Ramuan Yang Disebut Kesenangan

Ramuan Yang Disebut Kesenangan

Perjalanan pagi tadi dimulai dengan usaha melawan dingin, lelah, dan kantuk. Week end-ku baru berakhir jam 1 dini hari tadi, sejak kumulai pada jam 19.30 Jumat malam Sabtu. Kehidupan khas urban, yang kadang malas kuikuti, kadang butuh, kadang menerimanya juga tanpa syarat, kadang tersisih, kadang menyisih, kadang….

Yang kusukai adalah, kebahagiaanku diantara teman. Yang tak kusukai adalah begitu aku menyisih dari hiruk pikuk dan kembali sendiri, aku telah menambah kedalaman palung kesepian di hatiku. Kadang aku berpikir, betapa hidup ini begitu menuntutku. Seolah dukun tua yang memberikan ramuan kesenangan dan menuntut imbalan. Setiap tetes mesti kubayar dengan sekerat kesepian dari pundinya di hatiku, yang makin lama makin menggelisahkan.

***

Semalam, sebelum hari berganti. Aku lirik, karibku. Ia menyudahi akhir pekan kemarin dengan seulas senyum dan wajah berseri. Kami nyaris tiba bersamaan. Ia tiba di rumah dengan wajah berbinar cerah. Sambil berbaring di tempat tidur, ia menghubungkan dirinya dengan dunia maya. Tersenyum cerah dan berguman, ah Mbak Imel telah mengerjakan PR-nya dengan baik. Ia sibuk menekan-nekan tuts. Lantas tersenyum puas.

Rupanya seharian tadi ia menemui sahabat-sahabat yang dijumpainya di alam maya. Aku tahu ia kerap menulis di sebuah blog, dan terkadang ia menulis tentang aku, meski disitu namaku digantinya. Demi privacy-mu, katanya. Aku manggut-manggut saja, menyetujui. Kadang ia meminta ijin padaku jika ingin membagi kisahku, kadang ia kurang ajar juga.

Tapi aku tak pernah bisa marah padanya, sama halnya dengan dirinya. Ia pun tak pernah bisa marah padaku. Kami sudah terlalu lekat dan akrab. Meski begitu, dalam kondisi begini, aku lebih baik menyimpan rapat-rapat isi hatiku darinya. Aku tak ingin merusak kebahagiaannya.

Sialnya, ia selalu tahu, meski ia diam, tak bertanya, tapi matanya tahu. Seperti baru saja, kudapati ia memandangku dengan prihatin. Hanya dua detik, tapi dua detik itu cukup memberikan segala informasi yang ia butuhkan. Aku menghela nafas dan tersenyum. Baru ia membuka obrolan dengan menceritakan film yang baru ditontonnya.

“Jadi akhirnya, kau tonton juga Slumdog Millionaire?”

“Ya, film India terbaik yang pernah kutonton, aku sudah lama ingin menontonnya, pemerannya pintar, tak ada pohon, pilar dan adegan norak… bla..bla…bla…”

Terus terang aku tak mendengar sebagian besar isi percakapan ini, aku masih teringat dengan kegelisahanku, meski aku juga baru bertemu teman-temanku. Aku tergeragap, tersadar kembali, ketika ia menyebut nama seseorang yang kukenal dari ceritanya.

“Berkat kebaikan Bu Enny, ini kali kelima kami bertemu langsung.”

Ia melanjutkan, “Bu Enny baik sekali, begitu juga dengan teman-teman yang kutemui saat makan siang tadi.”

“Siapa?”

Bu Tuti Nonka, Mbak Imelda, Riku dan Kai yang sangat menggemaskan.”

“Oh, Ibu Tuti yang katamu dari Yogya, dan mbak Imelda yang kau temui November tahun lalu, yang dari Tokyo itu?”

Bu Tuti Nonka

“Ya betul sekali. Aku langsung mengenali Bu Tuti, karena foto dan aslinya serupa betul, entah mengapa percakapan kami bisa mengalir begitu saja, padahal kami berbeda generasi. Beliau telah menulis di Anita Cemerlang, bahkan saat aku masih kelas satu SD. Dan, aku, aku, akhirnya aku bisa bertemu Kai, ia bahkan menciumku. Dan tak kusangka aku bisa berjumpa dengan mbak Imelda lebih cepat. Ah kau masih ingat ya.”

Nice Kids!

“Kamu tahu…”

“Ya, ya, aku tahu, kamu selalu mengingat teman-temanku dengan baik, sementara aku, seringkali lupa dan hanya ingat garis besar ceritamu. Tapi aku senang mendengarkanmu bercerita. Bukankah aku pendengar yang baik, bagimu?”

“Ya, kamu selalu jadi pendengar yang baik bagiku, tentu tadi asyik sekali, pertemuan pertama dengan seseorang kawan, yang belum pernah kau jumpai langsung, dan pertemuan kesekian dengan teman-teman lama. Nada bicara dan matamu sudah berbicara banyak.”

Aku diam sesaat, sebelum melanjutkan kalimatku.

“Aku tahu, setiap kali bertemu dengan temanmu, kamu selalu bertanya dalam hati, apakah ini pertemuan terakhir, ataukah nasib akan mempertemukan kalian kembali. Kau tak perlu seperti itu, cukup kau nikmati setiap pertemuan, kau boleh berdoa dan berharap untuk bertemu lagi, tapi nikmati setiap detik kesadaranmu saat itu dengan syukur, itu akan memperpanjang silahturahmi kelak. Setelahnya tak perlu kau pikirkan, biarkan waktu yang akan menjawab”

Heran juga aku mendengar kalimatku sendiri. Sebenarnya aku agak bingung, mungkin ia juga. Tapi kulihat ia mengangguk-angguk, kemudian memelukku.

“Kau benar-benar paham, sudah berapa lama kita berteman?”

Aku hanya berkedik, karena aku tak pernah menghitungnya, tak pernah tahu tepat, sejak kapan, kami bisa bersama.

“Menurutmu?”

“Entahlah, apa perlunya itu?”

“Iya, apa perlunya, faktanya kita masih bersama.”

“Faktanya kita masih bersama.”

Tawa kami berderai, menyadari kami mengucapkan kalimat terakhir tadi bersamaan. Kami kerap mengalami hal itu. Mungkin karena pertemanan yang begitu apik.

“Kau tentu ingin tahu cerita pertemuanku dengan Ibu-ibu yang luar biasa itu, tapi tak sekarang, aku lelah sekali. Kalau kau belum bisa tidur, buka saja blog mbak Imelda, sudah ada laporannya di sana”

Riku, Yoga, Imelda, Kai, Enny, Tuti Nonka

Ia menyodorkan kamera digitalnya. Tak lama kemudian matanya terpejam, bibirnya masih menyisakan seulas senyum. Aku kembali disergap sunyi, dan kesepianku menghampiri kembali, dengan palung yang lebih dalam. Ah, sedikit tawa tadi, harus kubayar dengan sekerat kesepian. Kegelisahan menahan kantukku. Dan kuputuskan untuk menuliskannya dan membaginya dengan kalian.

Sayup, sayup kudengar lagu yang kuakrabi…

Don’t move
Don’t talk out of time
Don’t think
Don’t worry
Everything’s just fine
Just fine
…………………

Too much is not enough
I feel numb
I feel numb
Gimme some more
A piece of me, baby
I feel numb
Don’t plead
Don’t bridle
Don’t shackle
…………………….

Don’t project
Don’t connect
Protect I feel numb
Don’t expect
Suggest

I feel numb

16 Responses »

  1. Aduuuh …. tulisan yang indah sekali. Puitis dan romantis sekali ….
    Kayaknya Yoga dulu keliru ya masuk ke Teknik Sipil, karena bakat sastranya hebat banget. Nah, kuliah di Sipil aja tulisannya kayak gini, bagaimana kalau kuliah di Sastra?
    Sip, siip Yoga …. senang sekali ketemu Yoga kemarin

    Yoga:
    Belakangan saya memang pernah salah jurusan Bu, mestinya saya naik busway ke Dukuh Atas, jurusannya sudah betul, tapi kurang dua km, busway-nya belok ke arah Pasar Rumput. Jadinya saya terlambat lima menit, pas kemarin itu. Maaf ya Bu.

    Saya juga senang sekali bisa bertemu Ibu. Kapan-kapan kita ketemu lagi ya Bu. Terimakasih untuk makan siang yang berkesan kemarin. :)

  2. Yoga, tulisan yang manis sekali…..
    Tapi kayaknya Yoga dan mbak Tuti sama deh, sama-sama dari sipil…..cuma beda kota aja.

    Pertemuan kemarin sangat mengesankan, cuma sebentar tapi sangat dalam terasa dihati….apalagi melihat Riku dan Kai….lucu banget.

    Yoga:
    Terimakasih Bu, tak terasa kita sudah lima kali kopi darat, teh darat, capuccino darat, dan pizza darat hehehe….
    Saya jangan dibandingkan sama Bu Tuti dong Bu, pengalaman saya masih se-umprit :D
    Saya setuju, pertemuan kemarin sangat berkesan. Saya juga merasakan demikian.

  3. Setuju sama mbak Tuti…
    salam juga untuk temannya Yug …
    (aku baru sadar bahwa aku kemarin sedikit sekali mengambil foto… lebih sering makannya hahaha)
    EM

    Yoga:
    Salam telah diterima ;)
    Aku juga baru sadar, aku lebih sering main dengan Riku dan Kai hehehe….
    Ngomong-ngomong, berminat mencari bubur ayam Barito?

  4. Aih senangnya bertemu kawan!
    Yoga, nanti ketika kumudik (perkiraanku februari taon depan) kita ketemuan yah :) Aku bakalan beberapa saat ada di Jakarta kok waktu itu…

    Yoga:
    Siip Don, aku catat dari sekarang.
    *Asyiik… bakal bertemu Rock Star*

  5. Pingback: Ngerumpi bareng di American Grill, Dukuh Atas «

  6. @DV
    Lho kok bookingnya setahun sebelumnya…..hehehe….
    Kalau Yoga EO nya, ditanggung acaranya seru


    Yoga:
    Hehehe… itu karena DV bakal sibuk sekali, jadi dia perlu memastikan ada space buat ketemu sama blogger Indonesia :D
    Kalimat yang kedua itu, ditanggung acaranya seru? Ah Ibu ini ;)
    *pura-pura malu* :mrgreen:

  7. …Seolah dukun tua yang memberikan ramuan kesenangan…
    Dukun siapa Yog? Dukun Panoramix? hihihi…

    Wah, menyenangkan sekali pertemuannya !!

    Yoga:
    Hehehe iya mbak, Panoramix. Aku kan kadang jadi Asterix itu juga karena jasa dia. :D
    ##
    Trims mbak Tantiku yang ayu :)

  8. Hm…

    Tulisan yang indah untuk menceritakan pertemuan yang sangat indah pula… Hebat bener euy, mbakku yang satu ini! Ayo, pulang kampung! Aku tunggu di Surabaya… :)


    Yoga:
    Hehehe pulang kampung? Pergi ke kampung kali :D

  9. *abis baca komentar Lala..

    Lah lah…Mbak Yoga ini juga Surabaya juga toh? halah..jauh-jauh aku merunut kata di ladangku, ketemunya sama surabaya juga hehhehe

    *komentar untuk tulisan di atas
    aku senang dengan kalimat: “Aku tahu, setiap kali bertemu dengan temanmu, kamu selalu bertanya dalam hati, apakah ini pertemuan terakhir, ataukah nasib akan mempertemukan kalian kembali”….

    seringkali kita bertemu dengan orang-orang yang tidak sangka kita bisa ketemu, tapi sedihnya seringkali kita berpisah dengan orang-orang tak ingin kita jauh…


    Yoga:
    Haha iya? ya? Hehehe sama Cha, aku sudah blogwalking kesana kemari, ketemunya sama orang Surabaya, Jember dan sekitarnya… :)

    Kalimat yang itu ya, begitulah perasaanku, setiap bertemu teman.

  10. Duch mbak Yoga ceritanya seru dan kata-katanya indah banget, serasa terngiang=ngiang ditelinga kalau persahabatan itu indah banget apalagi kalau melihatnya dari beberapa generasi, hehehe, tapi tetap bisa klop….asyik…
    Kapan-kapan diadakan pertemuan para blogger di Jakarta dong mbak Yoga, terus mbak Yoga cs yang jadi EO-nya pasti seru dech :) :) :)
    best regard,
    Bintang

    Yoga:
    Mbak Bintang mau ikutan? Bener nih? Biasanya kita sampai “ditendang” dari resto lho, soalnya kalau sudah ketemu, lupa pulang :D hehehehe…

  11. Lho-lho-lho? Kok yang dibales komenku dulan? (17/02/09 – 08.08 wib).

    Curang ini…

    Yoga:
    Salah! Aku balas punya mbak Bintang duluan di “tempat sampah” baru komentarmu, terus yang lain.Begitulah urutan di admin AOE .

    Itu kenapa pakai menyebutkan tanggal dan jam segala? Akan dipakai untuk bukti apa? Hmm…
    :P

  12. Sebuah cara yang lain … untuk menceritakan kisah kopdar yang indah indeed …

    Masing-masing punya cara sendiri untuk bercerita tentang pertemuan ini …

    And as ussual …
    This is the beauty of blogging …

    Salam saya …
    NH18


    Yoga:
    Saya menemukan keindahan blogging sekali lagi Pak. :)

  13. Tuuh kan. Another cool post, yog.
    Oh Yoga dari sipil toh, duh bener ga nyambung deh… :D

    Kopdar tapi perempuan semua ya, kecuali Kai sama Riku.

    Yoga:
    Trims Mangkum, masak sih dari Sipil terus nggak boleh nulis gitu? :D

  14. tapi teman-temanmu kan selalu ada kapan pun kau butuhkan, yo. maka jangan pernah merasa kesepian lagi. bukankah pertemanan tak selamanya harus pertemuan fisik?

    hmm… pertemuan yang manis pastinya. terasa dari tulisannya.


    Yoga:
    Kesepian itu seperti phantom, yang bisa datang kapan pun ia mau. Dalam gelak tawa bersama sahabat pun, ia masih menemukan celah untuk menyelinap.

    ##

    Tentu Ni, pertemuan tempo hari, sungguh menyenangkan dan mencerahkan hariku. :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

Gravatar
WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s