Thanks God It’s Friday! Halah No Way kata saya, nggak berlaku. Sama saja dengan hari Senin, saya bisa bilang Thanks God It’s Monday! dengan perasaan sama leganya, seperti yang anda rasakan tiap Jumat. Setiap hari selalu berbeda dan asyik-asyik saja. Seperti hari ini, ketika akhirnya kesampaian juga keinginan saya dan seorang sahabat yang udah seperti saudara untuk berbual-bual, saat makan siang.
Berbual-bual? Pasti membayangkan kami saling berbalas kalimat konyol, saling membual, seperti diceritakan di Maryamah Karpov (buku paling “memaksa” yang pernah saya tahu)? Nggak begitu, kami bicara baik-baik, saling cerita, dan mengenang yang dulu, berbagi pengalaman dan suka duka, menceritakan harapan tentang masa depan, selaiknya kalian jika bertemu dengan sahabat atau saudara. Berbual itu menurut sobat saya adalah istilah yang biasa digunakannya untuk menyebut: berbincang santai. Cakap Melayu lah, katanya.
Ia memang orang Melayu. Saya dan dia baru kenal sekitar dua tahun lebih, tapi sudah akrab, bahkan beberapa kali saya hadir dalam acara keluarganya, kadang saya hadir sendirian sebagai “orang luar” di acaranya, hingga keluarga jauhnya mungkin menyangka saya keluarga jauh mereka juga. Mungkin oxytocin kami cocok satu sama lain, hehehe…
Ia, pribadinya yang menyenangkan. Humble, mandiri dan open mind, entah karena ia lama hidup di Perth, atau karena biasa bolak balik Medan-Malaysia-Singapura-Aceh sendiri sejak masih remaja, atau bisa jadi karena sejak SMP telah tinggal sendiri berlainan kota dengan orang tuanya yang bekerja di pertambangan.
Sudah dua minggu ini, kami berangan-angan untuk berbual-bual berdua, saya menawarkan saat makan siang, hari Jumat, tanpa berani memberi kepastian Jumat kapan, tanggal berapa bulan berapa. Pokoknya sebelum ia mengikuti suaminya yang teman saya juga (duluan suaminya yang jadi teman), pindah tugas ke Banjarmasin. Ia juga, tak memaksa dan meminta kepastian waktunya, hingga siang tadi, rasanya law of attraction yang bekerja, kami menemukan pantry kosong, tak ada orang di kantor dan sekali pandang kami tahu, waktunya berbual-bual.
Dua wanita yang berkumpul, bukan berarti hanya cekakak cekikik tak jelas, meski judulnya berbual, tak urung pembicaran jadi serius, seperti ketika membicarakan dilema yang dihadapi anak-anak rekan kerja yang sudah terbiasa tinggal di town site dari kecil.
Di kota tambang, biasanya hanya tersedia pendidikan dasar, ketika sampai jenjang pendidikan menengah, mau tak mau, anak-anak itu harus bersekolah di luar town site, bahkan jauh dari town site, karena tak ada sekolah menengah, apalagi perguruan tinggi yang bermutu di sekeliling, town site yang terletak di daerah terpencil itu. Mungkin dilema itu tak bakal terjadi kalau pemerintah bisa menyediakan sekolah yang mutunya sederajat dari Sabang sampai Merauke, dari kota besar hingga pedesaan.
Banyak anak-anak itu, yang awalnya baik-baik, menjadi tak baik, bisa dikatakan ada yang seperti burung lepas dari sangkar, ada pula yang seperti kelinci masuk sarang harimau. Berlebihankah?
Bisa anda bayangkan apa yang ada dibenak putra seorang teman yang sedari kecil terbiasa dengan kehidupan serba teratur, di kota-kota kecil yang dibuat perusahaan pertambangan ditengah belantara. Suatu hari ia dikirim orang tuanya untuk melanjutkan SMP di Bandung yang bukan Jakarta, bukan Surabaya, apalagi New York.
Hari pertama, ia menghabiskan satu jam dipinggir jalan. Terkelu berkeringat tak bisa menyeberang jalan, stress lah, karena tak pernah ada kejadian seperti ini di tempat asalnya. Counselling yang dilakukan saat pre-departure ternyata tak mengajarkan tentang kesemrawutan rimba belantara kota tujuannya, dan orang tua tak menduga sama sekali karena sehari-hari ia nampak seperti bocah laki-laki yang gagah dan tangguh.
Belum lagi, banyak diantara anak-anak ini yang rawan terpengaruh hal-hal negatif seperti narkoba, karena lepas kendali, jauh dari pengawasan orang tua, ini yang saya sebut bagi burung lepas dari sangkar.
Dan akan lebih complicated, kalau si anak mengalami gangguan psikis seperti salah satu murid saya dulu, yang stress karena tiba-tiba dicabut dari akarnya yang nyaman, dari orang tua, saudara-saudara, dan sahabat masa kecil, kemudian tiba-tiba hidup bersama neneknya, di kota asing, meski kota itu asal Ibunya.
Ia jadi pendiam, prestasi akademisnya melorot drastis, sejak ia pindah, SMP, sampai kuliah tak pernah breprestasi lagi seperti saat masih tinggal dengan orang tua. Ia jadi pemalas dalam melakukan apa saja, dan sulit menangkap pelajaran, jadinya saya ketularan stress, tapi hebatnya ia berani menikah duluan dibanding mantan gurunya ini.
Teman saya ini, saat SD tinggal di town site, tepatnya di Arun. Jadi ia paham betul dengan cerita saya. Ia melengkapi umpan yang saya beri, dengan menceritakan betapa kagoknya ketika para penghuni town site ini kembali ke kehidupan normal kota biasa. Urusan kenyamanan, kemanan lingkungan tempat tinggal, lalu lintas dan pengeluaran yang tiba-tiba membengkak, bikin kaget. Apa-apa mesti bayar, keluh mereka yang terbiasa menerima segala fasilitas gratis dari perusahaan. Mulai dari sekolah gratis, nonton gratis, kendaraan, dokter siaga 24 jam, gratis untuk seluruh keluarga, sampai hebatnya dulu di kantor ayahnya ada pembagian coklat Snicker tiap hari. O la la, betul-betul nyaman kan.
Dan dari satu town site ke town site yang lain, dari Balikpapan, Duri, Arun dan sebagainya ada satu hal sama yang saya dengar. Teman-teman saya mantan anak kecil penghuni town site itu punya kenangan yang sama tentang betapa “dashyatnya” burger di town site, yang terbaik di Indonesia yang pernah mereka rasakan, dengan ketebalan burger yang luar biasa. Hmm… bagaimana saya tak ngiler jadinya.
Saya berharap, anak-anaknya kelak tak mengalami syndrome town site, seperti banyak contoh, yang sudah-sudah. Saya yakin teman saya akan mampu mengatasi ini dengan belajar dari pengalaman teman-temannya dan belajar dari pola pendidikan yang ditanamkan kedua orang tuanya.
Akhirnya siang tadi obrolan diakhiri dengan pembicaraan ringan, tentang salah satu sepupunya yang saya amati selalu berkaos kaki ketika ketemu, ternyata menurutnya, sepupunya memang punya kebiasaan tak biasa: tak bisa melepas kaos kaki barang sedetik, kecuali ketika mandi. Dan kebiasaannya itu berlangsung dari kecil, hingga ia sudah dewasa seperti sekarang. Jadi kemana-mana hobinya membeli kaos kaki. Ah, ada-ada saja.
Sama halnya dengan SBY. Lha kok SBY dibawa-bawa? Iya, habis ketika saya baru saja duduk, membaca layar komputer, satu rekan dari Procurement datang dan memberi saya buku: Harus Bisa! Seni Memimpin a la SBY. Catatan Harian Dr. Dino Patti Djalal, terbitan R&W. Katanya, semua perusahaan di Indonesia dikirimi gratis, dan Jakarta termasuk yang terakhir.
Hayoo, ada udang dibalik rempeyekkah?
##
Ternyata udangnya adalah Modernisator yang mengaku sebagai lembaga nirlaba dan non politis. Salah satu pelopornya adalah Nicholas Saputra
ih jadi kelilipan hehehe…. Mari kita jabani situs si Udang di www.modernisator.org
lha? kok ada nikolas saputra segala si mba..
Ceritamu mestinya tak stop disitu…gara2 ada Nicholas Saputro (hehehe dulu si bungsu pengin ke UI hanya supaya tiap hari biar bisa lihat NS…untung ga jadi).
Saya ingat cerita sahabat suami, yang isterinya jadi sekretaris dan sang suami kerja di pertambangan. Saat anak pertama kelas 3 SMP, isteri berhenti kerja, memutuskan pindah ke Bandung (padahal udah punya rumah di Balikpapan)….mengontrak rumah sempit, dan isteri berhenti kerja. Tanpa pembantu, anaknya dilatih naik angkot, tiap hari ditemani ke sekolah. Akhirnya mereka beli tanah dan membangun rumah di Bandung. Kerja keras mereka berbuah manis, karena kedua putranya diterima di ITB, dan aktif di organisasi. Ayahnya pensiun dini, dan sekarang jadi profesional di perusahaan minyak di kantor pusat jl. Gatot Subroto. Semua demi kedua putranya.
Tapi ada contoh lain, teman si bungsu, ayahnya kerja di Duri (Pertambangan), anak-anaknya berhasil semua, malah teman si bungsu lulus cumlaude dari Elektro ITB, pernah dikirim ke Jepang, dan sekarang kerja di Duri juga, karena menurutnya Jakarta dan Bandung terlalu rame, dia ingin anak-anaknya mengalami masa seperti masa kecilnya.
Kasus ini tak hanya terjadi di Pertambangan, temanku yang kerja di Bank mengeluh, anaknya steril (maksudnya tak senakal dia dulu), walau anaknya baik-baik saja, telah lulus kuliah dan bekerja. Jadi, pasti bekerja dimanapun ada problemnya, nahh bagaimana cara mengatasinya? Itu tugas dan tanggung jawab kita sebagai orangtua. Jadi, siapa bilang punya anak itu mudah???
Loh kapan dia ganti nama ke Nicholas Saputro…
Membual itu bukan berbohong yah?
Bisa ga sih kita masuk ke Town Site gitu? Jadi inget Laskar Pelangi….
betuuul sekali kata bu edratna, siapa bilang punya anak itu mudah?? lebih tepatnya mengurus dan membimbing anak itu tidak mudah. dan hasil bimbingan kita sebagai ortu ini berhasil atau tidak baru terlihat sesudah anak2 nyemplung di kehidupan bermasyarakat. naah kan bukannya itu proses yang panjang dan tanpa henti?? bukan hanya sebulan dua bulan saja. salam
Konstruksi tulisanmu makin lama makin menarik, Yog.
Aku suka caramu memilih kata-kata dan menyusun runut…
Menarik.
Dan, ah, ternyata setelah aku membaca tulisanmu aku jadi merasa tidak sendirian menjadi orang yang menilai bahwa Maryamah (dan sebetulnya tiga buku sebelumnya) itu “maksa”…
Hehehehe!
ini seperti cerita pendekar turun gunung, sampai di kota jadi bingung. ah tidak tepat! mungkin begini seperti dewa dewi turun ke bumi. ah rasanya kurang tepat juga.
Anyway, saya belum banyak pengalaman soal anak, zia baru 5 tahun. Tapi kadang saya juga berpikir, kalau kondisi sekarang saja sudah seperti ini, rasanya perlu ekstra usaha untuk membesarkan Zia.
@DV
Ntar dilempar sandal bagi pencinta AH lho….dan syukurlah saya bukan pengagum AH (mungkin saya lebih suka pada tulisan berdasarkan riset, bukan tulisan yang meng-ombang ambingkan perasaan pembaca…, dan juga yang bahasa hiperbolanya tinggi begitu, atau karena terlalu sering berpikir realistis ya…hehehe
@ Yoga
Thanks …yang betul memang Nicholas Saputra
Jadi ingat si bungsu saat SMA, yang terpesona sama si Niko. Dan saat si Niko jadi bintang iklan, dari salah satu produk Bank tempat saya kerja, dia mau datang ke acara kantor dengan harapan ketemu…hehehe ternyata tak berhasil….hahaha
@ Yoga
Maksudnya oleh pencinta AH…bukan bagi pencinta AH.
Memang benar, kehidupan yang ‘terlalu teratur’ atau ‘terlalu sempurna’ ada kalanya kurang baik bagi perkembangan kepribadian anak, karena anak lalu tidak terlatih untuk mengatasi kesulitan dan tantangan.
Saya jadi ingat puisi/doa Jenderal Mac Arthur bagi anaknya, dimana pada intinya ia memohon kepada Tuhan agar “bukan memudahkan jalan bagi anaknya, tetapi memberikan kekuatan kepada anaknya agar dapat melalui jalan yang penuh rintangan”.
hmmm
meskipun saya tidak pernah ke daerah… saya tinggal di kompleks pertambangan dengan segala fasilitasnya juga. Sehingga waktu fasilitas itu dihentikan, agak kagok juga kami. Anak-anak juga terbiasa bermain dengan anak-anak sekompleks saja. Mungkin seperti anak kolong ya? hhehehe
EM
Berbual = Membual ?
sepertinya tidak …
But … ujungnya kok gitu ya Yo … ?
Ada apa nih
hihihihiiih …
Hai…sepertinya lingkungan yang kamu tulis itu akrab banget di telingaku (ehem, tahu kan maksudku).
Tapi anak2 yang hidup di town site punya kemandirian yang bagus, jauh dari hingar bingar dan pengaruh lingkungan hedonisme, bahkan jika dalam lokasi townsite itu homogen, artinya anak2 yang tinggal disana punya daya saing yang bagus juga. Apalagi jika fasilitas disana cukup.
Kalo fenomena anak yang lepas dari sangkar mah bukan milik anak2 town site aja. Anak2 yang pada masa kuliahnya tiba2 harus kos ( deuuu jadi inget masa kos2an dulu), pasti mengalami syndroma itu. Kembali lagi kepada bekal orang tua dan pegangan agamanya. Musti harus kuat