Hark! Dengarkan Pesta di Tengah Sepi

Hark! Dengarkan Pesta di Tengah Sepi

A million footsteps, this left foot drags behind my right
But I keep walking, from daybreak ’til the falling night
And as days turn into weeks and years
And years turn into lifetimes
I just keep walking, like I’ve been walking for a thousand years

Walk away in emptiness, walk away in sorrow,
Walk away from yesterday, walk away tomorrow,
Walk away in anger, walk away in pain
Walk away from life itself, walk into the rain

All this wandering has led me to this place
Inside the well of my memory, sweet rain of forgiveness
I’m just hanging here in space

….

Disinilah saya, dua tahun satu bulan, disebuah flat mungil yang hanya berisi sepuluh unit. Teman saya bilang saya “ngumpet”. Nggak sepenuhnya benar, karena saya nggak sedang menghindari siapa-siapa, yang saya hindari hanya high cost economy, yang bisa mengganggu stabilitas kantong, kemacetan, penuaan di jalan, keramaian dan udara busuk yang penuh polusi.

Tak banyak yang saya undang mengunjungi exile place ini, sepuluh jari pun tak habis untuk menghitung yang pernah bertandang kemari, semata hanya ingin menjaga kenyamanan . Saat ini,  saya lebih memilih bertemu teman atau kolega di luar rumah.

Tempat ini benar-benar sunyi, cocok dengan saya. Satu-satunya keramaian adalah kesunyian itu sendiri. Benar-benar tempat yang tepat untuk beristirahat dan menyempurnakan kegiatan meski tak dipungkiri, saat sunyi begini, makhluk yang bernama kesepian, kerap menyapa, tiba-tiba muncul di kepala dalam bentuk ambiguitas pemikiran dan mengetuk hati dalam bentuk kegelisahan yang melolong-lolong. Berlebihan?

Sabtu minggu kemarin, hujan dan mendung datang silih berganti. Membuat saya enggan beranjak ke tengah kota. Jauh lebih nikmat, berdiam di rumah: menuntaskan beberapa buku, terinspirasi menonton ulang The Sound of Music karena postingan keren KD aka Kang Daniel, menonton ulang Italian Job, hanya karena ingin melihat klangenan saya, minicoopers, mendengarkan album Sting – Labyrinth yang berisi musik dan pembacaan naskah jaman Elizabeth, dan tiba-tiba: lapar! Ingin ngemil.

Ok, pasang CD Maksim, yang cukup menghentak dan bikin semangat di hari yang becek dan lembab ini. Cek lemari pendingin dan menemukan korban. Satu pisang tanduk, ukuran sedang dibagi jadi enam. Caranya? Mudah. Siapkan penggorengan dan lumerkan sedikit mentega. Sengaja, menggunakan api yang kecil agar kematangan pisang sempurna, seperti selera saya. Sembari menunggu pisang, tak lupa menyiapkan teh satu poci dan mug – saya malas minum pakai cangkir imut, kurang mantap volumenya. Sempat bingung, antara teh Prendjak atau Earl Grey? Akhirnya pilih Earl Grey, karena hidung ini sedang senang dengan aromanya yang segar dan mengajak saya ke langit ke tujuh! Gila kan. :D

Karena api untuk menggoreng kecil, saya jadi punya kesempatan buat latihan memotret. Jepret jepret sebentar, tentu yang jadi sasaran, teh dan pisang yang tengah menggoreng dirinya.

pisang-keju

Jepret sekali lagi, sambil melirik wajan. Pisang matang. Ambil keju, parut dan voila! Jepret lagi, terakhir kali. Nah, siap sudah tinggal dinikmati, sembari melanjutkan bacaan saya. Dan CD Maksim telah klimaks.

enjoy-pisang-keju

Sekarang ganti lagu, Sting lagi. Pegang garpu dan..ha..p….dering telpon tanpa nomer menginterupsi pesta kecil saya. Ternyata Bapak yang saya panggil Papa menelpon. Kami becanda sebentar, tentu, setelah beliau terpuaskan tentang kabar saya, dan tak lupa mengingatkan untuk menyisihkan kira-kira sepuluh persen budget buku untuk “buku akhirat”, tapi dibaca lho ya, kata beliau. Sungguh nikmat, sore-sore, hati sedang riang, dan bisa becanda dengan Bapak yang saya panggil Papa. Hap… akhirnya, pisang ini bisa diokupasi!

Bersama tandasnya pisang keju, ritme saya kembali lagi. Indahnya lirik yang dibawakan Sting, merasuk dihati, seperti melantunkan sesuatu yang saya kenal dekat dan pernah saya raba dan rasakan. Yang membuat perasaan seperti tertohok, yang kadang mengajak tercenung, dan membuat ingin menangis, meski gagal. Mood saya sedang bagus.

Sunyi lagi, hujan lagi, tapi kemarin saya tak merasa kesepian.

…..

The shadows fall
Around my bed
When the hand of an angel,
The hand of an angel is reaching down above my head

All this wandering has led me to this place
Inside the well of my memory, sweet rain of forgiveness

…..

Walk away from emptiness, walk away from sorrow,
Walk away from yesterday, walk away tomorrow,
Walk away from anger, walk away from pain
Walk away from anguish, walk into the rain.

##

Lirik : Dead Man’s Rope diambil dari album Sting : Sacred Love (2003)

Advertisement

24 Responses »

  1. pantas kamu matikan juga nomormu yang kutuju berkali-kali. Rupanya adikku ini sedang menikmati goreng pisang (pisang goreng kan pake terigu say)… (jadi ingat pisang epek di makassar). Hmmm yummy and cozy.

    (aku bakal kamu undang ke flat kecilmu ngga Yug hehehe)

    EM


    Yoga:
    Huaduh, sorry morry, maaf mbak, mestinya sore itu makin lengkap kalau aku angkat telpon mbak :D
    Pisang Epek? Di seputaran Losari masih banyak yang jual, hingga larut malam tentu.

    (Kalau mbak Imel, masak iya sih aku nolak? palagi kalau tahu-tahu udah di depan pintu dan wajahnya melas hehehe… )

  2. AAhhhh …
    Suatu cara untuk menikmati hidup yang perfect sangat …
    Teh Hangat, Pisang Keju, Buku …!

    (kurang satu sih sebetulnya …)

    Tapi nggak papa lah … (yang itu gampang kok …)

    Cheers Yo …

    Yoga:
    Mau nanya, kurang satu apa ya? Nggak tahunya udah ditanya sama mbak Tanti. :D
    (gampang itu…) :D
    Cheers Pak…

  3. Wow… great !
    kombinasi yang bagus untuk menikmati ‘precious time’ untuk diri sendiri

    @ Om Trainer :
    kurang satu? apa tuh?
    mengundang Om ikut pesta pisang keju ;) ?
    uups… sorry Yog, nyampah… penasaran sih…:D

    Yoga:
    Yups just three of us I, me, and my self in the evening :D

  4. Melanjutkan cerocosan saya di Facebook, kenapa nggak dipajang teks lagu STINGKY yang judulnya MUNGKINKAH yang melegenda itu skalian? Ahuahuahua :)

    Saya jadi ngiler ngeliat pisang kejunya, Yog!

    Yoga:
    Auw, auw Stingky!!! Aku betul-betul nggak tahu lagu-lagunya kecuali Mungkinkaaah…. :D

    Pisang keju, mau?

  5. Waduw, hobi saya dulu : menyendiri sampe pagi. Ditemani buku dan lagu.

    Sekarang? Duh, mana tahan…Saat2 terbaik ya hahahihi sama suami dan dengern konyil2 cicit cuit.

    Btw, lagi keranjingan teh camomile nih, buat gantiin kopi. Coba deh, say. Harumnya bikin relaks lho.


    Yoga:
    Enam tahun yang lalu, saya mencoba minum teh Camomile, ternyata lidah ini belum bisa menerima. Tapi siapa tahu tahun 2009 ini lidah saya sudah bisa. Makasih sarannya mbak :D

  6. @Tanti …
    Ya … kurang satu …
    Lelaki … (apa lagi coba ?)

    (maap Yo … numpang komen lagih …)
    (Tanti# sih … mancing …)
    hihihih …


    Yoga:
    Nggak pa-pa Pak.
    Hehehe…. Lelaki idaman? Hmmm di mana dia ya? ;)

  7. @ mas NH

    kalau ada lelaki, tidak cozy lagi…
    dan tidak perlu ada buku hihihi
    (memang lelaki itu pengganggu! huh! ;) )

    Tapi memang ada satu yang mas belum tulis
    Teh Hangat, Pisang Keju, Buku …! + musik (lupa kan?)

    @ DV mau albumnya Stinky lengkap? hehhee
    ada tuh di multiply aku, termasuk Mungkinkah dan permata hati.

    EM

    Yoga:
    Hehehe… ada laki-laki juga bisa cozy, tapi laki-laki yang seperti apa yang bisa bikin ambience begitu, itu pertanyaannya :D

  8. @ ikkyu_san:
    Ya-ya-ya. Kalau ada lelaki, mungkin suasananya nggak akan kayak gitu, dan nggak mungkin di-posting di blog. Hi-hi-hi.

    Yoga:
    Benar Dan, laki-lakinya nggak perlu di posting hi-hi-
    hi

  9. walaupun masaknya nggak repot tapi kelihatan nikmat sekali..
    salam kenal mbak Yoga.


    Yoga:
    Salam kenal mbak Puak, makasih ya sudah kemari dan sanjungannya huk-huk-huk.. hi-hi-hi mendadak batuk :D

  10. Imagine myself living in small flat, doing things that you’ve mentioned..
    Huaaa… betapa senangnya…. :)

    Tapi, tapi…
    setelah jam sebelas siang, mulai belingsatan, nyari ponsel, terus telepon sahabat: “Lin, jalan yuk!”
    dan pukul dua belas siang, sudah kongkow di tempat makan pinggir jalan, sambil gejezan *guyonan gitu maksude*, dan tahu-tahu sudah musti pulang lagi… :)

    Mbak Yoga,
    kalau flat-mu kedatangan aku dan Mbakyuku sing uayu buanget sak Tokyo itu, kira-kira cukup nggak ya? :D

    Yoga:
    Hehehe… I knew you Lala! :D
    Gimana ya… kalau kalian tiba-tiba toiiiinggg di depan pintu flat aku, apa boleh buat? wkkkkk… :D
    Peace La!

  11. pesta kok sendirian..
    hmm..tp emang jd lbih khidmat dan menyenangkan, jika memang itu yg sdang dicari..ksendirian..

    btw, saia lbih suka kalo pisang kejunya ditaburin coklut meises..hmm,,yummy
    (sapa yg nanya?..hehe)

    Yoga:
    Itu dia yang sedang kucari, ih Omoshiroi tahu aja deh. :D

  12. uhhhh jadi pengen ma pisang gorengnya nich….

    yamyamyamyam…..

    mau aku temenin ngga mbak???

    Tuch masak pisangnya kamu habisin sendiri sich????

    Yoga:
    Ayooo :D

  13. Aduh nikmatnya… :) hujan rintik-rintik, ditemani musik kesukaan, pisang goreng dan juga teh hangat dan ada telephone yang juga menggembirakan lagi. Lengkaplah sore mbak Yoga sore itu. Thanks

    Yoga:
    Heheh makasih mbak :)

  14. jeng2 aq datang lagi neh…mana nasi gorengnya???ayooo


    Yoga:
    Nasi goreng? nggak hobby hehehe :D
    Antoo… aku nggak bisa komen di blogmu. hiks dibilang spam!:(

  15. Nah kan! sudah mulai lupa .
    kalau urusan pisang, harusnya jangan lupa undang abang.
    Ayo diulang, goreng lagi yang banyak, biar abang kenyang. pyuh!*abang siapaaa coba?!

  16. Kalo “Jurnalisme Sastrawinya” enak juga ga kalo di makan? Hmmmnm…sepertinya menggiurkan..

    salam kenal

    Yoga:
    Salam kenal juga :)
    Tentu, setelah “dikunyah”, enak sekali rasanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

Gravatar
WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s