Monthly Archives: June 2009

Kisah dari Madobag

Kisah dari Madobag

4568_100234663776_571953776_1837605_1827491_n (1)

Saya baru merelease tiga tulisan di web resmi komunitas 1N3B. Tiga tulisan itu adalah sebuah prolog untuk kisah-kisah perjalanan yang akan kami terbitkan bertahap, kisah dr. Anto, salah satu anggota tim kesehatan 1N3B dan sebuah tulisan tentang kegiatan bermain roket air yang ditulis dalam bahasa Inggris.

Seusainya misi di desa Madobag, bukan berarti kami lantas tenang. Masih banyak pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan. Termasuk diantaranya laporan pertanggungjawaban dan dokumentasi kegiatan. Dan yang lebih penting lagi, bagaimana kami, komunitas 1N3B dan sahabat-sahabatnya berupaya untuk terus sevisi, sejalan, meniti perjalanan panjang untuk memberikan jendela dunia bagi anak-anak di desa terisolir.

Nanti, pada tanggal 17 Agustus 2009 kami berencana meluncurkan DVD yang berisi dokumentasi kegiatan kami ini. Berminat? Tertarik? Tunggu tanggal mainnya. Tetaplah bersama kami, bagi yang memiliki akun di Facebook, bergabunglah dalam cause dan group 1N3B agar tidak ketinggalan berita-berita terbaru dari komunitas kami.

Sokola Binatang-Binatang

Sokola Binatang-Binatang

Dalam sebuah diskusi singkat disebuah pelatihan, terlontar sebuah metafora “sekolah kebun binatang” untuk menggambarkan betapa buruknya pola pendidikan yang berlaku di Indonesia. Betapa selama ini kebanyakan lembaga pendidikan di Indonesia cenderung lebih menekankan pada pengembangan otak kiri yang dikenal sebagai bagian otak yang berfungsi untuk pemikiran logis. Betapa pendidikan yang mendorong kreativitas terabaikan begitu lama.

Apa sih sekolah binatang-binatang atau sekolah kebun binatang? Sebuah sekolah sama halnya dengan sebuah kebun binatang yang berisi berbagai jenis hewan. Ada “harimau”, “burung”, “ikan”, “itik”, “domba”, dan sebagainya yang bersekolah lantas masak iya sih, pola pendidikan dan target tiap “binatang” bisa disamaratakan? Apa hasilnya kalau ikan dipaksa terbang dan burung dipaksa berenang? Kura-kura dipaksa berlari melawan kuda? Apakah dengan sayapnya yang kokoh seekor elang bisa menyaingi ikan nemo di dalam air? Sebaliknya apakah nemo bisa terbang setinggi elang? Nah, sudah dapat maknanya kan? Silahkan diartikan untuk banyak hal yang terkait dengan bagaimana bangsa kita telah dididik selama ini. ;)

Hmmm.. rambut boleh sama-sama hitam, tapi isi kepala berbeda. Saya jadi mencoba membayangkan apa jadinya seorang Einstein yang begitu jenius dan disebut kejeniusannya tersebut hanya menggunakan kurang dari 10% kapasitas otaknya ketika kecil dipaksa untuk menjadi penyanyi misalnya, atau seorang Affandi dipaksa untuk jadi seorang teknisi, alih-alih memperdalam seni lukis. Mungkin kita tak pernah mengenal nama mereka ya?

Sesungguhnya saya tidak menampik teori yang mengatakan bahwasanya manusia berpotensi mengembangkan kedua belahan otaknya dengan sama baik dan sama hebat, dan mengagumi Leonardo Da Vinci yang terbukti mampu mengembangkan kemampuan logika dan kreatifnya dengan seimbang. Alangkah prihatinnya saya karena hal yang baik ini belumlah nampak diaplikasikan dalam pola pendidikan yang umum di negara kita ini.

Alhamdulillah, ternyata banyak yang merasa prihatin dengan kondisi ini sehingga beliau-beliau yang memiliki kelebihan dan kesempatan yang lebih baik “memberontak” dan memberikan alternatif. Sebutlah sekolah-sekolah khusus seperti sekolah-sekolah alam yang mulai mudah ditemukan, sampai konsep home schooling yang mulai akrab ditelinga kita. Tapiii…(lagi-lagi terpaksa menggunakan kata “tapi”),  sedihnya semua yang saya sebutkan masih eklusif.

Kerisauan ini saya sebutkan di akun Facebook saya. Betapa bahagianya saya ketika beberapa teman menanggapi secara serius, kebanyakan beliau-beliau ini adalah para orang tua yang pernah dilanda kebingungan dalam memikirkan pendidikan yang terbaik bagi putra-putrinya, dan betapa bahagianya ketika salah satu teman optimis akan adanya perubahan yang lebih baik dalam dunia pendidikan dengan mengatakan gerakan alternatif tersebut seperti wombat yang terus menggali…

Enak dan Enak Sekali

Enak dan Enak Sekali

Kalau di keyakinan yang saya anut, yang dimaksud dengan rejeki itu adalah apa-apa yang sampai di mulut kita untuk dimakan atau sesuatu yang bisa kita kenakan, atau sesuatu yang bisa dipakai untuk menolong orang lain, alias beramal. Barangkali itulah sebabnya saya sebisa mungkin berusaha tidak mengeluarkan kalimat yang buruk tentang makanan, sehingga dalam kamus kuliner saya hanya mengenal dua istilah: enak dan enak sekali. Saya nggak bisa bilang jijik demi melihat makanan yang sedang disuap oleh seseorang yang mungkin secara visual kurang elok. Sebab nggak mungkin saya mengata-ngatai rejeki orang itu menjijikkan, sedang rejekinya bersumber dari yang maha memberi hidup, saya sendiri tidak punya kemampuan memberi orang rejeki, orang apa-apa yang ada di diri saya ini semuanya serba lewat, serba mampir, hanya dititipi oleh yang punya hidup. Berhubung saya juga tak bisa memilih titipan apa yang sebaiknya dititipkan Gusti Allah pada diri saya, maka selagi bisa, saya usahakan untuk mengeluarkan kalimat-kalimat yang baik-baik saja dan berusaha merasakan semuanya dengan perasaan yang baik dan positif.

Meski, terus terang saya juga belum mengetest keabsahan dua istilah ini (enak dan enak sekali) pada diri saya sendiri. Siapa yang tahu reaksi paling alami yang bakal saya sajikan, bila tahu-tahu saya disodori belalang goreng misalnya. Apakah kemudian saya mengerenyit sambil bilang uenaaaakkk…, padahal di dalam hati bingung dengan rasanya. Nggak tahu.

Saya sebetulnya penasaran juga dengan reaksi pertama saya bila disodori ulat sagu yang putih montok-montok, seperti bayi dibedong itu, yang katanya mesti dimakan hidup-hidup, yang kalau digigit rasanya seperti menggigit buntalan mayonaise, yang maknyuss, cairan enaknya muncrat sampai ke langit-langit rongga mulut. Apakah saya akan bilang wah sepertinya enak, tapi no thanks saya geli atau lebih baik diam saja ya. Lantas apa hak saya untuk merasa geli pada ciptaan Tuhan yang sama dengan yang menciptakan saya? Beruntung saya diciptakan dalam bentuk ciptaannya yang konon kabarnya paling sempurna, lantas kalau nasib mengatakan saya diciptakan sebagai bagian koloni ulat sagu, apa yang kemudian ada di benak saya? Akan berkurangkah rasa syukur dan keimanan saya saat ini?

Ah jadi melantur kemana-mana, ini toh hanya kontemplasi tidak bermutu yang hadir begitu saja hanya karena seringnya saya meyaksikan orang-orang yang bisa mengatakan jijik pada makanan yang ada dihadapannya. Risih mendengarnya, padahal bagi sebagian orang yang lain, yang mungkin juga masih orang tuanya, sanak kadang, atau bahkan pacarnya, mereka tenang-tenang saja menikmati makanan itu tanpa ada perasaan jijik dan bahkan bersyukur karena bisa menikmati rejeki itu. Kalau dipikir-pikir, masak tega sih, mengucapkan jijik pada makanan yang temanmu sendiri sedang mengunyah dan menelannya? Padahal yang ditelannya bukan bangkai busuk. Ah, nggak mengerti saya dengan sifat-sifat manusia. Ah kok saya ini kayak yang bukan manusia, hehehe…. :)

Basbang

Basbang

Ini postingan yang nggak penting-penting amat, Cuma sekadar melemaskan jari-jari yang sudah lama nggak dipakai ngeblog, lantas dipakai apa? Hayah, nggak penting dijelaskan kali ya, intinya nggak dipakai untuk nge blog tapi dipakai untuk urusan lain termasuk kalau kepepet dipakai untuk ngupil heheheh Mbak Tanti kalau baca pasti manyun deh. :D

Ternyata saya kuat hiatus sebulan tanpa blog, meski nggak benar-benar hiatus, karena sesekali masih nulis komentar meski irit banget di satu dua blog yang bisa diisengin (termasuk blog-nya si Kakak yang satu ini), beberapa kali masih bisa iseng-iseng nulis apa yang ada di pikiran saya di Facebook, meski beberapa minggu ini saya betul-betul  terserang kebosanan total. Saking bosannya, mau tulis apa juga nggak tahu, padahal urusan nulis mestinya ya tinggal ketik-ketik terus beres kan, nggak usah repot-repot mesti pakai referensi kalau lagi malas. Tapi ya itu tadi saya betul-betul nggak nafsu, bahasa Jawanya, loose the appetite. Bukan, bukan lagi kena sindrom writer’s block ya, soalnya jadi writer aja belum, kok bisa-bisanya meng-klaim udah kena writer’s block segala. :D

Yang namanya malas dan hiatus, kemudian jadi bersahabat akrab. Lantas sebulanan saya habiskan waktu saya untuk membaca, eh nggak juga lho ternyata. Saya lebih sering jalan-jalan, menghabiskan waktu dengan teman di dunia nyata. Energi dan waktu saya terkuras untuk anjang sana dan anjang sini. Walhasil kemudian saya mulai merasakan butuh dukungan tenaga super dari Superman, atau kalau Superman sedang dinas, boleh deh sama oom Batman, kalau misalnya mau menyumbangkan energi supernya juga. D’oh jadi nglantur ya, mungkin ini pengaruh obat-obatan yang belakangan harus saya asup, karena dalam kenyataannya tidak ada Superman dan Batman yang bisa membagi energi super mereka, yang ada hanyalah saya yang lagi tepar kehabisan energi dan ditugaskan dokter untuk tidur, bangun, makan dan tidur lagi. Istilah kerennya fatigue, istilah saya,  kedodoran.

Terus sebulan hiatus hasilnya apa? Hiks, nggak ada, selain merasa terjebak di dunia yang penuh dengan berita-berita yang bikin neg, sembari ingatan ini melintasi waktu ke masa Pak Harto masih berkuasa yang rasa-rasanya jaman itu kok kurang berita amat ya, dibanding masa kini, apa karena ada departemen penerangan yang sudah “menerangkan” segala hal hingga nggak perlu diwartakan lagi, atau memang dulu dunia lebih sederhana, entah. Duh senangnya jadi wartawan masa kini yang mudah dapat berita, mau yang bombastis sampai yang gak seru dan basbang, semuanya ada, kayak nano-nano. Rame! Dan dari kejauhan saya bisa berkosentrasi “menikmati” kasus yang cocok, daripada mengikuti semua berita tapi rasanya hambar. Nah apa pula maksudnya ini?  Ya sudahlah, cukup deh olahraga jari untuk hari ini. Sampai bertemu lagi.  :)

*Basbang itu maksudnya “Basi Banget”.