Pada Sebuah Pertemuan*

November 5, 2008

 sebuah-pertemuan-v1

 

Seperti saya tulis dipreambul, masing-masing ada waktunya sendiri, termasuk sebuah pertemuan, dan jika itu harus terjadi, saya pun tak bisa menghindari, sebab saya yakin semua ini memang sudah diatur, bukan hanya oleh yang hendak bertemu, namun juga oleh Dia.

 Peringatan: tulisan ini sangat panjang, silahkan berhenti kapan pun anda ingin!

 Saya Berpikir Tak Akan Pernah Mau Kopdar…

Konsep blog saya, baik Agoyyoga – A maupun Amalia (on Earth) – AOE adalah Blog yang brand image-nya sengaja dikesankan misterius. Pembaca tak perlu mengetahui siapa dan bagaimana orang dibaliknya dengan detail. Cukup informasi umum saja yang disampaikan. Saya ingin, pembaca yang merasa cocok dengan tulisan di kedua blog itu cukup menikmati isinya saja, tak perlu peduli siapa penulisnya.

Mengapa? Terus terang keduanya adalah proyek idealis, saya menulis apa yang memang ingin saya tulis, dan sadar kalau tulisan itu bukanlah jenis tulisan yang akan mengundang orang berbondong-bondong datang ke A ataupun AOE. Sehingga saya tak perlu merasa berdosa karenanya, walaupun, tetap saja saya sering menerima kritikan, bahwasanya tulisan saya sulit dimengerti, bahasa langitan, terlampau berat dan sebagainya, meski akhirnya agak melunak (rasanya), tapi tetap saya pegang hak saya, ini ladang saya, saya petaninya, jadi maafkan jika jarang memenuhi selera banyak pembaca pada umumnya.

Akhirnya dengan berjalannya waktu, tersaringlah pembaca di A dan AOE, ada yang karena tertarik dengan isi tulisan yang sebenarnya umum, namun kemasannya berbeda, ada pula yang rajin berkunjung karena memelihara silahturahmi. Dan, persinggungan antara pembaca blog dan penulisnya tak bisa dihindari hanya sampai disitu. Ada emosi yang terlibat. Terkadang terbit rindu jika salah satu tak berkunjung, atau bahkan terbit cemburu demi melihat sang pembaca telah “gentayangan” ke blog-blog yang lain, tapi tak menulis komentar di A atau AOE, atau mungkin bukan cemburu yang muncul, bisa  saja tanda tanya besar yang muncul, bertanya apakah tulisan saya buruk, biasa-biasa saja atau tak menarik hingga teman blogger tersebut tak sudi meninggalkan komentar.

Hhhmmm, padahal saya tahu persis dengan citra dan produk yang saya munculkan saya tak boleh banyak berharap, sebagaimana halnya saya tak pernah berkeinginan akan berjumpa langsung dengan blogger yang lain, bahkan dengan sentuhan emosi yang lebih personal. Sudah sangat nyaman sebenarnya.

 Ternyata…Law of Attraction Bekerja

Beberapa minggu yang lalu, entah kenapa perasaan saya berkata lain. Suatu waktu kelak, saya mungkin tak bisa menghindari pertemuan itu, sebenarnya ini bukan semata firasat, tapi saya “membaca”, ada kecenderungan kearah itu, dengan beberapa potensial blogger. Apakah ini law of attraction?  Saya tak tahu, yang jelas realisasinya mewujud.

Ibu Enny berusaha keras mengontak saya, untuk sebuah pertemuan kira-kira sebulan yang lalu. Saat itu saya juga sudah menjalin komunikasi yang lebih personal dengan rekan-rekan blogger lain termasuk Daniel Mahendra. Agak deg-degan, karena selama ini Bu Enny terkesan “kaku”, mengingatkan saya pada sosok dosen yang kaku (yang setelah bertemu ternyata pandangan saya salah), tapi karena saya terkesan dengan sisi keibuan beliau, saya terima tawaran itu.

Bu Enny juga mengajak Pak Yari, sayangnya beliau tak bisa hadir karena keperluan keluarga. Saya sempat bisik-bisik ke Daniel, dan bercanda, kalau sebenarnya ia ingin ikut hadir, saya menawarkan diri untuk menyampaikan ke Bu Enny, pasti beliau senang. Akhirnya kami tak pernah menyampaikan hal itu pada beliau. Lagipula Daniel akarnya di Bandung, sementara pertemuan dilaksanakan pada hari Jumat, keesokan harinya, mepet sekali, rasanya susah buat Daniel untuk mengatur kegiatan mendadak, jadi ini cuma omong kosong saja, benar-benar becanda dengan Daniel. Esoknya, nggak disangka berturut-turut saya terima lima atau enam sms dari Daniel, 3 sms mem-forward undangan Bu Enny, dua sms mem-forward balasannya ke Bu Enny. Law of Attraction bekerja lagi.

Rupanya bisik-bisik itu terbawa angin. Kami ngakak berdua. Berhubung undangan itu mendadak dan tentu saja akan sulit mencabut Daniel dari akarnya jika dadakan begitu, kami juga maklum dengan kegiatannya yang tak kenal waktu, akhirnya hanya kami berdua (saya dan Bu Eny) yang bertemu, pertemuan pertama yang membuat kami diusir dari restoran (hehehe…rasanya ini bukan pengalaman pertama saya).

Pada suatu kesempatan Daniel menyatakan keinginannya bertemu kami, hanya saja mesti direncanakan agak jauh-jauh hari. Akhirnya kami bertiga kasak kusuk untuk bertemu, tanpa tahu kapan waktu yang terbaik, karena Ibu Enny dan Daniel sibuknya luar biasa.

Mbak Imelda Akan Pulang…

Ditengah penantian yang tak pasti (hehehehe agak hiperbola), hadirlah mbak Imelda ke ranah yang lebih personal. Seingat saya, beliau menyapa Daniel duluan lewat YM, lantas mengundang saya di YM. Suatu ketika ada kabar, Mama mbak Imelda sakit cukup serius dan dirawat di RS. Mbak Imelda dan suami memutuskan untuk pulang ke Jakarta, satu kalimat ditulisan mbak Imel yang saya ingat betul untuk menguatkan rencana kepergian itu adalah, apa yang bisa dilakukan sekarang ya dilakukan sekarang, tak perlu menunggu nanti (thanks mbak kalimat ini sekarang jadi pemicu saya untuk bekerja dan belajar lebih baik).

Entah apa yang menggerakkan beliau, ketika mengobrol via YM menjelang kepulangannya ke Indonesia, mbak Imelda mengajak saya bertemu, tapi beliau menyarankan agar saya tak perlu cerita ke teman-teman yang lain, untuk menghindari kecemburuan para blogger penggemar mbak Imelda. Saya girang sekaligus gamang. Bayangkan waktu pertemuannya tak jauh dengan pertemuan pertama dengan Bu Enny – euforia saya rasanya belum hilang. Saya baru bergaul dengan mbak Imelda,  tapi tanpa pikir panjang, langsung saya iyakan. Banyak pertanyaan tentang bagaimana sosok mbak Imelda sebenarnya, tapi tampaknya beliau orang yang menyenangkan dan open mind. Larut malam, setelah mengiyakan ajakan mbak Imelda, ketika ngobrol dengan Daniel, tak sedikit pun saya bocorkan undangan itu, maka alangkah terkejutnya ketika pagi-pagi saya menerima email dari Daniel yang ditujukan untuk saya, Bu Enny dan mbak Imelda dengan subyek;- Pada Sebuah Pertemuan. “Yoga sudah tahu…” salah satu isinya begitu. Kok bisa? Jangan heran, DM dan EM-lihat singkatan namanya saja, hampir sama, mereka berdua ini makhluk malam yang jarang tidur, kerap mereka saling menyapa sebelum subuh, lewat YM!

Saya betul-betul bersemangat. Kata Daniel ini adalah law of attraction. Sampai merinding membayangkan pertemuan itu, apalagi sempat pula Daniel merencanakan mengundang mbak Tanti, yang kebetulan akan ke Bandung via Jakarta pada saat pertemuan nanti berlangsung. Bayangkan, satu datang dari Tokyo, Jepang karena hendak menjenguk Ibunya, satu akan datang dari Surabaya karena keperluan dinas, satu akan datang dari Bandung, dan dua orang menunggu di Jakarta, semuanya digerakkan, entah dengan kondisi apa, menuju satu titik tempat pertemuan kami kelak, semata-mata hanya untuk memenuhi takdir, dan saya termasuk salah satu yang yakin bahwasanya tak ada kebetulan di dunia ini. Pasti ada makna atas pertemuan itu.

Bertemu!

Singkat cerita, akhirnya kami bertemu, berlima seperti bisa dibaca ditulisan ini, ini dan ini. Luar biasa! Sayangnya, mbak Tanti tak bisa hadir dan tak jadi melakukan perjalanan dinas karena satu hal yang sangat personal. Pertemuan antara beberapa generasi. Saya pribadi merasa menemukan keluarga baru yang membuat saya nyaman. Walau awalnya dulu punya niat untuk mendiskusikan ranah kerja masing-masing, untuk berbagi, tapi nyatanya kami asyik saja membicarakan banyak hal seperti laiknya teman lama, dan batasan generasi rasanya melebur tanpa mengurangi rasa respect/hormat pada masing-masing.

 cimg78701

Berlawanan arah jarum jam: Daniel, Ibu Enny, Imelda, Riku.

Lihat tawa lepas Daniel dan Mbak Imelda!

Euforianya masih terasa hingga tulisan ini saya buat. Hati saya menjadi cerah dan hangat, tak jarang senyum masih terlukis diwajah ketika mengingat pertemuan itu, apalagi ketika memandang foto teman-teman berempat ini. lihatlah si kecil yang tampan, Riku, ia sangat berkesan dihati saya (hehehe gimana bikin anak se-cute Riku mbak Imel?). 

Satu hal yang ingin saya sampaikan ke teman-teman semua, bahwasanya pertemanan tak pernah memandang virtual atau nyata. Orang-orang dengan chemistry yang sama bisa saja “bersentuhan” dan menemukan “klik”-nya. Siapa nyana, dalam hitungan minggu, saya, Ibu Enny, Daniel dan Mbak Imelda yang “..dulu pada kemana aja”, ternyata menemukan klik dan akhirnya terwujudlah sebuah pertemuan yang indah, terimakasih semuanya.

maneki-neko-foto-yoga

Maneki-Neko dari mbak Imelda, masing-masing menerima souvenir ini.

Lihat dibelakangnya ada foto saya.

Terima kasih semuanya, terima kasih Ibu Enny yang menjadi main sponsor pertemuan ini, Mbak Imelda yang menghujani kami dengan hadiah, lihatlah maneki-neko itu hadiah bagi kami, semoga kami makin beruntung setelah pertemuan ini, selain itu saya mendapatkan bayinya Lala, Blings of My Life yang langsung saya baca habis keesokan harinya, miniatur parfum dan sebuah notes kecil mungil.

Terima kasih Daniel, yang sudah bersusah-payah menyetir sendiri dari Bandung, dan masih mau menyempatkan mengantar saya pulang,  excellent service Niel ! Bersyukur pertemuan lancar dan semua kembali pulang dengan selamat ke rumah, sambil membawa souvenir berupa memori indah. Tak terasa sudah tiga hari dari pertemuan, saya masih bisa tersenyum dan tiap hari mengenakan pakaian warna cerah pertanda hati saya sedang bahagia.

 

Love you all! Sampai bertemu lagi… EN DAYORI…

 

##

 

*Judul diadaptasi dari subyek email yang dikirimkan Daniel Mahendra

**Lukisan courtessy of  Yoga, cat akrilik diatas kanvas, terdiri dari empat lukisan, ukuran masing-masing 20 cm x 20 cm.

10 Responses to “Pada Sebuah Pertemuan*”


  1. [...] is preamble my friends, for another story about “Pada Sebuah Pertemuan” *, in a meeting or gathering among us, Ibu Enny, Mbak Imelda, Daniel, and me, and of course a cute [...]

  2. edratna Says:

    Ahh Yoga, tulisan yang indah sekali. Sama-sama membahas suatu pertemuan, tapi ternyata memberikan kesan yang walau intinya sama…tapi bahasannya tetap menunjukkan karakter masing-masing penulisnya.

    Hmm….saya juga tak tahu, padahal awalnya hanya karena komen kang Yari pada salah satu postinganku, ternyata malah jadi suka sms an sama Yoga.

    Yoga:
    Beginilah Bu cara saya bertutur, terima kasih atas apresiasinya. Gara-gara pak Yari, tak disangka kita jadi sering berkomunikasi ya Bu. :D

  3. prameswari Says:

    Hai…mbak Salam kenal
    wa….foto itu …..dua kali saya lihat
    tetep menarik dilihat…
    tapi foto mbak manaa……

    Yoga:
    Hai Prameswari! Akhirnya kamu sampai juga disini…hmm foto itu tetap menarik dilihat, benar, buat saya jiwa foto itu (kekeluargaan) adalah magnet kuat yang menciptakan kebahagiaan ketika saya memandangnya. Fotoku… ah, fotoku banyak bertebaran di blog A dan AOE ;)


  4. Kau bisa memajang lukisan yang bergambar aku di sini, Yoga? Tapi tidak bisa memajang fotomu sendiri. Kenapa? Ini ladangmu? Oh, oke…

    Akan kupasang fotomu di ladangku. Hihihi! (rasain!).

    Yoga:
    Ah Kamu ini Niel, aku kan sudah pasang lukisan bergambar aku juga toh? Fotoku? Ada kok bertebaran di A dan AOE, simak baik-baik dong… Kamu mau pasang fotoku di ladangmu? Buat apa? Buat nakut-nakutin burung dan tikus? hehehehe….

  5. emiko Says:

    Hai Yoga, akhirnya kamu lebih dulu menulis tentang pertemuan kita ya. Maaf tulisanku masih dipending.
    But really, dalam waktu yang singkat aku juga bisa merasakan kedekatan yang alami di antara kita.

    DM dan Yoga…sudah…sudah… hentikan pertengkaran itu (gaya seorang kakak? atau Ibu? hihihi)

    Foto Kucingnya keren ya, padahal aslinya kan kecil sekali…. but foto dibelakangnya kurang jelas Yoga…sepertinya kamu senang naik jet coaster juga ya.

    tunggu sampai aku posting tentang pertemuan ini.
    (harus segera ya sebelum bahan tulisannya habis heheheh)

    EM


    Hihihii… iya ini mbak… Daniel nakal! (gaya anak kecil laporan ama kakaknya…atau Ibunya? huhehhehe..). Itu foto dengan teman setim, naik Tornado di Dufan bulan Mei lalu. Gila kami nekat satu tim naik bersama-sama, padahal mana boleh kalau ketahuan orang safety.
    Aku tunggu tulisannya, cepat..cepat sebelum kehabisan bahan hihiihi…. (kalau habis beli di Mayestik aja… aih ini mah bukan kain…) ;)

  6. nh18 Says:

    Just like I said before …
    This is really nice …
    Style EM yang sudah aku kenal …
    Style EDRatna yang juga sudah aku kenal …
    Style DM yang baru aku kenal …
    Style AOE yang juga baru aku kenal …
    Semua beda-beda tapi bisa ngeblend asik disini …

    Sip-Sip banget …
    God Bless You All ..

    Salam saya

    Yoga:
    Siip Pak, tak penting style-nya yang penting nge-blend semuanya…. Thanks GBU too!

    Tabik,
    Yoga

  7. nh18 Says:

    YOGA …Bicara Mayestik juga ???
    Aaahhh ternyata anak-anak sekitara “situ” juga …
    hehehe …

    Kalo EM sih aku tau … secara … rumahnya cuma selemparan batu dari situ …

    Pasar Mayestik … ah itu pasar …
    Celana pendek seragam SD – SMP ku dijahit disana
    Celana panjang abu-abu SMA ku pun di jahit disana
    Bahkan … Jas Wisuda pun dijahit disana
    Ditempat yang sama …
    Bernama … Syarief Taylor …
    Sebrang Toko Ahin …
    Sebrang Tukang Cukur Priangan …
    Sebrang Iko Bana …
    Sebelah toko gorden ..

    (lha … kok jadi mosting disini nih …)

    Maap Yo …
    hehehe (just can not help it …)

    Yoga:
    Hehehe… tenang Pak, dimaafken…. Jadi toko Pak NH yang mana? ;) )
    Saya baru belakangan “hang out” disana… kasihan ya, “hang out” kok di pasar hehehe


  8. [...] Enny dan Danny… dan tentu saja self potrait. Sehingga bisa dijadikan banner nih. Banner untuk sebuah pertemuan. (Yoga, Gen suka sekali dengan lukisan itu dan dia langsung pasang di ruang makan kami. Terima [...]

  9. natazya Says:

    huhuhu senangnyaaaa

    ketemu akuh kapan tan??? ;)


  10. [...] bisa atau tidak, tapi dunia maya telah menghantarkan beberapa sahabat bagi saya. Jika kemudian ada sebuah pertemuan, maka itu tak berarti kami saling meramu oxytocin, agar pertemuan itu makin lekat. Sebab, apakah [...]


Leave a Reply