Hayah! Kemarin pagi, pas lagi buru-buru, seorang project coordinator memberikan post it kuning seperti terlihat di atas! Saya terhenyak. Rasa-rasanya kemarin-kemarin ia berusaha mengingatkan saya secara lisan dan sampai pagi ini, saya belum membalas email yang ia minta. Dan ini sudah nyaris seminggu sejak saya terima. Sambil tergesa-gesa karena harus segera pergi, saya meminta ia membuat post it untuk reminder ketika saya kembali ke ruang kerja nanti siangnya. Realisasinya, ternyata nggak perlu menunggu saat saya kembali siang harinya, beberapa detik setelah ia pergi, langsung saya membuka email yang dimaksud dan mulai mengetik balasan. Hanya butuh tiga menit untuk melakukannya dan jadwal saya tak terganggu, bodohnya mengapa tak saya lakukan dari dulu? Mengapa menunggu kepepet? Aih, jadi ingat judul email disalah satu milis:- “The Power of Kepepet”.
Pernah tahu kan, atau paling nggak pernah dengar, bagaimana seorang maling yang dikejar massa bisa melompati pagar setinggi 3 meter lebih? Atau nggak usah jauh-jauh, bagaimana anda bisa lari sekencang mungkin ketika dikejar anjing, padahal boro-boro pernah latihan lari tiap pagi, bangun pagi saja enggak pernah. Atau cerita yang lebih keren, bagaimana kisah hidup Chris Gardner (cek film Pursuit of Happiness, adaptasi dari kisah nyata Chris Gardner) dari yang terlunta-lunta hingga sukses luar biasa setelah kepepet alias kejepit hidupnya. Dan masih banyak lagi kisah orang-orang besar yang sukses karena kepepet. Meski tak dipungkiri, ada juga yang karena kepepet berubah jadi “negatif”, ibaratnya dulu santri sekarang maling.
Sebelum makin melebar, tulisan ini dimaksudkan membahas kepepet yang berdampak positif. Banyak orang yang menyadari keampuhan kondisi ini, sehingga tak jarang justru dengan sadar ada yang sengaja menciptakan kondisi kepepet agar makin produktif. Orang-orang semacam ini memandang kondisi kepepet adalah motivasi yang luar biasa. Istilah kerennya adalah establishing sense of urgency (dipopulerkan oleh John . Kotter). Ingat sense of urgency itu berbeda dengan menghadapi urgency!
Bagaimana menciptakan kondisi kepepet? Visualisasikan atau jika perlu ciptakan secara fisik. Jangan kerjakan business as usual, ingat kalau ingin kepepet slogan itu harus diganti jadi No Business As Usual!
Bagaimana bisa? Itu justru hal mudah, menciptakan sasaran-sasaran baru, tantangan-tantangan baru, berusaha memuaskan pelanggan lebih dan lebih baik dari hari ke hari, dan mengurangi happy talk.
Sense of urgency itu siklus yang berpedoman pada success motivates more success. Gunakan siklus 4A, Accelerate dimulai dari sebuah upaya pencapaian tantangan (achievement) yang bila tercapai, segera dievaluasi (assess), kemudian segera direvisi dan dihidupkan kembali (active) untuk memulai sesuatu yang baru lagi, sambil tak lengah mendorong dan menggenjot energi (accelerate) untuk mengoptimalkan pencapaian hasil.
Jangan berani-berani lengah jika ingin sukses selain itu mutlak diperlukan sikap proaktif yang terarah, hindari responsif (hanya bereaksi jika diperlukan), jika tak ingin nantinya repot menerapkan fire-fighting management untuk mengatasi ketidaksempurnaan. Ini berarti jangan tiru contoh saya diatas, menunda-nunda pekerjaan.
Jadi, sudah balas email belum? Eh sudah kepepet belum?
-Dirawi dari berbagai sumber-

mantep! saya akan coba praktekan!
soalnya saya tuh punya hari khusus, yaitu rabu. setiap 2 minggu sekali harus bawakan laporan analisa masalah. Nah, payahnya, otak nih selalu saja baru bisa lari kenceng kalo sudah kepepet!
Wah hebat juga ya The Power of Kepepet itu.
No business as usual, hmmm… pelajaran berharga nih.
OK TQ atas tulisannya.
BTW nulis komen ini bukan karena kepepet kok…
Wah sama kita!
Saya baru bisa berpikir bagus kalau udah kepepet.
Inget waktu dulu kerja di jogja, ada deadline design klien aku selalu berusaha nyantai.
Deadline besok aku malah pergi hari sebelumnya. Malam nonton film ampe jam 12 malam dan abis itu “Yak!” kerja sampe pagi…
Entah kenapa, kayaknya otak lebih terpancing setelah dipepet
Ya ampun DV…. paragraf keduamu itu, itu aku banget pas malam selasa kemarin! Ck-ck-ck…Kok bisa sama.
haa…belakangan ini aku mulai merasakannya.
kepepet ! proyek yg harusnya aku kerjaan jauh2 hari lalu, sampai sekarang belum kelar. eh…ternyata deadline nya akhir desember ini, hwehehe….
dan ternyata, sampai sekarang walopun kepepet, saya masih agak2 santai. mungkin karena akhir desember masih jauh ya ?
semoga, sebentar lagi semangat dan otak saya terpacu lebih produktif.
*sambil komat-kamit berdoa*
Deadliner….hehehe…itulah, setelah adrealin meningkat, kayak dikejar anjing barulah semua ide keluar.
Saya sekarang pelan-pelan menuangkan tulisan, agar tak terjadi kekacauan seperti minggu sebelumnya, pas di luar kota ditelpon meeeting mendadak. Dan sesuai saran Yoga, selain siap flash dish kemana-mana…saya coba buat postingan yang modelnya hanya resume…biarpun orang ga ngomentari (emang banyak komentar ada pengaruhnya)…betapa senangnya ternyata dari statistik blog, banyak orang butuh.
Thanks Yoga, saya akan terus menulis hal-hal yang bermanfaat…dan berguna bagi orang lain.
(komentar OOT)
Ini salah satu tilisannya Tukang ketik (http://adiwirasta.blogspot.com/2008/11/
blog-super-edratnawordpresscom.html)….dia selama ini belajar manajemen dan keuangan antara lain dari blogku, beberapa kali kopdar membahas hal serius tentang manajemen.Juga saya diundang saat dia menikah, dan dia datang ke pernikahan Ari…juga sms saat putrinya lahir…..menyenangkan
Hai Yoga
aku kepepet nih
sekarang jam 10:36
padahal jam 10:40 ada kuliah
tapi…. pengen nulis komentar
ya udah deh nanti aja kalo udah pulang ya hihihi
cerah harimu dik
EM
Wah… topiknya gue banget nih…
maunya sih selalu well planned tapi kejadian lagi..kejadian lagi..
The power of kepepet memang amazing !!
haha! ini pas banget!
kepepet? siapa takut?
doh, masalah last minute tuh emang dahsyat, semua ide bisa tumpah ruah di saat-saat kritis, kerjaan tiga minggu bisa selesai dalam tiga hari.
asal jangan ngomongin kualitas, ya? kalau itu mah gak dijamin. ahuhuhu…
Banyak orang yang justru malah “menjadi” pada kondisi seperti itu. Semua ide dan amunisi seakan keluar. Meski itu bukan saat yang kondusif dan jauh dari kualitas.
Seperti orang yang bisa meloncat pagar tinggi ketika sedang dikejar anjing. Kalau disuruh meloncat lagi pada kondisi normal, ia akan kebingan sendiri.