Monthly Archives: November 2008

Catatan Sabtu 22/11/08, Dapat Ilmu!

Catatan Sabtu 22/11/08, Dapat Ilmu!

Catatan kedua ini hanya sebagian kecil pelajaran yang saya dapatkan saat PB08. Berharap mudah-mudahan perspektif yang saya dapat bermanfaat bagi kawan-kawan.

Pada breakout session saya dan Bu Enny memilih mengikuti sessi Photoblogging, “Menjadi Photoblogger yang Handal”, yang dimoderasi mas Iman Brotoseno.

Jerry Aurum - Kristupa Saragih - Iman Brotoseno (Oscar Motuloh dibalik Kristupa Saragih)

Jerry Aurum - Kristupa Saragih - Iman Brotoseno (Oscar Motuloh dibalik Kristupa Saragih)

Seperti yang disinggung Bu Enny, ada tiga pembicara di sessi ini, Jerry Aurum, Kristupa Saragih (Fotografer.net), dan Oscar Motuloh. Saya mengenal karya Jerry sejak beberapa tahun yang lalu, dari salah satu teman saya, penghobi fotografi, yang ternyata adalah teman Jerry. Salah satu fotonya kemudian jadi ide lukisan saya, tentu ini hanya untuk konsumsi saya sendiri dan kalangan terbatas. Read the rest of this entry

Celoteh

Celoteh

Teman saya pernah bilang, makin kesini makin susah mencari teman seide, sepantaran apalagi yang pintar dan masih lajang. Kesini tidak merujuk ke wilayah, seperti Timbuktu misalnya, melainkan pada waktu.

Ingatan itu muncul tepat saat kepala terasa mampat hidung tersumbat, hiyaaa… maksudnya kepala penuh dengan banyak hal, sedang ide cerdas jadi barang langka, maka yang muncul adalah grenengan.

Ini dan itu yang muncul begitu saja dikepala, melesat ke permukaan minta dielus, diperhatikan barang sejenak.

Memang benar juga yang dikatakan teman saya. Pada saat ini, teman berbagi, yang bisa dicolek, digelitik, digelayuti, bahkan dijitak jika perlu, entah pada kemana.

Jika mereka komoditi, maka saat ini harga mereka melonjak tinggi. Pasokan minim sementara permintaan tinggi.

Jika bisa dibeli maka sudah pasti saya akan rela menabung untuk mendapatkannya (mode dream on). Dan berjuta yang lain, saling bunuh untuk mendapatkannya (dasar barbar). Read the rest of this entry

Oalah

Oalah

Entry iseng-iseng pakai Opera Mini lagi.

Jadi ceritanya minggu lalu ketika bongkar-bongkar buku lama, saya menemukan kertas sesobek, yang akhirnya saya bawa kemana-mana seminggu ini. Kertas bertuah? May be yes, may be no…isinya?Simaklah.

Life can be a rocky road, the challenge is not to let it grind you into dust, but to polish you into a brilliant gem – JM Fogg

Mungkin anda bilang…oalah! Ya memang “oalah”, hidup itu “oalah”!
Nah, sekarang kertas bertuah akan memulai petualangan di keranjang sampah. Ciao!

Katanya Lho

Katanya Lho

Katanya yang utama adalah kepercayaan, yang kedua kejujuran, yang ketiga kesehatan, yang keempat keluarga, yang kelima kesejahteraan, yang keenam keselamatan, yang ketujuh ke…

Ada yang mau menambahi? Sila…
:)

-Postingan iseng-iseng menggunakan browser Opera Mini-

Karakter Berpengaruh Terhadap Sukses

Karakter Berpengaruh Terhadap Sukses

Filsuf besar Socrates pernah mengatakan bahwasanya ilmu tidak menjamin seseorang menjadi tahu dan bertindak dengan karakter yang positif, sementara di dunia kerja karakter positif atau excellent character semisal passionate, honest, long-life learners, reliable, bertanggung jawab, optimistik dan sebagainya mutlak diperlukan. Oleh karena itu, karakter yang baik harus senantiasa diupayakan.

Dengan karakter yang baik, maka knowledge yang dimiliki seseorang akan banyak manfaatnya baik bagi diri sendiri maupun orang lain dan pada ujungnya di lingkungan kerja akan membawa kemajuan bagi perusahaan. Kebalikannya karakter negatif berpotensi menghambat kemajuan seseorang, sebuah tim, dan pada ujungnya sebuah perusahaan.

Apakah anda familiar dengan isi dialog berikut ini?

“Bagaimana rasanya memiliki rekan satu tim yang pandai luar biasa?”

“Saya akan senang, karena berharap bisa menimba pengetahuan darinya dan dengan kepandaiannya, target tim kami bisa terpenuhi, syukur-syukur malah exceed atau lebih dari harapan”.

“Bagaimana jika ternyata rekan satu tim yang pandai luar biasa itu ternyata tak disiplin dan egois luar biasa?”

“Wah jika demikian harapan saya jauh panggang dari api. Alih-alih saya akan ketularan pintar dan target tim tercapai, ada kemungkinan tim jadi tak solid, tujuan mungkin bisa tercapai meski sedikit berat, tapi harapan untuk sama-sama pandai adalah ekspetasi yang berlebihan, dan egoisme salah satu anggota tim apalagi sampai ada yang ingin memiliki glory bagi diri sendiri akan berpotensi menimbulkan friksi dan frustasi bagi anggota tim yang lain, sehingga otomatis suasana kerja tak akan nyaman dan pada ujungnya akan merugikan perusahaan”.

Dialog diatas adalah gambaran pendapat umum yang sering saya dengar, dan bisa saya rasakan kebenarannya. Kepandaian mencerminkan penguasaan atas pengetahuan atau ketrampilan tertentu yang akan bermanfaat bagi orang banyak jika digenggam oleh orang-orang dengan karakter yang baik (dalam bahasa spiritual disebut akhlak yang baik), dan sekali lagi tak akan banyak manfaatnya ditangan mereka yang negatif karakternya.

Knowledge is power but character is more. Bagaimana menurut anda?

Niat, Alarm Kesombongan dan Dodol!

Niat, Alarm Kesombongan dan Dodol!

Lagi-lagi tulisan re-cycle. Kejadiannya sudah terjadi berbulan-bulan yang lalu dan semua nama ditulisan ini, tentu saja fiktif!

Senin kemarin selarik undangan sederhana tiba di meja kerja saya. Pak Tris, salah satu satpam di kantor akan mengakhiri masa lajang. Acaranya akan diadakan sabtu di sekitar studio alam TVRI – Depok. Saya ingin datang dan mengucapkan selamat tapi enggak tahu dengan siapa.

Ada rasa enggan untuk bertanya pada teman-teman yang rata-rata sudah berkeluarga, karena biasanya mereka sibuk dengan urusan keluarga masing-masing di akhir pekan, lebih-lebih yang mengundang bukan benar-benar karyawan kantor kami karena security ini outsource dan beliau masih tergolong baru. Sedang kalau yang mengundang teman sendiri pun belum tentu bisa hadir. Walhasil keinginan untuk datang terpaksa dipendam didalam hati, sambil melihat sikon selanjutnya.

Pucuk dicinta ulam tiba, Selasa pagi ketika di pantry, seorang rekan menanyakan apakah saya ingin datang ke acara itu. Gayung bersambut, ternyata dia juga ingin datang, singkat cerita kami janjian untuk datang sama-sama ke acara itu. Oh ya dia seorang single parent dengan dua anak yang lucu-lucu. Saya tak tahu apakah kami akan datang berdua, atau berempat dengan anak-anaknya. Ia juga belum memberikan kepastian.

Tapi, ada ceritanya yang membuat saya tercekat. Katanya, pada mulanya pak Tris ragu ketika akan menyebar undangan di kantor. Takut tak diperhatikan karena selain outsource beliau juga relatif baru “beredar” di kantor serta merasa nggak level.

Saya yang tengah mengunyah, nyaris tersedak demi mendengarnya.

“Lho, lantas, kok akhirnya ia berani?” Read the rest of this entry

1000 Tempat Yang Akan Kau Kunjungi

1000 Tempat Yang Akan Kau Kunjungi

600px-macchu_picchu_panoramic

Judul ini terinspirasi dari teman saya, Ijul. Dia memiliki daftar 1000 tempat yang ingin dikunjungi sebelum meninggal (1000 places to visit before I die), saya belum pernah membacanya seluruh listnya, juga tak tahu apakah benar-benar ada seribu atau enggak, tapi kalimatnya mengingatkan saya pada cita-cita lama, mengunjungi beberapa tempat di dunia.

Tibet (syukur-syukur ketemu Shambala), Manchu Picchu di Peru, Stonehenge di UK adalah tempat-tempat yang ingin saya kunjungi, selain beberapa negara di kawasan Asia dan tentunya Mekah dan Madinah–dan rasanya Indonesia juga belum habis! 

Wish list ini mesti saya lihat lagi, mencoba melihat kemungkinan mana yang paling mungkin diwujudkan lebih dulu. Yang jelas, saya tak akan pernah menguburnya dan tetap akan mengibarkan keinginan ini setinggi langit. Perkara nanti terwujud atau enggak itu urusan belakangan.

Anda sendiri apakah punya daftar “1000 places to visit before I die” ?

Sharing di sini Yukkk… mau tulis 1, 2, 10, 50, 100 atau sampai sejuta, silahkan!

 

Photo courtessy of wikipedia

Kelaparan, Buruk Sangka dan Sepotong Tahu

Kelaparan, Buruk Sangka dan Sepotong Tahu

Catatan: tulisan di bawah ini adalah tulisan lama yang saya re-cycle, dan di re-touch. Tulisan ini pernah dimuat di blog saya yang lain pada Maret 2008, jadi siapa yang merasa pernah membacanya tak perlu bertanya-tanya lagi, oh ya blog itu sudah dinonaktifkan.

How can I take a breakfast today, if I am still thinking about my “family” who are hunger.

Rasanya sulit, meski akhirnya teh manis dan sepotong tahu mengganjal perut saya. Ada nikmat, jelas ini bukan karena tambahan MSG. Ini karena ada rasa syukur yang dalam. Yang maha penyayang sangat pemurah. Meski begitu, bayangan mereka yang kelaparan terus menghantui beberapa hari ini, apalagi setelah semakin banyak berita yang mengulasnya, hati terasa makin tidak tenang.

Tak usah jauh-jauh ke NTT atau ke Makasar, di sekitar tempat tinggal saya di Jakarta ini sebenarnya banyak juga yang kelaparan. Yang perutnya perih senantiasa, yang merintih dalam diam.

Tak terbayang godaan yang mereka hadapi, pilihan antara menghalalkan segala cara atau diam pasrah dipermainkan pikiran dan hati yang semakin sulit bekerja sama karena lapar hingga akhirnya ada yang diam selamanya, inna lillahi wa inna lillahi rojiun.

Saya kira semua agama mengajarkan umatnya untuk memperhatikan sesama mulai dari lingkungan yang paling dekat dengan diri kita, mulai dari keluarga, saudara dekat, tetangga dekat, sampai lingkungan yang lebih luas lagi.

Tinggal di Jakarta yang keras, banyak dilema yang dihadapi warganya. Tak urung dilema itu muncul dalam bentuk saling mencurigai alias berburuk sangka terhadap sesama.

Ini pengalaman seorang teman, wanita berjilbab, eksekutif muda di perusahaan besar. Read the rest of this entry