Tiap kali ada kesempatan aku akan datang ke rumah kosmu. Apapun alasannya, meski tak selalu langsung tertuju padamu sebagai alasan utama kehadiranku. Sungguh beruntung aku kenal baik dengan beberapa penghuni kosmu yang lain, hingga ada saja alasan yang bisa diciptakan. Meski sebenarnya tujuan utamaku satu, hanya ingin berjumpa denganmu, meski sekilas. Melihatmu berjalan dari ruang makan ke kamarmu, atau ketika kau akan naik tangga.
Beruntung rumah kosmu tak banyak sekat, satu ruangan besar yang menyatukan ruang tamu, ruang makan, dengan kamar-kamar disekelilingnya dan satu sudut tempat tangga menuju lantai dua, hingga memudahkanku memandangmu ketika melintas, sekilas saja, tak perlu berkata-kata, tapi toh aku selalu mendapat senyum manis dan sapa manjamu. Aku akan bahagia melihatmu dan pulang dengan senyum. Itu saja dan aku bahagia.
Aku tahu ini bukan tanpa resiko. Aku tahu, karena aku bersahabat dulunya dengan resiko itu. Teman yang kubantu menemukan tempat tinggal, teman satu kosku, selisih dua pintu dari kamarku, yang beruntung karena kau ijinkan menggenggam hatimu. Sial!
Hari ini senyummu merekah, aura bahagia semburat dari hatimu. Kita berpapasan diujung jalan, lagi-lagi aku yang tengah mencari peluang itu, mencari alasan dengan mentraktir teman-teman kosmu yang teman kantorku. Kau berjalan dengan dia, menggelayut manja, mengantarnya keluar, sudah selesai rupanya urusan kalian. Pantas senyummu merekah.
Demi kulihat bekas sahabatku itu, hatiku jadi muak. Kudengar basa-basinya menyapaku, kau juga menyapaku, tapi aku tahu itu bukan basa-basi. Pembicaraan jadi berkembang, makin banyak mulut, kepala dan hati yang terlibat. Kau memandang lembut kekasihmu, dan bertanya jika kau boleh bercakap denganku sepulangnya. Ia mengangguk sekilas tak keluar kata mengiyakan.
Sial! Kau tempatkan aku pada posisi ini. Aku tak bisa menolakmu, tapi aku tak bisa seperti ini. Mengapa pula kau minta ijin padanya ? Bulat-bulat kutelan bola berduri, simbol kekalahan yang tak sengaja kau suapkan, demi kau, demi kau, makhluk bernama perempuan, entah dari surga mana, yang telah bersemayam dihatiku.
Biarlah, aku bahagia sekali ini meski kerongkonganku luka berdarah-darah. Tapi makhluk itu amnesia rupanya, mengapa pula ia mengajakku pulang, telah larut katanya. A***t ! Ingin rasanya kuhajar hidungmu yang pesek itu, ingin rasanya kutendang kau hingga ke ujung dunia, jauh sana, hingga aku tak perlu melihatmu lagi, selama-lamanya. Kutatap kekasihmu yang kekasih hatiku, tanpa daya. Kulihat ia sama bingungnya.
Lama-lama aku tak punya alasan lagi, lagipula hatiku sudah remuk redam meradang, sejak kejadian malam itu. Kepalaku mungkin sudah tak waras. Berminggu-minggu aku meredam kecamuk. Berminggu-minggu aku sakau, terlunta, aku hanya tahu kabarmu dari teman kosmu yang teman kantorku. Ketika temanku bilang kau sekarang kenakan kerudung, aku tak bisa tidak harus melihatmu. Aku sangat ingin tahu bagaimana kau jadinya dengan kerudung itu?
Malam ini aku ciptakan alasan yang paling masuk akal kedengarannya bagiku yang sedang tak waras. Aku bilang pada temanku, aku akan pinjam contoh laporannya, ia memintaku datang ke ruang kerjanya, tentu saja aku tak datang, aku bilang mendadak rapat dan kuminta ia membawa pulang saja contoh laporan itu, nanti akan kuambil kataku.
Jam tujuh lewat tiga menit, aku tiba. Seperti biasa aku duduk di ruang tamu, diatas kursi beledu coklat kehijauan. Tak dinyana lewatlah ia dari dapur menuju kamarnya, berjilbab putih, sendu dan perempuan sekali. Aku hanya bisa terpana, akalku yang panas tak waras berminggu-minggu seperti tersiram es. Ia tersenyum, menyapaku lembut.
Tak bisa kucegah, ketololanku mewujud,
“Aku dengar kau berjilbab sekarang, aku datang ingin melihatmu, ternyata manis sekali.”
Sekilas sorot matanya berubah, ia tersentak. Senyumnya sedikit berubah, wajahnya jadi lebih sendu.
“Kemana saja kamu?”

Cerpennya bersambung ga?
di tunggu deh sambngannya
Ha! Yoga…..saya harus membaca dengan hati-hati untuk memahami ini.
Apalagi memahami hati manusia ya….perempuan berjilbab putih? Jadi…..menjadi seorang laki-laki ternyata juga susah ya…apakah orang yang didekati sebetulnya suka sama Dia? Atau yang lainnya, atau hanya menganggap sahabat? Dan pendekatan sering tak langsung, pake muter dulu?
Betapa rumitnya, tapi itulah hidup…..
ah ya… ga bisa nangkep kaya bu enny tan… asli…
entah kenapa cuma bisa liat keirian yang mungkin sbetulnya disadari ga pada waktu dan tempat yang dipersilahkan sama seorang yang sebetulnya mungkin sahabat..
hm… masih ceteknya diriku keliatan deh heheu :p
hmmm.. mestinya sejak dulu dia berkata itu padanya , “… ternyata kau manis sekali.”
Salam kenal juga mbak.
aaaah si pemilik miauw?
benar!!! kemana saja kau?
EM
Jadi? jadi gimana Bu? cinta segitiga ya? yang satunya bertepuk sebelah tangan? tapi endingnya kok jadi ambigu, terus gimana, Bu?
Hiii… kok merinding aku mbacanya, Yug?
ya…kalau lagi jatuh cinta…hanya memandang wajah dan senyum saja,sudah suka…sudah bahagia…memiliki atau tidak bukan yang utama.
Salam kenal ya!