Apa gunanya single shot espresso bagi saya? Tentu selain kafein yang saya butuhkan, kopi pekat hitam, yang habis sekali teguk itu, bisa menghaturkan teman baru, kekaguman barista (atas kebodohan saya) dan kejengkelan. Jengkel? Ya, kalau pas lagi “mupeng” kafein dosis tinggi * seperti saat menulis entry ini, tapi lambung lagi gak bersahabat, gimana saya nggak jengkel?
Lambung ini merongrong saya sejak semalam, barangkali karena belakangan ini saya lebih sering mengasup vitamin C cair, jus buah dan susu dibanding air putih dan barangkali ia, menagih nasi yang terakhir saya makan kamis siang minggu lalu. Tunggu, ini bukan karena diet!
Tak urung siang ini saya putuskan memesan nasi dan duuh.. betapa kangennya saya dengan tahu tempe goreng, mungkin lambung Indonesia saya bakal lebih damai.
Ngomong-ngomong, entry ini nggak penting banget, tapi lanjut aja ya, karena kok mendadak saya tertarik dengan istilah saya sendiri, “lambung Indonesia”. Hmm, mungkin lebih enak disebut “perut Indonesia” begitu kali? Sebetulnya, lambung saya bisa menerima makanan apa saja asal halal, nggak beracun, dan nggak ada mental block untuk menelannya. Alhamdulillah, saya tak memiliki alergi terhadap makanan tertentu. Mau disuguhi makanan ala Eropa, Asia atau Arab-araban, hayo saja, cuma saya belum se-ekstrim mereka yang bisa mengudap aneka serangga goreng atau menyantap mata kambing bulat-bulat (mata kakap saja nggak tega, apalagi mata indah seekor kambing), kalau nggak tersedia masakan Indonesia, nggak jadi masalah. Nggak seperti teman saya, yang udah jauh-jauh datang ke Bandung, menempuh perjalanan dengan kapal laut dan pesawat udara, plus jalan darat, tapi rela berkeliling Bandung demi mencari rumah makan Padang! Pokoknya harus Padang! Saya yang menemaninya waktu itu terpaksa menelan ludah setiap kali melihat restoran masakan Sunda, sedang pak sopir yang mengantar kami, rautnya kayak yang bilang, “Capek deh!”. (Ehm, peace ya!
)
Jadi sebenarnya kalau dibilang lambung Indonesia ya nggak tepat-tepat amat, kecuali untuk menggambarkan kesukaan saya pada bolu kukus (ditempat asal saya disebut roti kukus). Nggak peduli di pasar becek atau di mall mewah sekalipun, kalau sudah lihat bolu kukus, pasti saya pengen. Padahal kalau dirasa-rasa yang namanya bolu kukus itu ya begitu-begitu saja, kalah lembut, kalah mak nyuss dibanding opera cake, atau strawberry cheese cake misalnya. Tapi kalau anda sodorkan tiga-tiganya pada saya, dengan hati damai dan tentram, insha Allah saya akan memilih bolu kukus yang harganya nggak pernah lebih mahal dari sepuluh ribu rupiah sebiji.
Barangkali ini karena jasa almarhumah sepupu nenek, yang gemar membawakan bolu kukus berbentuk binatang yang lucu, dan limun dalam kemasan plastik berbentuk buah jeruk, sejak saya belum sekolah hingga kelas tiga SD. Kebiasaan ini dengan sendirinya berhenti, karena saya pindah rumah dan beliau kesulitan mengakses tempat tinggal yang baru. Barangkali juga, karena dulu, ketika kecil saya sering ditugaskan almarhumah nenek saya mengocok adonan bolu kukus, pekerjaan yang awalnya bikin saya malas, karena monoton dan lama, dan kemudian saya sukai karena saya bisa mengembangkan fantasi saya, lewat jejak yang ditinggalkan mixer di adonan kue itu.
Lama-lama Ibu saya menyadari kesukaan saya itu, dan kalau beliau lagi “sayang”, satu loyang bolu kukus akan terhidang, mengepul hangat, gurih dan khas karena Ibu menggunakan air kelapa. Sedap, mak nyus!
Pokoknya buat saya mantap deh, tapi nggak buat sahabat yang udah seperti adik saya sendiri. Bolu kukus akan membuka luka lama. Kejadiannya pas sang Bunda sedang getol-getolnya mempraktekkan resep bolu kukus. Walhasil, seminggu penuh, pagi, siang, sore, malam, yang namanya bolu kukus selalu nongol, dengan rekahan yang seperti mengolok-olok dia, dan mencela ketidakberdayaannya. Sayang waktu itu kami belum berteman, kalau nggak, ia nggak perlu trauma deh.
Jadi entry ini makin nggak jelas kan? Biarlah, buktinya anda masih setia baca sampai paragraf ini. Nah, akhir-akhir ini saya lagi senang menikmati permen jadul. Ada Davos dan ada Ting-Ting jahe. Ada yang tahu bungkusnya seperti apa? Tebak, tebak!
Saya mendapatkannya di Salihara, harganya murah meriah, cuma dua ribu perak dan nggak bikin bangkrut. Oh ya, kalau ingin kudapan jadul, bagi yang tinggal di Jakarta bisa melaju ke Kemang, ada toko mungil namanya Cemal Cemil yang menyediakan permen cecak hingga rambut nenek. Belanjaan bisa diantar ketujuan kalau lumayan banyak dan radius anda terjangkau oleh staff toko tersebut, silahkan mengobrol di nomor 085281983071 atau 0811167058. Mari…
Catatan:
*Espresso dikenal memiliki kafein dosis tinggi. Bandingkan, espresso 1,700 g/l (50 mg per fluid ounce) dengan kopi olahan lainnya yang rata-rata mengandung kafein 0.50–0.75 g/l (14–22 mg per ounce). Satu shot espresso setara dengan 30 ml (1 fluid ounce), memiliki kafein separuh jumlah yang dikandung dalam penyajian standar, 180 ml (6 fluid ounce) ala Amerika.
Aku selalu pesan espresso jika sedang malas minum banyak (soalnya beseran sih). Setidaknya ada alasan untuk duduk di sebuah cafe dan menunggu orang. Kalau orangnya cepat datang, sekali teguk lalu pergi. Kalau lama, ya sip sedikit sedikit.
Mmmmm bolu kukus ya? Dulu mama juga suka buat, tapi sudah lama sekali. Kadang aku juga kangen bolu kukus karena di sini tidak ada, hiks. Nanti deh coba buat lagi, tapi berarti harus beli kukusan dulu ya.
Makanan jadul? Aku juga suka. Nanti mau coba ke cemal-cemil deh. Aku biasanya ke Nusa Indah di gandaria. Di situ juga banyak cemilan dari berbagai daerah. Rambut nenek itu gulali? Kalau benar, di SD kita bilangnya lebih sadis… **mbut nenek hihihi.
Hei Yug, aku suka entry yang ringan seperti ini. Sering-sering aja ya
EM
Ah postingan nggak jelas gimana? Indah kok!
Yog, setengah tahun aku di Australia ada beberapa yang mesti kulaporkan

Aku sekarang doyan kopi tanpa gula
Kopi tubruk kutinggalkan dan tiap hari setidaknya tiga shots espresso kusesap tandas!
Aku juga tak bisa makan masakan pedas.
OK, mulut dan bibirku masih bisa, sebisa hatiku yang selalu ingin makan pedas.
Tapi perut ini sudah tak mampu lagi, sekali makan nasi goreng super pedas yang dijajakan salah satu restaurant Indo di sini, mencret dua hari membuat panas lubang anus dan naga-naganya ambeien kumat!
Ahaha… entry ga jelas.
Kalau isinya makanan sih, mba Imel langsung klik. Hehehe…
Baru tau kadungan kafein espresso ternyata tinggi. Jangan ah…
Wah….penikmat kopi to mbak? Kalau saya gak suka kopi, apalagi black coffee. Yang itu bisa membuat jantungku bisa melesat dari tempatnya
. Dulu, waktu masih ngekos, kadang2 sama temen2 kos nongkrong di starbuck. Itu pun yang selalu saya pesan lagi2 ice capuccino
What? Permen cecak dan rambut nenek? Hehehe itu mah cemilan nostalgia. Rambut nenek itu kue berbentuk kepangan rambut bukan? Kalau itu saya nyebutnya untir-untir
. Atau kue yang bentuknya agak berantakan dan kalau di gigit malah ambyar semua ?
Yoga, justru postingan mu yang sederhana ini yang nggak bikin dahiku berkerut (bilang aja memang saya nggak memahami bahasa yang tinggi-tinggi).
Kopi? Siapa takut? Asal perut kenyang dulu…
Kalau perut kosong pastilah memberontak…
Saat di Bandung kemarin, saya juga berani pesan capuccino di Starbucks, tapi sebelumnya roti segede gaban di embat dulu…hehehe….
Duhh jadi pengin ke Bandung lagi….Ngobrol sambil memeluk si bungsu dan Guk-guk nya.
Baca postingan ini sambil minum kopi. Anget. Mantep.
“Jadi entry ini makin nggak jelas kan?” Bener!
Salam kenal, Mbak Yoga.
Temannya itu siapa mBak … saya kemanapun pergi … prioritas pertama Masakan Padang … dasar selera kuno kali ya
Permen Davos? yang bungkusnya biru? yang pedeees itu? huah.. dari dulu aku selalu kepedasan, jadi bukan permen yang akan kupilih..hehe
Kalo permen cecak? waah…suka itu, hari gini masih ada ya ternyata?
*jadi ingat2 jaman dulu*
Lama-lama Ibu saya menyadari kesukaan saya itu, dan kalau beliau lagi “sayang”, satu loyang bolu kukus akan terhidang, mengepul hangat, gurih dan khas karena Ibu menggunakan air kelapa. Sedap, mak nyus!
Kenapa kata ‘sayang’-nya dipeluk kutip, Yug? Nggak sayang betulan tah?
Hehehe.
Dan satu loyang bolu kukus itu kau habiskan sendiri?!!
Duh, Yug… Yug…
Mandi sana! Trus bikin kopi! Matahari sudah mecungul!
Aku jadi senyum2 sendiri baca postingan ini..
Jadi inget sepulang dari Canada (cuma seminggu doank..) bersama istriku, dan segera setelah mendarat di Soekarno Hatta Airport.. dan naik mobil menuju kerumah kami sempet2in mampir bentar beli 2 bungkus nasi rames di restoran Padang dan langsung makan di mobil sambil pulang (biar gak kelamaan krn sudah kangen sama anak2..). Dasar LAMBUNG INDONESIA.. Jiakakakak…
yang ketangkep bualan ini ngebahas bolu kukus plus espresso ..
hmmm.. sepertinya nikmat kalau terhidang di pagi yang hangat hehehe
hehehehe…kalo aku mbak…pulang ke jakarta gak akan mau nyentuh masakan padang…ihhhh disini rata2 warung pdang semua sampe BOSEN!..
tapi Bolu kukus, dulu aku sering bikin karena mama punya panci yang khusus untuk mengukus bolu itu…dan karena bolu buatan mama enak alhasil kita semua kadang kelimpungan membuat bolu kukus pesenan tetangga yang lagi hajatan…hehehehe…jadi kangen masa2 kecil dulu deh
@ Mangkum…
kita kan kelompok gourmet bin wisata kuliner, jadi kalo omongin makanan kudu nyamber… (awas kalo ngatain gue lagi!!! ngga tak traktir sushi ntar agustus)
EM