Saling Setia… Penting!

Saling Setia… Penting!

world-aids-campaign

Pagi ini saya mengisi kolom komentar di sini seperti ini:-

Mas Luigi,

Saya jadi teringat cerita ini. Seseorang yang ketinggalan “cuti kerinduan” di sebuah perusahaan pertambangan, akhirnya memilih menyalurkan hasrat di km… (istilah umum untuk tempat prostitusi), hubungan yang cuma sekali itu membuahkan AIDS, positif terinfeksi HIV. Bapak yang aslinya cukup konvesional dalam beragama ini jadi sangat terpukul. Ia tak berani pulang, dan mencoba bunuh diri. Usaha pertama dan kedua (menunggu dilindas alat berat yang bannya saja setinggi 3m lebih) gagal, karena cepat ketahuan satpam. Meski telah di konseling dan dinyatakan stabil, toh ia mencoba lagi yang ketiga kalinya dan berhasil. Ia jadi kornet Mas, karena mencebur ke stone crusher.

Pesan saya untuk semua, jangan pernah memikirkan untuk mencoba, even just for once!

Teman, apa yang saya tulis adalah kisah nyata. Tak perlu saya jelaskan detail lokasi dan nama-namanya, tapi itu adalah fakta yang telah terjadi. Kaum pekerja, baik white atau blue collar, berpotensi untuk terjangkit virus Aids. Terlebih mereka yang kerap bepergian, jauh dari keluarga, dan memiliki gaya hidup yang beresiko.

world-aids-day

Kantor kami, menyadari potensi yang mungkin muncul. Tahun lalu, sebagai bagian dari tindakan preventif, beberapa dari kami, ditugaskan untuk mengikuti sebuah sesi pengenalan AIDS. Kami yang berkesempatan mengikuti pelatihan tersebut, kemudian memiliki kewajiban untuk menyebarkan pengetahuan ini di lingkungan kantor, dan lebih luas lagi kepada masyarakat umum.

Mengapa kantor kami concern? Fakta yang tersaji (seperti yang saya tulis seminggu lebih ini), 80% dari penderita AIDS, adalah mereka yang berusia antara 20-40 tahun. Sebuah usia yang produktif bukan? Penyebabnya adalah maraknya industri seks, tingginya penularan infeksi seksual (IMS), serta rendahnya tingkat pemakaian kondom (baik pria maupun perempuan, bagaimana bentuk kondom perempuan? Yang pasti karena pelatihan itu, saya jadi tahu. Coba googling deh, bentuknya kira-kira seperti sponge bedak yang memiliki selaput plastik). Serta jangan lupa, ancaman penularan dari penggunaan narkoba suntik yang mengancam puluhan ribu orang Indonesia yang berusia antara 15 hingga 22 tahun.

Pencegahan di tempat kerja, diharapkan bisa menekan jumlah penderita AIDS. Sebab, tempat kerja adalah salah satu saluran yang mungkin untuk mendiskusikan secara terbuka resiko HIV/AIDS dan cara-cara menghindari penularannya. Pencegahan membutuhkan biaya yang sedikit dan dapat menghindarkan konsekuensi keuangan dan social yang jauh lebih serius.

Silahkan membuka link ini dan itu, jika ingin mendapatkan informasi lebih lengkap, mengapa kampanye AIDS ini perlu dilakukan hingga di perkantoran? Mengapa tak cukup hanya di lokalisasi atau tempat prostitusi? Saya tak hendak mengulasnya lagi, ya.

Tapi jika anda masih membutuhkan informasi lebih lengkap untuk konseling dan testing HIV sukarela, untuk yang berada di Jakarta, silahkan berkunjung ke beberapa alamat yang saya sebutkan di bawah ini:-

  • Yayasan Pelita Ilmu Klinik Awanama, Klinik VCT Awanama,Jl. Kebon Baru IV no. 6 tebet 12830 Telpon 021 87396480, 83705780, email: ypilmu@rad.net.id (hari Senin – Rabu pukul 13.00 – 18.00 Wib)
  • Kios Informasi Atmajaya, Jl. Ampasit VI no 15, Cideng Barat – Jakarta Pusat. Tlp/fax 021 34833134, email: kios_info@cbn.net.id (hari Senin-Rabu pukul 10.00 – 12.00 WIB, khusus pemakai Napza suntik)
  • Klinik PKBI – Pisangan (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia), Jl. Pisangan Baru Timur no. 2A. Tlp 021 8566535. fax. 021 85909885, email: medispkbi@dnet.net.id (hari Senin – Sabtu, pukul 10.00 – 16.00, khusus waria dan gay).
  • Pokdiksus AIDS RSCM, Jl. Diponegoro 71, RSCM Jakarta. Tlp 021 3905250 (hari Senin – Jumat, pukul 10.00-17.00 WIB).

Masih banyak alamat lainnya,  silahkan jika ingin menambahkan.

Kembali ke cerita singkat saya di atas, sebenarnya pencegahan yang paling murah dan mudah, agar tak tertular AIDS adalah, bersikap setia, pandai menahan nafsu dan berpikir panjang.

17 Responses »

  1. Memang menyeramkan, satu kesalahan, tapi berakibat fatal.
    Bapak tadi masih berpikir untuk tak menulari …yang bisa berakibat lebih menyedihkan untuk seluruh keluarganya.

    Yoga:

    Bapak tersebut merasa harga dirinya sudah hancur, akibatnya fatal ternyata. Jadi ingat peribahasa, gara-gara setitik nilam rusak susu sebelanga. Nama baik yang telah dibinanya seumur hidup hancur, keluarga yang ditinggal juga sepanjang hayat menanggung sejarah yang memalukan dan menyedihkan.

  2. Inisiatif yang bagus untuk ditiru oleh kantor2 lainnya dan tetap setia dengan pasangan masing2 tentunya.

    Yoga:

    Yup! Ditambah satu poin yang lupa saya tulis:- senantiasa ingat pada ajaran agama, untuk yang memeluknya.

  3. Memang, buat kita-kitayang bekerja jauh dari sanak family, terutama dalam soal ‘isi celana dalam’ ini – cuti mudik adalah keputusan yang tepat..

    Selain derita dunia, sudah pasti siksa azab neraka menunggu – Naudzubillah himindzalik deh. Dijagalah status [HIV/AIDS]negative-nya itu, dan berjanjilah untuk selalu setia.. whatever it takes and whenever, of course whereever.

    Seneng udh bisa mampir kesini, salam hangat dari afrika barat!

    Yoga:

    Absolutely agree. Salam hangat dari Jakarta Mas Luigi! Thanks, tulisan ini muncul berkat tulisan di Pralangga.org.

  4. Wah…secara tak langsung itu adalah hukuman secara langsung atas perbuatannya.

    Menyedihkan memang…semoga menjadi renungan buat semua.Tapi jika terkena akan lebih menyeramkan.

    Disinilah Tuhan mau menunjukkan,arti dan akibat SETIA,

    kadang malah istri ada,serumah,tapi suami masih juga mencari jajanan diluar…semoga semua bisa SETIA PADA PASANGAN!!!! unutk keamanan semua.

    Thanks renungan dan postingan yang menarik ini!

    Yoga:

    Thanks juga Cik Aling atas tanggapannya. :)

  5. Beberapa cara bisa dilakukan suatu institusi untuk bisa ikut mengerem penularan AIDS.Seperti diadakannya family gathering,pengajian bareng keluarga, serta pemantapan dgn ESQ.
    Hidup bukan cuman sekedar dapat hidup. Quality of life harus juga dicari..
    karena nila setitik rusak susu sebelanga (eh kok malah berperibahasa toh……hehehe)

    Yoga:

    Hayah, ternyata kamu juga nyebutin peribahasa yang sama toh :D Begitulah Nung. Btw, selamat Blog barunya. Nah, begitu dong, ikatlah ilmu dan pemikiranmu dengan tulisan. :D

  6. Bahkan orang yang mengerti pentingnya ‘kesetiaan’ pun seringkali masih tergoda.

    Untuk tugas yang panjang, bila memungkinkan, memang sebaiknya seorang istri mendampingi suaminya bertugas.

    Salam kenal

    Yoga:

    Begitulah mbak, bahkan yang tahu makna kesetiaan pun kadang masih menggelincirkan diri.

  7. Menjadi kornet?
    Mbak Yoga, aku ngeri banget ngebayanginnya… Pasti dia telah mengalami depresi yang berat, apalagi dengan latar belakang yang sesungguhnya agamis.. :(

    Ah..
    Saling setia itu penting, safe sex juga.
    Tapi kalau sudah punya pasangan yang resmi, mudah-mudahan tidak perlu sampai safe sex segala… alias nggak perlu jajan…

    Mbak, aku jadi ingat dengan satu episod di Oprah Winfrey. Di situ pernah ada sebuah kisah seorang pengidap HIV Aids positive yang ternyata dia peroleh dari Suaminya tercinta…
    Dan dia benar-benar merasa terpukul, karena sebetulnya si Suami sudah mengetahuinya tapi nggak mau mengaku…
    Sedih kan?
    Kita sudah membayangkan amannya berhubungan seks dengan suami sendiri sehingga tak perlu pakai proteksi, apalagi kalau sedang expecting baby, tapi ternyata malah ditulari HIV.

    Hhh… What a story, Mbak.. Sampai nangis aku…

    Yoga:

    Iya La, kenyataan seperti itu sangat pedih.

    ##

    Kami bertemu dengan seorang Ibu dua putra yang mengalami nasib hampir serupa ceritamu. Ibu ini menderita AIDS, karena suami yang tak setia. Suami Ibu ini, meninggal sesaat setelah tahu telah terkena AIDS. Tak lama kemudian, si Ibu melakukan tes dan ternyata positif, begitu juga dengan anak bungsunya yang masih bayi. Sedihnya, karena pengetahuan tentang AIDS yang masih rendah di lingkungan kantornya, sementara stigma yang beredar di luar sangat menyudutkan penderita, si Ibu yang menjadi bread winner ini dipaksa mengundurkan diri dari kantor, sementara itu, kedua belah pihak keluarga inti, menjauh. Sang Ibu yang tabah ini tak menyerah begitu saja. Ia mengupayakan kehidupan keluarganya dengan jalan yang halal dan membuang gengsi dan rasa rendah diri. Ibu ini aktif memberikan testimoni dan penyuluhan, serta menjadi relawan untuk penderita AIDS lainnya. Satu demi satu kehidupan normalnya mulai kembali, kecuali jalan kesembuhan.

    ##

    Oh ya La, mungkin kamu bisa mengulas dari sisi ketenagakerjaan di Indonesia. Setahuku, sudah ada UU Naker untuk melindungi penderita AIDS. Bisakah? Thanks.

  8. memang serem yah…
    tapi memang susah yah klo udh jauh dari istri.. :(

    gak ngebahas dari sisi Agama nih? :)

    Yoga:

    Membahas dari sisi agama? Aih, saya belum punya kapasitas itu Mas. Mungkin Mas Orido? Tulis di Blognya ya, nanti saya ikut membaca. :D

  9. Don’t leave home without it.
    slogannya untuk okamoto cond*m.

    Manusia tetaplah manusia
    meskipun setia bisa tergoda.
    Yang nyebelin kan kalo bukan dari sex tapi dari jarum suntik. Karena itu prosedur di sini, pasti menunjukkan bahwa jarum suntik itu masih di seal, dan dibuka waktu mau dipakai. Kalau di Indonesia, kayaknya masih sering saya lihat jarum suntiknya sudah terbuka (tidak diperlihatkan sealnya)

    Di sini Test HIV pasti dilakukan pada wanita hamil.Gratis dan Rahasia.

    EM

  10. @ mb Imel : di Indonesia, aturan tentang pemakaian alat-alat medis yang steril untuk pasien sudah diatur kok mbak. Sebagai pasien, ada hak-hak yang harus dihormati oleh dokter. Kita bisa minta dokter untuk memperlihatkan alat dan obat yang masiy tersegel.Itu kewajiban dokter. Yang justru memprihatinkan yaitu kurang diperhatikannya pembuangan limbah alat-alat medis tersebut, sehingga alat medis yang bekas pakai kadang bisa disalahgunakan….

  11. Cara penanggulangan AIDS, aku setuju untuk saling setia dan menahan nafsu.

    Ini bukan ide menarik tapi kalau memang terpaksa, ber-masturbasilah (maaf)

    Asal semoga lalu tidak disalahkaprahkan orang-orang bahwa cara penanggulangan AIDS adalah menikah lagi :)

  12. Mbak Yoga,

    Tadi aku sudah ngublek2 buku Ketenagakerjaan tapi nggak ketemu juga (apa perutku laper ya sampai nggak bisa konsen? hehe)

    Tapi yang aku tahu… ada satu Undang-Undang yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan, di mana di dalamnya mengulas detil mengenai pencegahan HIV AIDS di lingkungan kerja. Selain soal pencegahan HIV, di situ juga tercantum soal Hak-Hak yang dimiliki oleh karyawan yang sudah terinfeksi HIV.

    KepMen itu menyebutkan bahwa pekerja yang terinfeksi HIV MASIH BERHAK bekerja di tempat tersebut selama dia masih MAMPU dan LAYAK; dan disertai oleh keterangan dari dokter (diakui secara medis kalau dia memang masih bisa melakukan kewajibannya di kantor).

    Oh ya,
    Selain itu, HIV AIDS bersifat rahasia dan pribadi, jadi pihak perusahaan tidak berhak untuk bertanya apakah calon pekerjanya mengidap virus tersebut atau tidak.

    Cuman ya itu…
    Perusahaan sebaiknya mengadakan pencegahan virus HIV dengan seminar-seminar pentingnya pengetahuan tentang HIV AIDS buat para pekerjanya.

    (hah, panjang bener komentarnya… Ntar kalau udah nemu di buku, aku tulis lagi ya!) :)

  13. Kayaknya memang lebih tepat bila AIDs disebut penyakit perilaku..bukan penyakit menular.. karena penyebaran memang lebih karena perilaku: free sex and drug..

    So Say N to Free Sex.. Say No to Drug.. kayaknya hanya itu vaksinnya…. Begitu yha mbak?

  14. Memang yang menakutkan adalah jika kita ketularan penyakit ini dengan cara yang tidak kita ketahui, misalnya dari pasangan yang tidak setia, dari jarum suntik di rumah sakit, dari peralatan dokter gigi. Setahu saya, peralatan dokter gigi terbuat dari logam, yang tidak mungkin sekali pakai. Bagaimana caranya mengetahui bahwa alat itu sudah disterilkan sesudah dipakai untuk memeriksa pasien lain? Padahal kita tahu, pada saat mencabut gigi, pasti ada luka yang mengeluarkan darah, dan kemungkinan darah itu menempel pada alat dokter gigi.

    Tentang istilah ‘safe sex’, seharusnya istilah itu diartikan sebagai hubungan dengan pasangan resmi, bukan melakukannya dengan pasangan tak resmi tetapi memakai alat pencegahan …

    Yoga:
    Terima kasih informasi tambahnny Bu Tuti. :)

  15. Mmmmm…memang menyedihkan mbak…
    disini beberapa orang project tergiur untuk sekedar “jajan” karena mereka bekerja berpindah2 tanpa tau akibatnya…okelah kalo mereka menjaga keamanan kalau tidak bagaimana???

    Setia itu memang penting dan pastinya akan lebih baik lagi apabila di dukung oleh pengetahuan agama yang baik.

    Yoga:

    Iya Ria, justru orang-orang seperti teman Ria, termasuk pada posisi yang rawan. Mereka, mobile (berpindah), jauh dari keluarga, dan memegang uang.

    Benar, selain setia, pendidikan agama penting, dan juga tidak melakukan sex pra nikah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s