Monthly Archives: February 2009

Komitmen

Komitmen

Aku benar-benar tak mengerti apa yang ada di dalam benak dua wanita yang tergopoh-gopoh mendatangi flatku tadi pagi, tepat jam tujuh lima belas pagi, mengetuk pintu dan berteriak mengucap salam dan memanggilku. Nada suaranya tak terdengar gawat, jadi aku tenang saja meneruskan ritual pagi di kamar mandi. Tapi tak urung aku merasa terusik juga. Aku yang sedang begitu moody pagi ini, sebenarnya seperempat hati beranjak, bersiap ke kantor. Ingin rasanya ijin dan melanglang sepuasku hari ini, atau diam dan tak bicara dengan siapa pun hingga esok tiba lagi. Hanya karena tiga minggu mendatang aku akan akan jarang, bahkan barangkali tak akan menginjak kantor sama sekali. Hanya karena setiap jumat pagi aku telah berkomitmen menghadiri weekly meeting, sehingga kalau pun sedang bertugas keluar kota, selalu kuusahakan jumat pagi telah tiba kembali di kantor, dan hanya karena aku ingat, aku sudah teken kontrak pada perusahaan ini, menyewakan tenaga dan pikiranku dari jam lima sampai jam delapan, senin sampai jumat titik. Komitmen!

Aku tak pernah menyadari beratnya suatu komitmen sebelum tiba pada saat-saat seperti ini. Saat kata yang berbunyi komitmen berdentang-dentang dikepalaku, bukan seperti genderang perang, lebih tepatnya seperti palu godam. Moody, sama sekali bukan alasan profesional dan bisa termaafkan bagiku. Meski yang namanya moody mungkin alami tapi justru palu godam yang memantek kepalaku lebih menyakitkan, ketimbang alasan yang lebih gawat.

Entah bagaimana denganmu. Bagiku komitmen itu penting. Janji adalah dewa dan raja di Bumi dan di surga. Satu-satunya yang membebaskan adalah force majeure dan kehendak penguasa Bumi dan surga dan bersyukurlah ada kalimat InshaAllah yang berarti, jika Tuhan menghendaki. Ingkar janji bukan berarti komitmen jadi bebas dan menguap mengabar ke angkasa raya, bagiku ingkar janji itu hanyalah tindakan memalukan yang tertunda penagihannya, kecuali pintu ikhlas dibukakan. Dan kau akan lihat, bola mataku akan berputar gelisah, jika aku tak mampu memenuhi janjiku. Read the rest of this entry

Menebas Jarak ke Jakarta Biennale

Menebas Jarak ke Jakarta Biennale

Mencintai angin harus menjadi siut
Mencintai air harus menjadi ricik
Mencintai gunung harus menjadi terjal
Mencintai api harus menjadi jilat
Mencintai cakrawala harus menebas jarak
Mencintaimu harus menjelma aku

-Sajak Kecil Tentang Cinta, Sapardi Djoko Damono-

poster-jb-20091

Dan barangkali karena cinta itulah mengapa saya ingin menebas jarak dengan menyaksikan langsung karya-karya yang dipamerkan di puncak acara Jakarta Biennale XIII, 2009, khususnya di zona cair. Sedikit informasi, Jakarta Biennale adalah ajang perhelatan seni rupa dua tahunan sebagai bentuk pertanggungjawaban seniman terhadap masyarakat Jakarta serta peningkatan apresiasi masyarakat terhadap kesenian.

Pada tahun ini, JB 09, demikian disebut, mengupayakan satu perhelatan besar seni rupa, untuk menjadikan kesenian sebagai sebuah strategi perubahan yang melibatkan subyek kota, dimana gagasan reflektif, kritis dan kreatif bersama diharapkan dapat membuka ruang ruang baru yang lebih inspiratif, partisipatif dan toleran di arena kota.

Untuk memenuhi maksud tersebut, JB dibagi menjadi tiga zona, yaitu zona pemahaman, zona pertarungan dan zona cair, dan untuk pertama kalinya pada tahun ini, JB 09 menampilkan karya seniman-seniman internasional tentang Asia Tenggara. Informasi selengkapnya, bisa ditemukan ditautan berikut, situs resmi JB 09.

Ada dua lokasi yang saya kunjungi, pertama di Galeri Nasional Indonesia dan yang kedua di Grand Indonesia Plaza. Niat saya adalah menyaksikan hasil karya 39 seniman ditambah dokumentasi kegiatan zona pertarungan. Read the rest of this entry

Indonesia Hari Ini?

Indonesia Hari Ini?

indonesia-hari-ini

Minggu lalu menyempatkan melihat-lihat karya kreatif beberapa anak muda yang dipamerkan di Alun-Alun Indonesia (AAI), Grand Indonesia Jakarta. Pameran yang diselenggarakan AAI dan Magic Happens (MH) ini terkesan ingin ditampilkan sesantai mungkin, tapi karena berlokasi disebuah mall mewah dan di sebuah perbelanjaan mewah pula, alih-alih santai, kesan yang tertangkap justru sebaliknya. Lantai marmer di bagian “lobby” AAI membuat ambience pameran terasa “berat” dan mengintimidasi. Tak cocok dengan semangat informal dan santai yang digembar-gemborkan penyelenggara.

Karya Magic Happens: Hormat Grak.

Karya Magic Happens: Hormat Grak.

Read the rest of this entry

Sujud

Sujud

Renungan saya hari ini dimulai dengan mendengarkan MP3 pembacaan puisi milik KH. Mustofa Bisri. Ini yang saya dengarkan, silahkan menyimak maknanya.

***

Sujud…Bagaimana engkau hendak bersujud pasrah
Sedang wajahmu yang bersih sumringah
Keningmu yang mulia dan indah
begitu pongah minta sajadah agar tak menyentuh tanah
Apakah kau melihatnya seperti iblis saat menolak menyembah Bapamu dengan congkak
Tanah hanya patut diinjak, tempat kencing dan berak
Membuang ludah dan dahak atau paling jauh hanya lahan pemanjaan nafsu, serakah dan tamak
Apakah kau lupa bahwa tanah adalah Bapa darimana ibumu dilahirkan
Tanah adalah ibu yang menyusuimu dan memberi makan
Tanah adalah kawan yang memelukmu dalam kesendirian
Dalam perjalanan panjang menuju keabadian

Singkirkan saja sajadah mahalmu
Ratakan keningmu ..Ratakan heningmu ..Tanahkan wajahmu
Pasrahkan jiwamu, Biarlah rahmat agung Allah membelaimu
Dan terbanglah kekasih
Read the rest of this entry

Child Pose

Child Pose

are-you-happy

Nikmatilah hari ini, seolah kau kanak-kanak selamanya.Berjalan, meniti bayangan, bebas berimajinasi dan tergelak diantara debu yang terhambur.Tanpa takut, tanpa tekanan.Bebas!

“Ya, bagus kau tepat berada di batas bayangan, here we go, child pose!

klik!

ayo-main-bola

Ajak sahabatmu! Kau boleh menjadi Peterpan jika kau mau. Temanmu bisa memilih menjadi siapa atau apa saja. Bergembiralah, bersenang-senanglah. Jangan biarkan dunia terburu-buru menggenggammu

“Asyik, bagus nak, tetaplah di situ, tahan sejenak. “

klik!

dengan-teman

Jadi kalian hendak main bola. Tentu saja kau boleh bermimpi menjadi Pele, atau siapa saja yang kau sukai. Maradona? Tentu, Zidane, terserah. Bermimpilah Nak, sebelum dunia merenggut mimpimu.

“Mudah-mudahan kau mendengar bisikanku, tahan posisimu, jangan bergerak”

klik!

tersenyum

Jika tiba waktunya kau tinggalkan dunia anak-anak, pastikan kau telah puas

meski begitu, jagalah apinya didalam hatimu sampai kapan pun

“Terimakasih!!!”

klik!

*** Read the rest of this entry

Ramuan Yang Disebut Kesenangan

Ramuan Yang Disebut Kesenangan

Perjalanan pagi tadi dimulai dengan usaha melawan dingin, lelah, dan kantuk. Week end-ku baru berakhir jam 1 dini hari tadi, sejak kumulai pada jam 19.30 Jumat malam Sabtu. Kehidupan khas urban, yang kadang malas kuikuti, kadang butuh, kadang menerimanya juga tanpa syarat, kadang tersisih, kadang menyisih, kadang….

Yang kusukai adalah, kebahagiaanku diantara teman. Yang tak kusukai adalah begitu aku menyisih dari hiruk pikuk dan kembali sendiri, aku telah menambah kedalaman palung kesepian di hatiku. Kadang aku berpikir, betapa hidup ini begitu menuntutku. Seolah dukun tua yang memberikan ramuan kesenangan dan menuntut imbalan. Setiap tetes mesti kubayar dengan sekerat kesepian dari pundinya di hatiku, yang makin lama makin menggelisahkan.

***

Semalam, sebelum hari berganti. Aku lirik, karibku. Ia menyudahi akhir pekan kemarin dengan seulas senyum dan wajah berseri. Kami nyaris tiba bersamaan. Ia tiba di rumah dengan wajah berbinar cerah. Sambil berbaring di tempat tidur, ia menghubungkan dirinya dengan dunia maya. Tersenyum cerah dan berguman, ah Mbak Imel telah mengerjakan PR-nya dengan baik. Ia sibuk menekan-nekan tuts. Lantas tersenyum puas.

Rupanya seharian tadi ia menemui sahabat-sahabat yang dijumpainya di alam maya. Aku tahu ia kerap menulis di sebuah blog, dan terkadang ia menulis tentang aku, meski disitu namaku digantinya. Demi privacy-mu, katanya. Aku manggut-manggut saja, menyetujui. Kadang ia meminta ijin padaku jika ingin membagi kisahku, kadang ia kurang ajar juga.

Tapi aku tak pernah bisa marah padanya, sama halnya dengan dirinya. Ia pun tak pernah bisa marah padaku. Kami sudah terlalu lekat dan akrab. Meski begitu, dalam kondisi begini, aku lebih baik menyimpan rapat-rapat isi hatiku darinya. Aku tak ingin merusak kebahagiaannya.

Sialnya, ia selalu tahu, meski ia diam, tak bertanya, tapi matanya tahu. Seperti baru saja, kudapati ia memandangku dengan prihatin. Hanya dua detik, tapi dua detik itu cukup memberikan segala informasi yang ia butuhkan. Aku menghela nafas dan tersenyum. Baru ia membuka obrolan dengan menceritakan film yang baru ditontonnya.

“Jadi akhirnya, kau tonton juga Slumdog Millionaire?” Read the rest of this entry

Ketika Pejalan Harus Menunggu

Ketika Pejalan Harus Menunggu

here-you-there-copy

Dalam perjalananmu, kau akan bersinggungan dengan persimpangan-persimpangan, atau barangkali tiba disebuah terminal tanpa kau sengaja,  sebelum tujuanmu yang sebenarnya.

Mungkin kau akan tiba di sebuah stasiun kecil berlantai kayu, atau sebuah bandara modern yang bising dan sibuk. Pada saat itu, sejenak kau akan mengamati semua yang berputar di sekelilingmu. Tentu itu tak berarti mereka berotasi dengan dirimu sebagai pusatnya, karena alam raya ini tak pernah berpusat padamu. Mereka beredar dalam orbit masing-masing, dan jika orbit itu bersinggungan dengan orbitmu saat itu, maka itu bukan suatu kebetulan. Karena memang sudah seharusnya demikian.

Jika kemudian kau menyangka, kau adalah pusat dari segala rotasi, maka ketahuilah, jika itu hanya menunjukkan betapa sempitnya dirimu. Betapa dangkal pemahamanmu tentang kehidupan yang diciptakan miliaran tahun sebelum ruhmu sendiri tiba pada jasad biologismu. Read the rest of this entry

Hark! Dengarkan Pesta di Tengah Sepi

Hark! Dengarkan Pesta di Tengah Sepi

A million footsteps, this left foot drags behind my right
But I keep walking, from daybreak ’til the falling night
And as days turn into weeks and years
And years turn into lifetimes
I just keep walking, like I’ve been walking for a thousand years

Walk away in emptiness, walk away in sorrow,
Walk away from yesterday, walk away tomorrow,
Walk away in anger, walk away in pain
Walk away from life itself, walk into the rain

All this wandering has led me to this place
Inside the well of my memory, sweet rain of forgiveness
I’m just hanging here in space

….

Disinilah saya, dua tahun satu bulan, disebuah flat mungil yang hanya berisi sepuluh unit. Teman saya bilang saya “ngumpet”. Nggak sepenuhnya benar, karena saya nggak sedang menghindari siapa-siapa, yang saya hindari hanya high cost economy, yang bisa mengganggu stabilitas kantong, kemacetan, penuaan di jalan, keramaian dan udara busuk yang penuh polusi.

Tak banyak yang saya undang mengunjungi exile place ini, sepuluh jari pun tak habis untuk menghitung yang pernah bertandang kemari, semata hanya ingin menjaga kenyamanan . Saat ini,  saya lebih memilih bertemu teman atau kolega di luar rumah.

Tempat ini benar-benar sunyi, cocok dengan saya. Satu-satunya keramaian adalah kesunyian itu sendiri. Benar-benar tempat yang tepat untuk beristirahat dan menyempurnakan kegiatan meski tak dipungkiri, saat sunyi begini, makhluk yang bernama kesepian, kerap menyapa, tiba-tiba muncul di kepala dalam bentuk ambiguitas pemikiran dan mengetuk hati dalam bentuk kegelisahan yang melolong-lolong. Berlebihan?

Sabtu minggu kemarin, hujan dan mendung datang silih berganti. Membuat saya enggan beranjak ke tengah kota. Jauh lebih nikmat, berdiam di rumah: menuntaskan beberapa buku, terinspirasi menonton ulang The Sound of Music karena postingan keren KD aka Kang Daniel, menonton ulang Italian Job, hanya karena ingin melihat klangenan saya, minicoopers, mendengarkan album Sting – Labyrinth yang berisi musik dan pembacaan naskah jaman Elizabeth, dan tiba-tiba: Read the rest of this entry