Monthly Archives: January 2009

Bahkan Peramal Pun Tak Tahu Masa Depannya!

Bahkan Peramal Pun Tak Tahu Masa Depannya!

Don’t tell me the future. I’ve learned, unquestionably, that resilience-not prophecy-is the greatest gift.

(Ralph Shrader — Booz Allen Chairman & CEO*)

Berandai-andai, mana yang bakal saya pilih: punya kemampuan pulih dari keterpurukan (resilience) atau punya kemampuan tahu masa depan (prophecy). Maka saya pilih yang pertama.

Kemampuan pulih dari keterpurukan lebih baik dari bola kristal manapun, lebih lagi ketika berbicara tentang kerja keras dan pengalaman. Ya lebih baik tahu belakangan, daripada tahu kejadian di masa depan sekarang. Sebab, jika nasib, destiny membawa pada posisi yang tak enak, maka dengan resilience, seseorang bisa bangkit, berdiri, dan mulai melangkah lagi-dan terima kasih Tuhan, tak ada bagian tubuh manusia yang terbuat dari kaca.

Prophecy, atau pengetahuan akan masa depan, bisa jadi kutukan bagi dunia kerja. Pengetahuan ini bisa menurunkan motivasi, passion, membatasi potensi diri dan lama-lama, membuat manusia mengenyahkan kata “berjuang” dari perbendaharaan bahasa, atau sebaliknya, mungkin juga, kemampuan ini membuat manusia berlomba-lomba memperbaiki nasib jadi lebih baik demi menghindari nasib buruk, dan mungkin sekali dunia menjadi chaos karenanya seperti digambarkan di serial Heroes dan film Butterly Effects.

Barangkali, keinginan memperbaiki nasib adalah hasrat yang mendorong manusia sejak ribuan, atau barangkali jutaan, tahun yang lalu, untuk mencari tahu tentang nasib di masa depan. Mulai dari urusan remeh temeh, kehidupan sosial, hingga urusan bisnis. Mulai dengan bermodal pengetahuan yang tak bisa dinalar, hingga berbagai metode peramalan modern dengan rumusan yang diciptakan manusia dengan segala keterbatasannya, misalnya business forecasting, ramalan epidemi, dan yang paling umum, adalah ramalan cuaca, yang terbukti bermanfaat bagi umat.

Hmh, diluar urusan yang bisa dilogika, tak pernah secuil pun saya ingin punya prophecy, dengan alasan untuk memperbaiki nasib, meski hanya untuk sekadar iseng, membaca ramalan zodiak misalnya. Untuk urusan kerja keras, saya sependapat dengan Ralph Shrader, saya tak perlu tahu masa depan sekarang, bahkan saya tak yakin seorang peramal pun tahu masa depannya sendiri dengan pasti.

Saya bersyukur bahwasanya manusia dianugerahi resilience, sehingga sebenarnya sudah ada daya dan sarana dari diri sendiri, untuk menghadapi, apapun yang dibawa oleh masa depan, dan hebatnya kemampuan ini bukan semata diturunkan, melainkan bisa diusahakan. Dalam pandangan saya, resilience adalah modal untuk mengatur nasib, dan menghindarkan manusia dari kesia-siaan: berpangku tangan menunggu takdir. Lihat betapa Tuhan sungguh fair pada kita.

Dan terakhir, ijinkan saya mengutip kalimat Ralph yang lain, untuk menutup tulisan ini:

I’m convinced we have more control over our destiny by not knowing it-as long as we strive for excellence and have the resilience to make the best of the way things turn out.

Cerah harimu!

Catatan:

Booz Allen telah di-split menjadi dua perusahaan: Booz Allen Hamilton’s dan Booz & Company’s

Booster!

Booster!

Yang mendebarkan sudah lewat. Apaan sih? Hari ini, saya melakukan presentasi achievement 2008 dan inisiatif progam tahun 2009, di kick off meeting perusahaan kami. Yang saya presentasikan hanya sebagian kecil dari seluruh progam yang akan dijalankan oleh perusahaan, tapi bukan berarti kontribusi yang kecil itu tak ada artinya. Nah, yang terpenting sekarang adalah, bagaimana mencapai goal dan Key Performance Indicator, KPI yang sudah di setting ini dengan baik dan kalau bisa, harus melampaui KPI yang sudah disetujui bersama.

Ini dia bagian terberatnya. Apalagi, satu tahun bukanlah periode yang singkat. Segala sesuatu bisa terjadi, anggota tim bisa mengalami demotivasi, kondisi keuangan global tengah mengalami tsunami yang nampaknya dahsyat, cash is the king, bank-bank kehilangan kepercayaan pada nasabah, pasar tak bisa diprediksi as usual, maka bisnis tak kan seperti biasa.

Tapi dibalik setiap krisis, selalu ada peluang. Di saat kondisi dunia bisnis seperti saat ini, ada peluang untuk melengkapi amunisi, saatnya untuk mengisi ulang “baterai”, belajar lagi, meninjau SOP dan sistem yang diterapkan agar lebih efisien, dan sebagainya. Inilah yang kami sebut dengan preparedness for upturn, ketika saatnya tiba, tinggal start dan lari kencang. Ya, ini hal yang biasa, standar yang dilakukan banyak perusahaan, dalam kondisi seperti sekarang. Jadi saya merasa enak saja ketika menuliskan hal ini, di sini.

Dan, satu hal lagi yang ingin saya bagi untuk anda adalah tayangan berikut ini, video: Are You Going to Finish Strong?, pidato seorang manusia besar. RUGI jika tak menonton. Maaf, tadinya ingin di-up load saja ke postingan ini, tapi ternyata sore ini saya jadi fakir bandwidth. Jadi inilah Booster bagi semua!Buzzzzz….



Blog Oh Blog

Blog Oh Blog

Besok, insha Allah saya bakal menghadapi hari yang mendebarkan (mohon doanya). Persiapan saya kurang sedikit, tapi di saat hectic dan kepepet begini, pikiran ini malah mengajak mengembara ke dunia maya. Membaca tulisan Mas Yari di Spektrumku, rasanya nyambung dengan uneg-uneg yang belum saya keluarkan, sejak membaca tulisan Bu Enny ini.

Apa sih gunanya Blog untuk saya? Coba simak komentar saya di Spektrumku (meski agak nggak nyambung dengan isi postingan tentang BOTD): Read the rest of this entry

Sekali-Sekali Bolehlah : Keluar dari Rutinitas

Sekali-Sekali Bolehlah : Keluar dari Rutinitas

Baru menyadari, selama ini saya demanding terhadap diri sendiri. Mind, body dan soul seluruhnya di-set untuk menghabiskan tiap detik dengan hal-hal yang berguna. Sayang, kalau sampai ada waktu yang disia-siakan untuk kegiatan yang tak penting, seperti jalan-jalan ke mall, tanpa tujuan yang jelas, bahkan kadang merasa rugi, menghabiskan waktu untuk tidur, jadi inginnya, kalau bisa, tidur sebentar saja tapi dengan kualitas yang baik. Picky banget sama diri sendiri ya, atau ada kata-kata yang lebih tepat?

Jadi tiga hari libur kemarin, jadi hari yang unik. Belajar untuk lebih lunak dan menenggang rasa, agar bisa memberikan waktu yang berkualitas untuk keluarga. Sejak hari jumat malam, saya rela melenyapkan semua rutinitas yang biasa dilakukan, tak membaca buku, tak menulis, tak terhubung internet, menggambar, melukis apa lagi. Situasi dan kondisi kebetulan mendukung, koneksi internet tak ada, begitu juga dengan waktu luang, jadi aman. Meski kemana-mana masih “sangu” buku, majalah, bahkan modem.

Ternyata, aneh rasanya!

Hari pertama, sampai terbangun dari tidur, dan merasa ada yang kurang, di jalan rasanya wagu, nggak lengkap dan merasa hari yang aneh. Hari kedua, saya terbangun, karena dorongan perasaan yang mengatakan, tak “memperoleh apa-apa”, dan hari ketiga, terjaga dengan hati tak nyaman, karena merasa menyia-nyiakan waktu, sampai mesti meyakinkan diri kalau waktu justru jadi lebih berharga, karena dimanfaatkan bersama orang tua.

Kapan lagi? Apalagi, kalau mengingat usia beliau berdua dan ada jarak yang membentang di antara kami, untuk bertemu secara fisik. Sementara umur manusia siapa yang tahu, siapa dulu yang akan habis “kontraknya”, yang muda barangkali harus pergi dulu, jika sudah demikian kapan lagi punya kesempatan memberikan waktu, salah satu perhiasan dunia yang berharga, untuk menjalin silahturahmi fisik-terus terang hal-hal seperti ini mendera pikiran saya belakangan ini. Read the rest of this entry

Tembok Penghalang

Tembok Penghalang

Kalau bisa protes, CD Last Lecture-nya Randy Pausch, pasti sudah teriak, muntab, nyaris muntah, karena diputar lagi, d i p u t a r l a g i, d-i-pu-t-a-r-l-a-g-i. Kalau ingin tahu, silahkan melihat di You Tube.

Dan yang sedang berputar-putar di kepala ini adalah mantra seorang manusia ikhlas, yang menginspirasi jutaan manusia:

Tembok penghalang berdiri di sana karena suatu alasan, bukan untuk menghalangi kita. Tembok itu ada untuk memberi kita kesempatan untuk menunjukkan sekuat apa kita menginginkan sesuatu.

Ide baik untuk memulai tahun ini, untuk merealisasikan mimpi-mimpi yang belum tercapai. Tembok penghalang bisa saja ditembus, asal memiliki kemauan yang kuat. Oh, please jangan menelan mentah-mentah kalimat ini, nikmati saja, pelan-pelan.

Satu lagi, tembok penghalang yang paling tak tertembus, terbuat dari daging, dan tembok itu ada di sana untuk orang-orang lain, yang tak terlalu menginginkan sesuatu.

;)

Seperti Apa Jodoh Anda?

Seperti Apa Jodoh Anda?

Words are the only jewel I possess

Words are the only food that sustain my life

Words are the only wealth I distribute among people

 Sant Tukaram

Kata-kata yang diikat dalam bentuk tulisan tak akan lekang mengikuti usia perawinya. Untaian kalimat itu, akan jadi legacy yang akan mewarnai pemikiran pembacanya dari berbagai kurun waktu, bahkan yang mungkin tak terbayangkan oleh penulisnya.

Penulis dan pembaca, buku, blog, dan berbagai media lain, semuanya menghirup atmosfer yang sama. Yang dijalin oleh satu hal yang sama, yaitu kata-kata. Pada saat menuliskan ini, dikepala saya langsung tervisualisasi, seorang manusia yang tengah berdiri, setengah limbung, dalam sebuah bola kosong, bulat sempurna yang dindingnya adalah kata-kata. Kubah itu berputar, berpendar, dalam setiap detik, kata-kata yang terbaca berganti-ganti. Hujan informasi yang membingungkan!

Begitu derasnya pergantian kata itu, hingga limbunglah sosok di dalam bola. Tak lama, seluruh kata-kata itu berbaris rapi, teratur, melesat cepat, di serap sebuah buku raksasa, lantas wajah manusia tadi jadi lebih sumringah dan cerah. Buku tadi telah menolongnya. Read the rest of this entry

Barangkali

Barangkali

Barangkali orang Indonesia lebih memilih menonton TV daripada mendengar radio atau membaca. Barangkali yang suka memilih menonton TV lebih dari 85%, barangkali prosentase sisanya mesti dibagi tak adil antara mendengarkan radio dan membaca, sebab dalam berkomunikasi orang cenderung untuk mendengar daripada membaca dan berbicara.

Barangkali pula, yang lebih memilih membaca tak sampai sepuluh persen. Kalau barangkali-barangkali tadi benar, bodoh-bodohan, saya simpulkan saja, ada orang yang dalam sehari belum tentu membaca, setidaknya koran apalagi sebuah buku, dan mungkin tak cuma sehari, setahun tanpa buku, bisa saja terjadi. Read the rest of this entry

Sekali Waktu

Sekali Waktu

Suatu ketika saya pernah tinggal di sebuah desa terpencil, di daerah berbukit kapur yang tebing kapurnya akan nampak sangat dramatis ketika tertimpa matahari sore. Tempat ideal untuk berburu foto. Di sana, angin kerap berhembus kencang, sehingga nampaknya lokasi yang tepat, untuk bermain layang-layang.

Desa yang saya tinggali satu dua bulan itu tergolong desa miskin yang tertinggal, entahlah kalau ternyata memang ditinggalkan dalam laju pembangunan. Saat itu jalanan desa yang sudah di aspal, saya perkirakan hanya sekitar 2%, selebihnya akan memanjakan anda yang menyukai tantangan berupa lintasan alami dengan kemiringan bervariasi, yang bisa menyebabkan tambalan gigi anda rontok. Nah, yang ini pengalaman salah satu teman, yang nekat mengendarai motor bebek cc kecil dengan gaya pembalap reli Paris – Dakkar.

Listrik yang halal belum ada, kecuali di rumah Kepala Desa, induk semang saya, yang memiliki sebuah genset sederhana, selebihnya sampai radius tertentu, listrik yang tersedia berasal dari desa tetangga yang lebih dekat dengan pusat kecamatan. Listrik itu disalurkan melalui jaringan kabel sederhana yang disanggah tiang-tiang bambu yang kecil, ringkih. Tentu saja faktor keamanan tak diperhitungkan. Hingga tak heran, baru beberapa hari tinggal di sana, ditemukan sesosok tubuh pria terbujur kaku tanpa nafas di samping sepeda onthel, dengan sebagian kabel menyentuh dirinya, dan satu jerigen kecil tuak di tangannya, tepat saat subuh.

Pagi-pagi, bahkan sebelum seluruh isi desa terbangun, dengan cepat seluruh kabel listrik yang mengular berkilo-kilo meter digulung, dalam sekejab tak nampak satu batang bambu pun, seolah pemandangan tiang listrik ala kadarnya, kemarin siang, hanya sebuah imajinasi belaka. Sungguh, patut diacungi jempol, mereka benar-benar mengejawantahkan peribahasa kuno, sepi ing pamrih, rame ing gawe, tapi secara literary, mereka beramai-ramai bekerja dalam diam.

Saya mendengar berita itu, ketika saya baru selesai sarapan. Saat itu, polisi telah usai menyelidiki tempat kejadian perkara, dan menarik kesimpulan sementara: pria malang itu meninggal karena serangan jantung. Sementara bolehlah, seluruh desa bernafas lega, lebih-lebih induk semang saya, yang paling bertanggungjawab atas listrik haram itu. Saat itu, matahari belum lagi beranjak jauh di langit, dan burung-burung juga baru berkicau. Benar-benar menakjubkan gotong royong dan kebungkaman seisi desa untuk masalah yang tak sepele ini. Read the rest of this entry

Dimanakah “Home Sweet Home” Berada?

Dimanakah “Home Sweet Home” Berada?

Betapa saya kerap tanpa sadar, menghindari menggunakan kata pulang. Tapi seperti kucing-kucingan, kata pulang justru sering menelikung dan menemukan saya, atau saya temukan tanpa saya kehendaki.

Dalam sebuah perjalanan beberapa bulan yang lalu, kata pulang dan pencarian tentang makna pulang, mengaduk-aduk isi hati Tanpa saya sadari dan tanpa sengaja, saya melewati satu per satu tempat yang memberikan  andil dalam perjalanan hidup saya, yang menghantarkan saya pada tempat dan waktu kini yang tengah saya jalani.

Apakah saya gamang, dengan beberapa kali perpindahan jasmani di atas bumi manusia ini? Meski perpindahan itu toh tak lestari dan dilakukan demi bertahan hidup dan tak dimaksud untuk membunuh waktu sama sekali.

Atau apakah saya gamang, karena saya benar-benar tak tahu dimana saya bisa diam menetap hingga akhir hayat? Sungguh jika anda bertanya seperti itu, saya akan terkelu. Jika pada akhirnya saya membuka mulut, saya hanya akan mengatakan, tak tahu, mana tahu, siapa yang tahu, karena saya tak pernah merencanakan dan tak tahu jika kemudian berada di tempat saya sekarang, sama gelapnya dengan ketidaktahuan saya dengan tempat persinggahan setelah ini.

Salahkah, jika pikiran saya senantiasa melihat diri ini selalu mengembara tiada henti untuk mencari tempat dimana makna itu tak lagi perlu dicari, cukup dirasa, dan sontak, pemahaman tentang pulang tercamkan oleh setiap sel, setiap atom dalam tubuh saya, hingga takluk tuntas tanpa berontak, dan tak perlu lagi menjawab pertanyaan dengan pertanyaan? Read the rest of this entry

Berbual-Bual di Jumat Siang

Berbual-Bual di Jumat Siang

Thanks God It’s Friday! Halah No Way kata saya, nggak berlaku. Sama saja dengan hari Senin, saya bisa bilang Thanks God It’s Monday! dengan perasaan sama leganya, seperti yang anda rasakan tiap Jumat. Setiap hari selalu berbeda dan asyik-asyik saja. Seperti hari ini, ketika akhirnya kesampaian juga keinginan saya dan seorang sahabat yang udah seperti saudara untuk berbual-bual, saat makan siang.

Berbual-bual? Pasti membayangkan kami saling berbalas kalimat konyol, saling membual, seperti diceritakan di Maryamah Karpov (buku paling “memaksa” yang pernah saya tahu)? Nggak begitu, kami bicara baik-baik, saling cerita, dan mengenang yang dulu, berbagi pengalaman dan suka duka, menceritakan harapan tentang masa depan, selaiknya kalian jika bertemu dengan sahabat atau saudara. Berbual itu menurut sobat saya adalah istilah yang biasa digunakannya untuk menyebut: berbincang santai. Cakap Melayu lah, katanya.

Ia memang orang Melayu. Saya dan dia baru kenal sekitar dua tahun lebih, tapi sudah akrab, bahkan beberapa kali saya hadir dalam acara keluarganya, kadang saya hadir sendirian sebagai “orang luar” di acaranya, hingga keluarga jauhnya mungkin menyangka saya keluarga jauh mereka juga. Mungkin oxytocin kami cocok satu sama lain, hehehe…

Ia, pribadinya yang menyenangkan. Humble, mandiri dan open mind, entah karena ia lama hidup di Perth, atau karena biasa bolak balik Medan-Malaysia-Singapura-Aceh sendiri sejak masih remaja, atau bisa jadi karena sejak SMP telah tinggal sendiri berlainan kota dengan orang tuanya yang bekerja di pertambangan.

Sudah dua minggu ini, kami berangan-angan untuk berbual-bual berdua, saya menawarkan saat makan siang, hari Jumat, tanpa berani memberi kepastian Jumat kapan, tanggal berapa bulan berapa. Pokoknya sebelum ia mengikuti suaminya yang teman saya juga (duluan suaminya yang jadi teman), pindah tugas ke Banjarmasin. Ia juga, tak memaksa dan meminta kepastian waktunya, hingga siang tadi, rasanya law of attraction yang bekerja, kami menemukan pantry kosong, tak ada orang di kantor dan sekali pandang kami tahu, waktunya berbual-bual. :D

Dua wanita yang berkumpul, bukan berarti hanya cekakak cekikik tak jelas, meski judulnya berbual, tak urung pembicaran jadi serius, seperti ketika membicarakan dilema yang dihadapi anak-anak rekan kerja yang sudah terbiasa tinggal di town site dari kecil.

Di kota tambang, biasanya hanya tersedia pendidikan dasar, ketika sampai jenjang pendidikan menengah, mau tak mau, anak-anak itu harus bersekolah di luar town site, bahkan jauh dari town site, karena tak ada sekolah menengah, apalagi perguruan tinggi yang bermutu di sekeliling, town site yang terletak di daerah terpencil itu. Mungkin dilema itu tak bakal terjadi kalau pemerintah bisa menyediakan sekolah yang mutunya sederajat dari Sabang sampai Merauke, dari kota besar hingga pedesaan.

Banyak anak-anak itu, yang awalnya baik-baik, menjadi tak baik, bisa dikatakan ada yang seperti burung lepas dari sangkar, ada pula yang seperti kelinci masuk sarang harimau. Berlebihankah?

Bisa anda bayangkan apa yang ada dibenak putra seorang teman yang sedari kecil terbiasa dengan kehidupan serba teratur, di kota-kota kecil yang dibuat perusahaan pertambangan ditengah belantara. Suatu hari ia dikirim orang tuanya untuk melanjutkan SMP di Bandung yang bukan Jakarta, bukan Surabaya, apalagi New York. Read the rest of this entry