Home > Cerita, Fiksi, Simple > Kaiseki

Kaiseki

400px-breakfast_at_tamahan_ryokan2c_kyoto

Kemarin si Tengah menelponku, mengabarkan Ibu menangis tersedu-sedu ketika menelponnya. Ia juga mengatakan, Ibu berusaha menghubungi aku, lewat semua nomor yang beliau tahu, tanpa ada satupun yang berhasil tersambung. Tanpa kau cerita, aku rasa aku telah menangkap, warta apa yang akan kuterima, dan itu tak cukup untuk menggerakkanku seketika, untuk menemui Ibu lewat telpon.

Ketika pada akhirnya Ibu berhasil menelponku pagi itu. Tak banyak yang disampaikan, pun tak ada sedu sedan. Meski nadanya gusar, beliau bertanya tentang kesehatanku. Aku bilang dengan halus, “Aku baik Bu, aku hendak makan, nanti aku telpon.” Dingin menyergapku. Aku tahu, Ibu berusaha katakan sesuatu, beliau menahan diri, padahal aku sudah tahu apa yang akan disampaikannya. Aku hanya menunggu. Aku menunggu kalimat-kalimat itu terlontar dari Ibu langsung, tanpa perlu kutanyakan. Aku tahu Ibu menjaga hatiku. Meski sebenarnya beliau tak perlu khawatir, hatiku telah beku.

Kami saat ini seperti wujud seni kaiseki. Ibu melihat, kami serupa makanan yang ditata apik, terlalu cantik untuk dimakan. Memakannya, meski sedikit akan merusak karya seni ini seluruhnya.

Tapi bukankah itu yang mesti kita lakukan sekarang?

Sudah waktunya si Bungsu melangkah lebih jauh, menyandarkan diri pada pelabuhan hidupnya, yang entah dimana, bersama kekasihnya yang Ibu tentang habis-habisan. Dulu aku turut menentangnya, satu alasanku, karena ia melukai hati beliau. Ia lebih memilihnya daripada engkau, wanita mulia. Ia tahu, memilih kekasihnya atau engkau, serupa dengan pilihan memakan makanan yang telah ditata dengan segenap keindahan, manifestasi seni kaiseki. Keindahan yang ia rancang untuk dirinya. Di satu nampan ia letakkan keluarga inti, di sebuah mangkuk indah ia letakkan kekasihnya, berjajar dengan gelas, dan piring dimana si Bungsu menempatkan teman-temannya, sekolahnya, bahkan karirnya.

Aku, Ibu, dan si Bungsu sendiri tak pernah tahu. Apakah makanan yang telah ia tata indah itu, tak akan membuat ia mulas lantas muntah ketika menelannya? Sama halnya dengan kemungkinan makanan itu akan memberikan gizi dan menyehatkannya.

Hanya karena kami tahu, si Bungsu pada akhirnya akan menelannya, kami lebih siap jika kelak ia butuh dipapah setelah memuntahkannya, atau sebaliknya.

Ketika aku berhasil meredam emosiku agar tak larut dengan duka Ibu (aku lebih khawatir dengan kondisimu Bu), aku menelpon beliau. Awalnya Ibu terdengar tegar, tak satu pun duka dilukiskannya. Ibu bertahan tak menelan satu potong makanan yang telah ditatanya dengan indah, yang bermakna stabilitas hatiku. Hingga kemudian, tangis Ibu tumpah. Tergugu-gugu beliau meratapi si Bungsu, tersedu sedan Ibu memohonku untuk tak berkata apa pun pada si Bungsu, terisak-isak Ibu menangisiku yang belum juga menemukan pelabuhan hati.

Aku hanya menghela nafas pendek. Kalimatku singkat dan lugas, dan membuat Ibu terkejut, menemukan hatiku yang keras dan beku, menenangkanmu, tanpa setitik air mata membungkus rawiannya.

“Sudahlah, hapus air matamu wanita mulia. Mari kita bersiap. Hidup harus terus maju. Aku, dia, telah memiliki jalan masing-masing. Kau masih memilikku, setidaknya hingga kini. Mari kita siapkan kaiseki yang lain!”

Catatan:

Kaiseki: – Seni makan besar (dulunya makanan kecil teman minum teh) ala Jepang, dimana makanan dihidangkan satu persatu dengan penampilan yang detail dan indah.

Foto courtessy of Wikipedia

 

Categories: Cerita, Fiksi, Simple
  1. November 11, 2008 at 1:40 pm | #1

    apa daya bila pilihan sudah diputuskan, atas dasar apa kemudian seakan seperti menjadi buta ..
    dan ibu, terlalu sayang bila kaisekinya berubah tak indah ..
    (*feeling orangtua kadang ada benarnya, saya merasakan itu)

    Yoga:
    Ya Pak, begitulah tapi namanya makanan kan harus dimakan Pak :D

  2. November 11, 2008 at 3:19 pm | #2

    Seni masak tertinggi di Jepang ini, yang hanya bisa dikerjakan oleh para koki yang sudah berpengalaman dan pakar di bidangnya loh, mengandalkan sayuran, daging dan seafood. Bearti keluargamu sudah ahli ya…salut salut salut !! Tunggu apa lagi? Menjamu mitra bisnis yang dijamin ‘berkelas’ dengan kaiseki kayaknya pilihan yang tepat ya…tapi di Jambi mana ada.


    Yoga:

    Benar pakde, dibutuhkan skill khusus. Apakah keluarga “aku” mahir menyajikannya? Nah mari kita tanyakan pada keluarga di atas…

  3. November 11, 2008 at 4:18 pm | #3

    hmmm pantas tadi bertanya terntang kaiseki.
    apa yang indah itu memang memanjakan mata, tapi belum tentu memanjakan perut.
    tapi bagaimana bisa tahu kalau tidak diicip dulu?

    EM

    Yoga:
    ;) ) Hihii benar Mbak, ada udang dibalik tepung, ada tempura diatas nampan… sedap makanya mesti dicicipi atau dihabiskan sekalian, kan sayang, sudah dimasak dan disajikan pula, apa susahnya tinggal menikmati? ;)

  4. November 11, 2008 at 5:32 pm | #4

    Taruh saja di museum, abadikan, kalau tak berani memakannya. Semua dan segala ada konsekuensinya.

    Hidup memang tak asal coba. Tapi hidup pun akan lewat begitu saja kalau kita tak berani mencobanya.

    Seperti halnya kamu. Seperti halnya aku. Seperti halnya setiap orang yang masih lagi dapat disebut manusia.

    Hidup adalah pilihan!

    Coba dan terima konsekuensinya dengan matang. Atau,
    tak perlu disentuh. Dengan syarat: tak ada lagi gerutuan.

    Karena hidup adalah pilihan!

    Yoga:
    Aku terkesan dengan komentarmu Niel, merasakan kamu menuliskannya dengan hati. :)

    Jika makanan telah tersaji mengapa mesti meletakkannya di museum, yang bisa dilakukan makan! Atau buang dan biarkan basi!

  5. November 12, 2008 at 12:05 am | #5

    Yoga, setelah kehebohan soal pilihan si bungsu kemarin, saya jadi paham, kadang memang dalam keluarga ada perbedaan pendapat. Dan kadang, kekawatiran ibu belum tentu terjadi…seperti pesanku pada si bungsu, ayah ibu menyayangimu, tapi kadang beda pendapat…jika engkau yakin, melangkahlah…tak harus mengikuti pendapat ayah ibu, karena kadang itu juga belum tentu benar, karena ayah ibu sering berdasarkan kekawatiran orangtua…

    Nahh akhirnya Yoga tahu sendiri hasilnya, kekawatiran yang tak perlu.

    Si bungsu dalam ceritamu ini telah menetapkan pilihan, dan berani melangkah dengan segala konsekuensinya. Jadi, jika telah pas waktunya, engkaupun harus berani melangkah Yoga…karena kita tak pernah tahu apa yang didepan kita…namun dengan melangkah berarti kita berani berjalan terus, dan dengan bekal selama ini sebetulnya tak perlu ada yang dikawatirkan, walau kadang jalan didepan akan terjal, menikung, ataupun kadang badai menghantam.

    Yoga:
    Benar Bu, saya belajar memahami persoalan dengan belajar pada pandangan Ibu tentang keluarga. Belajar memahami kekhawatiran orang tua, mana ada orang tua yang ingin anaknya sengsara? Meski intuisi dan perasaaan orang tua lebih peka, tapi toh masih sama manusia. Ibu benar.

    Tentang saya Bu? Ya jika saatnya harus melangkah kelak, InshaAllah saya akan melangkah tanpa ragu. Terima kasih nasehatnya Bu. :)

  6. November 12, 2008 at 11:00 am | #6

    pilihan dan pilihan… barusan juga baca di bu Enny yang sehubungan dengan pilihan…

    tapi memang kadang seorang ibu yang sangat mulia sekalipun suka lupa bahwa anak akhirnya bukan hak milik dan akan ada saat menentukan jalannya sendiri…

    Yoga:
    Betapa pun hidup adalah pilihan Naz… :D

  7. November 13, 2008 at 5:12 am | #7

    Hidup..mati…cinta..jodoh…semua adalah sebuah misteri,yang kita lalui baru bisa kita mengerti apa kesan…jawaban..bahkan akhir dari semua itu.

    Baik atau buruk…jadikanlah sebuah pembelajaran ,untuk diproses sehingga menggapai kesempurnaan…

    Setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda…biarkanlah dia memutuskannya…apapun yang terjadi kita hanya bisa melihat,dan mungkin sedikit membantu saat pilihannya ternyata sebuah kesalahan.Rangkulan…kebersamaan,pelukan dan berikanlah bahumu untuk dia bersandar… :)

    tapi cinta dapat mengubah ,kesalahan menjadi kebaikan…ataupun sebaliknya.

    Mudah-mudahan cinta adikmu tidak salah..kuat…dan mampu untuk dibuktikan dan ditunjukan pada seorang ibu yang sangat menyanyanginya.

    Kita bantu dengan doa… semoganya berjalan dengan baik…jangan dirisaukan karena hari esok selalu memberi kita harapan :D

    Yoga:
    Ya Cik, semoga cerita ini bisa memberi pelajaran bagi yang membaca, siapa pun yang tengah berproses menuju kesempurnaan. Terima kasih. :)

  8. November 16, 2008 at 7:52 pm | #8

    Mba pun harus berani mba…. jangan ragu ambil keputusan, bila sudah ada pelabuhan hati segeralah berlabuh…

    *Sok ngerti permasalahan nih… maaf… * :D

    Yoga:
    Hah? 8-l lho? Ya iya lah dik.. mana ada kapal yang berlayar terus, suatu ketika juga mesti berlabuh, isi solar, ambil air tawar, jahit jala :mrgreen: :lol:

  1. No trackbacks yet.