Kalau di keyakinan yang saya anut, yang dimaksud dengan rejeki itu adalah apa-apa yang sampai di mulut kita untuk dimakan atau sesuatu yang bisa kita kenakan, atau sesuatu yang bisa dipakai untuk menolong orang lain, alias beramal. Barangkali itulah sebabnya saya sebisa mungkin berusaha tidak mengeluarkan kalimat yang buruk tentang makanan, sehingga dalam kamus kuliner saya hanya mengenal dua istilah: enak dan enak sekali. Saya nggak bisa bilang jijik demi melihat makanan yang sedang disuap oleh seseorang yang mungkin secara visual kurang elok. Sebab nggak mungkin saya mengata-ngatai rejeki orang itu menjijikkan, sedang rejekinya bersumber dari yang maha memberi hidup, saya sendiri tidak punya kemampuan memberi orang rejeki, orang apa-apa yang ada di diri saya ini semuanya serba lewat, serba mampir, hanya dititipi oleh yang punya hidup. Berhubung saya juga tak bisa memilih titipan apa yang sebaiknya dititipkan Gusti Allah pada diri saya, maka selagi bisa, saya usahakan untuk mengeluarkan kalimat-kalimat yang baik-baik saja dan berusaha merasakan semuanya dengan perasaan yang baik dan positif.
Meski, terus terang saya juga belum mengetest keabsahan dua istilah ini (enak dan enak sekali) pada diri saya sendiri. Siapa yang tahu reaksi paling alami yang bakal saya sajikan, bila tahu-tahu saya disodori belalang goreng misalnya. Apakah kemudian saya mengerenyit sambil bilang uenaaaakkk…, padahal di dalam hati bingung dengan rasanya. Nggak tahu.
Saya sebetulnya penasaran juga dengan reaksi pertama saya bila disodori ulat sagu yang putih montok-montok, seperti bayi dibedong itu, yang katanya mesti dimakan hidup-hidup, yang kalau digigit rasanya seperti menggigit buntalan mayonaise, yang maknyuss, cairan enaknya muncrat sampai ke langit-langit rongga mulut. Apakah saya akan bilang wah sepertinya enak, tapi no thanks saya geli atau lebih baik diam saja ya. Lantas apa hak saya untuk merasa geli pada ciptaan Tuhan yang sama dengan yang menciptakan saya? Beruntung saya diciptakan dalam bentuk ciptaannya yang konon kabarnya paling sempurna, lantas kalau nasib mengatakan saya diciptakan sebagai bagian koloni ulat sagu, apa yang kemudian ada di benak saya? Akan berkurangkah rasa syukur dan keimanan saya saat ini?
Ah jadi melantur kemana-mana, ini toh hanya kontemplasi tidak bermutu yang hadir begitu saja hanya karena seringnya saya meyaksikan orang-orang yang bisa mengatakan jijik pada makanan yang ada dihadapannya. Risih mendengarnya, padahal bagi sebagian orang yang lain, yang mungkin juga masih orang tuanya, sanak kadang, atau bahkan pacarnya, mereka tenang-tenang saja menikmati makanan itu tanpa ada perasaan jijik dan bahkan bersyukur karena bisa menikmati rejeki itu. Kalau dipikir-pikir, masak tega sih, mengucapkan jijik pada makanan yang temanmu sendiri sedang mengunyah dan menelannya? Padahal yang ditelannya bukan bangkai busuk. Ah, nggak mengerti saya dengan sifat-sifat manusia. Ah kok saya ini kayak yang bukan manusia, hehehe….
Hi Yoga, tulisan kedua di hari yang sama? Good!!! Awal bagus
Aku setuju denganmu tapi susah untukku berbuat sepertimu.
Aku orangnya “kikrik”, suka bilang “jijik” untuk makanan yang secara visual nggak menarik. Tapi berkali-kali aku dimarahi istriku gara-gara yang satu ini.
Tapi setidaknya aku bisa membatin saja untuk bilang “jijik” or “kikrik”
Lalu hilangkah kebiasaan burukku itu? Tidak, belum
haaaaa… ulet.. jangankan dimakan mbakkk, ngeliat dia berjalan2 aja aku udah jejeritan..
sejak di bandung, klo untuk makanan sih aku juga sebisa mungkin menghargai, agak jarang aja bilang ga enak.. (mungkin bawaan mahasiswa kali ya? jadi lebih nerimo
) dan sekarang jg jadi lebih mau buat nyoba makanan yang aneh2.. (klo dulu sih lebih suka bermain di zona yang aman..)
tapi segimanapun ga sukanya aku sama makanan, aku (berusaha) ga mengomentari orang yang suka makanan itu ko.. tiap orang kan punya seleranya masing2
OK. aku tidak akan mengajakmu makan sashimi segala binatang yang kusebutkan tadi di YM, tapi maukah kau mencoba jangkrik masak kecap manis kalau aku bilang itu enak yug?
Semoga aku tidak usah berkata jijik pada makanan yang bisa lewat tenggorokan manusia…..
coba lihat di sini:
http://emimyst.multiply.com/reviews/item/4
EM
aku pernah liat di TV sini, orang makan ikan kecil (seperti ikan sepat gitu) hidup-hidup. Katanya untuk kesehatan. Kebayang ngga sih itu ikan “dansa” di dalam leher kita hiiiiii
EM
Pada dasarnya aku sensitif terhadap aroma…enak, tidak enak, enak sekali..sering aku nilai dr aromanya…dan duhhhh masih juga belum bisa menghilangkan kalimat TIDAK ENAK jika hidung kecilku tidak mengizinkan aku menikmatinya..
Wahhh wis suwe ga ono sing jailin irungku, Mbak….wis kebal kok hihihiihih
Yogaaaaa…
duh.. membayangkan ulat gendut itu di mulutku
btw judul tulisan ini sesuai dengan hinaan teman-teman padaku. Saking lahapnya tiap diajak makan, mereka selalu komentar
“hanya ada 2 rasa buat Putri. Enak dan Enak Bangettt” *siyall*
karena image-ku di kantor jadi berubah.. ‘doyan makan’
Setelah sering tugas ke beberapa daerah. saya suka mencoba beberapa makanan, dan berusaha untuk tidak jijik.
Padahal dulunya saya sulit makan (sekarangpun masih), tapi paling tidak mau mencoba.
Ulet..kebayang gremet-gremet nya
Hayyyyaaaa…aku pernah melihat om2ku makan ulat sagu…kata mereka enak banget tapi kata aku???? Oh My…..kekekeke
terkadang juga nih mbak ada temenku yg gak doyan sama duren sampe mancaci maki di depan aku…padahal aku kan doyan bgt sana duren
Waduh, minta ampuun … mohon maaf yang sebesar-besarnya, saya tak bisa membayangkan makan ulat sagu (hiii … waktu nulis ini pun saya sudah merinding). Dan pertanyaannya adalah, apakah ulat sagu itu memang diciptakan Tuhan untuk dimakan manusia? Atau manusia yang terlalu rakus, sehingga memakan segalanya, termasuk yang tidak pantas dimakan?
kalo gak biasa, ulat sagu akan bikin badan gatal-gatal lho mbak hehehe