
Nikmatilah hari ini, seolah kau kanak-kanak selamanya.Berjalan, meniti bayangan, bebas berimajinasi dan tergelak diantara debu yang terhambur.Tanpa takut, tanpa tekanan.Bebas!
“Ya, bagus kau tepat berada di batas bayangan, here we go, child pose!“
klik!

Ajak sahabatmu! Kau boleh menjadi Peterpan jika kau mau. Temanmu bisa memilih menjadi siapa atau apa saja. Bergembiralah, bersenang-senanglah. Jangan biarkan dunia terburu-buru menggenggammu
“Asyik, bagus nak, tetaplah di situ, tahan sejenak. “
klik!

Jadi kalian hendak main bola. Tentu saja kau boleh bermimpi menjadi Pele, atau siapa saja yang kau sukai. Maradona? Tentu, Zidane, terserah. Bermimpilah Nak, sebelum dunia merenggut mimpimu.
“Mudah-mudahan kau mendengar bisikanku, tahan posisimu, jangan bergerak”
klik!

Jika tiba waktunya kau tinggalkan dunia anak-anak, pastikan kau telah puas
meski begitu, jagalah apinya didalam hatimu sampai kapan pun
“Terimakasih!!!”
klik!
***
Saat rehat Ashar, disebuah gudang kayu yang tengah kujelajahi. Kulihat bocah kecil kurus berbaju biru, tengah memainkan bola plastik merah. Awalnya, ia sendiri, ia tak menyadari keberadaanku, yang tengah berdiri di samping sebuah kolom baja tua. Jarak kami sekitar 30 meter, beruntung aku menggunakan kamera ini, sehingga meski dari jauh pun aku tak kehilangan pose-pose mereka. Posisiku cukup menguntungkan. Aku leluasa memotret, menangkap momen-momen alami yang ia ciptakan, sebelum akhirnya ia menyadari kegiatanku.
Ketika itu semua usai. Aku kembali menikmati saat rehatku dengan memandang pepohonan dan bangunan-bangunan tua di komplek itu yang akan segera dirobohkan oleh pemiliknya yang baru. Angin berkesiur, membuka satu-persatu memori keseharianku.
Sehari sebelumnya, aku ada di kota lain yang berjarak ribuan kilometer dari tempatku berdiri saat ini, aku masih sempat mengikuti kelas Yoga. Menikmati semangat para yogi. Hari itu guruku tak menjalani detoks, pada saat kondisi yang prima seperti kemarin ia pasti akan mengajarkan gerakan-gerakan dinamis. Ardha Chandrasana, Ukatasana, Urdhva Virabhadrasana atau sikap Warrior 1 dan 2, dan seterusnya dalam sepuluh hitungan nafasnya yang setara dengan ratusan hitungan nafas kami. Oh, betapa lemak dan pekerjaan kami, berpotensi memendekkan umur jika tak segera diimbangi dengan latihan-latihan seperti ini.
Jika kami sudah nampak tertinggal dan lemas luar biasa, biasanya ia akan menyuruh kami melakukan Balasana atau Child Pose. Segera wajah pasi jadi berseri.
Kami duduk di matras, kedua kaki ada di kanan kiri badan atas yang telungkup, sejajar lantai, sementara kedua tangan menjulur ke depan, rata dengan lantai. Ah, tentu susah membayangkannya. Tapi percayalah, pada saat itu, seluruh darah mengalir ke otak, ruangan disekitar pusar terbuka, sehingga nafas lebih lega. Saat itu kelenturan lutut meningkat dan tentu saja gerakan ini mengatasi kelelahan dan membuat yogini relaks.
Aku menyukai Balasana atau Child pose, bukan karena gerakannya yang melegakan dan membebaskan, semata-mata, karena menurutku Balasana menggambarkan keselarasan sempurna antara sebuah gerakan, manfaat, nama dan makna dari gerakan itu sendiri. Benar-benar indah.
Saat Balasana kemarin, aku tersergap sebuah memori lawas. Musik pengiring Yoga yang tadinya kudengar jelas, akhirnya makin pelan dan berganti dengan suara John Lennon yang terjebak di kepalaku.
Let me take you down, ’cause I’m going to Strawberry Fields.
Nothing is real and nothing to get hung about.
Strawberry Fields forever.
Kugelengkan kepalaku pelan, untuk menghalau John Lennon. Alih-alih sukses, ia malah menyenandungkan lanjutan lagunya dengan suara setengah berbisik seperti mengejekku yang tengah melakukan Balasana.
Living is easy with eyes closed, misunderstanding all you see.
It’s getting hard to be someone but it all works out, it doesn’t matter much to me.
Let me take you down, ’cause I’m going to Strawberry Fields.
Nothing is real and nothing to get hung about.
Strawberry Fields forever.
” Uhm.. ya, ya, aku mengerti. Ini Balasana, child pose dan kau mengejekku (suaranya berubah jadi sangat sumbang), bukan, bukan, kau mengingatkanku (suaranya merdu kembali), tentang anak-anak dan dunianya.”
Tentu kuucapkan itu di dalam hatiku. Monolog konyol dengan John Lennon yang berdiam di kepalaku, membawa ingatanku mundur bertahun-tahun, ke suatu adegan: seorang bocah sepuluh tahun bersepeda hijau pupus, yang kukenal baik. Sepeda yang dikayuhnya bukan sepeda baru. Itu sepeda bekas yang diperbaiki dan dicat ulang sebelum dibeli Ibunya. Debu tebal menempel di bajunya, ada luka di lututnya, tapi wajahnya tak mencerminkan apa-apa.
Semenit sebelumnya ia terguling dipertigaan yang belum selesai atau tepatnya, tak akan pernah selesai diperbaiki, sepuluh meter dari kios rokok yang lebih mirip warung serba ada kecil, apek, yang baru ditinggalkannya.
Di siang yang terik itu, kerikil-kerikil menguji ketangguhan ban sepedanya, sementara ia sendiri tengah menjaga keseimbangan agar termos es besar yang isinya tinggal sedikit tak jatuh. Akhirnya ia terjatuh juga, tanpa berteriak (karena sepanjang usianya kelak ternyata ia memang tak bisa berteriak dan ia merasa memerlukan latihan khusus untuk itu), tanpa tangis, tanpa mengomel. Sedetik kemudian ia bangkit, membereskan termos es yang terguling, memungut beberapa es yang terserak dan ternoda tanah, menggibaskan debu di bajunya, seperlunya, lantas, mengecek sepeda, dan mengayuhnya lekas-lekas. Bapak penjaga kios rokok yang sedari tadi memperhatikannya, hendak berlari, menolong, tapi demi melihat gadis kecil itu telah bangkit tanpa satu patah kata pun ia mengurungkan niatnya.
Gadis kecil itu paham, kesulitannya baru saja, tak berarti apa-apa, dibanding isi termos es, dan beberapa uang kertas dan logam dalam plastik dikantongnya. Itu uang hasil penjualan es, yang dititipkan di kios rokok tadi. Ia paham, uang yang sebenarnya tak seberapa itu, jika dikumpulkan dengan hasil penjualan es lainnya, yang dititipkan di koperasi sekolah atau warung-warung di sekitar rumahnya, akan berpotensi jadi bukunya, buku adik-adiknya, makan tiga kali sehari untuk enam kepala, SPP untuk empat kepala, minyak tanah, air, dan listrik, setelah dibelanjakan bahan baku untuk es. Itu membuat Ibunya bernafas sedikit lega.
Sedangkan sisa es yang tak laku, itu harus cepat-cepat dibawa pulang, agar bisa masuk freezer sebelum es yang terbuat dari santan dan kacang ijo, basi tak terselamatkan, sedangkan menyelamatkan es yang setengah cair, agar segera membatu berarti penghematan energi. Es-es itu bisa dijual lagi keesokan hari, itu berarti banyak. Tentu saja ia mengerti, karena Ibunya yang mengajarkan.
Ia kenal betul dengan karakteristik luka seperti itu. Setelah kulit sobek, akan nampak lapisan di bawahnya yang berwarna putih. Jika didiamkan, tak lama kemudian, akan nampak titik-titik merah yang makin lama makin besar, hingga seluruh lapisan yang berwarna putih itu menjadi merah bahkan kehitaman, malamnya lutut itu akan sulit digerakkan, dan ia bisa saja demam ringan.
Ia sudah tahu seluruh proses itu. Jadi tak perlu buang energi dengan mengeluh, lebih-lebih merintih. Yang penting segera mencucinya dengan alkohol atau jika alkohol habis, cukup dengan air bersih. Sedikit sisa Betadine akan menolongnya. Lantas ia akan menunggu proses penyembuhan itu dengan sabar.
Barangkali jika terpaksa ia akan pergi sendiri ke Puskesmas, meminta dokter memeriksa, tentu jika dan hanya jika ia demam, atau luka itu jadi borok yang tak kunjung sembuh, beruntung Puskesmas masih terjangkau. Ibunya pasti akan menyisihkan sedikit uang belanja untuknya, memeras otak membuat menu yang lebih sederhana dari tahu tempe yang biasa mereka santap sehari-hari. Tentu saja ia tak akan tega, dan rasa-rasanya tak akan sampai sejauh itu. Ia juga tak mengeluh, meski ia tahu, kelak lututnya berhias bekas luka. Ia tak pernah menyesali, baginya setiap tanda mata akan selalu bercerita tentang akarnya.
Sakit akibat luka itu tak akan lama, dan hanya ia seorang yang merasakan perihnya. Tapi, uang hilang dan es yang tak bisa dijual lagi berpotensi menyakiti kelangsungan hidup kepala-kepala yang lain, lebih lama.
***
“Ok, next Adho Mukha Svanasana, Downward Facing Dog”
Suara guru Yoga membuyarkan lamunanku. John Lennon yang masih berdiam dikepalaku, terkekeh-kekeh. Ia masih melantunkan lagu yang sama, kali ini kulihat ia melantunkannya tanpa suara, tapi aku tahu liriknya.
No one I think is in my tree; I mean it must be high or low.
That is you can’t you know tune in but it’s all right, that is I think it’s not too bad.
Let me take you down, ’cause I’m going to Strawberry Fields.
Nothing is real and nothing to get hung about.
Strawberry Fields forever.
Sambil mengambil posisi nungging seperti anjing. Aku berpikir, adakah “kebun stroberi” yang sebenarnya bagi anak-anak? Mungkin hanya sekian persen yang benar-benar tahu “kebun stroberi” itu nyata dan sekian persen itu berarti sedikit persen, bukan? Dua tahun lalu, sisa dari sedikit persen itu bisa saja diganti dengan bilangan 15 persen dari 850 miliar kepala di dunia, pergi tidur dengan perut lapar. Strawberry Fields sendiri adalah nama sebuah tempat perlindungan anak-anak di sebuah suburb di tempat asal John Lennon di Liverpool sana.
Dunia ini bukan surga. Hidup bukan melulu tentang kesenangan, hidup itu untuk merasai, memaknai, menjalankan dan mengisinya dengan segala laku yang terbaik, entah disaat senang atau susah, sebuah sub terminal sebelum menuju terminal akhir. Tak ada yang nyata dan tak ada yang perlu dikhawatirkan, tambah John Lennon yang ternyata belum lenyap.
Apakah anak-anak yang kupotret itu telah mengerti tentang ini? Bahkan jika aku memiliki hak dan kesempatan untuk bercerita pada mereka, apakah perlu kusampaikan, jangan pernah takut pada kesusahan hidup, meski kesulitan itu menderamu prematur. Meski aku ragu sendiri dengan kalimatku barusan, adakah yang tahu prematur atau tidaknya sebuah kesulitan hidup. Bagaimana dengan anak-anak yang terlahir dikeluarga yang benar-benar tak mampu? Bagaimana anak-anak yang dibuang Ibunya beberapa saat setelah dilahirkan? Mereka tak pernah meminta. Akhirnya aku meralat sendiri kata prematur itu, lebih tepat jika kukatakan tanpa kata prematur. Sebab segala sesuatu telah teratur dan diatur tepat pada waktunya masing-masing. Seperti halnya jodoh dan rejeki yang tak pernah terlambat dan lebih cepat datangnya, tak pernah salah, tertukar dan kurang kadarnya.
Sahabatku si gadis kecil yang kuceritakan tadi telah beranjak dewasa. Susah dan senang datang silih berganti dalam hidupnya. Ia dan keluarganya memahami betul makna kesulitan hidup, dan teguh memandang masa depan dengan segenap daya. Satu sama lain saling menguatkan, sehingga tak ragu melangkah menerjang hidup sekalipun mereka tahu akan susah. Kemudian, mereka akan saling menghibur dan tertawa seperti pelaut yang baru terlepas dari ombak besar.
Ya, mengapa takut susah, toh dulu mereka sudah pernah merasakannya. Mengapa takut merasakan susah, jika pengalaman mengajarkan dipenghujung hujan yang mencekam kerap terlukis pelangi. Di penghujung badai, laut akan tenang dan angin bertiup perlahan, bahkan laut dengan angin mati pun tak selamanya demikian. Dan aku melihat, hal ini bukan berarti bersikap menantang kesulitan dan kesusahan yang baru, tapi ini tak lebih sebuah jimat untuk bertahan dan maju.
Dikejauhan sebuah Avanza hitam, nampak terseok-seok, melawan jalan berbatu menuju gudang terbuka, tempatku bernaung sedari tadi. Itu mobil sewaan yang akan mengantarku ke Bandara. Dua anak kecil tadi sudah benar-benar tak nampak batang hidungnya. Aku melanjutkan lirik yang belum dituntaskan John Lennon kemarin.
Always, no sometimes, think it’s me, but you know I know when it’s a dream.
I think I know I mean a ‘Yes’ but it’s all wrong, that is I think I disagree.
Let me take you down, ’cause I’m going to Strawberry Fields.
Nothing is real and nothing to get hung about.
Strawberry Fields forever.
Strawberry Fields forever.
Aku ingin jadi pelangi, Kakak Yoga…karena ia berwarna-warni..dan banyak membuat orang tersenyum..karena ia datang untuk memberi warna pada mendung…boleh nggak Kak Yoga?
Nanti aku difoto juga ya Kak Yoga
Ah John Lennon!
Aku sangat menyukainya terlebih setelah ia bersolo karir dari The Beatles.
Tulisan yang bagus, Yoga, seperti biasa, dalaammmmm
Anyway, back to John Lennon, aku sngat suka dengan Dream dan Mind Game.
Inget dong lirik uniknya “Abawakawa pose pose”
Have a good day!
Lihat fotonya. Pengen nangis, Ga.
_sedang mengalami role-denial_
Yoga learns Yoga …
BTW ..
Sempat-sempatnya memoto momentum sederhana dan lucu ini
Dan yang lebih luar biasa … Yoyo merangkainya menjadi kalimat-kalimat cerita indah penuh makna
Thanks Yo …
(ini dua postingan seharusnya Yo …) hehehe
#
Fotonya..
nice view,
bicara banyak….
#
Siang tadi seorang kolega seniorku menyenandungkan Strawberry Fields dan sekarang aku membaca ini?
Wow..
suatu kebetulan yang saling berkaitan?
#
Tulisan khas Yoga
dari sesuatu yang sederhana tapi dirangkai jadi sesuatu yang penuh makna.
Bravo dear !
Sebelum mengenal yoga dulu saya skeptik, menurut saya dulu olah raga itu ya yang lari-lari atau jingkrak-jingkrak yang menghasilkan banyak keringat bukan melipat-lipat badan seperti Yoga.
Tetapi sekarang saya mengenalnya dan pertama kali melakoninya, ternyata lebih berat dari aerobik atau lari pagi dan hasilnya juga luar biasa badan lebih fit dan merasa lebih bahagia setiap harinya. Thanks
Masa kanak-kanak yang indah…betapapun akhirnya akan berlalu.
Foto-fotonya mengingatkanku pada masa kanak-kanak yang tak pernah stres, selalu senang……hmm indahnya dunia kanak-kanak
Apapaun bisa tertangkap olehmu ya…
kesukaanmu akan fenomena sosial
yang kamu rangkaikan dengan sangat indah…