahkan dengan paksa, demi kepentingan perusahaan, eh nggak juga sih, perpisahan itu juga demi kemajuan kami. Saat itu bikin agak trauma sih, tapi tetap, dengan konyol kami bisa mendramatisir situasi menjadi lebih seru. Dan sampai sekarang kami masih menyebut diri sebagai rombongan sirkus, meski susah untuk reunite.
Dulu, ya dulu! Tapi enak juga mengingat-ingatnya, biar nggak bikin meringis lebih baik mengenang yang lucu-lucu. Mi manchi! Saya rindu, ya sekarang saya rindu pada mereka, saya rindu “pelukan” mereka, saya rindu canda tawa kami, aaah saya begitu merindukan mereka.
”Mi mancate tutti molto ragazzi.”
“Voi andrete bene .. sarete a posto”
“Molto Grazie, thanks telah memberikan memori yang indah!”
“Prego, sama-sama!”
Pasti mereka menyerukan itu untuk saya.
Catatan:
- Mi mancate tutti molto ragazzi : Saya rindu kalian semua.
- Voi andrete bene .. sarete a posto : Kamu akan baik-baik saja.
##
Thanks to my sister AR for the friendship, sisterhood, and everything!
Kadang juga saya rindu saat-saat dulu
Saat banyak sahabat di dekatku
Sekarang pada sibuk kerja
Bahasa apa itu, Yog? Mi manchi… heheh…baru dengar…
Lucu sekali Yog…waktu diceburin ke kolam renang. Kenangan yang indah. Saya bisa merasakannya…
“Tiba-tiba saja mereka menggotong saya dan ouch!… ceburr!!! Waks!”
Haih?!! Nggak berat emang? Hihihi…
Persahabatann memang sangat indah mbak Yoga, kalau dulu masih di Sby, jika GM dan Manager HRD tidak ditempat saya dan teman-teman juga suka bikin guyonan “Kita mau Makar” dan persiapan kudeta dilakukan di Business Centre dengan hidangan Mi goreng kesukaan..
dengan porsi KKN yang dipesan dari Executive Chef kitchen…
thanks
pastilah mbak, yang bikin aku betah di suatu kota memang justru temen2..
ga peduli jakarta panas, gerah, dan ribet.. tapi klo ada yg ‘ditemui’ dsana pasti segala embel2 tadi ga (tralu) kerasa.
Tapi sekarang lagi suka bandung
Nah, siapa yang di Jakarta Pen?
##
“Tapi sekarang lagi suka Bandung”
Nah, siapa yang ada di Bandung Pen? Mestinya special ya…