Monthly Archives: October 2008

Cinta dan Peti Pandora

Cinta dan Peti Pandora

Hari ini temanya Sting. Di Agoyyoga atau di sini akan terlihat hari ini Sting menemani saya dari pagi sampai sekarang, non stop satu album diputar berulang-ulang. Untung cuma saya sendiri yang dengar kalau tetangga kiri kanan depan belakang dengar mungkin mereka sudah muntah berbaskom-baskom. Hehehe…. Kalau disini saya akan cuplik sedikit lirik Love is The Seventh Wave: -

In the empire of the senses
You’re the queen of all you survey
All the cities all the nations
Everything that falls your way
There is a deeper wave than this
That you don’t understand
There is a deeper wave than this
Tugging at your hand

Kata Sting lirik itu terinspirasi ketika ia asyik memandangi peselancar di Barbados, bagi peselancar gelombang yang terkuat adalah gelombang yang ke-tujuh. Gelombang itu menguat, menguat dan semakin menguat pada yang ketujuh kemudian melemah, mengulang lagi. Sting menerjemahkan gelombang ke-tujuh sebagai cinta yang kuat, yang bisa melawan segala hal yang destruktif terhadap cinta itu sendiri. Hanya gelombang yang ke-tujuh yang ia pilih.

Lantas apakah cinta bisa surut dan melemah seperti gelombang yang lain? Mungkin dan rasanya demikian. Tanpa pupuk dan jika waktunya sudah usai mungkin cinta serupa gelombang ke-enam, gelombang ke-dua atau ke-tiga. Sungguh hidup yang dinamis. Mungkin juga gelombang ke-tujuh tak pernah berakhir siapa yang tahu?

Lantas kenapa saya jadi ingat Pandora? Mitos kuno dari Yunani, orang-orang lebih mengenal kotaknya daripada Pandoranya. Beragam mitos menyertai wanita pertama –setan cantik ala mitos Yunani yang dianugerahi hadiah yang unik oleh setiap dewa-dewa yang keberadaannya dimaksudkan untuk menyengsarakan manusia (pria). Ada yang mengatakan dia lah yang membuka phitos (kotak) yang dalam kebudayaan modern dikenal sebagai kotak atau peti Pandora yang berisi setan-setan yang mencerminkan sifat-sifat manusia. Seluruh setan (sifat buruk) keluar:- fitnah, ketamakan, kesombongan, keangkuhan, iri dengki, kesengsaraan dan hanya menyisakan harapan. Tapi dimitos yang lain disebutkan isi phitos tersebut justru adalah kebaikan, coba simak puisi Theognis of Megara seorang penyair Yunani kuno: 

Hope is the only good god remaining among mankind;
the others have left and gone to Olympus.
Trust, a mighty god has gone, Restraint has gone from men,
and the Graces, my friend, have abandoned the earth.
Men’s judicial oaths are no longer to be trusted, nor does anyone
revere the immortal gods; the race of pious men has perished and
men no longer recognize the rules of conduct or acts of piety.

Cinta yang kuat seperti gelombang ke-tujuh, ada harapan yang tertinggal di dalam phitos yang dibuka oleh Pandora. Apakah cinta serupa dengan phitos, kotak Pandora? Apakah berlaku untuk semua jenis cinta? Termasuk cinta pada Bumi yang ditelantarkan? In the empire of the senses
You’re the queen of all you survey
, apapun jawaban anda mohon dirasakan sendiri.

Keinginan = Persoalan?

Keinginan = Persoalan?

Apa sih yang menyebabkan saya menulis, senantiasa berusaha meng-ekspresikan diri, senantiasa berusaha mencari penyaluran pikiran agar mental tetap sehat? Akar utamanya adalah keinginan. Iya keinginan, nafsu atau apa pun namanya senantiasa menghantui. Inilah sejatinya pangkal persoalan setiap manusia. Apakah ini adalah sebuah persoalan hidup? Memiliki mimpi, memiliki cita-cita, berusaha mewujudkan cita-cita berusaha mewujudkan mimpi  adalah kalimat-kalimat dengan kata kerja yang pangkalnya adalah pengejawantahan keinginan manusia. Dan bukan lagi namanya manusia jika tak memiliki keinginan. Keinginan akan jadi persoalan jika kita tidak tahu bagaimana mengaturnya, menguasainya, bahkan secara arogan orang mengatakan master your wish!

Persoalannya adalah bagaimana kita menjadi obyektif dalam mengendalikan keinginan tersebut? Bagaimana kita bisa memandang setiap keinginan segamblang penglihatan kita ketika melihat sebuah landscape dari atas sebuah helicopter atau yang disebut helicopter view. Read the rest of this entry

Veni Vidi Vici

Veni Vidi Vici

Rendra, ketika mengunjungi restaurant Indonesia di Prancis milik Umar Said, Sobron Aidit dan kawan-kawan, menulis pesan di buku tamu ( yang diberi nama pengelolanya : Livre d’or): “Aku datang, aku makan, dan aku senang” plesetan dari veni vidi vici. Semalam entah terkena sirep setan apa, setelah menelpon seorang teman sekitar jam delapan malam saya langsung pulas lelap baru bangun keesokan harinya ketika matahari sudah nampak. Padahal, saya baru saja pulang dari kantor, baru saja duduk, baru saja  hendak memulai aktivitas malam (membaca, bebenah sedikit, dsb). Pagi-pagi ketika bangun, langsung berucap dalam hati, “Aku datang, aku capek, dan aku tidur.” Hayah… enaknya, pengen nambah tapi apa daya, harus segera beranjak, sudah jam tujuh kantor dan seisinya sudah menunggu. Jam delapan kurang sepuluh menit, saya mendapati diri hendak menyalakan komputer kantor. Read the rest of this entry

Teh yang Bikin Susah

Teh yang Bikin Susah

Sudah beberapa malam ini sebelum memulai aktivitas, membaca, chatting, atau apa saja, tak lupa saya siapkan sepoci teh orange pekoe. Ritualnya demikian, saya memastikan poci telah bersih dan tidak terlalu dingin — jika perlu poci dihangatkan dengan membilasnya dengan air hangat, sekejap saja, sembari menyiapkan poci dan mug (saya tidak pakai cangkir karena kurang pas quantity-nya untuk saya ;) ), air dijerang hingga suhunya pas, satu sendok makan teh orange pekoe plus air panas secukupnya didiamkan sekitar 3-5 menit, lantas… duuh segarnya… Pikiran jadi jernih, badan jadi segar, siap beraktivitas kembali.

Apa sih teh orange pekoe itu? Read the rest of this entry

Foto Keluarga

Foto Keluarga

Lucu! Itu perasaan saya ketika memandangi foto keluarga yang dibuat tahun 1999. Disitu tampak Bapak dan Ibu duduk berdua, dibelakangnya, dari kiri ke kanan nampak adik, saya dan si bungsu. Apa yang lucu? Lucu melihat sosok saya sendiri di foto tersebut (maaf kawan, saya tidak bisa memperlihatkan foto itu di sini), bersanggul, mengenakan kebaya dari brokat bermotif sulur warna silver muda, sedang tersenyum. Putri Jawa yang ndak Njawani, meski kalau dilihat-lihat penampilan saya itu sangat menyakinkan sebagai gadis Jawa.   Read the rest of this entry

Gelembung-Gelembung Hati

Gelembung-Gelembung Hati

Terkadang saya sering membayangkan, hadirnya teman dalam kehidupan sama artinya dengan menciptakan gelembung (ruangan) di dalam hati. Yang bisa membesar dan mengecil, mengikuti dinamika pertemanan itu. Seorang teman lama mengatakan, ruangan itu (dia mengibaratkan ruangan itu sama dengan sebuah kamar persegi), tidak akan lenyap, sama seperti bayangan saya, ia mengatakan ruangan itu hanyalah akan membesar dan mengecil. Nyatanya demikian, bertahun-tahun kami tidak pernah berkomunikasi lagi, kami kehilangan kontak karena kesibukan masing-masing dan tidak pernah up-date agar komunikasi itu bisa terus berjalan, ternyata saya masih bisa menemukan ruangan untuknya masih ada di hati saya, walau sangat kecil tapi ia ada di sana. Ruangan inilah yang kemudian membangun rindu dan menyimpan kenangan terhadapnya. Read the rest of this entry