Monthly Archives: January 2009

Oxytocin dan Pertemanan

Oxytocin dan Pertemanan

Sudah jamak orang mengatakan suatu hubungan akan berhasil bila unsur chemistry yang menyertainya tepat. Pada kenyataannya, secara ilmiah memang bisa dibuktikan, kedekatan seseorang adalah permainan kimia dan biologi.

Oxytocin yang dihasilkan oleh bagian hipotalamus otak manusia, telah dibuktikan oleh Michael Kosfeld dan teman-teman dari Universitas Zurich, berperanan dalam mengendalikan rasa percaya, tidak percaya, sebal dan kedekatan pada species sejenisnya. Nama percobaannya adalah double-blind. Terbukti 45% “manusia kelinci” yang “menerima”  hormon ini, dengan cara disemprot ke hidung, meningkat rasa trust-nya pada tingkat paling kritis, sedang 21% terbatas pada level percaya. Pada hewan, hormon ini berguna untuk menjaga mereka tetap berhubungan atau “berdekatan” dengan sesamanya.

Saya belum mencari hasil penelitian lain yang mungkin menjelaskan kaitan oxytocin dengan keberanian mengambil resiko,  selain itu terpikir juga, mungkin seseorang yang lebih senang menyendiri, memproduksi oxytocin lebih sedikit, dibanding manusia lainnya, wallahualam. Read the rest of this entry

500 Jam, 1.000 Jam, 10.000 Jam Tanpa Cela

500 Jam, 1.000 Jam, 10.000 Jam Tanpa Cela

Atas nama kepuasan pelanggan dan keselamatan kerja, maka kerap kali saya menjumpai program-progam dengan tag, 1.000 hours services without failures atau, misalnya 5.000 jam tanpa kecelakaan kerja, bahkan tiap kelipatan seribu, atau lima ribu, selalu akan dimaknai secara khusus. Misalnya dengan membagikan bonus intrinsik atau sekedar plakat dan berbagai simbol penghargaan lain.

Bisa dibayangkan betapa beratnya usaha yang dibutuhkan agar bisa mencapai 1.000 jam kerja tanpa kesalahan sedikit pun, apalagi jika jenis usahanya pengiriman barang yang kerap terkendala masalah transportasi, ketepatan waktu, ketidakjelasan data pelanggan dan sebagainya, atau usaha dan persistensi yang diperlukan agar bisa mencapai 10.000 jam kerja tanpa kecelakaan sedikit pun di sebuah perusahaan pertambangan, yang rentan dengan masalah-masalah SHE.

Kesalahan setitik apa pun, akan menyebabkan timer di-reset ulang mulai dari nol. Tentu saja ini contoh yang paling nyata untuk merawikan  rusak susu sebelanga, gara-gara nila setitik. Hebatnya progam-progam ini tak melibatkan hanya satu-dua orang, penilaian 1.000 jam pelayan tanpa cela, adalah melibatkan satu divisi yang terdiri dari beberapa departemen. Penilaian 5.000 jam kerja tanpa kecelakaan adalah melibatkan satu cabang, yang tentu saja jauh lebih banyak kepala yang terlibat. Read the rest of this entry

Timun Mas, “SOS!”

Timun Mas, “SOS!”

Pernah mendengar tentang Timun Mas? Ya benar, cerita rakyat yang hidup turun temurun hingga kini. Saya yakin, masih banyak yang tahu, anak-anak Indonesia banyak yang tahu, orang dewasa dan malaikat juga tahu, sebab cerita ini sudah jadi cerita nasional, sudah tersedia dalam bentuk CD dan kaset, serta beredar di internet dalam beberapa bahasa. Kalau belum tahu, juga nggak apa-apa. Nggak akan bikin anda malu atau bahkan mati. Serius.

Cerita ini adalah cerita rakyat dari Jawa. Ada yang bilang dari Jawa Timur, ada yang menyebut dari Jawa Tengah, tapi saya belum pernah dengar Jawa Barat mengakuinya. Hanya kalau menurut Tan Soe Lin atau James Danandjaja, dalam bukunya tentang Folklor Indonesia, yang saya baca saat kuliah, dongeng ini berkembang dari sekitar Delta Sungai Brantas sekitar abad 11.

Baiklah untuk yang belum tahu, saya akan bercerita singkat. Begini ceritanya, once upon a time, pada suatu ketika, Read the rest of this entry

Aku Mau Kamu Menjauh (Dulu)

Aku Mau Kamu Menjauh (Dulu)

Suaramu ada tiada, timbul tenggelam tapi tak pernah benar-benar hilang. Mengusik telingaku yang telah kusumpal rapat-rapat, sejak saat itu. Ya, sejak, kau mulai kasak kusuk kesana kemari, berseru-seru hendak memajukan negeri yang kudiami, tanpa pernah kupilih. Dan kau pilih merubah negeri ini dari diriku. Makhluk yang kau katakan berpotensi, punya nalar dan kemampuan indrawi untuk bersekutu denganmu.

Temanmu yang lain bilang, ia akan beradaptasi, meski dari negeri jirannya jiran dan telah berkelana ke antero dunia, mengikuti angin berhembus dan air mengalir, ia berjanji padaku untuk mengikuti hasratku, menyesuaikan perilaku dan adabnya dengan adab yang kupunya, dan ternyata kau juga mengajak teman yang lain, yang persisten merayuku, membujukku, mencariku, menungguku, mencumbuku jika aku terlena sampai aku tercekat, diam, terkelu tak tahu harus bersikap halus atau kasar. Read the rest of this entry

Anda Betul-Betul Anti (Pe)Rokok? Yakin?

Anda Betul-Betul Anti (Pe)Rokok? Yakin?

Saya tahu betul, teman saya banyak yang nggak suka merokok, tapi lebih banyak lagi yang merokok. Sebagai perokok pasif, saya paling aman, jika berada di kawasan kantor, asal nggak ikutan nongkrong dengan “the prayer” sebutan untuk kawan yang punya ritual merokok di luar tiap pagi, atau di rumah sendiri, selebihnya paru-paru nggak bakal terjamin dan nggak ada yang jamin.

Saat ini para perokok di kantor terpaksa merokok di luar, sebab smoking room telah digusur, diutilisasi jadi ruangan lain. Karena seluruh area kantor dideklarasikan bebas asap rokok, jadi yang ingin merokok silahkan ke teras lobby, atau ke parkiran. Nanti di kantor yang baru, akan disediakan ruang khusus. Tegas, iya harus, sebab kalau nggak, akan ada yang didzalimi dan mendzalimi. Akan ada yang seenaknya merokok ketika meeting, atau didalam ruangan masing-masing, sementara kantor kami menggunakan AC sentral, paham kan.

Tapi, saya mengerti kok dengan teman-teman yang sudah mencandu. Read the rest of this entry

Membebaskan Pikiran Tentang Bebas

Membebaskan Pikiran Tentang Bebas

Dua bulan terakhir adalah bulan yang mengajarkan falsafah “sawang sinawang” buat saya, antara yang menyenangkan dan tidak, datang silih berganti. Kalau soal senang atau tidak,  nggak beda dengan bulan-bulan yang lalu, tapi kali ini yang namanya libur panjang benar-benar terjadi dan saya bosan.

Bagaimana tidak, dua kali bed rest dalam dua bulan yang benar-benar diwajibkan, stay on the bed, dua kali bed rest? Ya, uhm, salah sendiri, masih ingat apa kata Sir Isaac Newton For what I’ve done, I will do, and I want to do, to every action there is always equal and opposite or contrary reaction, dan sudah tahu begitu, tetap saya khianati juga kewajiban itu, dengan bepergian ke luar kota, bezoek toko-toko buku yang merindukan saya, ngantor hingga akhir pekan, dan sekadar jalan pagi, lantas ketika vonis bed rest muncul untuk kedua kalinya, saya pasrah dan memutuskan untuk membantu sang bakteri menuntaskan persinggahan mereka di “planet” kecil yang meraka temukan, ya tubuh saya itu. Kemudian tibalah liburan Natal, berlanjut dengan libur tahun baru, ruang waktu yang luang melompong tak ayal menghajar saya untuk melakukan renungan panjang.

Walhasil salah satu memori dikepala tentang masa-masa lalu terbuka. Ada masanya ketika menjadi bagian dari teman-teman yang idealis, tak berjarak dengan yang menyebut dirinya kaum marjinal, baik yang benar-benar tersisih maupun menyisihkan diri dari yang serba hedonis dan mengusung simbol-simbol kaum borjuis, bergaul pula dengan mereka yang membawa wacana agama dalam idealismenya, bergabung dengan mereka yang kiri dan kanan tak jadi soal.

Melebur dengan kelompok-kelompok studi, yang bukan untuk belajar matematika atau mekanika, yang anggotanya pun tak kalah beraneka, mulai dari yang super ideal hingga yang pragmatis, ampun-ampunan dan hadir hanya untuk menguji isi kepalanya, sama halnya ketika anda iseng-iseng mengisi teka-teki silang atau mencoba menghitung IQ. Jangan salah mengerti, ini bukan sinisme, toh bebas-bebas saja mengikuti kegiatan penalaran demikian, dan isinya semestinya adalah manusia bebas yang sedang membebaskan dirinya.

Bebas?  

b  e b a s ?

BEBAS?

Membebaskan diri?    Freedom?    

 Manusia Bebas? 

B e b a s ? 

Siapa?

MANUSIA BEBAS ?

Read the rest of this entry