Kalau diminta menggambarkan diri saya seperti apa, mungkin yang bakalan terpikir pertama kali adalah, saya lebih suka mengerjakan hal-hal yang nggak wajib lebih dulu daripada hal-hal yang wajib, sama nggak? Jadi nggak heran, kalau dulu saya kerap menggunakan SKS (Sistem Kebut Semalam), ketika menghadapi ujian, atau mengerjakan tugas pokok jelang dead line. Tapi, jawaban paling jujur ini nggak bakal bocor, kalau nggak saya ceritakan. Sebab, begitu menyadari kekurangan saya yang satu itu, saya berusaha mengatasinya dengan segala cara. Herannya, jelang detik-detik yang menegangkan, justru saya bisa mengerjakan tugas lain dengan lebih produktif, sebelum benar-benar mengerjakan kewajiban saya yang utama. Seperti malam ini, kepala saya kok malah ngajak bikin tulisan iseng.
Idenya sudah mengambang dikepala sejak dua tiga hari lalu, ketika salah teman saya memampang satu video dari YouTube. Saya suka banget dengan rekaman itu, maka nggak ragu-ragu saya tekan opsi like di-posting teman tersebut. Isinya rekaman permainan gitar Rama Claproth yang menurut saya, stunning, sangat indah. Dan lagu yang dimainkan adalah Indonesia Raya. Kalau ingin menyaksikan, klik langsung di link ini ya. Saking cantiknya, sampai ada yang bilang, Rama yang asli Indonesia ini bermain bak Jimi Hendrix, dan teman yang post di YouTube bilang ” I bleed for Merah Putih”.

Tidak masalah anda menyukai permainan gitar ini atau tidak, saya hanya ingin bercerita, betapa semangat I bleed for Merah Putih yang tulus ini sungguh langka di telinga saya, tentu tanpa mengurangi rasa hormat pada mereka yang tengah berkampanye di luar AOE sana. Apalagi kalau saya teringat lukisan besar di ruang serba guna komunitas Salihara, yang memuat gambar tiga serangkai (cek di blog Edratna). Tidak bisa tidak, I bleed for Merah Putih menggiring ingatan saya pada Soekarno, salah satu tokoh yang ada di lukisan itu. Soekarno adalah salah satu nama yang bakal hidup subur dihati saya. Sosok visioner luar biasa yang jiwanya menghidupi bangsa ini. Ah, bisa “habis kata” jika bercerita tentang beliau, maksudnya, begitu banyak yang bisa diceritakan, tapi lidah ini terkelu, habislah kata.
Dua hari ini, di dunia nyata, kampanye yang sebenarnya mulai merambah jalanan. Beberapa teman karib, berbilang bulanan lalu, telah mengabarkan pada saya untuk “nyaleg”. Seperti yang sudah-sudah, saya hanya tersenyum menanggapi mereka, tanpa janji sepatah pun. Mereka bukan pendatang baru di ranah politik–yang saya benci tapi mau nggak mau mesti tahu sedikit-sedikit. Mereka sudah merasakan sakitnya ditikam dari belakang dan tentu tahu baik seperti terangnya siang yang terik, segala kebaikan dan kebusukan ranah yang mereka cintai.
Salah satu teman yang “nyaleg” bilang, partai politik adalah kendaraan, hingga wajar kalau saat ini ia ganti kendaraan, karena yang lama kerap gembos dan mogok ketika mengangkutnya. Sedang yang lain bilang partai politik seperti pasangan hidup, yang dinikahi sekali nggak bakal dicerai, apa pun yang terjadi. Lagi-lagi saya cuma bisa tersenyum menyaksikan tingkah polah mereka, teman-teman lama, yang dulu seperjuangan, yang menemukan idealisme dan kebutuhan hidup mereka bisa diakomodir oleh parpol yang mereka bela.
Moga-moga mereka membaca tulisan singkat ini dan menangkap pesan saya. Saya yakin, teman-teman saya itu paham banget dengan bahasa saya, kami dulu tumbuh dan besar bersama dalam sebuah wadah yang sama. Sama halnya dengan sebuah keluarga, ketika kecil, sesaudara tumbuh bersama, ketika dewasa masing-masing menempuh jalan yang berbeda, dan terkadang bersimpangan. Namun demikian, sekali sedarah tetaplah sedarah, yang telah mencatat akarnya dan paham bahasa satu sama lain.
***
Kawan, semoga hatimu belum terinfeksi penyakit oportunis, jika sudah, segera obati, jangan tunggu hingga akut!
Maka disitulah perbedaan kalian.
Dari novel 5cm (saya lupa kalimat tepatnya) : Idealisme adalah harta terakhir yang dimiliki mahasiswa. CMIIW
Hmm, kalo temen2 seangkatan saya sepertinya baru mencalonkan diri di tahun 2014. Tuh, malah udah pada kampanye dari sekarang via fesbuk.*ngakak*
Ah, tetaplah terjaga, Kawan.
Hmmm, I don’t like deadline, dear. Sukanya yang di-deadline secara internal. Suka distress kalo deadline eksternal.
Makanya yang mepet2 suka dikerjain jauh2 hari. Biar ngga kemrungsung. Kalo kemrungsung jadi cuthel, ngga bisa mikir malah.
Itu pulitik, Yug. Pulitik itu.
Yang pernah digadang-gadang saja bisa dibeli sama tuan tanah kok, apalagi yang kelas coro.
Maka oportunis bukan lagi penyakit, tapi gaya hidup. Tidak korupsi dianggap ketinggalan zaman dan ditertawakan rekan sejawat: “Kemana saja kamu, he?”
Duh bicara politik nih.
Kelainan (oportunis, korupsi, free sex) yang diidap oleh seorang dari mereka bukan salah mereka sendiri tapi salah komunitas juga. Temen2nya yang ancur saling mendukung dalam kelainan dan komunitas besar (rakyatnya) yang apatis. Sempurnalah kelainan mereka seperti halnya Fir’aun yang mengaku Tuhan dan semena-mena terhadap rakyatnya didukung oleh pengusaha (Qarun), militer (Haman) dan rakyatnya yang cuma manut. Eh jangan sampai deh negara kita kek Mesir Kuno.
Yoga, duh gw penganut The Power of Kepepet juga nih…
Saya nggak mau ngomongin politik ahh…pusing, memikirkan yang realistis aja, yang bisa terlihat langsung hasilnya…bukankah lidah tak bertulang?
Btw, tak sangka ternyata Yoga termasuk deadliners…hehehe
Saya kebalikan Yoga, karena sejak kecil fisikku tak terlalu bagus, mudah pingsan kalau kepanasan, nggak tahan yang terlalu dingin, panas menyengat dsb nya…saya tahu diri. Jika hanya belajar mendekati deadline, bisa2 semua tak lulus, karena selana kuliah saya tidur paling malam jam 11, kemudian besoknya bangun jam 4 pagi. Sampai sekarangpun masih seperti itu, hanya kadang agak meleset.
Jadi saya “mungkin agak mirip” Sanggita, selalu siap jauh sebelumnya, membaca bahan kuliah sebelum kuliah dimulai besoknya. Kalau hari Sabtu main/rekreasi, hari Minggu siang udah duduk di meja, membuat catatan praktikum untuk seminggu, soalnya dulu kalau praktikum mesti ada quis kecil dulu, dan yang nggak lulus tak boleh ikut prakikum. Saya salut dengan dosen ini, karena praktikum ini termasuk berisiko. Salah-salah bisa membuat ledakan di lab.
Saya mencari kerja yang lingkungannya disiplin Kebetulan saya ditugaskan di area yang atasannya disiplin terus, akibatnya menjadi semakin terbentuk. Jadi bisa dibayangkan, betapa tersiksanya jika membuat janji yang tak jelas….betapapun mencoba memahami tapi tetap sulit….
(Selama ini janjimu tepat lho, dan selalu sms jika ada hambatan….justru itu saya suka bergaul dengan Yoga…semoga terus begitu ya)
Aku sangat mencintai Indonesia, Yoga!
Apalagi setelah melihat permainan gitar di Youtube itu.
Darahku mendidih, ingin kuberjanji bahwa selama aku akan jadi WNI, tapi apa mau dikata, aku akan menarik kata-kataku ini begitu MISALNYA Indonesia mendadak jadi negara agama..
Wah kalau benar-benar Indonesia menjadi negara agama, secepat kilat aku barangkali akan berganti paspor dan menganggap bahwa Indonesia tidak ada lagi…
Ya, barangkali demikian…
intinya tentang nasionalisme ya? hem, dengan cara apa ya saya ingin mencintai negara ini?
Yoga…komenku OOT…habis males kalau mau komentar tentang politik, kampanye dsb nya…
Aku bener2 nggak punya minat disitu, hanya sekedar sebagai warga negara yang baik, saya selalu ikut mencoblos…dan nanti mencontreng.
Siapa yang dipilih…? Dipikir belakangannya aja, dan putusan terakhir ya di bilik pemilihan itu.
dua komentar untuk posting ini Mbak
1. soal SKS, ternyata epidemi sama yang kuamini..makin berpijar kalau deadline sudah mengetuk2 dengan godamnya…
2. soal pulitik *minjem istilah DM…pindah gerbong jadi sesuatu yang diamini banyak orang juga. oportunis bisa jadi, tapi yang pasti mestinya gerbong apapun yang dinaiki, harus jadi berarti bagi negeri dan bleed for indonesia bukan cuma ucapan dibalik kepentingan pribadi, tapi benar2 sampe sumsum..
bisakah itu dalam era politik euforia kita ya? karena rupanya politikus kita sedang narsis semua tahun ini hehehhehe
Ah … sebuah pesan yang sangat dalam …
Aku pikir pesan ini tidak hanya untuk caleg saja …
Tapi juga untuk semua orang …
Salam saya
Dua hari ini saya baca berita tentang Rama Pratama, anggota legislatif yang nyaleg lagi. Dulu tahun 1998 betapa idealisnya si Rama ini. Setelah masuk gedung perwakilan rakyat sukses bikin beliau jadi gak idealis lagi. Semoga dugaan saya salah.
Jujur saya gak ada passion untuk bicara pemilu kali ini, enakan main gundu. Wakakaka….
Kalo ngomongin politik begini agak2 susah sih ya mbak…di sisi lain kita harus cinta sama merah putih dan sampai titik darah penghabisan. Tapi kalau semua calegnya aneh2 gimana tuh
aku gak suka politik that’s way aku gak pernah mau belajar ilmu yg satu itu
padahal dulu di tawarin sekolah di salah satuh lembaga pemerintaan..hehehehehe…NO Politik tapi gak berarti aku gak milih kan?
setuju dengan nh18. pesan ini bukan hanya untuk caleg. tapi juga untuk saya
wahh.. ternyata aku ga suka rock, hehehehehe…
terperangah begitu melihatnya..
menjaga idealisme emang susah mbak, bahkan ga perlu jadi caleg untuk membuktikannya.. sebagai ‘warga biasa’ kita juga punya kesempatan untuk membangun bangsa, dengan cara masing2 dalam dunia masing2. dan sejauh ini aku ngerasa masih jauh dari maksimal euy.. masih terus belajar memotivasi diri biar ga kehilangan arah dan terjebak dalam zona nyaman.
klo kata pak kus (kusmayanto kadiman) dulu (waktu banyak diprotes mahasiswa karena terjun ke dunia politik)
“politik itu kotor, karena Anda tidak ada di dalamnya..”
semoga teman2 mbak Yoga termasuk yang bisa memberikan perbedaan dan terus berjuang dengan niat yang lurus. Amin..
akhir2 ini kata “rakyat” sering didengungkan. saya hanya bisa berharap bahwa rakyat yg disebut2 itu bukan hanya jadi landasan bagi para politisi itu utk terbang. waktu kampanye, berusaha sekuat tenaga ingin merasakan kesulitan rakyat. tapi saat sudah jadi anggota legislatif, dapat seenaknya melenggang terbang meninggalkan rakyat di bawah sbagai landasannya.
saya setuju. golput (yg jg brarti netral) itu sama saja menguntungkan yg kuat. ketika kamu melihat adik kamu dipukuli oleh kakak tertua dan kamu diam saja (netral), maka itu brarti kamu ikut memukuli.
kita harus memilih the best from the worst. apalagi tahun ini kita memilih sendiri calegnya. jadi siapa tahu nanti bila kinerjanya tdk memuaskan, kita bisa minta pertanggungjawaban. ini pendapat pribadi lho, kalo ada yg tetap memilih golput, itu hak anda, saya tdk akan menghakimi