Monthly Archives: March 2009

Hanya…

Hanya…

Bolehkah kuucapkan sedikit kalimat untukmu, meski ini bukan kalimatku sendiri tapi tolong dengar bisikku, lewat syair ini*.

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah... penuh nanah

Seperti udara... kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas...
ibu...
ibu...

Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas...
ibu...
ibu....

Seperti udara... kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas...
ibu...
ibu...

 Untuk sore ini, besok dan nanti, sampai kapan pun.

 

*Ibu – Iwan Fals.

Memiliki dan Dimiliki

Memiliki dan Dimiliki

senduu-w

Nggak sekali ini, waktu terasa seperti terbang melayang dan terasa tak sabar menunggu aku yang sedang tertatih-tatih, berusaha menyelesaikan semua agenda. Tahu-tahu sudah Minggu. Tahunya, setelah aku panik karena bangun kesiangan dan merasa kemarin itu Senin. Setelah diam sesaat, baru ngeh kalau masih Minggu. Terus tidur lagi? Nggak sih, setelahnya aku memilih berbaring diam. Meneruskan moment of silent, sambil memperhatikan cahaya matahari yang menerobos dari celah jendela. Menikmati berisik-berisik didepan flat yang makin hari kerap terdengar, sejalan dengan pembangunan rumah di lahan kosong depan flat. Mengingat-ingat, kapan terakhir kali suara biola dari rumah sebelah terdengar. Rasanya sudah lama, dan itu karena aku yang jarang berada di flat pada jam latihan biola tersebut. Read the rest of this entry

1000 Buku Bagi Anak Negeri-Up Date Pos Penerimaan Buku

1000 Buku Bagi Anak Negeri-Up Date Pos Penerimaan Buku

Kami tunggu partisipasi Anda dalam rangkaian kegiatan “Bagi Buku – Bagi ilmu – Bagi Anak Negeri” berupa donasi buku baru maupun buku bekas layak baca yang telah diberi sampul plastik. Donatur buku diharapkan membantu biaya pengiriman buku. Sebagai informasi biaya pengiriman buku dari Jakarta ke Mentawai Rp. 20.000 per Kg. Buku ini boleh dibubuhi nama dan tandatangan donatur, beserta deskripsi keperluan donasi. Buku dapat dikirim/diserahkan paling lambat pada tanggal 30 April 2009 ke salah satu dari pos-pos penerimaan berikut ini: Read the rest of this entry

Ia Mengajarkan Keberanian Untuk Terus Melangkah

Ia Mengajarkan Keberanian Untuk Terus Melangkah

kisah-langit-merah_ya_w

Hidup bukan hanya untuk diratapi! Hidup untuk dijalani, seberapa pun besarnya tantangan menghadang, seberapa pun besarnya perjuangan harus ditempuh! Hidup bukan tentang apa yang kau inginkan dan apa yang tidak kau inginkan!

- Bubin Lantang, Kisah Langit Merah Keberanian Untuk Terus Melangkah-

 

Kisah Langit Merah telah menjadi buku favoritku sejak aku membacanya bulan lalu. Buku ini penanda kembalinya Bubin Lantang, seorang penulis yang kukenal tahunan lampau dari tidur panjangnya. Mungkin kalian pernah mengenal serial Anak-Anak Mama Alin, nah Kisah Langit Merah ditulis oleh orang yang sama.

Kisah Langit Merah, menceritakan seorang pemuda bernama Langit Merah. Suka duka dan prinsip hidupnya sarat dengan hal-hal yang kukenal dekat dan belum lagi menjauh dari hidupku sendiri, yang tak tahu akan mengalir kemana. Tak pelak, isi buku ini membekas dalam dan pipiku basah begitu saja pada penghujung buku.

Sebagaimana ia, aku pun merasa hidup memang indah, tetapi tak mudah dalam arti yang sebenar-benarnya. Kalimat-kalimatnya membungkam mulutku rapat, mengunci lidah hingga kelu, menyodok rongga dada hingga sesak tak bersisa. Menyentil dan membuatku merinding, bagaimana tidak, aku, aku begitu mengenal kalimat ini, kalimat yang kucamkan bertahun-tahun didalam kepala dan hatiku, jauh  sebelum aku membacanya di novel ini; bahwa hidup mesti dijalani dengan apa yang ada, bukan dengan apa yang seharusnya ada. Itu nasehat seorang Ibu pada anaknya, aku, yang dipandangnya kerap menuntut pada hidupku sendiri. Barangkali Ibuku telah lupa, tetapi ucapan beliau telah menyelamatkanku berkali-kali. Betapa kelindan ini menyesakkan, menyodorkan realita hidup dimasa lalu yang membayangi petualanganku, dan membuka wacana  tentang sungai kehidupan yang telah menghanyutkanku hingga tiba pada saat ini, detik ini ketika aku menuliskan kalimat ini. Read the rest of this entry

BAGI BUKU | BAGI ILMU | BAGI ANAK NEGERI

BAGI BUKU | BAGI ILMU | BAGI ANAK NEGERI

Komunitas 1N3B – 1 Nusa 1 Bangsa 1 Bahasa 1 Bumi, akan mengadakan acara “Bagi Buku – Bagi Ilmu – Bagi Anak Negeri“ pada tanggal 20 – 23 Mei 2009 di pedalaman rimba Pulau Siberut, tepatnya di Desa Madobak dan Desa Muara Siberut, Pulau Siberut Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.

Terangkai dalam acara Bagi Buku – Bagi Ilmu – Bagi Anak Negeri adalah : Read the rest of this entry

Cium Aromanya Teguk Kopinya

Cium Aromanya Teguk Kopinya

Disampul kantong kertas tipis putih itu tertulis:

 

KOFFIE FABRIEK AROMA

BANDOENG

 

Lantas dibagian bawahnya tertulis pula:


Maoe minoem koffie selamanja enak?

 

Aromanja dan rasanja tetep, kaloe ini Koffie soeda di boeka dari kantongnja harep di pindahken di stofles atawa blik jang tertoetoep rapet.

 

Djangan tinggal

                                   di kantong!

 

Hari-hari ini saya ditemani kopi Aroma, berganti-ganti antara Robusta dan Arabika, mengalahkan simpanan kopi-kopi lama. Saya mesti berterimakasih pada DM, yang sudah mau saya repoti, memaksa ia keluar dari sarangnya yang nyaman menuju jalan Banceuy 51, tempat fabriek Aroma berada dan membeli dua jenis kopi yang saya pesan. Hanya dua jenis, karena memang hanya ada dua jenis kopi yang disediakan toko sederhana yang kata Mas Toni mempraktekkan bisnis yang arif, dimana pemiliknya Pak Widya Pratama yang dosen di Unpad menerapkan falsafah bisnis yang menjunjung tinggi integritas, kejujuran, keadilan, kesederhanaan. Saya nggak tahu apakah DM sempat ngobrol dengan Pak Widya atau tidak, kalau sempat barangkali ia akan berpendapat yang sama.

kopi-aroma-1

Soal rasa, jangan ditanya, saya cuma bisa bilang sedap sekali. Kopinya tak terlalu asam, sangat ringan dibanding Arabika dari Toraja yang kerap saya minum. Konon kopi ini cocok untuk teman-teman yang lambungnya sensitif, karena tingkat keasamannya memang rendah. Bisa demikian karena kopi Arabika yang sampai ditangan pembeli berasal dari komposisi 99% biji kopi yang telah disimpan hingga 8 tahun dicampur dengan 1% Arabika yang berusia 32 tahun, sedangkan Robusta disimpan antara 2 hingga 5 tahun. Lamanya penyimpanan inilah yang kabarnya menyebabkan derajat keasaman kopi Aroma berkurang.  

Cobalah sesekali, jika ingin menikmati rasa kopi yang otentik, jangan pakai gula. Atau jika yakin dengan kondisi perut dan nggak sensitif terhadap kafein, cobalah cara saya, hirup aroma kopinya, buat satu cangkir kecil kopi pekat tanpa gula, lantas teguk dengan sepenuh hati. Hmm.. surga kecil! Hehehe… :D

Jangan Tidur!

Jangan Tidur!

Kalau diminta menggambarkan diri saya seperti apa, mungkin yang bakalan terpikir pertama kali adalah, saya lebih suka mengerjakan hal-hal yang nggak wajib lebih dulu daripada hal-hal yang wajib, sama nggak? Jadi nggak heran, kalau dulu saya kerap menggunakan SKS (Sistem Kebut Semalam), ketika menghadapi ujian, atau mengerjakan tugas pokok jelang dead line. Tapi, jawaban paling jujur ini nggak bakal bocor, kalau nggak saya ceritakan. Sebab, begitu menyadari kekurangan saya yang satu itu, saya berusaha mengatasinya dengan segala cara. Herannya, jelang detik-detik yang menegangkan, justru saya bisa mengerjakan tugas lain dengan lebih produktif, sebelum benar-benar mengerjakan kewajiban saya yang utama. Seperti malam ini, kepala saya kok malah ngajak bikin tulisan iseng.

Idenya sudah mengambang dikepala sejak dua tiga hari lalu, ketika salah teman saya memampang satu video dari YouTube. Saya suka banget dengan rekaman itu, maka nggak ragu-ragu saya tekan opsi like di-posting teman tersebut. Isinya rekaman permainan gitar Rama Claproth yang menurut saya, stunning, sangat indah. Dan lagu yang dimainkan adalah Indonesia Raya. Kalau ingin menyaksikan, klik langsung di link ini ya. Saking cantiknya, sampai ada yang bilang, Rama yang asli Indonesia ini bermain bak Jimi Hendrix, dan teman yang post di YouTube bilang ” I bleed for Merah Putih”.

rama-claproth_indonesia-raya-anthem-in-blues-w Read the rest of this entry

Tentang Ruang dan Bayang

Tentang Ruang dan Bayang

of-spaces-and-shadows-2w

Seseorang yang wajahnya nampak familiar, memerlukan memutar kepalanya demi mengamati saya, yang tengah melintasi sebuah cafe kecil dengan tergesa-gesa. Ia salah satu pengunjung cafe, sementara saya hanya numpang lewat sebelum menuju sebuah toko kecil minimalis bagian dari kompleks mungil itu yang kerap menjual benda-benda yang tak umum dijumpai di pasaran. Saat itu menjelang magrib. Saya sengaja singgah ke sana untuk beristirahat sejenak dari kemacetan lalu lintas, sebelum tercebur lagi di kemacetan berikutnya. Istirahat tentu maksud saya, bukan kemudian saya duduk-duduk sambil bertopang dagu, adalah pameran seni rupa oleh Hanafi yang dibuka mulai tanggal 6 Maret kemarin dan demi sebuah buku-lah yang jadi tema rehat Rabu petang itu.

Kompleks kecil yang saya maksud adalah properti yang digunakan komunitas Salihara. Lokasinya di jalan Salihara – Pasar Minggu. Tapi jika anda bertanya pada oom atau tante yang telah lama tinggal di sekitar situ, mungkin mereka hanya berkedik dan mengangkat bahu, sebab mereka lebih mengenal lokasi itu dengan nama dua landmark-nya, yaitu Balai Rakyat atau Unas. Apalagi kalau anda bertanya, dimana Komunitas Salihara? Jangan harap mendapat jawaban yang memuaskan. Saya tahu dengan sendirinya, karena kerap mondar-mandir di jalan Salihara dan tertarik dengan sebuah kegiatan konstruksi di salah satu sisi jalan itu. Berbulan-bulan setiap lewat, saya amati perkembangan konstruksinya, hingga akhirnya, beberapa bulan yang lalu tampaklah fasad dan keseluruhan gedung yang telah sempurna. Bentuknya yang tampak tak lazim, dibanding bangunan lain di sekitar situ, otomatis makin menambah keinginantahuan saya. Lantas, tahulah saya, di tempat itu bakal menampung kegiatan seni rupa, teater, musik, tari, film dan sebagainya. Saya juga jadi tahu, Komunitas Salihara ini adalah pengembangan Komunitas Utan Kayu, dan keingintahuan saya makin tuntas dengan adanya milis dan situs komunitas ini.

Buku yang saya cari ternyata tak ada. Sayang, toko kecil itu hanya memberikan sedikit pilihan yang tak semuanya saya pilih. Lantas saya beranjak mengisi buku tamu. Saat hendak mengisi buku tamu itu lah, saya baru menyadari, mengapa petang ini banyak mahasiswa berkeliaran dan nampak pula beberapa poster bertulis CCF. Ah, saya baru ingat, hari ini ada pertunjukan pantomim yang diselenggarakan CCF, dan layak saya merasa familiar dengan wajah seseorang yang duduk di cafe itu. Hm, coba tebak ya, siapa?

Setelah berbincang sebentar dengan Bapak M, yang tengah duduk di ticket counter, saya segera bergegas ke atas, menuju galeri Salihara yang bentuknya agak silinder. Lagi-lagi bergegas, tentu, karena saya hanya punya waktu paling lama di sana setengah jam. Dan, mulailah saya menikmati kenyamanan di dalam galeri seorang sendiri selama lima belas menit pertama. Sungguh leluasa dan menyenangkan.

*** Read the rest of this entry

Celoteh Sebelum Tidur

Celoteh Sebelum Tidur

Tepat jam 22.23, ketika saya mulai menulis ini. Saya baru mandi dan bebenah sedikit, setelah meninggalkan flat mungil saya selama beberapa hari. Ransel kecil yang sebenarnya punya banyak kompartemen, masih tergeletak di lantai. Setumpuk pakaian kotor sudah saya pindahkan ke keranjang cucian, gadget-gadget sudah di keluarkan dan nangkring di atas meja. Kabel bergulung-gulung masih di kantong depan, beberapa buku masih ada di dalamnya, menunggu dikembalikan ke rak. Sudah pasti, nggak bisa bebenah total, karena mesti jaga stamina. Besok, seminggu penuh dari senin hingga minggu, inshaAllah akan sibuk. Sama halnya dengan minggu lalu dan minggu sebelumnya, ditambah minggu depan, mesti menghadapi ujian.

Saya nggak mudik seperti yang disangka Pak Trainer. Saya mohon maaf, nggak bisa ikut acara mbak Imelda di Yogya. Dan lebih-lebih, saya mohon maaf, terlambat membalas komentar teman-teman di AOE dan di Agoyyoga. Padahal jumlah komentar yang mesti dibalas tak sebanyak komentar diblog-blog selebritis. Padahal, sehari-hari sebetulnya saya masih terhubung dengan internet, jika mau, dan masih rutin mengupdate status di Facebook. Hanya saja, yang namanya hati dan pikiran ini masih saya fokuskan untuk menjalankan amanah dari ladang nyata tempat dimana saya “mencangkul dan menebar benih”.  Tugas yang pada awal tahun ini telah saya deskripsikan dan saat inilah pengejawantahannya. Jadinya, di saat senggang, saya memilih untuk tidur dan di saat ada waktu luang saya manfaatkan untuk menyelesaikan urusan pribadi yang tak ada habisnya.

Kalau dirasa-rasa, rasanya 24 jam, tak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan saya, mungkin anda juga. Tentu saya tak bisa mengubah waktu seenaknya. Ada Sunatullah dan saya tak hidup sendiri di muka Bumi ini. Apalagi Bumi begitu luasnya, hingga saya tak bisa seperti Little Prince yang tinggal sendirian di planet kecilnya, dan bisa seenaknya menggeser-geser kursi beberapa langkah demi mengejar pemandangan matahari terbenam. Tak bisa lain, mesti membuat deskripsi yang jelas dan menentukan obyektif sejelas mungkin untuk membangun road map agar bisa memanfaatkan waktu semaksimal mungkin.

Dan Blog, adalah salah satu lahan yang terpaksa saya kalahkan dengan berat hati, sebagaimana halnya, saya mengalahkan hati saya untuk mengurangi membaca buku-buku sastra di hari kerja, atau bahkan sambil meringis, saya terpaksa cukup puas menatap kanvas-kanvas kosong di pojok kamar dan menghindari menyentuh cat. Lebih parah lagi, kini tak sempat menyentuh koran hari ini– yang biasanya masih sempat terbaca menjelang tengah malam hari yang sama. Read the rest of this entry