Dalam sebuah diskusi singkat disebuah pelatihan, terlontar sebuah metafora “sekolah kebun binatang” untuk menggambarkan betapa buruknya pola pendidikan yang berlaku di Indonesia. Betapa selama ini kebanyakan lembaga pendidikan di Indonesia cenderung lebih menekankan pada pengembangan otak kiri yang dikenal sebagai bagian otak yang berfungsi untuk pemikiran logis. Betapa pendidikan yang mendorong kreativitas terabaikan begitu lama.
Apa sih sekolah binatang-binatang atau sekolah kebun binatang? Sebuah sekolah sama halnya dengan sebuah kebun binatang yang berisi berbagai jenis hewan. Ada “harimau”, “burung”, “ikan”, “itik”, “domba”, dan sebagainya yang bersekolah lantas masak iya sih, pola pendidikan dan target tiap “binatang” bisa disamaratakan? Apa hasilnya kalau ikan dipaksa terbang dan burung dipaksa berenang? Kura-kura dipaksa berlari melawan kuda? Apakah dengan sayapnya yang kokoh seekor elang bisa menyaingi ikan nemo di dalam air? Sebaliknya apakah nemo bisa terbang setinggi elang? Nah, sudah dapat maknanya kan? Silahkan diartikan untuk banyak hal yang terkait dengan bagaimana bangsa kita telah dididik selama ini.
Hmmm.. rambut boleh sama-sama hitam, tapi isi kepala berbeda. Saya jadi mencoba membayangkan apa jadinya seorang Einstein yang begitu jenius dan disebut kejeniusannya tersebut hanya menggunakan kurang dari 10% kapasitas otaknya ketika kecil dipaksa untuk menjadi penyanyi misalnya, atau seorang Affandi dipaksa untuk jadi seorang teknisi, alih-alih memperdalam seni lukis. Mungkin kita tak pernah mengenal nama mereka ya?
Sesungguhnya saya tidak menampik teori yang mengatakan bahwasanya manusia berpotensi mengembangkan kedua belahan otaknya dengan sama baik dan sama hebat, dan mengagumi Leonardo Da Vinci yang terbukti mampu mengembangkan kemampuan logika dan kreatifnya dengan seimbang. Alangkah prihatinnya saya karena hal yang baik ini belumlah nampak diaplikasikan dalam pola pendidikan yang umum di negara kita ini.
Alhamdulillah, ternyata banyak yang merasa prihatin dengan kondisi ini sehingga beliau-beliau yang memiliki kelebihan dan kesempatan yang lebih baik “memberontak” dan memberikan alternatif. Sebutlah sekolah-sekolah khusus seperti sekolah-sekolah alam yang mulai mudah ditemukan, sampai konsep home schooling yang mulai akrab ditelinga kita. Tapiii…(lagi-lagi terpaksa menggunakan kata “tapi”), sedihnya semua yang saya sebutkan masih eklusif.
Kerisauan ini saya sebutkan di akun Facebook saya. Betapa bahagianya saya ketika beberapa teman menanggapi secara serius, kebanyakan beliau-beliau ini adalah para orang tua yang pernah dilanda kebingungan dalam memikirkan pendidikan yang terbaik bagi putra-putrinya, dan betapa bahagianya ketika salah satu teman optimis akan adanya perubahan yang lebih baik dalam dunia pendidikan dengan mengatakan gerakan alternatif tersebut seperti wombat yang terus menggali…
Hi Yoga, tulisan ini membawa satu pemikiran menarik di tengah ributnya orang-orang membicarakan UN
Aku setuju denganmu, karena aku melihat sendiri contoh pada salah satu sepupuku yang meski pandai secara akademik tapi dalam hal kecerdasan emosional yang melibatkan unsur kreatifitas, bisa dibilang ia mati kutu.
Entah bagaimana cara memperbaikinya, itu bukan kapasitasku tapi apapun usaha untuk menuju ke arah sana, pasti kudukung.
Btw, kalau ngga salah Einstein itu selain kuat di otak kiri, beliau juga brillian di otak kanan lho… Aku pernah baca satu buku karya sastranya yang aku lupa judulnya, pokoknya keren juga
.
Dalam kaitan dengan training (bukan sekolah ya..maklum anak-anak udah gede semua), maka sejak beberapa tahun terakhir telah dikenal metoda campuran antara hard kompetensi dan soft kompetensi (saya pernah menuliskannya di awal ngeblog) di http://edratna.wordpress.com/2006/11/19/hard-and-soft-competency/. Jadi ramuannya harus pas, ini untuk pendidikan ke arah mana, dan dalam setiap pendidikan selalu ada soft kompetensi yang merangsang otak kanan, yang dipadukan secara inherent dalam pelatihan di kelas, seperti team work dll. Namun yang tak bisa, diramu khusus dalam bentuk key kompetensi (termasuk pelatihan di alam )
sisi logika matematika memang sangat berpengaruh dalam banyak hal di dalam kehidupan namun dalam sisi usaha dan bekerja kecerdasan emosional yang di imbangi dengan kecerdasan spiritual kayaknya berperan berimbang di antara ketiganya sebab berbanding dengan beberapa teman yang cerdas di sisi logika biasanya lemah dalam praktisi karena tidak di barengi kecerdasan emosionalnya
Tulisan anda menjadikan wacana yang sangat menarik