Ini tulisan colongan ditengah kesibukan senin pagi dan dead line proposal yang harus saya serahkan siang nanti. Awalnya, pagi tadi, begitu masuk ke ruangan kantor saya bertemu dengan mas Budi, salah satu senior auditor kantor kami. Saya teringat beberapa minggu yang lalu beliau menanyakan bagaimana caranya dan tentunya, rasanya naik sea plane ke Batu Hijau (116º49′, lat. 9º00′S ) di Sumbawa, setelahnya kami tak berjumpa lagi, nyaris seminggu dan baru bertemu pagi ini. Saya pikir, mestinya ia baru kembali dari Batu Hijau. Ternyata benar. Saya mendapat oleh-oleh foto Pantai Tropi. Oleh-oleh ini benar-benar mengobati kerinduan hati saya.
Sudah setahun lebih saya tak berkunjung ke sana. Memang saat ini, kantor kami masih mengerjakan beberapa proyek dan menjajaki kemungkinan proyek baru di sana, hanya saja saya tak harus bepergian ke sana, dan disaat situasi keuangan global seperti sekarang, harapan itu kian menipis. Hmm…business and pleasure harus bisa berjalan selaras kan?
Padahal, kerap saya bermimpi, memandangi gugusan pulau-pulau kecil yang terserak antara Lombok dan Sumbawa, belum lagi bau udara disana yang rasanya khas (mungkin ini hanya perasaan saya saja ya).
Tropi adalah nama suatu kawasan pantai kecil di salah satu sisi pulau Sumbawa Besar. Posisinya diantara wilayah pertambangan milik Newmount di Batu Hijau dan Sekokkang (lihat peta di atas). Disana ada satu hotel kecil milik ayah pesinetron Andrew White. Letaknya sangat terpencil (saya suka daerah terpencil dan sunyi), bahkan untuk menuju wilayah ini, tak ada peta atau petunjuk yang jelas.
Apa keistimewaan hotel ini? Ini adalah satu-satunya hotel terbaik disana. Saya belum pernah menginap disana meski beberapa kali ada kesempatan. Saya membatalkan rencana menginap disana pada saat kunjungan terakhir, padahal telah booking jauh-jauh hari, bukan karena tak tertarik, tapi saya memilih menginap di guest house milik perusahaan pertambangan tersebut agar memudahkan koordinasi dengan klien. Tapi saya menyempatkan berkunjung di siang bolong dan lihatlah foto hasil bidikan ala kadarnya dibawah ini.
Udara pekat bercampur garam menyergap hidung saya begitu tiba di pantai yang masih perawan ini. Sambil menunggu hidangan yang saya pesan dari restoran (steaknya enak sekali, sumpah ini bukan karena saya lapar), saya menyempatkan melihat-lihat pantai yang pertama kali saya kunjungi sekitar tahun 2005 akhir atau 2006 awal (ah saya lupa tepatnya).
Teringat saat itu matahari baru saja terbenam. Berdua dengan teman sekaligus pemandu saya (halo Parera!), kami berdiam beberapa menit, berusaha menikmati keindahan pantai itu. Hotel Tropi, satu-satunya bangunan yang ada disitu, terlihat sangat romantis. Di taman yang menyatu dengan pantai, terlihat deretan obor yang telah dinyalakan. Angin malam mulai kencang, kami berjalan di hamparan pasir dan menyaksikan kesibukan satu dua pencari ikan.
Kelihatannya seru. Sayangnya kami tak bisa berlama-lama di sana waktu itu, pertama, tak ada persiapan yang memadai, sedangkan kondisi pantai yang masih perawan, tanpa penerangan, dan kami tak membawa senter, sehingga percuma juga berlama-lama disana kecuali kalau mau ngobrol dalam gelap. Kedua, saya sudah cukup lelah, karena aktivitas seharian dan sudah ingin menyegarkan diri. Akhirnya penasaran saya waktu itu cukup terpuaskan dengan foto kiriman Parera yang saya terima via email ketika saya tiba kembali di Jakarta.
Nah, seperti paham dengan kerinduan saya. Mas Budi dengan senang hati membagi foto pantai Tropi untuk saya. Kalau sekarang saya posting itu karena saya ingin teman-teman juga bisa menikmati keindahannya.
Anda lihat, tanjung kecil berbukit itu. Nah disana lokasi favorit para pemancing. Karyawan perusahaan kami yang memancing disana, belum terkalahkan rekornya. Bayangkan dengan peralatan sederhana ia bisa menggotong pulang ikan seberat 40kg lebih yang mesti diangkut dengan mobil pick up dan baru habis berhari-hari.
Bagaimana cara menuju pantai Tropi?
Dari Lombok kita harus menyeberang ke pulau Sumbawa. Ada dua cara, yang pertama menggunakan sea plane, yang kedua via laut. Saya belum tahu, apakah sea plane yang dioperasikan Birdie Tour terbuka bagi umum atau tidak. Jika ya, maka anda bisa membeli tiketnya di pelabuhan udara Mataram. Sea plane ini tinggal landas dan mendarat dari pelabuhan udara ini. Harga tiket pada tahun 2006, untuk penerbangan sekitar lima belas menit, kurang lebih satu setengah juta rupiah lebih. Itu sekali jalan dan saat itu sedang ada rabat, entah sekarang.
Saya lebih sering menempuh jalur laut. Dari Mataram saya harus berkendara kurang lebih tiga jam menuju Kayangan. Dari sana mesti menyebrang dengan fery umum milik Pelni , atau karena saya selalu datang atas undangan klien, maka saya mendapat kesempatan untuk naik Penguin, jet foil serupa dengan yang dioperasikan untuk penyebrangan dari Batam – Singapura. Waktu tempuh Kayangan – Benete (nama pelabuhan milik Newmount di Sumbawa) kurang lebih 2 jam dan hebatnya mereka selalu on time. Jika menggunakan Pelni, maka anda harus memperkirakan waktu tempuh yang lebih lama, setidaknya satu jam lebih dan mendarat di pelabuhan umum lantas disambung dengan perjalanan via bus umum ke arah Maluk dari Taliwang kurang lebih satu dua jam. Baik dengan sea plane atau jet foil semuanya berhenti di Benete.
Lantas bagaimana menuju pantai Tropi. Sayang sekali tidak ada angkutan umum, tentunya karena pantai ini agak private. Setahu saya, anda mesti menyewa mobil atau naik ojek. Wah, kapan-kapan saya mesti up date informasi ini atau adakah pembaca yang bisa membantu saya? Untuk saat ini mohon dimaklumi ya.
Foto Peta diunduh dari:
http://www.datametallogenica.com/pages/minidisc/html/batuhijau_files/BatuHijau-mapsect/page.html








waaaah indah sekali…
tapi… kalau musti lewat laut aku takut Yoga…
uuuh ke lombok aja belum pernah.
anak-anak gede, aku langsung jalan….ciao…
EM
Cantik sekali pantainya. Mirip pantai Bungus di Padang yang masih perawan.
Hmm, kapan ya bisa ke Tropi…
Salam kenal Mbak.
Pernah dengar tentang Pantai Bungus, sayangnya dulu ketika ke Padang saya tak punya kesempatan ke sana… Salam kenal juga mbak.
Temen saya ngajakin ke Lombok akhir taun ini. Tapi sayanya pengen ke Wakatobi dulu.
Ah dua-duanya harus dikunjungi ini mah setelah liat futu-futu di atas (tapi giliran…) BTW, kalau yg via laut kira2 berapa yak budgetnya…?
hohoho udah lama banget deh tan ga ngeliat yang namanya pantai dan laut…
emang sih kalo buat dipilih akan lebih seneng di udara pegunungan… cuma kadang kadang ya pengen juga ke perpantaian…
tapi ga tau… mudnya ga pernah pas…
Aduhhhhhh, ternyata kita memiliki kesamaan!
Lima tahun yang silam, adalah kali pertama aku menginjakkan kaki ke Sumbawa, tana samawa dan sejak saat itu aku mulai mencintainya.
Bermula dari tugas kantor yang mengharuskanku berkeliling seluruh pulau (waktu itu Sumbawa Barat belum ada dan Newmont masih masuk ke Kabupaten Sumbawa) pada akhirnya hampir setiap tahun hingga akhir tahun 2006 aku selalu bolak-balik ke sana.
Dan sekarang, saat jauh seperti ini, aku sangat rindu Sumbawa.
Orang-orangnya, alam dan makannya (Gilaaa gw kangen Sepat dan Singang).
Kalau Mbak Yoga kesana lagi, sampaikan salam saya pada Tana Samawa. Suatu waktu dan suatu saat nanti aku pasti akan kembali ke sana…
Akh Yoga…saya sempat beberapa kali ke Lombok, Senggigi…tapi belum pernah ke pantai Tropi.
Pantai Bungus seperti komentar Buthe, di sebelah Barat Padang, menyusuri pantai setelah pelabuhan Teluk Bayur juga indah.
Mungkin kalau kita sempat menyusuri wilayah Indonesia dari Aceh sampai Papua…pantainya memang menawan….
Aduhhhhhh… (ikut-ikutan Donny), itu pantainya yang memang bagus, kamerannya yang memang ciamik, atau kamunya yang memang jago moto, Yog? Hihihi…
Bagus banget…
berdoa .. berdoa .. berdoa ..
siapa tau ada yang mau ngundang kopdaran di sana, menginap gratis tujuh hari tujuh malam .. doooh .. maunya..
Hihii ikut mengaminkan…. amin amin semoga terkabul… gimana kalau kita mulai kenalan dengan Blogger yang konglomerat?
Asyik banget tempatnya, bikin betah nih….yang sepi begini nih yang layak di kunjungi. Apapalgi kalo tiap hari berada di pusat keramaian. kuping capek banget mata juga…melihat gambarnya saja sudah cooling down. Pegen euy
Nah, tunggu apalagi Pakde. Ambil koper, siapkan kompasmu dan ciao!
Asyik banget tempatnya, bikin betah nih….yang sepi begini nih yang layak di kunjungi. Apapalgi kalo tiap hari berada di pusat keramaian. kuping capek banget mata juga…melihat gambarnya saja sudah cooling down. Pegen euy
ancol ga napsuin tan………….
mending ke tangkuban perahu aja deh :p