Monthly Archives: November 2008

Rumah Fantasi

Rumah Fantasi

Rumah-rumah tradisional Jawa (Omah Jawa) pada umum memiliki makna yang serupa, entah itu rumah rakyat biasa atau rumah raja-raja Jawa.

Setiap rumah selalu memiliki bagian depan dan belakang. Bagian belakang berorientasi ke dalam, mengakumulasikan potensi diri, bagian depan berorientasi ke luar, mengejawantahkan potensi yang diakumulasikan dalam bentuk ekspresi yang dapat dicerap secara indrawi.

Jalinan yang kompleks atas hubungan keduanya dalam membentuk hubungan-hubungan sosial digambarkan sebagai berikut, formalitas serta jarak sosial terutama mencirikan hubungan-hubungan keluar yang dilakukan di ranah bagian depan, sedang ketidakformalan dan keintiman berlaku dalam hubungan-hubungan pada ranah belakang rumah. Ranah belakang juga seringkali diartikan sebagai ranah domestik bagi para perempuan (sst saya tak hendak membicarakan gender di sini).

Rumah Jawa ini hanya wacana pembuka diskusi kita. Di daerah lain kita juga mengenal jenis rumah adat yang lain pula. Tentu saja tak semua rumah memiliki bentuk fisik dan makna serta pembagian ruang yang sama. Masing-masing akan dibangun sesuai dengan keinginan pemiliknya. Masing-masing memiliki makna yang berbeda, karena hanya penghuninya lah yang bisa memaknainya.

Buat sebagian orang, rumah, berarti statement kehidupan yang lebih permanen, lebih mapan. Disana tempat berlindung dan tempat rasa nyaman tumbuh, dan makna pulang mewujud. Bagi sebagian yang lain, rumah bisa menimbulkan trauma, ketakutan, kegelisahan, jika sudah demikian maka fisik rumah sudah tak bermakna sebagai rumah.

Mari berandai-andai, Read the rest of this entry

Hujan Turun Sore Ini

Hujan Turun Sore Ini

Ga_hujan diproyek

Belakangan Jakarta lebih sering diguyur hujan. Biasanya, hujan turun menjelang sore. Datangnya bisa tiba-tiba saja. Air tercurah jutaan kubik dari langit, membasahi apa saja yang dijangkaunya, menghadiahkan bau tanah basah pada para pecinta hujan, meneduhkan suasana, menentramkan hati, meski terkadang jadi membuat hati melangut tak tentu arah dan mungkin membuat sebagian orang jadi tergesa atau bahkan terpaksa menghentikan kegiatannya. Yang punya kekasih, mungkin jadi teringat kekasihnya, anak mungkin teringat orang tuanya, anda mungkin teringat jemuran yang belum sempat kering, sebagian lagi ingat jalanan yang mendadak macet, yang lain teringat bahaya banjir.

Tadi sore hujan turun mendadak. Saya terpaksa minta tolong salah satu OB untuk memayungi tamu saya, yang harus bergegas untuk sebuah rapat yang lain di gedung perkantoran yang lain. Ah, egoiskah saya, dengan memasrahkan sebuah pekerjaan yang membuatnya terciprat air, basah dan kedinginan pada sang OB, sementara saya enaksaja, kemudian melenggang, bergegas untuk sebuah pertemuan yang lain.

Sesaat saya lupa dengan rasa tak enak, demi melihat indahnya air yang menari, turun seperti dicurahkan oleh berjuta-juta kran tak kasatmata nun jauh di atas sana. Membayangkan nikmatnya setiap tetes menyentuh kulit saya. Membawa saya ke masa lampau, ketika kanak-kanak dulu. Read the rest of this entry

Rasa

Rasa

green part of one of Lempicka'sRasanya baru tersadar 80% ketika aku mulai mengunci pintu depan, dan seseorang menyapa dari sebelah kanan, unit 23. “Ya ampun, kemana saja? Atau aku yang kemana saja selama ini?” Rasanya sudah berabad-abad tak bertemu. Senyumnya menyejukkan hati.

Ia meminta rekomendasi tempat makan enak di Makasar, karena akan ke sana. “Ya, ya nanti ya via YM” jawabku. Aneh juga, kami bertetangga, aku masih bisa mendengar bunyi air ketika ia atau suaminya menggunakan kamar mandi mereka. Tapi kami lebih kerap berkomunikasi via handphone, atau internet. Tentu ada bagian hatiku yang jadi tergelitik, menimbulkan rasa. Read the rest of this entry

Selamat Tinggal!

Selamat Tinggal!

landasan-pacu-2-copy

When do you stop looking at each other?
Shouldn’t there be a warning?
Hi watch out pay attention
Because you can be thinking
I’m okay, we’re okay, we good
Then you turn around distance between you

(Breaking & Entering)

##

Seperti berjalan ditengah kabut tipis, aku masih bisa melihat meski samar, aku masih bisa berjalan meski pelan. Terkadang, kabut didepanku agak tebal, terpaksa tanganku mencoba menuntun, ajaib, tangan tak bermata, absurd bukan, tapi hatiku bisa mempercayai, sementara akalku pasrah.

Begitu pula dengan perasaanku belakangan ini. Ia diburu kesibukan hati dan kepala, memusingkan. Sementara tangan, kaki dan perut masing-masing sibuk dengan kemauannya. Hei, dimana tuannya? Aku tak kemana-mana, ada disini, dimasa kini. Namun, setiap pagi, aku tergeragap, kehilangan orientasi lokasi, waktu, bahkan tentang hidup itu sendiri. Butuh beberapa menit untuk mengerti dan menarik seluruh jiwa dan raga kesaat ini. Indahnya, aku belumlah lupa tentang bahagia. Aku masih punya indra perasa bahagia, meski butuh sesaat untuk menyadarinya.

Aku buka rawian kalimat yang pernah ia berikan padaku. Read the rest of this entry

Kepepet Yuk!

Kepepet Yuk!

post-it

Hayah! Kemarin pagi, pas lagi buru-buru, seorang project coordinator memberikan post it kuning seperti terlihat di atas! Saya terhenyak. Rasa-rasanya kemarin-kemarin ia berusaha mengingatkan saya secara lisan dan sampai pagi ini, saya belum membalas email yang ia minta. Dan ini sudah nyaris seminggu sejak saya terima. Sambil tergesa-gesa karena harus segera pergi, saya meminta ia membuat post it untuk reminder ketika saya kembali ke ruang kerja nanti siangnya. Realisasinya, ternyata nggak perlu menunggu saat saya kembali siang harinya, beberapa detik setelah ia pergi, langsung saya membuka email yang dimaksud dan mulai mengetik balasan. Hanya butuh tiga menit untuk melakukannya dan jadwal saya tak terganggu, bodohnya mengapa tak saya lakukan dari dulu? Mengapa menunggu kepepet? Aih, jadi ingat judul email disalah satu milis:- “The Power of Kepepet”. :D Read the rest of this entry

Belajar Tentang Greenwashing

Belajar Tentang Greenwashing

rokok-ramah-lingkungan

Hari ini saya mencoba mencari makna greenwashing. Istilah ini terkait dengan kampanye hijau. Cobalah cari makna harfiahnya di kamus bahasa Inggris, saya kira anda akan kesulitan menemukan padanan katanya. Saya sudah mencoba mencari di “Oxford Advanced Learner’s Dictionary” tapi enggak ketemu, mungkin mesti pakai kamus yang khusus untuk istilah-istilah green campaign aka kampanye hijau.

Istilah greenwashing sebenarnya secara figurative baru dikenal awal-awal 2000′an (cmiiw) ketika banyak perusahaan atau korporasi mulai terlibat dalam kampanye hijau. Read the rest of this entry

Kaiseki

Kaiseki

400px-breakfast_at_tamahan_ryokan2c_kyoto

Kemarin si Tengah menelponku, mengabarkan Ibu menangis tersedu-sedu ketika menelponnya. Ia juga mengatakan, Ibu berusaha menghubungi aku, lewat semua nomor yang beliau tahu, tanpa ada satupun yang berhasil tersambung. Tanpa kau cerita, aku rasa aku telah menangkap, warta apa yang akan kuterima, dan itu tak cukup untuk menggerakkanku seketika, untuk menemui Ibu lewat telpon.

Ketika pada akhirnya Ibu berhasil menelponku pagi itu. Tak banyak yang disampaikan, pun tak ada sedu sedan. Meski nadanya gusar, beliau bertanya tentang kesehatanku. Aku bilang dengan halus, “Aku baik Bu, aku hendak makan, nanti aku telpon.” Dingin menyergapku. Aku tahu, Ibu berusaha katakan sesuatu, beliau menahan diri, padahal aku sudah tahu apa yang akan disampaikannya. Aku hanya menunggu. Aku menunggu kalimat-kalimat itu terlontar dari Ibu langsung, tanpa perlu kutanyakan. Aku tahu Ibu menjaga hatiku. Meski sebenarnya beliau tak perlu khawatir, hatiku telah beku.

Kami saat ini seperti wujud seni kaiseki. Ibu melihat, kami serupa makanan yang ditata apik, terlalu cantik untuk dimakan. Memakannya, meski sedikit akan merusak karya seni ini seluruhnya.

Tapi bukankah itu yang mesti kita lakukan sekarang? Read the rest of this entry

Pantai Tropi

Pantai Tropi

batuhijau075-copy

Ini tulisan colongan ditengah kesibukan senin pagi dan dead line proposal yang harus saya serahkan siang nanti. Awalnya, pagi tadi, begitu masuk ke ruangan kantor saya bertemu dengan mas Budi, salah satu senior auditor kantor kami. Saya teringat beberapa minggu yang lalu beliau menanyakan bagaimana caranya dan tentunya, rasanya naik sea plane ke Batu Hijau (116º49′, lat. 9º00′S ) di Sumbawa, setelahnya kami tak berjumpa lagi, nyaris seminggu dan baru bertemu pagi ini. Saya pikir, mestinya ia baru kembali dari Batu Hijau. Ternyata benar.  Saya mendapat oleh-oleh foto Pantai Tropi. Oleh-oleh ini benar-benar mengobati kerinduan hati saya. Read the rest of this entry

Aku Ada

Aku Ada

iedl-fitri_yogas-acrylic-on-paper-copy

Tiap kali ada kesempatan aku akan datang ke rumah kosmu. Apapun alasannya, meski tak selalu langsung tertuju padamu sebagai alasan utama kehadiranku. Sungguh beruntung aku kenal baik dengan beberapa penghuni kosmu yang lain, hingga ada saja alasan yang bisa diciptakan. Meski sebenarnya tujuan utamaku satu, hanya ingin berjumpa denganmu, meski sekilas. Melihatmu berjalan dari ruang makan ke kamarmu, atau ketika kau akan naik tangga.

Beruntung rumah kosmu tak banyak sekat, satu ruangan besar yang menyatukan ruang tamu, ruang makan, dengan kamar-kamar disekelilingnya dan satu sudut tempat tangga menuju lantai dua, hingga memudahkanku memandangmu ketika melintas, sekilas saja, tak perlu berkata-kata, tapi toh aku selalu mendapat senyum manis dan sapa manjamu. Aku akan bahagia melihatmu dan pulang dengan senyum. Itu saja dan aku bahagia.

Aku tahu ini bukan tanpa resiko. Aku tahu, karena aku bersahabat dulunya dengan resiko itu. Teman yang kubantu menemukan tempat tinggal, teman satu kosku, selisih dua pintu dari kamarku, yang beruntung karena kau ijinkan menggenggam hatimu. Sial! Read the rest of this entry

Dia

Dia

ga-eye

Dia tinggal sendirian di unit no 22. Itu berarti, ia menempati sebuah unit di lantai 2. Dari bawah terlihat balkonnya penuh tanaman, ada satu jemuran pakaian yang terlihat paling baik di blok ini, tapi selalu terlihat kosong. Ia pioner dengan tanamannya, hampir dua tahun ia tinggal disini baru penghuni yang lain tergerak berbuat yang sama.

Tiap pagi, sebelum jam delapan, aku selalu menanti ritual ini, pertama tapak langkahnya terdengar menuruni tangga besi, kedua, jika ia mengenakan sepatu coklat tanpa hak itu, suara tapaknya makin keras, ia akan bergegas, mula-mula mengambil koran diatas pagar BRC, lantas ia menuju tempat sampah, setelah itu ia akan berjalan perlahan, melewati jalan yang sedikit mendaki sambil membaca koran. Terkadang kulihat ia berjalan saja sambil menunduk. Aku mulai mengitung, pada hitunganku ke-lima biasanya sosoknya yang tak bisa disebut langsing, sudah tak tampak lagi. Aku selalu saja memburu sosoknya tanpa ia pernah merasa, tiap pagi, entah apa kata penghuni lainnya. Aku tak peduli. Read the rest of this entry