Ini cuma celotehan sore hari. Nggak penting-penting amat. Tentang usaha kecil untuk menjaga lingkungan hidup.
Meski saya bukan anggota geng anti kresek –yang keberadaaannya nggak jelas kini, sudah sejak lama saya membiasakan diri membawa tas (kantong kain) yang dilipat manis di dalam tas besar yang dipakai sehari-hari. Tujuannya, jika saya membeli sesuatu, belanjaan bisa langsung dimasukkan ke dalam tas kain, atau langsung masuk ke tas ransel, tak perlu tas plastik lagi. Awalnya orang-orang sering memperhatikan dengan pandangan aneh. Bahkan petugas kasir masih kagok melayani pelanggan seperti saya. Ada juga yang spontan tanya, apakah saya kerja di LSM, ketika saya langsung memasukkan t-shirt yang saya beli ke ransel laptop langsung tanpa dibungkus tas plastik yang makin hari, makin cantik.
Lama-lama, mungkin makin banyak orang-orang yang sealiran dengan saya belanja di sana. Buktinya di swalayan langganan saya, sekarang ada program, point reward , pelanggan yang tak memanfaatkan kantong plastik dari swalayan tersebut mendapat reward, satu poin, yang kelak bisa digunakan sebagai rabat. Petugas swalayan menerangkan dengan fasih program tersebut ke saya, hanya sayangnya ia tak menerangkan pengaruhnya ke lingkungan hidup, bahkan dengan kalimat yang paling sederhana pun, walau jelas-jelas di poster disebutkan. Ah jangan-jangan ia tak terlalu paham dengan topik ini? Siapa yang tahu? Tapi setidaknya jika ia bisa menjelaskan kaitan program tersebut dengan lingkungan hidup, niscaya nilai lebih yang diusahakannya akan berbuah manis.
Sebuah jaringan toko buku dari luar negeri yang telah lama jadi langganan saya, sudah memulai konsep belanja dengan kantong sendiri atau tanpa kantong, sejak lama. Toko buku ini mengajarkan karyawannya bertanya lebih dahulu ke pelanggan, apakah mereka butuh kantong plastik atau tidak. Pertanyaan sederhana ini sangat berarti bagi orang seperti saya. Saya tersentuh dengan komitmen mereka terhadap lingkungan, oleh karenanya saya senang berbelanja buku di sana. Sayangnya jaringan toko buku lokal terbesar di Indonesia masih belum bisa memberikan sentuhan sederhana seperti ini, hanya sekedar bertanya, apakah butuh kantong plastik atau akan langsung dibawa pulang? Coba bayangkan, jika dalam sehari sebuah toko buku mengeluarkan seratus kantong plastik, coba bayangkan berapa banyak kantong plastik yang “dilepaskan” ke alam bebas dalam setahun. Ada yang tahu berapa lama plastik jenis itu dapat terurai sempurna? 1000 tahun atau bahkan lebih! Dan saya sedih membayangkan anak cucu manusia kelak hidup diantara gunung platik sampah. Menyedihkan!
Meski tak dipungkiri, kadang saya juga masih membutuhkan kantong plastik, terutama untuk tempat sampah. Kantong yang belum penuh, misalnya masih setengah, tak akan langsung dibuang. Jika sudah penuh baru di buang. Beberapa pecinta lingkungan hidup malah mencuci ulang plastik tersebut dan menggunakannya sebagai tempat sampah kembali, hingga benar-benar tak bisa dimanfaatkan lagi. Saat ini dipasaran juga telah tersedia kantong plastik sampah yang dapat diurai/terurai dalam kurun waktu beberapa bulan atau bahkan beberapa hari. Bio-degradable plastic bag istilah bahasa Inggrisnya. Produk ini bahkan salah satunya ada yang terbuat dari campuran tepung singkong, dan bisa terurai antara 5-6 tahun. Tak rugi membelinya, hitung-hitung investasi masa depan.
Nah, dengan penjelasan sederhana diatas, sekarang saya serahkan kembali keputusannya pada masing-masing. Mudah-mudahan kita semua bisa memanfaatkan kantong plastik dengan sebijaksana mungkin. Jangan lupa konsep daur ulang dan marilah kita mulai dari hal yang sederhana ini demi melestarikan Bumi tercinta. Akur?

duh, jeeeuungg… gua banget gitu loh!
aku selalu menolak kantong plastik kalau belanjaan masih bisa dibawa di tas sendiri, sampe aku dijuluki “miss green.” biarlah!
syukurnya di sini tiap belanja pelanggan selalu ditanya, “do you need a bag?” yang biasanya selalu kujawab, “no, thanks.”
ada pula green bag yang selalu dibawa bila hendak berbelanja, jadi gak pakai kantong plastik lagi (walaupun kantong plastik yang ada di swalayan sudah bio-degradable). kabarnya Oz akan melarang produksi dan penggunaan kantong plastik terhitung tahun depan.
toko buku terbesar di indonesia itu ya? aku pernah punya pengalaman mengesalkan karena mereka menolak saat aku ingin membawa buku yang kubeli tanpa kantong plastik. hello? are you in this warm planet? kesel gak seeehh…
dan soal kantong yang bio-degradable, aku dukung bodyshop duoooongg…
*wah, malah ngeblog, padahal tugas masih numpuk. bodo ah!*