Don’t tell me the future. I’ve learned, unquestionably, that resilience-not prophecy-is the greatest gift.
(Ralph Shrader — Booz Allen Chairman & CEO*)
Berandai-andai, mana yang bakal saya pilih: punya kemampuan pulih dari keterpurukan (resilience) atau punya kemampuan tahu masa depan (prophecy). Maka saya pilih yang pertama.
Kemampuan pulih dari keterpurukan lebih baik dari bola kristal manapun, lebih lagi ketika berbicara tentang kerja keras dan pengalaman. Ya lebih baik tahu belakangan, daripada tahu kejadian di masa depan sekarang. Sebab, jika nasib, destiny membawa pada posisi yang tak enak, maka dengan resilience, seseorang bisa bangkit, berdiri, dan mulai melangkah lagi-dan terima kasih Tuhan, tak ada bagian tubuh manusia yang terbuat dari kaca.
Prophecy, atau pengetahuan akan masa depan, bisa jadi kutukan bagi dunia kerja. Pengetahuan ini bisa menurunkan motivasi, passion, membatasi potensi diri dan lama-lama, membuat manusia mengenyahkan kata “berjuang” dari perbendaharaan bahasa, atau sebaliknya, mungkin juga, kemampuan ini membuat manusia berlomba-lomba memperbaiki nasib jadi lebih baik demi menghindari nasib buruk, dan mungkin sekali dunia menjadi chaos karenanya seperti digambarkan di serial Heroes dan film Butterly Effects.
Barangkali, keinginan memperbaiki nasib adalah hasrat yang mendorong manusia sejak ribuan, atau barangkali jutaan, tahun yang lalu, untuk mencari tahu tentang nasib di masa depan. Mulai dari urusan remeh temeh, kehidupan sosial, hingga urusan bisnis. Mulai dengan bermodal pengetahuan yang tak bisa dinalar, hingga berbagai metode peramalan modern dengan rumusan yang diciptakan manusia dengan segala keterbatasannya, misalnya business forecasting, ramalan epidemi, dan yang paling umum, adalah ramalan cuaca, yang terbukti bermanfaat bagi umat.
Hmh, diluar urusan yang bisa dilogika, tak pernah secuil pun saya ingin punya prophecy, dengan alasan untuk memperbaiki nasib, meski hanya untuk sekadar iseng, membaca ramalan zodiak misalnya. Untuk urusan kerja keras, saya sependapat dengan Ralph Shrader, saya tak perlu tahu masa depan sekarang, bahkan saya tak yakin seorang peramal pun tahu masa depannya sendiri dengan pasti.
Saya bersyukur bahwasanya manusia dianugerahi resilience, sehingga sebenarnya sudah ada daya dan sarana dari diri sendiri, untuk menghadapi, apapun yang dibawa oleh masa depan, dan hebatnya kemampuan ini bukan semata diturunkan, melainkan bisa diusahakan. Dalam pandangan saya, resilience adalah modal untuk mengatur nasib, dan menghindarkan manusia dari kesia-siaan: berpangku tangan menunggu takdir. Lihat betapa Tuhan sungguh fair pada kita.
Dan terakhir, ijinkan saya mengutip kalimat Ralph yang lain, untuk menutup tulisan ini:
I’m convinced we have more control over our destiny by not knowing it-as long as we strive for excellence and have the resilience to make the best of the way things turn out.
Cerah harimu!
Catatan:
Booz Allen telah di-split menjadi dua perusahaan: Booz Allen Hamilton’s dan Booz & Company’s