
Seseorang yang wajahnya nampak familiar, memerlukan memutar kepalanya demi mengamati saya, yang tengah melintasi sebuah cafe kecil dengan tergesa-gesa. Ia salah satu pengunjung cafe, sementara saya hanya numpang lewat sebelum menuju sebuah toko kecil minimalis bagian dari kompleks mungil itu yang kerap menjual benda-benda yang tak umum dijumpai di pasaran. Saat itu menjelang magrib. Saya sengaja singgah ke sana untuk beristirahat sejenak dari kemacetan lalu lintas, sebelum tercebur lagi di kemacetan berikutnya. Istirahat tentu maksud saya, bukan kemudian saya duduk-duduk sambil bertopang dagu, adalah pameran seni rupa oleh Hanafi yang dibuka mulai tanggal 6 Maret kemarin dan demi sebuah buku-lah yang jadi tema rehat Rabu petang itu.
Kompleks kecil yang saya maksud adalah properti yang digunakan komunitas Salihara. Lokasinya di jalan Salihara – Pasar Minggu. Tapi jika anda bertanya pada oom atau tante yang telah lama tinggal di sekitar situ, mungkin mereka hanya berkedik dan mengangkat bahu, sebab mereka lebih mengenal lokasi itu dengan nama dua landmark-nya, yaitu Balai Rakyat atau Unas. Apalagi kalau anda bertanya, dimana Komunitas Salihara? Jangan harap mendapat jawaban yang memuaskan. Saya tahu dengan sendirinya, karena kerap mondar-mandir di jalan Salihara dan tertarik dengan sebuah kegiatan konstruksi di salah satu sisi jalan itu. Berbulan-bulan setiap lewat, saya amati perkembangan konstruksinya, hingga akhirnya, beberapa bulan yang lalu tampaklah fasad dan keseluruhan gedung yang telah sempurna. Bentuknya yang tampak tak lazim, dibanding bangunan lain di sekitar situ, otomatis makin menambah keinginantahuan saya. Lantas, tahulah saya, di tempat itu bakal menampung kegiatan seni rupa, teater, musik, tari, film dan sebagainya. Saya juga jadi tahu, Komunitas Salihara ini adalah pengembangan Komunitas Utan Kayu, dan keingintahuan saya makin tuntas dengan adanya milis dan situs komunitas ini.
Buku yang saya cari ternyata tak ada. Sayang, toko kecil itu hanya memberikan sedikit pilihan yang tak semuanya saya pilih. Lantas saya beranjak mengisi buku tamu. Saat hendak mengisi buku tamu itu lah, saya baru menyadari, mengapa petang ini banyak mahasiswa berkeliaran dan nampak pula beberapa poster bertulis CCF. Ah, saya baru ingat, hari ini ada pertunjukan pantomim yang diselenggarakan CCF, dan layak saya merasa familiar dengan wajah seseorang yang duduk di cafe itu. Hm, coba tebak ya, siapa?
Setelah berbincang sebentar dengan Bapak M, yang tengah duduk di ticket counter, saya segera bergegas ke atas, menuju galeri Salihara yang bentuknya agak silinder. Lagi-lagi bergegas, tentu, karena saya hanya punya waktu paling lama di sana setengah jam. Dan, mulailah saya menikmati kenyamanan di dalam galeri seorang sendiri selama lima belas menit pertama. Sungguh leluasa dan menyenangkan.
***

Judul pameran ini adalah Of Spaces and Shadows. Ini adalah judul esai Goenawan Mohamad yang pernah dimuat dalam majalah khusus yang diterbitkan dalam rangka pameran akbar documenta 12 ,di Kassel, Jerman tahun 2007. Dalam esai itu, Bayangan dan ruang adalah dua entitas yang terus menerus menolak takluk pada satu definisi. Bayangan terasa mengganggu karena ia samar, tak sepenuhnya nampak jelas, dan juga tak sepenuhnya mewakili sosok asalnya yang padat-pejal. Ia bukanlah yang jelas diterangi cahaya. Merujuk pada pertunjukan wayang di Bali (di mana penonton menikmati pertunjukan wayang dari balik layar, melihat kelebat bayangan), Goenawan Mohamad menyatakan bayangan di sana sebagai sesuatu yang negates any totalizing impulse coming either from the realm of light or that of darkness.
Sementara tentang ruang, ditulisnya, perbandingan dua watak ruang yang disebutnya sebagai ruang liniear dan ruang recalcitrant. Yang pertama merujuk pada yang terukur, tertib, terkendali, tertata, sementara yang kedua adalah ruang yang tak beraturan, nakal, dan liar. Tak banyak tempat bagi yang liar dalam ruang liniear itu. Yang liar berkeliaran bagai bayang-bayang.
Mengutip kalimat Enin Supriyanto yang menjadi kurator pameran ini: pemeran tentang ruang dan bayangan itu kiranya bisa memperkaya pemahaman tentang apa yang disebut Hanafi sebagai “gejala gambar”, bentuk yang “membantu” dan bagaimana Hanafi mengelola kesemuanya itu dalam karya-karyanya yang karena keterbatasan ruang, tak seluruhnya dikeluarkan untuk dipamerkan.
Siapakah Hanafi yang saya bicarakan ini? Ia adalah pelukis yang mulai “bergejolak” pada tahun 90-an. Lukisannya kerap disebut didalam kanal ekspresionisme abstrak. Seperti apa, baiknya dipahami dari foto-foto di halaman ini. Uniknya Hanafi sendiri tak sungguh-sungguh memandang dirinya sebagai pelukis, melainkan sebagai pemecah atas masalah yang disodorkan padanya oleh kanvas yang ia hadapi. Ia benar-benar percaya bahwa warna, tekstur, dan citra yang ia produksi sesungguhnya telah ada, terpenjara dalam kain berlabur putih itu ( Nono Anwar Makarim-Citraan Terbebas, 2009).

Saya menjumpai sekumpulan lukisan berdimensi sama dengan warna kelam, bertuliskan nama-nama Arab, dan sekumpulan bingkai kanvas kosong. Karya ini rupanya bentuk simpati Hanafi terhadap Palestina. Nama-nama itu adalah nama mereka yang sudah pergi. Masing-masing lukisan adalah nisan berbentuk kanvas. Bagi saya, “nisan-nisan” itu sifatnya sangat pribadi dan betul-betul sebuah penghargaan terhadap kemanusiaan. Nono Anwar Makarim menyebutkan, “Nisan-nisan Palestina Hanafi, selayaknya didampingi epitaf yang saya baca di masa lalu dalam sebuah album foto yang menggambarkan kondisi manusia: karena welas memiliki hati manusia, dan kasih, wajah manusia.” Sementara bagi saya, justru tanpa epitaf, karya Hanafi ini lebih berbicara dan sejalan dengan sensibilitasnya.
Goenawan Mohamad menyebutkan, dulu, sebelum tahun 1996-an, Hanafi merasa sebuah lukisan harus tak boleh meninggalkan ruang yang kosong dalam kanvas. Tapi pada suatu hari Rudjito (ia perupa dan skenograf tua yang diam-diam dihormati para seniman lain-tari, seni rupa, teater), berkata padanya: “Lukisanmu itu terlalu selesai.”
Hanafi merenung dalam-dalam mendengar kata-kata mbah Djito itu. Sejak itu ia melukis sampai ia merasa apa yang ada di dalam dirinya tertuang-meskipun di tepi kanvas itu, atau di sudut bawah, ada bagian yang belum terisi, seakan-akan terbengkalai.

Saya pikir, kalimat mbah Djito itu cukup menyentil saya sendiri. Kerap dalam hidup ini, saya memaksa untuk menyelesaikan suatu perkara hingga terlalu selesai, hingga mungkin yang tak mengerti akan menyebut saya yang tak pernah puas. Ah, lupakan intermesso sesaat ini. Kembali di dalam galeri, ada dua karya yang menggunakan resin. Yang pertama berjudul “Under Pressure” (foto di atas paragraf ini) dan “Mengukur Bayangan”. Dalam diam, tentu dalam diam, karena saya sendirian saja, saya amati karya-karya itu. Jongkok, berdiri, mundur selangkah, dua langkah, beringsut berpindah sudut, mengambil foto dan merekam video, lantas berpindah menikmati lukisan-lukisannya. Mengamati detil tarikan garis dan “nafas” lukisan itu.

Tak terasa waktu saya habis, kembali saya bergegas menuruni anak tangga galeri Salihara. Berbincang sekejap dengan Bapak M lagi sebelum “berenang” kembali dalam “Ruang dan Bayang” jalan-jalan kota Jakarta. Menyesal, tak bisa menikmati pertunjukan Pantomim “Kau dan Aku” yang akan diperankan oleh Philippe Bizot – ah ya tentu saja mengapa seseorang di cafe itu tampak familiar, tapi apa betul? Entahlah. Meki pertunjukannya baru akan dilangsungkan pada pukul delapan malam, tapi tak bisa tidak, saya mesti patuh pada jadwal yang saya buat sendiri, dijalani sendiri, dan dinikmati sendiri.
Sebelum saya lupa, komunitas Salihara termasuk yang progressif dalam penyelenggaraan kegiatan seni. Jadwal tiap bulan dengan mudah bisa ditemukan di situs ini. Terkait dengan kegiatan kineforum bulan ini “Sejarah adalah Sekarang 3, Bulan Film Nasional 2009″, anda bisa menyaksikan pemutaran film nasional, pada tiap hari Minggu di Komunitas Salihara, jangan khawatir, tak dipungut biaya sama sekali.
***
Somewhere, Sabtu pagi, 14 Maret 2009.
Yoga, betapa banyaknya minatmu tertera disini. Dari buku, lukisan, seni instalasi, dan berbagai seni yang lain.
Yang jelas saya pengin juga mengikuti kegiatan Kineforum…untuk menyaksikan film yang tak semua ditayangkan di bioskop.
Andaikan si sulung ada didekatku…..
Saya merasa kehilangan seorang teman yang suka berdebat tentang buku, film dan sebagainya.
wah Yoga ternyata penikmat seni ya.. salutt
Salihara kayaknya pernah dengar…
Aku dulu di Jogja sering banget datang ke komunitas2 seperti itu…
Di sini ngak ada meski kmarin ada pemutaran film2 perancis tapi tampaknya aku terlalu sibuk bekerja….
keren……….
ah, yoga. kamu menikmati hidupmu.
beruntung banyak yang bisa menjadi distraksi di sela-sela kesibukan, walau tak tersisa luang.
jadi ingat berbagai museum yang sempat kusinggahi selama di negeri orang. berada di dalam galeri sungguh memberikan atmosfir tersendiri, yang tulisan tentang itu sudah lama tergantung, entah kapan mau kuselesaikan. mungkin akan terpicu setelah membaca tulisanmu ini.
suka melihat foto avatarmu itu, yo. berbinar-binar senyumnya.
dari DV mengulas Cold Play, lalu ke AOE mengulas salihara.
Wah hari ini otakku diberi asupan seni,
baguslah supaya ada riaknya ketimbang cape melulu mikirin pabrik
Pingback: Menikmati suasana dan nonton film “jadul” di Salihara «
Rasanya lukisan tanpa kanvas itu begitu menarik..dan simbolistik… hm.
Ajak aku kalo kesana lagi, say. Waktu di Solo dan Jogja, aku sering banget datang ke acara seni seperti itu.
*ya iyalah, pakne bune aja seniman tulen, hehe*
Wah tulisannya lengkap banget mbak Yoga. Photo-photonya juga bagus & komplit. Hem, mbak Yoga ini peminat segala macam yach

best regard,
Bintang
Aku belum pernah mengadiri pameran semacam itu. Tapi dari tulisan-tulisan m’Yoga jadi tertark nih…
Salam Hangat
Kamu ini penikmat seni sejati, Yug. Tampak dari berbagai minatmu selama ini.
wahhh mbak yoga itu cinta banget sama seni ya?
kenapa gak jadi analis seni sekalian, kayaknya di indonesia masih jarang tuh ^_^ mengerjakan kesukaan tapi dapet duit mbak…
ohya mbak yoga seneng ngelukis gak?
Terima kasih……sebuah gairah lama kudapatkan kembali disini