Rumah-rumah tradisional Jawa (Omah Jawa) pada umum memiliki makna yang serupa, entah itu rumah rakyat biasa atau rumah raja-raja Jawa.
Setiap rumah selalu memiliki bagian depan dan belakang. Bagian belakang berorientasi ke dalam, mengakumulasikan potensi diri, bagian depan berorientasi ke luar, mengejawantahkan potensi yang diakumulasikan dalam bentuk ekspresi yang dapat dicerap secara indrawi.
Jalinan yang kompleks atas hubungan keduanya dalam membentuk hubungan-hubungan sosial digambarkan sebagai berikut, formalitas serta jarak sosial terutama mencirikan hubungan-hubungan keluar yang dilakukan di ranah bagian depan, sedang ketidakformalan dan keintiman berlaku dalam hubungan-hubungan pada ranah belakang rumah. Ranah belakang juga seringkali diartikan sebagai ranah domestik bagi para perempuan (sst saya tak hendak membicarakan gender di sini).
Rumah Jawa ini hanya wacana pembuka diskusi kita. Di daerah lain kita juga mengenal jenis rumah adat yang lain pula. Tentu saja tak semua rumah memiliki bentuk fisik dan makna serta pembagian ruang yang sama. Masing-masing akan dibangun sesuai dengan keinginan pemiliknya. Masing-masing memiliki makna yang berbeda, karena hanya penghuninya lah yang bisa memaknainya.
Buat sebagian orang, rumah, berarti statement kehidupan yang lebih permanen, lebih mapan. Disana tempat berlindung dan tempat rasa nyaman tumbuh, dan makna pulang mewujud. Bagi sebagian yang lain, rumah bisa menimbulkan trauma, ketakutan, kegelisahan, jika sudah demikian maka fisik rumah sudah tak bermakna sebagai rumah.
Mari berandai-andai, Read the rest of this entry








