Atas nama kepuasan pelanggan dan keselamatan kerja, maka kerap kali saya menjumpai program-progam dengan tag, 1.000 hours services without failures atau, misalnya 5.000 jam tanpa kecelakaan kerja, bahkan tiap kelipatan seribu, atau lima ribu, selalu akan dimaknai secara khusus. Misalnya dengan membagikan bonus intrinsik atau sekedar plakat dan berbagai simbol penghargaan lain.
Bisa dibayangkan betapa beratnya usaha yang dibutuhkan agar bisa mencapai 1.000 jam kerja tanpa kesalahan sedikit pun, apalagi jika jenis usahanya pengiriman barang yang kerap terkendala masalah transportasi, ketepatan waktu, ketidakjelasan data pelanggan dan sebagainya, atau usaha dan persistensi yang diperlukan agar bisa mencapai 10.000 jam kerja tanpa kecelakaan sedikit pun di sebuah perusahaan pertambangan, yang rentan dengan masalah-masalah SHE.
Kesalahan setitik apa pun, akan menyebabkan timer di-reset ulang mulai dari nol. Tentu saja ini contoh yang paling nyata untuk merawikan rusak susu sebelanga, gara-gara nila setitik. Hebatnya progam-progam ini tak melibatkan hanya satu-dua orang, penilaian 1.000 jam pelayan tanpa cela, adalah melibatkan satu divisi yang terdiri dari beberapa departemen. Penilaian 5.000 jam kerja tanpa kecelakaan adalah melibatkan satu cabang, yang tentu saja jauh lebih banyak kepala yang terlibat.
Keberhasilan-keberhasilan itu, saya amati tak terlepas dari kesadaran penuh, masing-masing anggota tim untuk bersungguh-sungguh mengikuti progam tersebut dengan baik. Motivasi intriksik maupun ekstrinsik, ternyata bukan faktor dominan. Pun dengan kebanggaan berupa kemenangan ternyata bukanlah faktor utama, mesti tak dipungkiri, pada awalnya faktor-faktor itu penggugah semangat peserta. Adalah kesadaran untuk kembali dengan selamat pada keluarga yang lebih dominan, bagi peserta 5.000 jam tanpa kecelakaan kerja, dan loyalitas konsumen ditengah persaingan dengan perusahaan pesaing yang menjadi alasan kuat progam 1.000 jam tanpa kesalahan.
Pada awalnya, pasti akan sulit. Sulit untuk berhati-hati dan menyesuaikan diri dengan tag tersebut, tapi sejalan dengan waktu, dengan peraturan yang jelas dan konsisten, serta kekompakan tim, maka lama-lama perasaan terlibat akan tumbuh dengan baik, yang pada ujungnya akan menumbuhkan rasa kebersamaan dan rasa memiliki yang setara untuk merebut tujuan akhir.
Seiring dengan bertambahnya waktu, dan kesadaran yang menyala-nyala, maka anggota tim akan lebih hati-hati dalam menjalankan fungsi dan peranannya masing-masing, untuk meraih tujuan yang telah ditargetkan.
Nah, sekarang terpikirkah untuk menerapkan tujuan-tujuan serupa untuk kehidupan pribadi? Tak perlu yang muluk-muluk, misalnya 100 jam tanpa berdusta, atau misalnya 1 minggu tanpa tembakau – ah lebih enak pakai satuan jam, karena membuatnya tak terasa mengintimidasi, atau 1.000 jam untuk menurunkan 5 kg berat badan, atau 500 jam tak meninggalkan sholat, misalnya.
Oprah Winfrey, dalam salah satu pertunjukannya, pernah memberitahu pemirsa, satu rahasia kecil. Katanya, berubah memang sulit, tapi jika berhasil mempertahankan perubahan itu 21 hari berturut-turut, dengan konsisten, maka anda akan mulai terbiasa dan tujuan akan makin dekat. Oh ya, 21 hari itu setara dengan 504 jam. Masih lebih lama 1.000 jam, kan?
Benar Yoga, standar itu memang perlu, juga kesadaran masing-masing orang dalam proses untuk mencapai tujuan. Kebijakan yang muluk-muluk, tanpa melihat prosesnya tak ada gunanya, nanti orang hanya mengejar target, dan berusaha menutupi bolongnya. Bagi pimpinan adalah bagaimana menggerakkan semua orang dibawahnya, menyadarikan betapapun kecilnya andil mereka, tapi mereka berperan penting dalam proses penyelesaian pekerjaan, untuk mencapai target tertentu.
Dalam hal pribadi, tanpa komitmen dan motivasi pada diri sendiri, maka banyak waktu terbuang sia-sia. Saya merasakan sendiri, betapa nyamannya jika masih masuk dalam aturan main dalam perusahaan, jam sekian masuk dan mulai bekerja…maka produktivitas tinggi.
Bekerja secara free lance, tanpa disiplin tinggi, apalagi sebagian besar dikerjakan di rumah, maka kepuasan pelanggan benar-benar ditentukan oleh diri kita sendiri. Jadi, saya tetap punya jadual kerja di rumah, dari mulai bangun pagi, mandi, makan dan mulai kerja….kecuali Sabtu Minggu atau hari libur.
Awalnya berat, tapi ternyata sekarang nyaman, si mbak juga sudah tahu, jika saya sudah di depan kompie, di ruang kerja (hahaha…sekarang punya ruang kerja, karena si sulung sudah ke luar rumah), maka tak bisa diganggu….dan ada target jam sekian ngapain…
pokoknya kayak jadual ngajar deh. Jadi ingat si bungsu, kalau lihat YM nya pengin ketawa…tulisnya..beresin kompie, jam 3 mulai belajar..hahaha)
Komentar Ibu melengkapi tulisan saya nih. Benar Bu, seorang free lancer ya Bu, mesti lebih ketat dalam berdisiplin dan memenuhi perencanaan yang sudah dibuat sendiri. Ya, saya sependapat dengan Ibu.
Layanan antar makan siang di kota2 besar India pernah dianugerahi Sigma Six karena tidak pernah melakukan kesalahan dalam sekian juta transaksi. hebat ya ?
Bisa terbayang kehebatannya, mendapat six sigma level berarti kesalahan yang dilakukan mendekati nol! 3.4 kesalahan per sejuta transaksi, menunjukkan kualitas layanan antar tersebut adalah world class! Great!
1.000 jam untuk menurunkan 5 kg berat badan,
atau
24 jam tidak buka komputer dan internet
hmmm susah deh kayaknya buat aku heheheh
Mau taruhan goy?
EM
Boleh, taruhan yang mana nih?
Kupikir usaha-usaha seperti itu memang semakin menunjukkan betapa sisi terlemah manusia sebenarnya memang inkonsistensi!
Itulah musuh terutama kemajuan (tentu untuk bentuk konsistensi yang baik ya) melebihi kebodohan itu sendiri.
Tapi penjagaan terhadap konsistensi itu sendiri juga pada akhirnya akan kecolongan karena pada akhirnya semua akan mennuju pada kemunduran.
Begitu barangkali…
Mungkin kemunduran yang dimaksud adalah ketika kita jadi terjebak pada rutinitas dan tidak lagi berinisiatif untuk melakukan breakthrough?
gud…gud…gud !!!!!