Pernah mendengar tentang Timun Mas? Ya benar, cerita rakyat yang hidup turun temurun hingga kini. Saya yakin, masih banyak yang tahu, anak-anak Indonesia banyak yang tahu, orang dewasa dan malaikat juga tahu, sebab cerita ini sudah jadi cerita nasional, sudah tersedia dalam bentuk CD dan kaset, serta beredar di internet dalam beberapa bahasa. Kalau belum tahu, juga nggak apa-apa. Nggak akan bikin anda malu atau bahkan mati. Serius.
Cerita ini adalah cerita rakyat dari Jawa. Ada yang bilang dari Jawa Timur, ada yang menyebut dari Jawa Tengah, tapi saya belum pernah dengar Jawa Barat mengakuinya. Hanya kalau menurut Tan Soe Lin atau James Danandjaja, dalam bukunya tentang Folklor Indonesia, yang saya baca saat kuliah, dongeng ini berkembang dari sekitar Delta Sungai Brantas sekitar abad 11.
Baiklah untuk yang belum tahu, saya akan bercerita singkat. Begini ceritanya, once upon a time, pada suatu ketika, ada sepasang suami istri yang belum dikarunia anak, mereka berdoa siang dan malam memohon pada yang Kuasa. Suatu ketika lewatlah seorang raksasa yang merasa iba tapi pamrih. Ia memberi pasangan tersebut biji timun, dijanjikan seorang anak perempuan akan lahir, kelak, dari salah satu hasil panenan, namun ketika kelak anak tersebut berusia 17 tahun, ia harus diserahkan kembali pada si raksasa. Untuk apa? Yang jelas bukan untuk dijadikan Indonesian Idol, saya beri tahu ya, jaman dulu, para raksasa hobinya makan anak manusia.
Singkat cerita, apa yang dijanjikan terwujud. Si anak diberi nama Timun Mas, karena terlahir dari sebuah ketimun raksasa berwarna emas. Timun Mas tumbuh menjadi gadis yang cantik, baik budi, tidak sombong, hidup hemat dan sangat membanggakan orang tuanya, hari-hari mereka hangat dengan kasih sayang, pokoknya mereka menjalani kehidupan emas.
Tentu saja, sebenarnya kedua orang tua Timun Mas, menyimpan ketakutan, jika tiba masanya sang Raksasa menagih hutang janji masa lalu. Ketakutan itu mewujud, sang Raksasa menagih janji. Timun Mas melarikan diri berbekal kantong yang berisi benda-benda ajaib. Ketika Timun Mas, melempar garam, daratan berubah jadi laut, sekali lagi ia melempar sesuatu dari kantongnya, daratan berubah wujud jadi kebun buah, Raksasa sempat terhenti sejenak, lantas ia kembali mengejar. Sekali lagi Timun Mas terdesak, ia melempar terasi yang menyebabkan daratan menjadi lumpur panas, yang menenggelamkan Raksasa yang penuh nafsu itu.
##
Bagi sebagian orang, folklor tak bisa disepelekan begitu saja. Folklor bukan sekadar cerita pengantar minum teh dan cerita sebelum tidur untuk menghabisi waktu luang.
Folklor adalah jejak masa lalu, bisa jadi fakta yang direkam dalam fiksi, atau hanya sekadar dongeng simbah pada cucunya. Meski saya sering heran, mengapa nenek moyang kita senang sekali membumbui cerita, padahal sebenarnya ingin menyampaikan sebuah fakta. Entah fakta tentang kehidupan masyarakat, tata negara, hingga jejak geologis yang terjadi dimasa lampau.
Setidaknya bagi geolog, dongeng semacam timun mas bukan tak berarti sesuatu. Ini adalah rekaman yang memberi petunjuk rekam geologis suatu daerah, bahkan mungkin memperkuatnya jika secara ilmiah terbukti. Bisa jadi dongeng ini memperkuat dugaan bahwa dulu di sekitar Delta Brantas, yang kira-kira berada di daerah Porong dan sekitarnya (termasuk sekitar Sidoarjo) pernah mengalami bencana serupa. Lumpur panas yang menenggelamkan raksasa bisa jadi adalah petunjuk gejala mud vulcano serupa kondisi di Sidoarjo saat ini.
Tentu saja, ini cuma terka menerka yang mesti dibuktikan secara ilmiah. Namun saya ingin, dengan dongeng ini, saya tak pernah lupa: Timun Mas-Timun Mas telah mengungsi, daratan telah jadi lautan lumpur, Timun Mas-Timun Mas telah lelah dan berteriak SOS, hei! Anda dengar?
Ugh, betapa kuatnya raksasa modern ini!
waaaaaaaaaaaaaaaah… cerita ini pernah saya dengar dari ibu guru SD kelas 1 saya… ceritanya sangat seruuuuuuuuuuuuuuuuu…..
Klo versi ibu guru saya: pertama itu, benda2 yg ditebarkan jadi kebun cabe… (raksasa kepedesan… tapi akhirnya bisa lewat). Kedua, benda yg ditebarkan jadi hutan bambu… (tapi lagi2 raksasa masih bisa lewat dengan bersusah payah…) Nah, baru yang ketiga, jadi lautan… sang raksasa tenggelam…
Versinya memang banyak. Ada yang mengatakan kebun buah, ada yang lebih spesifik mengatakan kebun timun, dan versi yang kamu dapat, malah kebun cabe.
Yoga….dongeng timun emas ini diceritakan turun temurun.
Dan kemudian setelah kasus lumpur Lapindo, maka dongeng timun emas ini diceritakan kembali oleh mas Rovicky (saya pernah baca postingannya di Dongeng Geologi, sekitar akhir tahun 2006 kalau tak 2007), karena kebetulan lumpur ini juga melanda desa Siring, yaitu desanya mbok Rondo Dadapan (ibu angkat timun emas)..mas Rovicky sangat ahli mengkaitkan cerita timun emas ini dengan masalah geologi.
Saya tak punya latar belakang geologi, namun sejak SD telah didengung-dengungkan bahwa delta Brantas (antara Kali Mas dan Kali Porong, yang sekarang terletak kota Sidoarjo), adalah delta yang subur…mungkin aja dulunya juga berasal dari endapan dua sungai yang bercabang menjadi dua tsb.
Ibu, terima kasih atas tambahan informasinya. Dengan demikian reka-mereka yang saya lakukan, ternyata ada benarnya.
Saya sudah lupa, nama orang tua Timun Mas, dan banyak versi memang. Ada yang menceritakan orang tuanya sepasang suami istri, ada yang bilang seorang Janda. Begitu juga, dengan urutan antara kebuh buah dan laut, mana duluan. Tapi saya ambil inti ceritanya saja, untuk menunjukkan kesulitan yang masih terjadi di Sidoarjo. Para warga yang mengungsi saya ibaratkan adalah Timun Mas-Timun Mas yang sedang menghadapi Raksasa.
##
Saya juga tak belajar geologi betulan, dulu pernah ambil dua sks, tapi berupa kuliah dasar, hanya saya yakin, cerita rakyat, bahkan lagu seperti Bengawan Solo, erat kaitannya dengan fakta yang pernah terjadi di masyarakat. Dongeng Sangkuriang misalnya, mungkin menurut geolog dikaitkan dengan pembentukan gunung Tangkubanprahu dan kondisi alam di Bandung, yang dulunya, antara 160 ribu sampai 16 ribu tahun silam, adalah sebuah danau raksasa. Katanya, jejak geologis di bandung dan sekitarnya telah membuktikan cerita Sangkuriang.
Yoga,
Akhirnya ketemu…coba baca ini
http://rovicky.wordpress.com/2006/09/21/
dongeng-timun-emas-dan-lusi/
Terimakasih Bu, link ini melengkapi tulisan saya.
*segera meluncur ke TKP*
wah rupanya ada yang berubah menjadi lumpur ya?
lupa saya cerita aslinya bagaimana
Mbak Imel, cerita aslinya mungkin sulit dilacak karena cerita ini beredar turun temurun sejak ratusan atau bahkan ribuan tahun yang lalu. Namun intinya kira-kira seperti yang saya tulis di ats.
HHmmm …
Timun Mas … (mencoba mengingat-ingat)
Ada garam … ada jarum … ada terasi …
yang jarum itu berubah menjadi hutan belukar penuh onak berduri … sehingga raksasa terhambat …
But …
Membaca alinea terakhir … aku diam … gak bisa ngomong …
Hehehehe… kenapa Pak? Bapak ketemu sama Raksasanya?
Bagus foklore-nya …
)
BTW, kerupuk putih atasna di kasih nasi, trus makan dengan timun. Sluuurp (makanan jaman doeloe
yang lapar..yang lapar hehehehe…
Baru tau ada cerita kek gini…
Makasi seringnya yoga…
BTW kenapa namanya Timun Mas bukan Mas Timun (ngasal.com)
ya, aku juga pernah mendengar cerita itu dari seorang perempuan yang paling aku kagumi…ibuku ! Biasanya sembari menginjak-injak badannya yang pegal lantaran seharian bekerja (gratis) untuk suami dan anak-anaknya, aku mendapat hadiah dongeng-dongeng indah. Selain cerita serial kancil, juga timun mas. Mulanya, aku anggap itu cerita hiburan saja. Ternyata, hingga sekarang aku masih terus mengingatnya, meski ada detail-detail yang terlupa. Bahkan, aku telah menceritakan ulang pada kedua anakku, cowok n cewek. Seperti aku, anakku yang pertama (cowok) tak benyak komentar, tapi tetap suka mendengarnya. Sementara yang cewek, serius dan banyak melontarkan komentar. Katanya, kenapa bumbu dapur yang diberikan ibu timun mas, bisa menjadi senjata ampuh yang bisa melumpuhkan sang raksasa. Aku jawab sekenanya,”ya orang dulu memang sakti-sakti.” Dia tak puas dengan jawabanku. Dengan gayanya yang sok tahu, dia katakan, bahwa bumbu dapur itu menjadi ampuh karena doa sang ibu yang sangat mencintai anaknya. Ha…aku hanya bisa mengusap rambutnya. “kamu koq pinter nduk?” Ternyata, pesan ibuku, baru aku mengerti, lewat celetukan anakku. Terima kasih ibu, terima kasih anakku, juga istriku tentu. Cinta memang bisa mengubah segalanya. Salam Cinta untuk Semua. Maaf ngelantur.