Dimanakah “Home Sweet Home” Berada?

Dimanakah “Home Sweet Home” Berada?

Betapa saya kerap tanpa sadar, menghindari menggunakan kata pulang. Tapi seperti kucing-kucingan, kata pulang justru sering menelikung dan menemukan saya, atau saya temukan tanpa saya kehendaki.

Dalam sebuah perjalanan beberapa bulan yang lalu, kata pulang dan pencarian tentang makna pulang, mengaduk-aduk isi hati Tanpa saya sadari dan tanpa sengaja, saya melewati satu per satu tempat yang memberikan  andil dalam perjalanan hidup saya, yang menghantarkan saya pada tempat dan waktu kini yang tengah saya jalani.

Apakah saya gamang, dengan beberapa kali perpindahan jasmani di atas bumi manusia ini? Meski perpindahan itu toh tak lestari dan dilakukan demi bertahan hidup dan tak dimaksud untuk membunuh waktu sama sekali.

Atau apakah saya gamang, karena saya benar-benar tak tahu dimana saya bisa diam menetap hingga akhir hayat? Sungguh jika anda bertanya seperti itu, saya akan terkelu. Jika pada akhirnya saya membuka mulut, saya hanya akan mengatakan, tak tahu, mana tahu, siapa yang tahu, karena saya tak pernah merencanakan dan tak tahu jika kemudian berada di tempat saya sekarang, sama gelapnya dengan ketidaktahuan saya dengan tempat persinggahan setelah ini.

Salahkah, jika pikiran saya senantiasa melihat diri ini selalu mengembara tiada henti untuk mencari tempat dimana makna itu tak lagi perlu dicari, cukup dirasa, dan sontak, pemahaman tentang pulang tercamkan oleh setiap sel, setiap atom dalam tubuh saya, hingga takluk tuntas tanpa berontak, dan tak perlu lagi menjawab pertanyaan dengan pertanyaan?

Ditengah kegalauan itu, radio mobil yang menemani perjalanan saya, memancarkan suara Gde Prama yang teduh dan halus, memberi wejangan bijak tentang makna pulang. Pulang adalah ketika semua perjalanan berhenti di suatu tempat yang langitnya, jendelanya, dinding-dindingnya, pintunya adalah kesabaran. Katanya, “Hai travelers berhentilah.”

Apakah benar demikian? Dimanakah tempat itu di atas bumi manusia ini? Berapa juta kilometer yang harus ditempuh untuk mencapainya? Ataukah saya hanya perlu diam dan melakukan perjalanan yang terberat yang disampaikan mbak Imelda, yaitu perjalanan ke dalam hati sendiri? Mungkin itu jawabnya.

Meski demikian, saat ini cukup saya teguhkan satu makna kata pulang, di dalam hati, yaitu ketika saya berhasil menemuiNya, setelah perjalanan panjang menuju Ia yang kerap saya rindukan dalam diam, dalam gerak, dikeramaian, dikesunyian, dan nyata sekali disaat kesepian melanda. Pada saat itu, seluruh energi yang di dunia fana ini dikenal sebagai entitas bernama saya akan berdamai dan takluk. Usai sudah.

Betapa hidup ini sebenarnya tak selalu ramah, dan bumi manusia ini bukanlah surga yang memberi kemudahan untuk mencapai tujuan-tujuan yang terbaik.

12 Responses »

  1. pulang sejatinya adalah kembali padaNYA.
    namun pulang dalam keseharian adalah bertemu Zia dan Emaknya, pun sekali waktu menengok ibu.
    Home Sweet Home, sooner or later it will come.
    Salam hangat dari “the cahyo’s” <— sy jadi suka kata ini, sy pake yah? :)


    Yoga:
    Silahkan saja pakai The Cahyo’s, tanpa royalti hehehe…

  2. Pulang adalah ke suatu tempat dimana saya bisa bermanja-manja, tidur bergulingan, makan sambil membaca, tanpa merasa malu atau harus merasa harus berhias dulu.
    Home sweet home memang harus dibuat, bagaimana agar kita yang udah lelah punya tempat untuk pulang. Home sweet home, orang yang satu berbeda dengan lainnya.

    Rasanya tenang dan nyaman, jika sudah semua selesai, bergelung di tempat tidur, sambil mendengarkan musik dan menikmati membaca. Dan tak tahu kapan mulai tertidur…sesederhana iulah arti pulang bagiku.

    Tentu pulang dalam arti untuk mendapat ketenangan, hanya jika kembali kepada Nya, seperti kata bung Mascayo di atas.


    Yoga:
    Sungguh beruntung, hidup Ibu sederhana dan bahagia.

  3. Kalau saya menganggap “rumah” bukan ke fisiknya tapi ke isinya. Buat saya rumah adalah kumpulan orang yang saya kasihi. Terutama orang tua. Saya masih menganggap Jakarta sebagai rumah saya karena ada orang tua saya. Misalnya tidak ada? mungkin saya tidak akan pulang lagi. Jadi seandainya orang tua saya pindah ke makassar (pernah ada rencana itu) saya akan menganggap makasar itu rumah saya juga.

    Tapi di lain pihak, keluarga saya sendiri adalah rumah saya. Untuk sementara saya bisa membawa Kai dan Riku bersama saya kemana-mana. Selama mereka ada, mungkin saya bisa nomadis. Tapi akhirnya saya akan pulang kembali ke suami saya.

    Dan satu lagi Yug… seandainya saya harus pulang, saya harus merasa bahwa ada seseorang yang menanti saya di situ. Dan saya yakin bahwa sesendiri saya kelak, saya akan pulang ke tempat Nya. Di dunia dan akhirat. Karena itu saya merasa gereja juga rumah saya, meskipun akhir-akhir ini saya jarang pulang ke sana.

    home is in your heart.
    salam sama Ibu ya Yug…

    EM
    (yang sedang merindukan pijitan Yu Tum)


    Yoga:

    Membaca ini, aku tersentuh. Ada seseorang yang menanti…
    ##
    Terima kasih mbak, salamnya insha Allah akan kusampaikan. Sudah sehatkah?

  4. aku share lagi ya Yug…

    Suatu waktu aku baru kembali dari Jakarta (belum menikah). Dari Narita aku naik limousine bus menuju rumah (waktu itu masih di Meguro) Dan waktu itu bunga sakura sedang bermekaran. Aku menikmati pemandangan di sepanjang jalan dan saat itu aku tahu… this is also my home. my second homeland. Dan begitu sampai di stasiun dekat rumah, aku langsung makan Udon (bakmi Jepang) yang standing makannya. Saat itu…”Tokyo I’m home!”

    Tapi …tentu saja perasaan itu bisa berubah-ubah ya. Akhir-akhir ini saking repot urus dua anak tidak pernah menikmati suatu perjalanan pergi atau pulang.

    EM

    Yoga:
    Someday you’ll find that feeling again, someday mbak. I believe it.

  5. Aku memaknai pulang untuk melawan pergi. Ada banyak stasi perhentian dalam hidup kita, dan kesemuanya membuat kita memiliki rumah sementara yg bisa kita pulangi. Dan inti segala inti bagiku adalah: ada pergi yang tak kan pernah kita mampu pulang ke sana, dan itulah kelahiran… Ada pulang yang kita tak kan pernah bisa pergi lagi,dan itulah kematian…


    Yoga:
    Dalam banget Don. Entah mengapa, aku lebih suka memilih menggunakan kata pergi daripada kata pulang

  6. Rumah?
    Aku sudah menemukannya, Mbak, seperti yang pernah aku ceritakan di buku.

    Perjalanan mencari ‘rumah’ tidak akan pernah selesai kalau tidak tahu apa keinginan hatinya sendiri.

    Mengembara keliling lingkar bumi bukan berarti jalan yang tepat untuk mengetahuinya.

    Seorang teman pernah bilang, “Berkangen-kangenanlah kamu sama Dia, biar kamu lebih tenang..”

    Dan ketika hati kita tenang, kita akan tahu, rumah itu ada.. Dekat-dekat saja.. Berwujud manusia-manusia yang paling membuat kita merasa ada…


    Yoga:
    La, pulang baru ketemu maknanya jika semua pertanyaanku tentang pulang sudah terangkum dalam “pelukan”. Hingga tak satu pun pertanyaan keluar dan kujawab dengan pertanyaan yang lain.

  7. Di hatimu, Yug.
    Ketika kau merasakan bahagia, tapi tidak terpaksa.
    Ketika kau merasakan sedih, tapi bahagia.
    Ketika kau merasakan sendiri, tapi gembira.
    Ketika segala yang kau inginkan bermuara di sana,
    itulah pulang dalam arti yang sebenarnya.


    Yoga:
    Maksudnya ketika tak ada lagi chaos di dalam hati? Mesti bersabar dan ikhlas begitu Dan?

  8. Setahun yang lalu, ketika hampir tiga tahun aku menancapkan diri sebagai global citizen, aku tak tahu lagi makna pulang. Baru sejenak duduk di sofa, sudah beranjak jalan lagi. Berkeliling. Dimana rumahku? Di jalanan yang berdebu, diantara putaran rolling kamera, diantara catatan yang kutulis. Hingga aku akhirnya menyadari rumah bukanlah semata makna tempat, rumah adalah tempat dimana kita bisa menjadi diri sendiri….

    Yoga:
    Thanks sudah berbagi. Itulah yang kurasakan Icha. Hmm, apakah ini semacam sindrom untuk orang-orang yang meng-global?

  9. Berlabuh di hati orang yang kita cintai dan mencintai kita, itulah pulang. Disanalah rumah kita yang sebenarnya, itupun jika masih ada nafas yang sudi kita hela. Setelah nafas tak bersisa, ya saatnya “pulang” ke tempat dimana kita berasal.
    Salam kenal mbak…:-)


    Yoga:
    Mari salaman mbak *mengulurkan tangan*
    Nah, kita sudah kenalan sekarang. Terimakasih lho, sudah berbagi makna pulang pada saya. :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s