Cium Aromanya Teguk Kopinya

Disampul kantong kertas tipis putih itu tertulis:

 

KOFFIE FABRIEK AROMA

BANDOENG

 

Lantas dibagian bawahnya tertulis pula:


Maoe minoem koffie selamanja enak?

 

Aromanja dan rasanja tetep, kaloe ini Koffie soeda di boeka dari kantongnja harep di pindahken di stofles atawa blik jang tertoetoep rapet.

 

Djangan tinggal

                                   di kantong!

 

Hari-hari ini saya ditemani kopi Aroma, berganti-ganti antara Robusta dan Arabika, mengalahkan simpanan kopi-kopi lama. Saya mesti berterimakasih pada DM, yang sudah mau saya repoti, memaksa ia keluar dari sarangnya yang nyaman menuju jalan Banceuy 51, tempat fabriek Aroma berada dan membeli dua jenis kopi yang saya pesan. Hanya dua jenis, karena memang hanya ada dua jenis kopi yang disediakan toko sederhana yang kata Mas Toni mempraktekkan bisnis yang arif, dimana pemiliknya Pak Widya Pratama yang dosen di Unpad menerapkan falsafah bisnis yang menjunjung tinggi integritas, kejujuran, keadilan, kesederhanaan. Saya nggak tahu apakah DM sempat ngobrol dengan Pak Widya atau tidak, kalau sempat barangkali ia akan berpendapat yang sama.

kopi-aroma-1

Soal rasa, jangan ditanya, saya cuma bisa bilang sedap sekali. Kopinya tak terlalu asam, sangat ringan dibanding Arabika dari Toraja yang kerap saya minum. Konon kopi ini cocok untuk teman-teman yang lambungnya sensitif, karena tingkat keasamannya memang rendah. Bisa demikian karena kopi Arabika yang sampai ditangan pembeli berasal dari komposisi 99% biji kopi yang telah disimpan hingga 8 tahun dicampur dengan 1% Arabika yang berusia 32 tahun, sedangkan Robusta disimpan antara 2 hingga 5 tahun. Lamanya penyimpanan inilah yang kabarnya menyebabkan derajat keasaman kopi Aroma berkurang.  

Cobalah sesekali, jika ingin menikmati rasa kopi yang otentik, jangan pakai gula. Atau jika yakin dengan kondisi perut dan nggak sensitif terhadap kafein, cobalah cara saya, hirup aroma kopinya, buat satu cangkir kecil kopi pekat tanpa gula, lantas teguk dengan sepenuh hati. Hmm.. surga kecil! Hehehe… :D

22 comments
  1. hmmm kopi di indonesia tidak ada angka/derajat keasaman ya? Aku ngga suka yang asam spt mandheling tuh. Padahal dulu di univ yokohama, dosenku selalu minum mandheling tanpa gula lagi… aku juga jadi terpaksa minum deh.

    EM

    Yoga:
    Derajat keasaman kopi Aroma masih ada, cuma rendah. Mandheling? Itu salah satu favoritku. Dan selalu, tanpa gula.

  2. toni said:

    Kopi tanpa gula sungguh asyik, apalagi kalau diminum saat udara dingin :)
    Beberapa metode penyajian yang saya lakukan biasanya dengan menngunakan fernch press atau vietnam drip hingga ampasnya bisa tersaring. Pokoknya sluuurp :)

    Yoga:
    Nah, kalau pakarnya kopi berbicara, pokoknya slurrp deh. :)

  3. mangkum said:

    ganas…
    gw ga bisa minum kopi sekarang. sekali minum, jantung berdebar kencang dan tubuh tiba2 lemas. pengennya tidur tapi ga bisa tidur. tersiksa sangat.

    tapi boleh dong nyoba nih kopi…?

    Yoga:
    Mau? Tentu boleh. Aku dulu pernah “bersih” kayak gitu Mang. Itu setelah 5 tahun nggak nyentuh kopi sama sekali, bahkan dalam bentuk pudding sekalipun. Dulunya aku suka banget capuccino. Kalau flu obatnya kopi. Lantas detoks 5 tahun. Setelah itu, malah doyan black coffee dan nggak suka kopi jadi-jadian, sama addict-nya dengan teh. :D

  4. Yari NK said:

    hehehe… koffie van voor de grote oolorg… dat is heerlijk ja! Tapi gimana nih kafeinnya?? Tetapi nggak apa2 deh, toh selama ini cari kopi yang decaf di Indonesia ini sangat cukup sulit. Huehehehe… :D

    Yoga:
    Tot onze grote spijt, saya tak bisa cakap Nederlands Mas Yari! Memang kopi sejak jaman perang besar uenak banget…. hehehe benar gitu maksudnya?
    Kopi decaf udah banyak kok di Indonesia. Coba cek web Cikopi, mungkin Mas Toni sudah pernah bahas.

  5. p u a k said:

    aku penggemar kopi tubruk, mbak.
    kalau membaca tulisanmu ini, sepertinya kopi ini enak..
    kirim2 napa?.. hehehe..


    Yoga:

    Hehehe kopi tubruk itu kopinya nubruk apa toh mbak? Saya ingat nenek dan nenek buyut saya yang penggemar kopi sampai akhir hayatnya. Satu gelas pagi dan satu gelas sore hari. Dua sendok makan kopi dan satu sendok makan gula. Ada aturannya, kalau nggak salah kopi dulu baru gula, ah saya lupa mana dulu, yang jelas ketika dulu belajar menyajikan pernah ditegur sekali gara-gara terbalik. Ironisnya saya sekarang saya lupa. Mungkin karena malas kebolak balik itu, akhirnya saya minum nggak pakai gula. :D

    Heheheh nggak ding, yang terakhir tadi becanda. Kirim? Hihiihi.. DM ada yang mau dikirimi tuh.

  6. Yari NK said:

    Wah di sini saya juga udah kasih komen nih. Nggak ketangkap akismet?? :(

    Yoga:
    Bukan akismet, cuma teridentifikasi new comer. :D

  7. Yari NK said:

    Eh… ternyata udah muncul deh… huehehe… :mrgreen:

    Yoga:
    Sudaaah :D

  8. natazya said:

    uuuhhh tante sombongnya ke bandung ga bilang bilang :(

    btw pernah sekali dikasih tiga kantong kopi aroma ini waktu liputan kesana… enak banget! dan wangi di dalam pabriknya benar benar kopi! menyenangkan :D

    Yoga:
    Woi, baca lagi dung yang teliti :D
    Terus tiga kantong kopi itu kemana atuh?

  9. edratna said:

    Sayang saya udah nggak mungkin untuk menyenangi kopi seperti dulu, karena punya sakit maag.
    Sesekali boleh juga….asal sebelumnya udah makan kenyang lebih dulu.

    Yoga:
    Capuccino seperti yang waktu itu oke kan Bu? Tentu setelah perut terisi. :D

  10. kelihatannya sedabbb. tapi saya gak ngupi. jadi ya gak bisa mbedain :D numpang komen aja boleh gak ya :D

    Yoga:
    Asyik ada mantan kyai di AOE. Monggooo :D

  11. nh18 said:

    saijah soedah cijak minyum itu koffie …

    (sebuah kombinasi antara bahasa indonesia jaman dulu dengan cinta laura)

    Eniwei …
    Para peminum kopi, apalagi yang punya masalah lambung patut mencoba sepertinya …

    Salam saya

    Yoga:
    Huehehehe tjapi Pak NH18 bisja mentjobanja sewaktoe-waktoe menginginkan. Sepatoetnja begitoe. Tabik

  12. DV said:

    Empat bulan lebih hidup di sini aku sudah terbiasa membuat espresso, Yoga.
    Aku memilih Lavazza dan kadang-kadang kalau pengen ya ganti dengan Ily.

    Dan kalau kamu masi ingat di postingan awal pindahku ke Australia bahwa aku masih belum bisa minum kopi tanpa gula, sekarang malah sebaliknya, aku susah minum kopi dengan gula hahaha…

    Yoga:
    Siiip… siiip paling yahud kopi tanpa gula, lebih sehat bebas diabetes hehehe…
    Kayaknya yang kamu sebutkan sudah ada di Indonesia semua. Apa sih yang sekarang nggak ada di Indonesia? ;)

  13. tanti said:

    Jadi kagum melihat para pecinta kopi mengekspresikan kecintaannya…
    Sementara aku ini pusing jika mencium aroma kopi yang kuat,
    meskipun sekali-sekali sih bisa juga menikmatinya, itupun yang ringan dan dengan kombinasi krim yang banyak.

    *aduh, komennya nggak banget ya… maap Yoga :D*

    Yoga:
    Coklat yang semalam ituw mbak? :D

  14. Ah, semoga engkau dapat menikamatinya dengan hati hangat dan sedap, Yug. Aku senang bisa membelikanmu kopi. Lebih senang lagi kalau kau bisa menyeruputnya dengan hati bahagia.

    Jangan ragu kontak aku kalau kopimu habis. Hanya saja, lain kali mbayar! Wakakakakkk!

    Becanda. Anytime, Yug!
    Tolong tuangkan secangkir…
    Srupuuuttt…

    Yoga:
    Nah ini dia, secangkir. Mengepul hangat spesial buatmu, monggo Mas (sejak kapan kau ngopi?). Niel thanks ya. Tentu aku akan meminumnya dengan hati bahagia gratisan sih :mrgreen: dan tentu saja aku nggak akan segan meminta refil Aroma kalau udah habis. Sabarlah, tunggu barang sejenak, ya kira-kira dua tiga minggu lagi. hihihihi…. :D

  15. ternyata benar-benar penikmat kopi.
    aku suka kopi, tapi belum pernah nyoba tanpa gula.
    biar aku coba deh sesekali, siapa tau bakal suka.
    tapi setuju, yo, aroma kopi emang moooiii…

    Yoga:
    Cobalah Ni, nikmati dengan hati riang ditingkah rintik hujan. Sedap. :)

  16. ach so, jadi ini toh kopi aroma. namanya dulu sering dengar waktu masih tinggal di Bandung. konon terkenal. dibanding kopi luwak, enak mana Ga?

    Yoga:
    Kopi Luwak nggak cocok buat yang lambungnya sensitif, sangat asam. Kalau ditanya enak mana, susah aku jawabnya Li, karena aku demen dua-duanya. :D

  17. narpen said:

    woooo…
    tampak pecinta kopi buanget..

    dulu aku pernah ketagihan kopi mbak, waktu s1 dan sering begadang..
    tapi kopi2 yg “becanda” gtu sih, bukan uitem pekat..

    udah berapa tahun ini berusaha ga menyentuh kopi, sekali2 masih icip2, tapi uda ga pernah mengandalkan kopi buat melek2an lagi, karena perasaan kok ya ga tralu ngaruh ya.. abis minum kopi anget2, tetep aja tidur.. huehue.

    tapi melihat begitu deskriptifnya mbak yoga menjelaskan ttg kopi tanpa gula, sedikit banyak aku jadi tergoda mencobanya suatu saat nanti.. (kapan??)

  18. tanpa gulaaa??? ga bisa, ga kuat, hiks..

  19. weh, kesukaan yg sama.
    kopi panas pait tanpa gula.
    tapi, kalo pas banyak yg dipikir, enak pakai gula.

    pernah coba kopi bali ? wooo… aromanya kuat, tapi rasanya lembut. beda, coba deh.

  20. icha said:

    kopi…aku hapal betul baunya..selalu tersaji untuknya tanpa ada jeda..tapi tetap tak bisa menggodaku untuk berpaling dari..secangkir teh hehehehe

    aku gak bisa minum kopi, Mbak..langsung mules hehehhehe…anyway, selamat menikmati kopinya :)

  21. Hmm sayang aku gak tahu cara menikmati kopi…
    Hihihi…minum yang berwarna kecuali juice sangat jarang kuminum…
    Tapi bisa merasakan kebahagiaanmu saat menyeruput kopi
    Met ulang tahun

  22. deni said:

    juragan, mohon ijin buat copas pic nya, hasil pic pnya saya krg jls coz ngambilnya pake hape..terima kasih..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 428 other followers

%d bloggers like this: