Beberapa minggu yang lalu saya dan beberapa orang lainnya, mendapat penyegaran kembali tentang green building dari Simon Carter. Simon siapa? Beliau seorang eksekutif muda (dan tampan) disebuah perusahaan property terkenal kelas dunia, yang mewakili kantornya untuk wilayah Asia Pacific. Ia professional dibidang green buildings dan green real estate, diantara sederet pengalaman dan latar belakangnya, Simon adalah salah satu duta untuk climate project milik Al Gore. Saya tak perlu menjelaskan tentang Al Gore lebih jauh, saya kira para pembaca di sini cukup mafhum, akan siapakah Al Gore dan proyek-proyek lingkungan hidupnya yang belakangan ramai dibicarakan.
Saya tak hendak mengulas green building. Kali ini, mari kita sama-sama memahami ide Simon Carter tentang konsep Living Green untuk kehidupan kita sehari-hari.
Sebagaimana halnya kita ketahui, gaya hidup dan kegiatan kita sehari-hari akan mempengaruhi lingkungan baik secara langsung maupun tak langsung. Kita semuanya memiliki jejak ekologikal, membutuhkan material dari sumber daya alam, dan menghasilkan limbah. Secara umum inilah hal-hal yang perlu kita perhatikan jika kita ingin mendukung program ini;-
- Makanan yang kita makan.
- Barang-barang yang kita konsumsi, seperti makanan, pakaian, dan lain sebagainya.
- Energi dan air yang dikonsumsi di rumah.
- Perjalanan dengan kendaraan bermotor, mobil, motor, pesawat yang kita lakukan.
- Sampah yang kita produksi.
Perbaikan gaya hidup kita per individu, memang terlihat tidak terlalu signifikan dibanding jumlah masyarakat di sekitar kita, di kota tempat kita tinggal, di negara kita, bahkan jika ditotal dengan seluruh penduduk dunia –Jika dilakukan sendiri tentunya. Namun demikian, hal ini akan membuat sebuah PERBEDAAN, setidaknya kita bisa memulai mensosialisasikan standar baru bagi diri sendiri, kemudian orang-orang didekat kita, mereka yang ada di lingkaran dalam pergaulan anda, di sekitar rumah, kantor dan dengan pola demikian, saya kira dampaknya akan seperti snow ball, baik, baik, mungkin terlalu hiperbola, saya hanya ingin mengatakan bahwasanya dari lingkaran yang paling dalam pun tak menutup kemungkinan gaya hidup hijau ini bisa menular ke komunitas yang lebih luas lagi.
Nah, check list yang dikembangkan Simon dibawah ini adalah sebuah permulaan, saya akan pilahkan yang paling mungkin dilakukan, sesuai dengan kondisi dan budaya masyarakat kita saat ini secara umum. Dalam realisasinya anda dipersilahkan berkreatifitas, mengembangkan isi check list dibawah ini.
- Management
- Gunakan kalkulator karbon yang mudah ditemukan di beberapa situs. Mulailah menghitung jejak karbon rata-rata yang anda hasilkan saat ini, kemudian pasanglah target dan buatlah inisiatif untuk perbaikannya. (catatan: saya belum menemukan kalkulator karbon yang telah dikonversikan dalam satuan yang lebih familiar bagi orang Indonesia, sekiranya teman-teman ada yang tahu, mohon sudi membagi info).
- Mendukung kegiatan/inisiatif sekitar kita yang berhubungan dengan usaha go green.
- Dietmu!
- Kuantitas/Jumlah – bisakah anda makan lebih sedikit dan menghindari membuang makanan?
- Sapi - Makan lebih sedikit produk pertenakan terutama daging merah, dan susu, sebab peternakan sapi, dan tentu saja sapinya, menghasilkan sejumlah besar metan dan memiliki pengaruh negatif yang besar terhadap tanah dan air (catatan:- fakta sebenarnya adalah jumlah gas metan yang dikenal juga salah satu gas rumah kaca, yang dihasilkan oleh peternakan diseluruh dunia, jauh lebih besar dibanding hasil kegiatan transportasi di seluruh dunia!)
- Lokal – Berusahalah untuk makan dari hasil olahan produk-produk lokal yang bisa didatangkan dalam jarak tak lebih dari 100 km. Tak perlu meminum air mineral yang didatangkan dari Prancis, Fiji, atau daerah lain yang memerlukan usaha transportasi yang sangat besar. Tak perlu pula makan sayur dan buah yang didatangkan dari luar negeri.
- Organik - Usahakan untuk memperbesar porsi makanan organik.
- Species Langka – Tak perlu memakan spesies seperti Tuna Southern Blue fin atau Sirip Hiu misalnya.
- Konsumsi dan Sampahmu
- Kurangi konsumsi, hindari membeli sesuatu yang tak benar-benar dibutuhkan, khususnya yang berpotensi menjadi sampah. Hindari pemakaian kemasan jika memungkinkan.
- Investasi – berinvestasilah di perusahaan atau produk yang memiliki catatan praktek CSR (Corporate Social Responsibility) dan environmental performance yang baik.
- Belilah produk yang memiliki low-impact (dampak negatif yang rendah) terhadap lingkungan, misalnya hasil olahan sustainable timber (bukan kayu yang langka), kertas hasil daur ulang atau biodegradable material atau produk daur ulang lainnya.
- Daur ulang dan gunakan kembali semua yang bisa dimanfaatkan.
- Olah sampah organik menjadi kompos.
- Efisiensi Energi Rumah
- Gunakan shower untuk menghemat air dan energi, saat ini dipasaran telah tersedia kepala shower dengan efisiensi tinggi.
- Belilah peralatan elektrik yang memiliki fitur hemat energi dan kurangi penggunaan standby power.
- Ubahlah bolam anda menjadi compact fluorescents, investasi awal mungkin agak berasa tapi percayalah, hal ini akan memberikan keuntungan empat kali lipat dan lebih lama daya tahannya. Hindari penggunaan low-voltage downlights.
- Instal solar system, atau heat pump, atau gas untuk menyediakan air panas, cek insulasinya. Jika tinggal didaerah yang cukup panas suhunya, tentu salah satu pilihan yang bisa dipilih adalah tak perlu memiliki system air panas untuk kamar mandi rumah.
- Untuk daerah dingin (di Indonesia rasanya belum perlu), cegah terjadinya heat loss/gain dengan memperhatikan sistem insulasi rumah termasuk korden jendela.
- Cuci pakaian dengan air dingin dan keringkan secara alami daripada menggunakan pengering.
- Pindah ke rumah dengan ukuran yang lebih efisien, sesuai dengan kebutuhan seluruh anggota keluarga dan memiliki ventilasi alami.
- Meminimalisir penggunaan AC, jika terpaksa menggunakan, atur suhu sebaik mungkin agar hemat energi.
- Efisiensi Air di Rumah
- Perhatikan penggunaan – basuh badan ketika mandi dengan jumlah yang benar-benar efisien, jangan menghambur-hamburkan air, matikan keran air ketika sedang meggosok gigi, gunakan toilet dengan dual flushing yang bisa mengatur jumlah air yang dibutuhkan.
- Hanya gunakan mesin cuci atau dishwashers ketika benar-benar butuh/overload.
- Miliki tanaman yang membutuhkan sedikit air atau bahkan yang tak perlu disiram. Atau gunakan air bekas cucian beras atau sayuran untuk menyiram tanaman.
- Perbaiki kebocoran setiap dijumpai langsung, tak perlu menunda agar kehilangan air dalam jumlah besar dapat dihindarkan.
- Transportasimu
- Kurangi perjalanan non-business dengan menggunakan pesawat.
- Kurangi penggunaan mobil pribadi, jika perlu ganti mobil anda dengan yang lebih kecil cc-nya. Perbanyak jalan dan gunakan fasilitas transportasi umum.
Begitulah yang disampaikan Simon. Ada yang ingin berbagi pendapat? Yuukk..
