
Dalam perjalananmu, kau akan bersinggungan dengan persimpangan-persimpangan, atau barangkali tiba disebuah terminal tanpa kau sengaja, sebelum tujuanmu yang sebenarnya.
Mungkin kau akan tiba di sebuah stasiun kecil berlantai kayu, atau sebuah bandara modern yang bising dan sibuk. Pada saat itu, sejenak kau akan mengamati semua yang berputar di sekelilingmu. Tentu itu tak berarti mereka berotasi dengan dirimu sebagai pusatnya, karena alam raya ini tak pernah berpusat padamu. Mereka beredar dalam orbit masing-masing, dan jika orbit itu bersinggungan dengan orbitmu saat itu, maka itu bukan suatu kebetulan. Karena memang sudah seharusnya demikian.
Jika kemudian kau menyangka, kau adalah pusat dari segala rotasi, maka ketahuilah, jika itu hanya menunjukkan betapa sempitnya dirimu. Betapa dangkal pemahamanmu tentang kehidupan yang diciptakan miliaran tahun sebelum ruhmu sendiri tiba pada jasad biologismu.
Kemudian, terkadang kau harus menunggu. Kerap kali kecerdikanmu sanggup menyiasatinya, hingga kau lolos dari kondisi ini, meski kesempatan itu, mesti ditempuh melalui celah sebesar lubang jarum yang kau ciptakan, yang kau sebut sebagai antisipasi atau rencana kedua, ketiga dan seterusnya. Namun, kadang kau harus menelan ludah, karena menunggu, satu hal yang pasti kau benci, tak bisa kau elakkan.
Maka, kau akan duduk membisu, atau memulai sebuah aktivitas untuk membunuh waktu. Terkadang kepalamu tak bisa kau ajak bersekutu, lantas kau memilih memandang sekelilingmu, melukiskannya di kepala, dan meresapkan di dalam hati. Melihat orang-orang yang berlalu lalang disekitarmu, ketika kau tengah disebuah stasiun besar atau bandara sibuk, atau kau hanya diam dan jatuh melamun karena stasiun yang kau singgahi itu begitu sepi, hingga tak nampak batang hidung manusia, secuil pun, selain milikmu dan kepala stasiun.

Disaat tertentu, kau terpaksa menelan ludah atau mendengus tak sengaja, menarik nafas panjang atau bahkan terpaksa menahan nafas sesaat, kemudian memejam mata dan menggeleng perlahan. Di kali yang lain, matamu berbinar dan memantulkan restumu atas peristiwa yang berputar disekelilingmu. Dan suatu kali, kau tak memunculkan ekspresi apa pun, seolah kau sendiri tak ada di sana.
Dan kerap kau berserobok dengan perpisahan dan pertemuan. Seolah hanya dua hal itu yang jadi gagasan utama sebuah perjalanan. Kau saksikan pertemuan demi pertemuan. Perempuan-perempuan yang bergegas, atau berlari menghambur pada pria-pria , yang membuka tangannya lebar-lebar, dan berhias senyum bahagia tak terkira. Kau saksikan pula, orang-orang muram, sedih, dan terisak ketika bertemu dan lebih lagi ketika berpisah. Atau sebuah pemandangan yang tak kau lupa, ketika sebuah ciuman yang bisa berarti ciuman terakhir menghujani wajah seorang perempuan yang berduka dan terisak, hingga seolah langit pun berubah warna, menjelma kelam, menangisi pasangan itu. Atau sebuah perpisahan gegap gempita, serombongan anak muda dan teman-teman sebayanya, canda dan cengiran lebar bertebaran, langit begitu cerah, hingga rasa-rasanya surya turut larut dalam canda mereka.
Dari seluruh yang kau lihat dan makna yang kau rawikan di dalam hati dan kepalamu, ada satu hal yang pasti. Semua itu hanya sesaat. Ya hanya sebentar, ketika boarding diumumkan, ketika kereta atau bis mulai berjalan, maka drama-drama itu segera berakhir dalam penglihatanmu saat itu. Dan kau kembali dengan dirimu sendiri. Mendapati, dirimu telah usai menunggu, dan melanjutkan perjalanan. Kembali di jalan, menuju satu titik yang benar-benar jadi tujuanmu.

Adios!
indahnya tulisanmu Yug… itu memang perjalanan seorang anak manusia yang hanya terdiri dari daging dan darah. Yang akan kembali ke penciptanya segera.
EM
Sisi lain dari sebuah perjalanan…
Tulisan yang mantap, mbak..!
Put baru tahu kalo mbak yoga punya blog yg bhs Indonesia juga…biasanya Put mampir ke blog yng pake bhs inggris he..he./.
Tulisan yang cantik, Yog.
Ratusan kali saya di stasiun, ngga kepikiran menuliskannya selembut ini. Bacanya pun lebih nikmat dengan dikulum. Dikunyah pelan2. Dinikmati sensasi setiap rangkaian katanya. Hmm, udah ngirim tulisan kemana aja, say? Kecerdasan linguistikmu patut diacungi jempol.
nice post… mbak
Sampe merinding aku membacanya
kapan saia bisa mbikin tulisan yang kayak begini..
(mupeng mode on)
Tulisan, makna dan pembahasaannya semakin mantap!
Bravo, Yog!
“Tentu itu tak berarti mereka berotasi dengan dirimu sebagai pusatnya, karena alam raya ini tak pernah berpusat padamu” …
Ah kalimat ini …
kalimat ini aku suka sekali …
Ketika pejalan harus menunggu,
banyak hal yang bisa didapatkannya selama itu..
Great Yoga !!!
dalam sekali makna tulisanmu.
Sip2 tulisanya memang nyentuh bngt..kapan naik kereta lagi aku
Kapan dong?
Saya tertarik dengan foto-fotonya Yoga, yang memperlihatkan persimpangan-persimpangan itu. Hidup selalu dipenuhi oleh persimpangan, pilihan-pilihan, kemanakah kita akan melangkah? Seperti yang kita diskusikan beberapa kali, di malam-malam yang dingin…kadang memilih itu sulit. Justru itulah Yoga, saya merasa harus tetap mendampingi anak-anakku agar mereka tidak salah memilih langkahnya. Dan saya bersyukur, dia masih mau mendengar, dan akhirnya pilihan sekarang membuatnya bahagia. Saya juga ingin mendengar, langkah2mu akan sampai pada kebahagiaan itu Yoga…
Tulisanmu makin mudah saya mengerti, dan tetap ada makna yang dalam di latar belakanganya.
Dan jadi ingat si bungsu, perpisahan yang paling menyedihkan bukannya mengantar ke bandara, dan berpisah saat mendekati waktu boarding, tapi adalah mengantar ke stasiun, mendengarkan suara lonceng kereta api tanda mau diberangkatkan, dan bunyi kereta api dengan gerbongnya mengular yang makin jauh, dari berjalan lambat dan makin kencang…jeng…jeng..jeng…tak terasa air mata menetes, kapankah akan bertemu kembali?
Weh,,suka aku sama tulisan ini Mbak…agak tersindir juga ketika bilang bahwa kita bukan pusat rotasi. Aku kerap menganggap diriku pusat dari dunia sih hehehhe..lalu dengan seenaknya memandang dan mengundang persepsi dari diriku sendiri hehehehhehe…
Trus gambarnya jalur kereta api, stasiun kereta..pas banget. Aku juga sering menganggap terminal, stasiun atau bandara adalah sebuah analogi hati. sebuah ibarat yang bercerita tentang pertemuan, perpisahan atau penantian.
Wah mba Yoga habis ditinggalin yaaaaaaaaaaaaaaa….
*Hue he he… ngarang abis…
maaf ya mbaaaaaaaa…
*
juga persimpangan hidup
jangan sampai salah pilih
(hanya sekedar ikut menyusun kata)
Ya, c’est la vie…
Kata-katanya ada yang sedikit salah. Seharusnya bukan:
tetapi
Jadi kalau ada benda yang mengelilingi benda lain baik benda tersebut nyata ataupun imajiner maka ia namanya berevolusi bukan berotasi…. Nah, kalau orang lagi menari balet lantas dia berputar di atas sepatunya nah itu namanya berotasi… **halaah**
Yah… blockquote-nya lupa ditutup!! Wakakakak……
pemahaman tentang rotasi itu yang aku suka.
keren.
hmmm.. sekarang sudah mulai mengajarkan senam konsentrasi jiwa ya?
baiklah saya ikuti saja pitutur mbak guru yoga
(*tapi ndak pake ujian ya)
Wah inspirasi stasiun kereta mana niy mba..????
Ogut sebenernya gi nyari pengagalan kalimat mana yang kira2 bisa mewakili jalur kereta Bogor-Kota pagi jam 7.. beuuuuh… representasi urban city banget hehehe..
Tahu dong. Itu yang nomer 1 terbalik dengan yang nomer 2. Saya tidak memperhatikan karena saya memang
tidakkurang tertarik pada gambarnya. Huehehe…..Namun andaikan saya memperhatikan dan mengetahui kekeliruan sekuelnya juga belum tentu saya berkomentar tentang kekeliruannya. Karena kesalahan sekuel gambar dan kesalahan pemakaian kata ‘rotasi’ tentu berbeda. Yang pertama (sekuel gambar) adalah bersifat kekurangtelitian. Walaupun ada juga kekurangtelitian yang bersifat ‘fatal’ tetapi banyak juga yang tidak banyak berpengaruh asal dapat dimengerti, sama halnya seperti salah ketik (typo). Sedangkan kesalahan yang kedua (kata rotasi) adalah bersifat ke
tidakkurangtahuan mengenai definisi yang tepat dan itu lebih fatal. Kesalahan pertama mungkin tidak akan terulang lagi lain kali, namun kesalahan kedua apabila ia tetap tidak tahu, maka ia akan terus menerus mengulangi kesalahan yang sama…..hmm… memang kita sesungguhnya adalah para pelancong.
yg kadang singgah sesaat di satu tempat, untuk sekedar ‘ngeluk boyok’, nyeruput kopi, atau cuma menghela napas.
dan habis itu meneruskan langkah…
atau, diri kita laksana gasing ? yg berusaha berlenggok berputar seindah mungkin, mengikuti sentakan nasib ?
lho, aku ngomong apa ini ?