Celoteh
Teman saya pernah bilang, makin kesini makin susah mencari teman seide, sepantaran apalagi yang pintar dan masih lajang. Kesini tidak merujuk ke wilayah, seperti Timbuktu misalnya, melainkan pada waktu.
Ingatan itu muncul tepat saat kepala terasa mampat hidung tersumbat, hiyaaa… maksudnya kepala penuh dengan banyak hal, sedang ide cerdas jadi barang langka, maka yang muncul adalah grenengan.
Ini dan itu yang muncul begitu saja dikepala, melesat ke permukaan minta dielus, diperhatikan barang sejenak.
Memang benar juga yang dikatakan teman saya. Pada saat ini, teman berbagi, yang bisa dicolek, digelitik, digelayuti, bahkan dijitak jika perlu, entah pada kemana.
Jika mereka komoditi, maka saat ini harga mereka melonjak tinggi. Pasokan minim sementara permintaan tinggi.
Jika bisa dibeli maka sudah pasti saya akan rela menabung untuk mendapatkannya (mode dream on). Dan berjuta yang lain, saling bunuh untuk mendapatkannya (dasar barbar).
Mereka ada tapi tak ada. Ada dihati, tapi secara fisik tak bisa berharap. Di dunia maya? Ada juga, tapi tetap tak patut banyak berharap. Tentu saja pada akhirnya disaat seperti ini, harus cukup puas bertemankan pikiran sendiri.
Ditemani dan menemani otak yang terus menerus memunculkan subyek tak penting, penting tak darurat, nyeleneh, bahkan ajaib dalam bentuk grenengan.
Membiarkannya sekali-kali menjajah kemerdekaan hasrat, hingga kalau perlu, muntah, atau kalau cukup beruntung, jadi pusing, lebih beruntung lagi, tertidur.
Seperti kemudian, tak terhindarkan ketika grenengan beralih pada omongan nglantur jaman dulu tentang kemungkinan lebih enak punya suami yang tiap dua minggu kerja, dua minggu pulang.
Alasan ajaib dibaliknya adalah masalah kemandirian dan kebosanan tentunya. Alasan pintarnya jika dipikir benar tak ada. Alasan khusus tak ada juga. Kalau berbicara kelaziman, memang pikiran itu tak lazim, tapi lazim atau tak lazim sangat naif kalau tak melihat latar belakangnya. Jadi saya simpan saja grenengan ini, karena siapa tahu kelak terpakai.
Topik suami masa depan memunculkan memori tentang konsep mengenai cinta dan persahabatan. Tentu hati saya masih bisa menampung banyak cinta, meski pernah memiliki dan masih menggenggam berbagai jenis cinta, apalagi untuk eros yang baru, masih banyak ruang untuk itu. Hati adalah benda yang paling fleksibel, lentur sempurna dan laiknya anggota tubuh manusia yang lain, ia bisa melakukan self healing ketika terluka. Kalaupun beku, ia tak kan beku selamanya, karena hati lain bisa melelehkannya.
Sedangkan persahabatan mesti dilandasi oleh komitmen, kepercayaan, ketulusan, kejujuran, kesediaan berbagi satu sama lain, baik dalam pasang atau dalam surut. Bumbu cinta dan kasih sayang akan jadi penyedap, meski kadang tak urung bisa menyeret dalam dilema.
Komunikasi adalah kunci sukses.Sebagaimana halnya pernikahan, maka persahabatan pun tak kan sukses jika hanya bergantung pada usaha satu pihak.
Ah mengapa jadi teringat kalimat salah satu sahabat, yang mengatakan, kasih sayangnya tak kan pernah putus demi menjawab ketakutan saya waktu itu. Dimana ia? Kangen kasih sayangnya. Kalau sudah begini grenengan ini jadi indah dan melankolis.
Terkadang jadi sahabat, harus banyak menenggang. Teringat petuah Ibu, agar pandai mengalah terhadap teman. Toh rejeki tak kan kemana seperti halnya jodoh. Buat orang seperti saya ini adalah petuah yang sulit dilaksanakan. Seringnya hasrat jadi “juara” lebih dominan, jika bukan itu, maka keakuan yang akan muncul.
Meski pedih, tak urung saya kerap mengalah, memaksa perasaan berdamai dengan ucapan, yang bertentangan dengan kehendaknya. Kebanyakan demi menjaga silahturahmi, memelihara atmosfer perdamaian dunia persahabatan, pertemanan, dan kerap mesti mengalah pada orang yang kenal pun tidak.
Hhh, rasanya sudah tak sanggup lagi, tapi kepala masih memunculkan banyak pertanyaan. Grenengan bermutu atau tak bermutu tak penting, yang terpenting terlontarkan. Seperti misalnya, alangkah enaknya makan martabak kubang, malam-malam begini. Mengapa rasanya begitu akrab dengan Jenghis Khan, apakah darahnya mengalir di darah saya meski setetes? Berharap bisa melakukan perjalanan ala Arad dan Maya. Teringat kamar no 10 yang pernah saya tinggali dulu. Apa enaknya ikut “kontes kecantikan”?Mengapa hujan menyebabkan orang maklum atas kelambanan dan kemalasan? Mengapa menjelang pernikahannya seorang rekan jadi makin dodol? Dan banyak hal ekstrim, meski tak sampai keluar pikiran, semisal, apa enaknya jalan-jalan ke pantai nudis? Lah?
Selamat Malam!
Oalah puas dong sekarang, tumpah ruah semua isi kepalanya…
Kalau ngomongin teman, al-Hamdulillah sekarang udah penya teman di Jakarta… :p (udah berapa taun sih gw tinggal di Jakarta?). Padahal sebelumnya sama temen gw yg di Bogor diminta cari temen di Jakarta. Hmmm… kalu temen kantor gw sih sebatas buat di kantor aja, ga enak bo kalau di luar kantor ketemu, serasa masih kerja…
Sekali teman tetap teman! Apapun yang terjadi! Meskipun temen gw eneg sama gw… rasain luh ga bisa jadi musuh gw…
(ngga pernah kejadian sih!)
(Wah itu sebenernya topik tulisan di blog, takapalah kasih bocoran…
)
Pengen ke Timbuktu kah? exotis yah dengan toleransinya? Impiannya kang Ocon kan Tibet, nah kalu gw pengen ke Maroko: Mediteranian, Gibraltar, Casablanca. Ada yg mau ngasih tiket gw ke sana? Kalu ga ada juga, gw mau nabung sendiri… Wew.
Selamat pagi,
nglembur ah ..
yang jelas jangan mengharapkan saya yah .. nanti mamahnya zia marah. Haiyah!
(*tulisan grenengan aja enak dinikmati mbak, ayo nggreneng lagi ..
Selamat siang,kuharap pagi ini ceria ya,…
Ya…jalani,,,sekali-kali kenanglah masa-masa yang lalu…dan sejaki-kali ,bermimpi untuk yang akan datang…pokoknya nikmati dan lakukan serta pergilah sesuai keinginanmu.
Salam hangat!
Hahahahahaha… Another side of Yoga.
Udah tahu enaknya ngerjain org lain belum especially artis (hahaha, nafsu pengen cerita tapi waktu gak pas melulu). Penting gak penting, gak usah dipikirin, secara pikiran mo nyampah ya udah kluarin ajah.
waktu aku crita kemarin udah sampe mana ya jeung?. Ohya, aku nunggu temen, doi nunggu managernya.
Secara doi duduk sendiri, dan saya inget nama Istrinya mbak Ina, saya samperin dong, saya tanya, “mas Jeremy yah?, suaminya mbak Ina?… yang punya butik tas di kemang?… Aku Silly mas, sahabatnya Ina.”
Trus dia salamin aku juga, dia bilang
“Ohya?… apa khabar?
“baik”. ”
“Sendiri?”
“Enggak sama manager saya” (tipu, padahal sama temen doang, tapi emang doi suka promosiin aku kemana2, kalo aku tuh lagi nulis buku, tolol gak, hahaha)
“Ohh gitu”
“Sendiri Mas?”
“Iya nih, lagi nunggu manager saya juga, ada janji mo blablabla” *gak usah aku critain yah, ntar panjang, hahaha*
“ohh, ok. Aku juga nunggu nih mas”
*acting pura2 gelisah*
“ya udah silly gabung sini aja kalo gitu, sambil nunggu”
“oh, iya, makasih mas”
*lebay khan???, hahaha*
untung saya gak ganjen, jadi saya cuma bilang, “gapapa mas, disini ajah. Cuma batre saya abis, bisa minjem telp bentar buat nelponin manager saya?”
“oh boleh, nomernya berapa? Duduk aja dulu…”
(doi takut kali HPnya gue bawa pergi)
“Endebrey… endbrey… endebrey…”
“ok, nih…” (hpnya disodorin kesaya)
Gak diangkat… Ya iyalahhhh… Nomer yang aku kasih khan NOMER AKUUUU…. hahahahaha…
*untung udah di silent, jadi doi gak tahu kalo dia udah nelp ke hp-ku*
Well… akhirnya gitu dehhh, I have his number, walaupun pernah sekali dia call lagi, nanya, ini nomer siapa yah, aku bilang ohh, saya V (nama sebenarnya), managernya Silly, hahahahahaha…
Jadi gimana… mo no telp Jeremy tomas gak?
ehhh, mbak.. kalo koment diatas gak proper, gak usah di approve yahhh, cuma mo nyampah doang, kikikik abisnya kita gak nyambung2 mulu kalo mo chat…
About my blood aggregation… hmmm… keknya saya mewarisi darah yang jelek dari ibu saya. So, kelainan darah ini akan menetep seumur hidup saya.
Karna kelainan darah saya itu, saya harus mengkunsumsi banyak banget suplement dan obat-obatan ini seumur hidup.
But I know I’ll be fine, anyway. Lets enjoy our life, because life is short, and too precious not to be grateful for it.
Ayo teriakkan dalam blog
Baca komentarnya Silly, jadi senyum-senyum sendiri….cara pinter untuk tahu no hp orang.
Oh jadi ini toh yang diceritakan kemarin…..aku masih agak “hang” nih…teler….ntar balik lagi
Iya Bu, silahkan kembali kapan saja.
Sebenarnya kalau bisa mengalah memang hidup lebih nikmat dan tenang. Saya termasuk pribadi yang suka ngeyelan mbak Yoga, tidak mudah menerima pendapat yang berlawanan. Saya selalu merindukan sifat mengalah ini tumbuh dan menjadi bagian dalam diri saya, Tapi kenapa mengalah sepertinya susah banget dilakukan, Butuh waktu dan kedewasaan untuk melakukannya. Thanks
.
Memang sulit, Mbak Yoga. Buktinya sampeyan yo lebih tua dari aku tho? Itu jelas ndak sepantaran denganku, Mbak. Hihihi.
grenengan….
masuk kamus kata baruku Yoga…
bersama dengan kenyang hahahahaha
ternyata aku juga banyak ketinggalan nulit comment ya,
padahal sering chatting;))
EM
Grenengan itu berasal dari kata greneng…
Kaitannya dengan berenang di pantai nudis adalah karena grenengan itu punya bentuk dan cara baca yang hampir sama dengan berenang huahuahua
Ngga nyambung!
ada spesifikasi buat komoditinya nggak, mbak ?
yang pasti, sekarang baru mahal2nya, lha wong selain faktor di atas, dolarnya juga ugal2an.
eh, ini ngomongin apa to ?
dan…apa hubungannya coba ?
agak nyambung…..sithiiiik…
“Tapi kuperhatikan Dik Mahendra cukup cerdas, mengikuti percakapan orang dewasa.”
Aku indigo, Mbak Yoga…
Kena cat Dik? Haduh-haduh kamu kok nakal sih… Sana ambil thinner!
Mbak, ada seseorang yang bilang : lebih baik dicintai daripada mencintai…..
grenengan ini langsung mengulik-ulik kuping saya saat membaca grenengan mbak tentang suami masa depan…
Pada hakekatnya semakin kita bisa mengelola emosi kita dalam menghadapi seseorang, semakin turun ke’aku’an kita….
Heheheh mengulik kuping bagaimana Nung?
Untuk point yang kedua, akur Nung.