Monthly Archives: December 2008

Libur Panjang…

Libur Panjang…

Bicara tentang sms, media ini sungguh ajaib. Bagaimana tidak, orang sah-sah saja, mendadak, menciptakan singkatan yang paling nggak umum sekalipun. Dalam bahasa Indonesia misalnya, mis singkatan dari misal, tnyt, singkatan dari ternyata, bgt bisa diartikan banget atau begitu, tergantung konteks kalimatnya, oh ya jangan salah misx bagi teman saya, bukan berarti nona X, itu artinya misalnya. Kenapa x = nya, ada yang bisa menjelaskan?

Herannya, manusia sekarang pintar-pintar, “nyambung” saja. Hanya satu dua teman saya yang enggak suka pakai singkatan. Sisanya suka sms dengan plesetan singkatan, yang suka bikin mata saya sakit, misalnya menyebut aku dengan aq, atau pakai titik-titik banyak sebagai ganti koma.

Ah untung Bapak Ibu saya nggak suka pakai singkatan yang aneh-aneh, Bapak saya malah nggak pernah menyingkat kalimatnya.

Satu sms singkat saya terima dari Ibu saya, minggu lalu, jelang liburan, isinya cuma dua kalimat, dan itu sudah termasuk sms yang lumayan panjang dari Ibu, apa pasal? Bagi Ibu sms ya mesti benar-benar short message, singkat padat dan jelas, sesuai dengan sifat beliau yang tak suka bertele-tele, ehm, saya jadi nggak pernah berharap menerima sepucuk surat dari Ibu, pertama sudah ada teknologi sms, dan mobile phone, kedua rasanya Ibu nggak hobi ke kantor pos, itu urusan Bapak, yang biasa saya panggil papa.

Mendapat sms dua kalimat itu sudah termasuk panjang, biasanya sms dari Ibu hanya tiga kata, dua kata, bahkan satu kata, beda banget dengan sms dari Bapak, yang masih ada subyek, predikat dan obyek dengan baik, dan Bapak saya ini sesekali masih senang mengirim surat yang ditulis tangan (tulisan tangannya bagus, enggak kayak sandi rumput), kemudian diselipkan di dalam paket buku atau apa saja yang dikirim untuk saya, meski hampir tak pernah saya balas secara tertulis – biasanya buru-buru saya telpon, atau langsung saya sms dan bilang terima kasih, tapi saya tahu, Bapak saya sudah senang dengan respon saya. Surat-surat itu bakalan saya simpan dengan baik.

Ah jadi “meracau” kemana-mana, ketahuan kalau saya sedang rindu pada beliau berdua.

Back to business, kalimat pertama sms itu, begini:- “libur panjang yug jaga kesehatanmu” , sedang kalimat kedua, ngasih tahu kalau Ibu saya nggak libur, maksudnya nggak perlu pergi ke kota beliau.

Jadi teman-teman, waktunya libur panjang, baik yang libur atau tidak, jagalah kesehatan. Sampai ketemu lagi.

Ketika D-4

Ketika D-4

Kisi-kisi

Empat hari jelang tahun baru, menemukan diri masih tertatih-tatih.

Mencoba menggenapi ingatan tentang hidup setahun ini. Mencoba pahami makna yang mungkin luput, dan terlalu mahal untuk dilupakan apalagi ditinggalkan. Mencoba menghitung satu-satu ucap syukur yang acap lupa disampaikan.

Bertanya sendiri dalam sunyi yang menghanyutkan, apakah hidup sudah lebih hidup? Apakah, cukup jadi jaminan, hingga yakin, kelak dapat pulang ke kampung akhirat, dengan senyum, bukan dengan muka kusut tertunduk, dan lidah kelu luar biasa.

Entah.

Kena Pikat Cipelat

Kena Pikat Cipelat

Apa sih Cipelat? Saya juga baru kenalan, setelah ketemu, baru ngeh kalau Cipelat itu mirip sama Rapiah. Atau Cipelat itu Rapiah ya? Rapiah? Iya, bangsa rambutan (Nephelium lappaceum) tentu saja. Jadi ceritanya sekarang sedang musim rambutan. Setiap musim buah atau bunga, selalu perasaan saya sama, muncul kekaguman pada penciptanya, kok bisa menyetting kode genetik yang gak pernah salah waktu. Coba bayangkan, kalau sudah waktunya berbuah, maka rambutan seluruh dunia umumnya akan patuh berbuah pada waktu yang sama. Begitu juga rambutan di lingkungan tempat tinggal saya.

Di depan rumah ada tanah kosong, di situ ada beraneka tanaman, termasuk rambutan. Pohonnya sendiri tak terlalu tinggi, tujuh meter saja, buahnya kecil-kecil, bulunya jarang, belum sampai terlihat merah, biasanya sudah amblas. Nah, jenis rambutan yang bulunya jarang ini yang disebut rambutan Cipelat. Meski masih hijau, tapi rasanya manis tak terkira.

Disamping kanan rumah, tanah kosong juga, disitu ada pohon rambutan yang sudah tinggi, sepuluh meter lebih. Yang ini biasanya baru dijarah kalau buahnya sudah ranum, memerah. Buahnya lebih besar dan rambutnya lebih lebat, nah jenis ini yang dikenal sebagai rambutan Aceh, ada istilah Betawi-nya, tapi saya lupa apa, kalau tak salah tetangga saya pernah bilang, namanya rambutan Cipedak. Entahlah.

Yang jelas, nyaris dua tahun tinggal disini, saya belum sekalipun ikut menyicipi hasil jarahan. Mengapa? Bisa jadi karena batang hidung saya jarang nampak, jadi nggak kebagian, atau juga sudah habis dijarah oleh anak-anak. Seperti yang terjadi minggu lalu.

Pagi pagi, dua anak ini terlihat duduk manis, menikmati Cipelat. Lihat, kapan manjatnya, tahu-tahu sudah dapat satu kresek.

Yang asyik makan Cipelat

Yang asyik makan Cipelat

Sekitar jam dua siang, ketika sedang asyik membaca, diluar terdengar hura hara pasukan Gurkha. Terlalu hiperbola, yang benar, terdengar suara “anak monyet”, ramai, memekik-mekik.

Pohon rambutan!

Benar saja. Anak-anak ini terpikat Cipelat. Sementara Rambutan Aceh yang ranum diabaikan.

)

Huiii.... sibuk :)

D

Kabur! Penjaga flat yang saya tinggali pura-pura ngejar mereka... :D

Selain anak-anak ini, dan manusia jenis lainnya, musuh utama rambutan adalah kalong, tupai, ulat pengerat batang, daun, dan buah, yang komunitasnya di lingkungan ini, banyak banget, juga penyakit, semisal bercak daun dan akar putih.

Dengan begitu banyaknya daftar “musuh” yang terpikat pada Cipelat, rasanya makin tipis harapan saya untuk ikut menikmati Cipelat depan rumah. Hmm, Kapan-kapan, kayaknya mesti kerjasama dengan anak-anak nih. ;)

Ketika Wain Besar Surut

Ketika Wain Besar Surut

Masih lanjutan jurnal foto perjalanan disekitar sungai Wain Besar tanggal 4 Desember 2008.

Ketika sore hari, usai mengunjungi sebuah proyek di daerah Batakan, saya memutuskan kembali ke tepian Wain Besar, untuk mengamati lebih jauh bagaimana kondisi struktur  bngunan yang mungkin masih bisa dimanfaatkan.

Saat tiba di sana kembali, ternyata, sungai telah surut. Bagian daratan yang sengaja disiapkan sebagai pond, tampak tanahnya. Akar-akar bakau bermunculan. Sempat bertanya-tanya, kemana belut yang tadi pagi saya lihat, menyelamatkan dirinya?

Pond yang surut

Pond yang surut

Alam disekitar saya sunyi, meski dari kejauhan, beberapa pekerja terlihat sibuk memotong-motong besi. Tetap sunyi tak terusik, karena luasnya lahan yang saya kitari seorang diri ini. Sesekali kesunyian terganggu, ketika sebuah kapal kecil lewat, meski suaranya tak terlalu berisik, tapi keberadaan kapal itu sendiri menimbulkan sebuah nuansa yang berbeda.

Terusik sesaat

Terusik sesaat

Kemudian mendung datang lagi. Kali ini perasaan saya jadi terbawa suasana. Pandangan saya beralih pada bakau yang hijau segar, sambil merenungi sang Pencipta. Pemilik segala keindahan di dunia ini. Saya jadi merasa lebih nyaman. Entahlah.

Daun bakau yang segar

Daun bakau yang segar

Beginilah saya mengkombinasikan tugas dan kesenangan. Sambil mengerjakan tugas, saya bersyukur punya kesempatan untuk mengamati lingkungan di sekitar saya. Jika dirasakan, sebenarnya saya tengah menyegarkan diri dan pikiran. Dan kemudian saya dapati, saya tengah memandangi tarian rumput.

Tarian rumput...

Tarian rumput...

Seperti sungai, kehidupan juga ada pasang dan ada surut. Ada pasang surut yang disengaja, ada yang memang sudah semestinya demikian. Ah, maksud kalimat saya itu begini, tak ada pasang surut yang tak disengaja, sebab pada dasarnya pasang surut mengikuti sunatullah.

Demikian juga ketika saya terpaksa “surut” beberapa hari ke depan, karena memang sudah semestinya demikian.  Untuk sementara ijinkan saya mengucap hastala vista baby! Sampai ketemu lagi.

Terkadang mesti surut...

Terkadang mesti surut...

 

*Mencoba menggunakan kamera yang lebih canggih. Nikon D60 10MP

Saling Setia… Penting!

Saling Setia… Penting!

world-aids-campaign

Pagi ini saya mengisi kolom komentar di sini seperti ini:-

Mas Luigi,

Saya jadi teringat cerita ini. Seseorang yang ketinggalan “cuti kerinduan” di sebuah perusahaan pertambangan, akhirnya memilih menyalurkan hasrat di km… (istilah umum untuk tempat prostitusi), hubungan yang cuma sekali itu membuahkan AIDS, positif terinfeksi HIV. Bapak yang aslinya cukup konvesional dalam beragama ini jadi sangat terpukul. Ia tak berani pulang, dan mencoba bunuh diri. Usaha pertama dan kedua (menunggu dilindas alat berat yang bannya saja setinggi 3m lebih) gagal, karena cepat ketahuan satpam. Meski telah di konseling dan dinyatakan stabil, toh ia mencoba lagi yang ketiga kalinya dan berhasil. Ia jadi kornet Mas, karena mencebur ke stone crusher.

Pesan saya untuk semua, jangan pernah memikirkan untuk mencoba, even just for once!

Teman, apa yang saya tulis adalah kisah nyata. Tak perlu saya jelaskan detail lokasi dan nama-namanya, tapi itu adalah fakta yang telah terjadi. Kaum pekerja, baik white atau blue collar, berpotensi untuk terjangkit virus Aids. Terlebih mereka yang kerap bepergian, jauh dari keluarga, dan memiliki gaya hidup yang beresiko.

world-aids-day

Kantor kami, menyadari potensi yang mungkin muncul. Tahun lalu, sebagai bagian dari tindakan preventif, beberapa dari kami, ditugaskan untuk mengikuti sebuah sesi pengenalan AIDS. Kami yang berkesempatan mengikuti pelatihan tersebut, kemudian memiliki kewajiban untuk menyebarkan pengetahuan ini di lingkungan kantor, dan lebih luas lagi kepada masyarakat umum.

Mengapa kantor kami concern? Fakta yang tersaji (seperti yang saya tulis seminggu lebih ini), 80% dari penderita AIDS, adalah mereka yang berusia antara 20-40 tahun. Sebuah usia yang produktif bukan? Penyebabnya adalah maraknya industri seks, tingginya penularan infeksi seksual (IMS), serta rendahnya tingkat pemakaian kondom (baik pria maupun perempuan, bagaimana bentuk kondom perempuan? Yang pasti karena pelatihan itu, saya jadi tahu. Coba googling deh, bentuknya kira-kira seperti sponge bedak yang memiliki selaput plastik). Serta jangan lupa, ancaman penularan dari penggunaan narkoba suntik yang mengancam puluhan ribu orang Indonesia yang berusia antara 15 hingga 22 tahun.

Pencegahan di tempat kerja, diharapkan bisa menekan jumlah penderita AIDS. Sebab, tempat kerja adalah salah satu saluran yang mungkin untuk mendiskusikan secara terbuka resiko HIV/AIDS dan cara-cara menghindari penularannya. Pencegahan membutuhkan biaya yang sedikit dan dapat menghindarkan konsekuensi keuangan dan social yang jauh lebih serius.

Silahkan membuka link ini dan itu, jika ingin mendapatkan informasi lebih lengkap, mengapa kampanye AIDS ini perlu dilakukan hingga di perkantoran? Mengapa tak cukup hanya di lokalisasi atau tempat prostitusi? Saya tak hendak mengulasnya lagi, ya.

Tapi jika anda masih membutuhkan informasi lebih lengkap untuk konseling dan testing HIV sukarela, untuk yang berada di Jakarta, silahkan berkunjung ke beberapa alamat yang saya sebutkan di bawah ini:-

  • Yayasan Pelita Ilmu Klinik Awanama, Klinik VCT Awanama,Jl. Kebon Baru IV no. 6 tebet 12830 Telpon 021 87396480, 83705780, email: ypilmu@rad.net.id (hari Senin – Rabu pukul 13.00 – 18.00 Wib)
  • Kios Informasi Atmajaya, Jl. Ampasit VI no 15, Cideng Barat – Jakarta Pusat. Tlp/fax 021 34833134, email: kios_info@cbn.net.id (hari Senin-Rabu pukul 10.00 – 12.00 WIB, khusus pemakai Napza suntik)
  • Klinik PKBI – Pisangan (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia), Jl. Pisangan Baru Timur no. 2A. Tlp 021 8566535. fax. 021 85909885, email: medispkbi@dnet.net.id (hari Senin – Sabtu, pukul 10.00 – 16.00, khusus waria dan gay).
  • Pokdiksus AIDS RSCM, Jl. Diponegoro 71, RSCM Jakarta. Tlp 021 3905250 (hari Senin – Jumat, pukul 10.00-17.00 WIB).

Masih banyak alamat lainnya,  silahkan jika ingin menambahkan.

Kembali ke cerita singkat saya di atas, sebenarnya pencegahan yang paling murah dan mudah, agar tak tertular AIDS adalah, bersikap setia, pandai menahan nafsu dan berpikir panjang.

Jalan-Jalan, Antara Kesenangan dan Pekerjaan

Jalan-Jalan, Antara Kesenangan dan Pekerjaan

Pekerjaan saya sekarang, mengharuskan saya bepergian ke berbagai tempat, kalau dulunya untuk memulai (kick off) suatu proyek, kemudian melakukan kontrol atau audit ke lapangan secara berkala, sekarang lebih untuk menyiapkan sebuah proyek, memasarkannya, mengecek suatu lokasi, apakah feasible atau tidak, terkadang hanya berkeliling di suatu kota atau lokasi untuk mendapatkan ambience dan mempelajari situasi lokasi tersebut. Kedengarannya enak ya, jalan-jalan, ya memang enak. Kalau biasanya orang-orang bekerja keras baru jalan-jalan untuk refreshing, maka saya kebalikannya, “refreshing” dulu baru kerja keras dan “refreshing” lagi.

Kadang demi sebuah meeting 3 jam, saya harus menempuh jarak ribuan kilometer dan waktu perjalanan biasanya lebih lama dari waktu yang dibutuhkan untuk meeting. Atau, untuk site visit dua hari, saya membutuhkan total enam hari di luar kantor, karena perjalanan untuk pulang pergi ke lokasi tersebut memakan waktu masing-masing dua hari. Mengapa tak efisien? Berapa banyak jejak karbon yang saya buat? Mengapa tak melakukan tele conference saja?  Read the rest of this entry

Hitam Putih Wain Besar

Hitam Putih Wain Besar

Ini adalah jurnal foto kedua, sebuah perjalanan singkat, di satu sisi Sungai Wain Besar, Kariangau, Balikpapan, Kalimantan, Kamis 4 Desember 2008.

Apa makna sungai bagimu? Bukankah ia sumber kehidupan, sekaligus saksi sebuah kerusakan. Yang senantiasa mengalirkan tirta dan memberi jalan untuk sebuah peradaban, awal sebuah sejarah. 

Para Hokkian di pesisir utara Jawa, menganggap sungai adalah aliran sejarah yang kan menuntun mereka pada riwayat para leluhur. Dari Samudra mereka datang, dan membangun peradaban di sudut-sudut daratan yang lebih dalam, melalui sungai-sungai.

cimg81541

Kemudian mendung berkesiur, gerimis turun, dan air bertemu air, air bertemu semilir angin, membentuk riak dan alam seperti puisi. Ketika mentari kemudian muncul, tertangkaplah sebuah cermin alam dari sudut yang tak biasa.

cimg8185

Dan tak selamanya sungai memberi kenyataan indah.

cimg8179

 

*Masih menggunakan Casio Exilim 7.2MP

Suatu Siang di Tepian Sungai Wain Besar

Suatu Siang di Tepian Sungai Wain Besar

Ini adalah  jurnal foto bagian pertama, sebuah perjalanan singkat, di satu sisi Sungai Wain Besar, Kariangau, Balikpapan, Kalimantan, Kamis 4 Desember 2008.

Jelang tengah hari disekitar latitude 1.2019 S, longitude 116.8159E, saya menyempatkan diri mengambil beberapa foto. Saat itu saya menggunakan kamera saku digital, yang baterainya mulai habis. Kemudian, ketika baterai kamera saku itu benar-benar habis, mulailah saya menjajal kamera SLR, sekadar mencari rasa.

Saya ingat apa yang dikatakan oleh Kristupa Saragih (fotografer.net), untuk menghasilkan foto yang berkualitas, kita tak melulu mengandalkan kamera yang canggih, ia menantang untuk  memaksimalkan kamera apapun, termasuk kamera HP. Lantas, kemarin saya punya kesempatan untuk menjajal tiga jenis kamera, sebuah pocket digital (Casio exilim 7.2 MP), kamera HP (Nokia E71, 3.2 MP), dan sebuah SLR (Nikon D60 10MP) yang dipinjamkan oleh seorang teman. Sebuah kesempatan yang baik untuk mengejawantahkan kalimat Kristupa.

Nah, foto dibawah ini diambil menggunakan Casio Exilim, yang sudah digunakan untuk mengambil kurang lebih 8,000 foto (2,000 foto lagi dan rencananya ia akan dipensiunkan). Silahkan menikmati.

Meninjau bakau...

Meninjau bakau...

Yang sesekali lewat...

Yang sesekali lewat...

Pond untuk kayu

Pond untuk kayu

Jam 12 waktu Indonesia tengah, jalanan sunyi...

Jam 12 waktu Indonesia tengah, jalanan sunyi...

Mengintai yang pacaran

Mengintai yang pacaran...

Rumah masa depan. Setiap perjalanan akan berakhir di sebuah rumah, tanpa alamat, tanpa kotak surat, seperti Ibrahim ketika ditanya, akan kemana? Aku akan ke Tuhanku.

Rumah masa depan. Setiap perjalanan akan berakhir di sebuah rumah, tanpa alamat, tanpa kotak surat, seperti Ibrahim ketika ditanya, akan kemana? Aku akan ke Tuhanku.

Klik saja, jika ingin lihat foto yang lebih jelas dan lebih besar.

Tak Tertahankan!

Tak Tertahankan!

Apa yang terjadi kalau suatu hajat tak tertahankan? Akan pipis di celana? Berteriak sekuat tenaga? Berlari? Atau mengganggu sebuah meeting yang serius? Silahkan kalau ingin sharing pengalaman anda di sini. Mau cerita atau komentar apa saja terserah.

Dan sesiangan ini berturut-turut saya mengalaminya. O-o-h bukan, ini bukan perkara kebelet pipis atau hajat yang bagaimana. Ketika akan ke toilet (nah, toilet?). Tunggu dulu, tahan pikiran yang bukan-bukan. Teman saya sambil menyeringai, mengatakan sesuatu ke saya.

“Eh, mobil idamanmu ada di luar tuh” Read the rest of this entry

Pearl River Tower – Bakal Net Zero Energy Building Pertama di Dunia

Pearl River Tower – Bakal Net Zero Energy Building Pertama di Dunia

Menyambung tulisan tentang green building yang dulu pernah dimuat di AOE. Kali ini saya ingin menunjukkan sebuah mega proyek yang tengah berlangsung, yaitu pembangunan sebuah tower yang diklaim sebagai;- net-zero-energy-skyscraper experiment yang pertama di dunia.

Adalah Pearl River Tower yang didirikan oleh sebuah perusahaan tembakau Cina. Proyek ini berlokasi di Goangzhou, Cina. Bertindak sebagai arsitek, SOM (Skidmore, Owings & Merrill). Bagi SOM mendesain sebuah tower adalah pekerjaan yang bisa dilakukan “sambil tidur”, tapi tidak untuk proyek ini, apalagi tantangannya adalah net-zero-energy yang berarti tidak ada energi yang terbuang percuma, energi yang terpakai seminim mungkin, dan gedung tersebut mampu menghasilkan energi sendiri, serta adanya tantangan rekayasa desain yang sustainable.

Pearl River Tower direncanakan memiliki 71 lantai, dengan luas total 2,2 juta square feet dan selesai pada Oktober 2009. Tower ini didesain menggunakan turbin angin (wind turbines), radiant slabs, microturbines, geothermal heat sinks, fasad yang menggunakan ventilasi (ventilated facades), waterless urinals (yang tak cocok untuk muslim), penggunaan tenaga matahari yang terintegrasi (integrated photovoltaics), perbaikan kondensasi (condensate recovery), dan kontrol tata cahaya siang hari yang responsif (daylight responsive controls). Bahasa yang terlalu teknis ya. Pendek kata, dengan memanfaatkan semua kemajuan teknologi yang ada saat ini, Pearl River Tower dirancang sebagai gedung yang sangat green, seperti yang saya singgung di paragaf kedua, tak ada energi yang terbuang. Yang ada adalah proses recycle, dan reuse yang sesempurna mungkin. Read the rest of this entry