Dia
Dia tinggal sendirian di unit no 22. Itu berarti, ia menempati sebuah unit di lantai 2. Dari bawah terlihat balkonnya penuh tanaman, ada satu jemuran pakaian yang terlihat paling baik di blok ini, tapi selalu terlihat kosong. Ia pioner dengan tanamannya, hampir dua tahun ia tinggal disini baru penghuni yang lain tergerak berbuat yang sama.
Tiap pagi, sebelum jam delapan, aku selalu menanti ritual ini, pertama tapak langkahnya terdengar menuruni tangga besi, kedua, jika ia mengenakan sepatu coklat tanpa hak itu, suara tapaknya makin keras, ia akan bergegas, mula-mula mengambil koran diatas pagar BRC, lantas ia menuju tempat sampah, setelah itu ia akan berjalan perlahan, melewati jalan yang sedikit mendaki sambil membaca koran. Terkadang kulihat ia berjalan saja sambil menunduk. Aku mulai mengitung, pada hitunganku ke-lima biasanya sosoknya yang tak bisa disebut langsing, sudah tak tampak lagi. Aku selalu saja memburu sosoknya tanpa ia pernah merasa, tiap pagi, entah apa kata penghuni lainnya. Aku tak peduli.
Ia jarang terlihat disiang hari, dalam kira-kira dua tahun ini aku bisa menghitungnya dengan tepat, tak sampai lima puluh kali. Itu juga hanya nampak sekilas, tak pernah utuh. Jika Sabtu tiba, ia sering ada di rumah. Aku jadi kehilangan ritual tiap pagi, karena bisa jadi ia tak turun dari unitnya sama sekali, beberapa kali kulihat si penjaga flat tergopah gopoh mengantarkan koran ke atas.
Biasanya aku akan melihatnya lagi antara pukul delapan hingga sembilan malam. Ia sering tiba dengan menggunakan taksi biru, terkadang putih, terkadang diantar temannya, terkadang jika kurang dari jam delapan malam, ia tampak berjalan santai, menuruni jalan utama menuju flat kami. Bibirnya selalu tampak tersenyum dan ia senang menyenandungkan lagu yang tak kukenal. Terkadang ia belum juga datang, padahal malam makin larut, bintang makin tinggi, pas dipergantian hari ia baru tiba, aku merasa lega setelahnya. Tak jarang juga, ia tak pulang-pulang, berhari-hari, sang penjaga flat dengan setia mengumpulkan koran yang berserak dan menyerahkannya begitu ia datang.
Sekian lama kuamati dirinya, ia jarang memanggilku bahkan sekadar tersenyum padaku. Seharusnya aku sudah lelah, nyaris dua tahun berjalan dan ia tak pernah merasakan kehadiranku. Entah sihir apa yang dibawanya hingga membuatku persisten seperti ini. Dua tahun bukan waktu yang sebentar.
Akhirnya hari yang kutunggu tiba, pagi ini, genap satu tahun sepuluh bulan lebih lima hari, ia tersenyum padaku. Tangannya melambai dan ia memanggilku dengan suara terbaiknya. Aku tersenyum lebar, sambil mengucap namanya. Dengan segenap hati kuarahkan langkahku padanya. Ingin rasanya berlari, tapi apakah ini tidak terlalu mendramatisasi, duh langkah ini kok rasanya tak terkontrol. Ah aku grogi.
“Ayo lekas, sini!”
“Miauw!”

HHHmmm …
Dia … dia …
Siapakah dia …
Miauw ?
Kucing kah ?
I dont think so …
Hehehe …
(maapkomenngaco.com)
But yes indeed … this is sweet …
Mempunyai sesuatu yang ditunggu itu bagai punya sebuah harapan..
Sebuah harapan bisa menjadi semangat yang besar yang bisa menginspirasi…..
Aku masih mikir yang dimaksud Yoga….orangkah (pria misterius) atau kucingkah?
Siapapun dia, tapi ada yang ditunggu memang menimbulkan gairah hidup…..apalagi kalau si Dia teratur kehidupannya…jadi tahu kapan dia mulai menuruni tangga, mulai sampai di depan pintu rumah kita, bahkan menunggu “sosok yang tak bisa dikatakan langsing itu”…
Kucingnya ras apa Yog? Hati-hati cakaranannya bisa rabies…halah.
Lanjut dah cerita keduanya…OK?
jadi dia = kucing
?????
hikss…
gak ngerti
ya jelas kucing dong
kecuali maling yang teriak miauw waktu ketangkap basah hihihi
atau anjing?
ahhh Yoga.
EM
Postingan kali ini tulisanmu bagus, Yog.
Deskripsinya kena.
Coba bermain-main dengan yang seperti ini dulu.
DM jarang memuji lho Yoga….terus berkarya ya….tapi kenapa aku yang sulit ya? Atau karena bukan orang sastra?
Jadi ingat….sebetulnya pertemuan kita berempat sebetulnya pertemuan orang dari bidang yang sangat berbeda ya, dan kayaknya aku yang paling ga nyambung…hahaha…apalagi kalau udah pake bahasa tinggi….duhh