Catatan kedua ini hanya sebagian kecil pelajaran yang saya dapatkan saat PB08. Berharap mudah-mudahan perspektif yang saya dapat bermanfaat bagi kawan-kawan.
Pada breakout session saya dan Bu Enny memilih mengikuti sessi Photoblogging, “Menjadi Photoblogger yang Handal”, yang dimoderasi mas Iman Brotoseno.
Seperti yang disinggung Bu Enny, ada tiga pembicara di sessi ini, Jerry Aurum, Kristupa Saragih (Fotografer.net), dan Oscar Motuloh. Saya mengenal karya Jerry sejak beberapa tahun yang lalu, dari salah satu teman saya, penghobi fotografi, yang ternyata adalah teman Jerry. Salah satu fotonya kemudian jadi ide lukisan saya, tentu ini hanya untuk konsumsi saya sendiri dan kalangan terbatas.
Jerry yang wajahnya selalu tampak tersenyum, dengan serius tapi santai, menyampaikan pada kami bahwasanya dalam menghasilkan suatu karya foto diperlukan kesabaran, seperti saat ia menunggu dua jam demi sebuah pelangi di Texas, yang terbukti menghasilkan sebuah masterpiece yang indah, walau dengan rendah hati, ia menyebut karya-karyanya adalah piece tanpa kata master.
Yang kedua, adalah kesediaannya melawan rasa nyaman dan keluar dari kebiasaannya sehari-hari. Adalah foto salju yang turun dipagi buta di Granada. Jam 4 pagi, saat suhu udara sekitar 8 derajat ia melakukan pemotretan, setelahnya … balik meringkuk dibawah selimut, katanya. Ia tak menyangka, ternyata ia telah menyaksikan sejarah bahkan merekamnya, itulah saat salju pertama kali turun di Granada! Setelahnya ia stuck 3 hari tak bisa kemana-mana karena sistem transportasi dan masyarakat Granada memang tak siap dengan situasi seperti saat itu.
Ada banyak hal menarik yang disampaikan Jerry, termasuk cerita dibalik pembuatan beberapa karyanya. Misalkan, bagaimana ia tanpa sengaja dan tanpa mengetahui, telah menyebabkan aliran listrik di dua desa di sekitar Borobudur padam selama beberapa saat ketika ia melakukan pesanan, pemotretan Borobudur yang tampak dramatis dengan tata lampu dari GE. Kebetulan saya punya postcard bergambar Borobudur yang tampak spektakular hasil karya Jerry, dibagian belakangnya tertulis: celebrating the grandeur of one of the world’s treasures…foto-fotonya indah! As if Jerry memang merayakan keindahan Borobudur. Dan kemampuannya sebagai visual komunikator tersampaikan dengan sukses.
Saat sessi tanya jawab, Kristupa Saragih dan Oscar Motuloh yang datang belakangan, mulai terlibat banyak. Kristupa Saragih memberikan trik dan tips bagaimana menyiasati ijin pengambilan foto dengan obyek manusia, kadang jika kepepet jadi agak tricky juga kedengarannya. Sebetulnya ada satu pertanyaan yang menarik, yaitu bagaimana dengan adab mengambil foto dilokasi yang memiliki otorita tertentu, misalnya di Rumah Sakit, atau di kantor imigrasi. Hanya sayangnya saya tak menyimak dengan jelas, karena sibuk menikmati tampilan slide hasil karya Jerry Aurum.
Penuturan Oscar Motuloh tak kalah menarik. Fakta bagaimana kamera telah ada di Indonesia hanya 3 tahun setelah ditemukan, sementara di Jepang baru ada setelah 5 tahun (cmiiw), bagaimana film sudah ada di Jakarta hanya beberapa tahun setelah ditemukan, cukup menggugah kesadaran saya, betapa bangsa ini selalu terlena menjadi bangsa bermentalitet konsumen belaka.
Mengenai ide kreatif pengambilan foto, ketiga profesional di atas tidak takut dengan duplikasi ide yang kerap atau bisa jadi terjadi. Mengingat teknologi kamera telah berusia 130 tahun lebih, maka hal semacam ini mungkin saja terjadi. Nothing new under the sun, Oscar menyatir ucapan Nabi Sulaiman a.s untuk memperkuat penjelasannya.
Ya sepakat, bagaimana kemudian kita bisa menemukan angle yang menariklah yang akan membedakan bidikan kita dari orang lain.
Ketika ada pertanyaan mengenai peranan software photoshop dan originalitas suatu hasil karya, dengan bijak ketiga narasumber yang ternyata berpandangan sama, menjelaskan bahwasanya hal itu berpulang pada konsep dan teknik yang telah direncanakan oleh fotografer bersangkutan. Tanpa mengharamkan photoshop, Kristupa Saragih kurang lebih menjelaskannya demikian, jika penggunaan photoshop hanya untuk mempertegas suatu foto maka hal itu bukan masalah, meski suatu foto lebih memiliki
nilai seni jika dalam sekali bidik, dengan kecermatan dan teknik fotografernya menghasilkan karya yang indah tanpa sentuhan pasca pemotretan. Lain halnya jika photoshop digunakan untuk rekayasa besar-besaran. Photoshoppgrapher huh?
Sessi ini sangat menarik, sayang waktu yang tersedia hanya sebentar. Inginnya lebih lama lagi, karena banyak hal dalam fotografi yang menarik untuk diulas. Oh ya satu lagi, pada awal sessi, Ibu Carolina atau Angelina? perwakilan dari salah satu sponsor, tentu produknya kamera, memberikan presentasi produk. Sessi ini kurang mendapat tanggapan yang baik, karena… nggak ada pembagian kamera gratis!
Penampilan Maylaffaiza (betul nggak sih ejaannya) sangat memukau para blogger. Fotonya menyusul ya. Pelajaran profesional yang saya petik dari Maylaf adalah keseriusannya akan arti sebuah profesionalism. Jam 4 pagi sudah bangun lantas meluncur ke BPPT, jam 6 pagi sudah siap check sound dengan crewnya, demi menampilkan tiga buah lagu pada penghujung acara, jam 5 sore! Gilanya lagi, itu semua tanpa bayaran, seperti pengakuannya disebuah media yang saya baca kira-kira dua minggu yang lalu.
Nah, pelajaran apa yang anda dapat dari catatan singkat ini?
##
Foto dan link akan dilengkapi menyusul. Done!



ahh senang sekali mendapat sesuatu dari PB08 meskipun melalui kamu Yoga. Photography adalah bidang yang saya sukai juga meskipun saya masih menyangsikan apakah saya cukup sabar menanti berjam-jam demi hasil yang bagus
EM
Eh akhirnya aku bisa melihat wajahmu dari foto yang ada di blognya Bu Enny hahaha.
Aku iri lho kalian bisa berpesta begitu kemarin sabtu
Dari foto-foto yang beredar, semua tampak sangat meriah.
Proficiat! Congrat!
Saya ga nyesel ikutan sesi Photoblogging padahal awalnya mau ikut lainnya, karena merasa ga pede, selama ini asal jeprat jepret aja. Btw, sebetulnya kamera yang dikatakan Angelie(bukan Angelina..kalau Angelina ini nama panggilannya Popy, tantenya Narpen)…bagus nggak sih…sekitar 400 USD. Gara-gara bujukan Yoga, dan tentu juga karena ingin melihat mas Iman beraksi (maklum foto2 bawah lautnya bagus sekali)…..saya ikut sesi ini…dan konyolnya malah ga nyatet, terpukau dengan foto koleksi Jerry Aurum.
O, iya, cerita tentang mendapatkan foto yang baik, dapat dibaca dari blog Toni Wahid di http://mypotret.wordpress.com/2008/11/24/
photoblogging-itu-mudah/….yang juga merupakan resume dari sesi photoblogging di PB08.
DV…PB08 sangat menarik justru di sesi workshop, dan bingung memilihnya…sayang temanmu itu lebih suka berselimut di pertapaannya.
Who… lagi lagi pesta blogger. taun depan harus ikut nich..
Hi Yoga,
Senang sekali ada yang antusias dengan dunia fotografi. Awas lho ini hobi yang bisa membuat ketagihan dan tentu saja mengasyikan serta bisa menghasilkan uang.
@Ibu Enny : sama gak nyesel ikut sesi ini banyak ilmu yang bisa didapatkan dari para fotografer kawakan.
Salam buat semuanya.
Toni Wahid
Hehehe iya Pak Toni… kalau ketagihannya sudah merasakan dari lama. Kemana-mana selalu bawa kamera, kadang ketiduran disebelah kamera. D’oh kasihan ya…
dari catatan singkat saya dapat pelajaran bahwa ternyata bahasa indonesia yang baik dan benar itu kalau dirangkai dengan tepat tetap nikmat.
photonya di bu endratna yah. ke tkp dulu ah hihihihi…
Wah senengnya bisa ketemu sahbat online di darat :d, mudah2an tahun depan bisa ikutan dan jadwal cutinya bisa bareng..
Selamat, Yug… Kamu senang sekali tampaknya
Makasih Niel, iya aku senang
Thanks info-info nya ya mbak Yoga!
aku merasa ikut dalam acara!
Sekali lagi thanks!
Sama-sama cik… Siapa tahu tahun depan punya kesempatan menikmati sendiri.
Harus jadi blogger dulu ya buat ikutan. Hiks…
Rasanya nggak harus, kalau suami istri, salah satu Blogger, apa yang lain nggak boleh menemani? Tapi Nung, kalau bukan Blogger malu heheheh… makanya ayo nulis, bikin Blog! Kayaknya kamu jago bikin puisi deh. *mode sok tahu on*
ahhh, gak bisa crita apa2… aku lagi sakit jadi gak bisa dateng ke PB 08… sedih…
Lekas sembuh! Berobat yang tuntas ya jeung?